My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 41. Berduel



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Deo


Air cucuran atap, jatuhnya ke pelimbahan juga. Sifat orang tua, biasanya menurun ke anak-nya juga.


Dulu, David sebelum menemukan Jessika juga begitu kan? Dengan dalih jika jiwa pejantan muda itu merupakan jiwa yang on fire, dan memerlukan suatu pelampiasan hasrat yang tak bisa di jelaskan oleh logika.


Asal tak terbukti, ah tentu sikat lagi. Seperti kata bang Iwan Fals 😁. Begitulah Deo. Dia merupakan manifestasi dari David semasa muda dulu.


" Kita pulang!" Ucap Deo yang sudah kehilangan selera makannya. Membuat Roro yang berada di sana seketika heran.


" Are you jealous?" Ucap Roro mengernyitkan keningnya.


" Ada kolega aku yang berangkat. Dia minta ketemu di lounge bandara!"


"Mbak!" Panggil Deo saat ia akan membayar bill dan terlihat melirik Daniel yang masih belum menyadari jika ia berada disana. Membuat Roro mendecak sebal.


Pria itu selalunya tak memiliki waktu saat ia berusaha meluangkan waktu untuk Deo.


Sepanjang perjalanan, Deo hanya diam. Jelas itu membuat Roro makin kesal.


"Saya dari pagi bahkan belum sempat memasukkan apapun kedalam perut saya. Tapi jika karena makan pun saya salah, hukum aja PIC saya kak Daniel. Karena dia yang berbaik hati mengajak saya makan disini!"


Ia bukan penjahat yang bisa setega itu terhadap orang. Namun entah mengapa, mendengar pernyataan penuh keironisan yang terus saja terngiang-ngiang itu, membuat Deo kesal dengan dirinya sendiri.


" Kamu ini kenapa sih De. Jangan bilang kamu tertarik dan mulai memburu sama anak itu, inget ya De, kamu itu milik aku!" Ucap Roro demi melihat Deo yang membisu sejak keluar dari tempat makan tadi.


" Kamu kalau aku sibuk aja, marah. Giliran aku nyoba buat atur waktu, kamu selalu begini!"


Pria itu nampak tercenung dan tak menanggapi celetukan Roro yang kian murka. Ia justru teringat saat Arimbi tertawa lepas bersama bawahannya itu.


Damned!


.


.


Arimbi


Ia di sambut oleh geng konyolnya, saat ia baru tiba ke terminal domestik yang di jam siang ini hendak siap-siap untuk membuka check ini AA 322 menuju kota J.


" Lipstik elu mana? pucet banget!" Tanya Eva yang melihat Arimbi melempar bokongnya ke kursi hitam di sampingnya.


" Ilang buat makan tadi!" Sahut Arimbi sambil memejamkan matanya. Menikmati udara sejuk AC dalam ruangan luas itu.


Ah, terasa nyaman.


" Hah, Elu diajak makan sama kak Daniel? Beneran?" Dian justru exited untuk bertanya.


" Dia yang diajak makan, elu yang malah keranjangan Yan!" Cetus Eva sambil menyalakan monitor untuk preparation.


"Ya, akyu kan juga mau!" Jawab Dian tekrikik-kikik.


" Halo! Udah di prepare dek?" Hera yang notabene merupakan senior yang on duty siang ini, terlihat datang dengan wajah yang sudah di touch up.


Membuat Kenanga yang berada di sisi paling barat menatap tak suka ke arah tiga manusia rempong itu.


Yohan dan Resita tak terlihat diantara mereka, sebab bertugas di ruang tunggu. Suara Resita yang bagus serta Yohan yang ramah, membuat gadis dan laki-laki itu kini lebih sering berada di ruang tunggu, guna melakukan announcement atau panggilan boarding bagi penumpang.


" Aman mbak. Ini tinggal bersihin tempat!" Eva nyengir sambil menunjukkan kemoceng, semprotan serta beberapa alat penunjang demi keberhasilan area kerjanya.


" Good, kalau ada yang Check in, isi bagian tengah dulu ya. Kita hari ini enggak full!" Jawab Hera begitu bersahabat.


Arimbi tekun mendengar ucapan Hera yang lemah lembut. Senior yang sudah memiliki anak itu memang terlihat kawakan.


" Mbak, misal ada yang ngenyel minta seat depan gimana?"


" Kamu tanyakan, ada punya Andanu frequent flyer card enggak. Itu untuk priority pemegang kartu ya dek! Kalau ada, kamu kontrak operation buat buka seat. Biar pesawat balance. Siang ini cargonya juga enggak terlalu banyak soalnya!"


Dian dan Eva mengangguk paham bersamaan. Rupanya, keselamatan penerbangan itu merupakan tanggung jawab bersama bahkan dari sisi yang paling kecil sekalipun.


Arimbi mengangguk setuju. Kini, ia memilih untuk menuju toilet khusus karyawan. Dan tanpa di duga, Kenanga yang tahu jika Arimbi akan menuju toilet, terlihat mengikuti dengan wajah penuh misteri.


.


.


Suara air yang terkucur dari kran di wastafel yang memiliki cermin persegi panjang lebar itu, memecah kesunyian yang tercipta, kala Kenanga turut bersama Arimbi di satu tempat itu.


Ya, Arimbi baru saja mencuci mukanya, sebab ia merasa ngantuk di siang itu. Ia sengaja ingin bermake-up kembali, sebab wajahnya sudah begitu berminyak.


Arimbi cuek dan tidak peduli. Ia bukanlah tipe orang yang mudah di tindas. Asal tak menganggu, persetan akan hal itu. Urusan perut masing-masing.


" Loh, mbak Arimbi tumben di sini! Saya kira di inter" Ucap Heni dengan ramah.


Ya, Heni merupakan salah satu cleaning service yang ia kenal sebab tempo hari pernah menolong menemukan kunci motor Arimbi yang sempat terjatuh.


" Iya Hen, Flight Internasional kan cuma pagi aja. Kalau siang pindah ke sini!" Jawab Arimbi ramah kepada Heni.


Namun, satu manusia lain yang berada di sana agaknya merasa terganggu dengan manusia yang menurutnya tidak penting itu.


" Elu enggak lihat gue mau dandan? Bersihin nanti. Ganggu aja!" Maki Kenanga kepada Heni. Menatap tak suka ke perempuan berwajah pucat itu.


Membuat Arimbi menatap heran kepada wanita penganut hedonisme itu. Kini, Heni yang memang cupu itu, seketika menjadi takut dan langsung undur diri.


" Elu nggak bisa ya menghargai pekerjaan orang?" Arimbi tak tahan. Ia kini menatap Kenanga jengah.


" Emangnya kenapa? Berani lu ya? Jangan sok lu. Elu baru berapa hari disini udah ngelunjak ya?"


Arimbi tersenyum miring, " Ngelunjak? Ngelunjak apaan?" Arimbi melipat kedua tangannya, " Yang aneh itu kamu. Enggak ada angin enggak ada hujan, situ yang bikin masalah terus!"


" Bacot! Nantangin lu ya!"


Arimbi berhasil mencekal tangan Kenanga yang berniat menamparnya, " Elu pikir perpeloncoan itu masih relevan di jaman sekarang?" Arimbi meremat pergelangan tangan Kenanga dan membuat wanita itu meringis.


" Dengar ya senior. Kompetitor itu akan selalu ada. Dan jika anda segan untuk berimprovisasi, maka anda akan tenggelam !"


Arimbi melempar tangan Kenanga dengan keras, usai mengatakan hal itu dengan wajah geram. Membaut Kenanga menggerakkan giginya.


Kenanga menatap bengis ke arah Arimbi yang belum mengenakan make up apapun itu. Sama sekali tak terima dengan perbuat anak baru itu.


" Kurang ajar!"


Kenanga dengan impulsifnya menarik rambut Arimbi, dan membuat wanita itu kesakitan. Arimbi yang di serang secara tiba-tiba, tentu saja melawan sebisanya.


BRUAK


Mereka berdua berkelahi di dalam toilet itu. Peralatan make up kenanga bahkan sudah morat-marit tidak karuan, akibat terbentur tubuh pemiliknya, yang saling adu pertahanan dengan Arimbi.


Heni yang sebenarnya masih berada di lorong toilet sebab menunggu Kenanga selesai berdandan itu, seketika berlari mencari bantuan demi menyadari jika dua orang di dalam toilet tadi terlibat pertengkaran.


Cleaning service itu berlari dengan cepatnya dan menepikan tatapan penuh selidik dari para karyawan yang ada disana.


Hingga akhirnya.


" Mas Daniel, itu mbak Arimbi sama mbak Kenanga ribut di toilet karyawan!"


" What?" Kini, Dian yang justru nampak syok demi mendengar berita itu.


Deo yang kebetulan melintas di sana sebab hendak menemui koleganya yang berangkat siang itu, terkejut demi mendengar berita ekstrem itu.


" Arimbi? Kenapa mereka?" Ucap Daniel panik.


Deo seketika melirik Daniel yang nampak menyuguhkan raut penuh kekhawatiran yang begitu kentara.


" Cih, kenapa aku tidak suka melihat Daniel seperti itu!"


.


.


.


.