My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 30. Pasangan Tom and Jerry



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Jesika


Ia terkejut saat menerobos masuk dan melihat jika wanita yang terlentang itu bukanlah Roro. Membuatnya semakin geram demi merasa jika Deo sudah kelewatan.


" Deo! Masuk dan bersihkan diri kamu!"


Jessika mengira Deo telah mencumbui wanita itu.


" Mah dengar du..."


" Masuk!" Teriak Jessika demi amarah yang menguasai dirinya. Benar-benar kecewa terhadap anak sulungnya itu.


Deo mendecak kesal karena menahan Arimbi belum juga siuman disaat genting seperti ini.


" Mas!" Panggil Jessika menatap David yang terlihat berbincang serius kepada seorang pemuka agama yang baru saja tiba itu.


" Sebentar!" Ucap David dengan suara yang tak terdengar. Membuat Jessika resah karena ingin cepat-cepat mengutarakan sesuatu.


Ia sudah meminta Deo untuk membersihkan dirinya dulu ke kamar mandi. Jessika hanya tak ingin di cap buruk, mengingat selama ini pak Edy selalu berhasil menjaga integritas serta nama baik keluarga mereka, dan akibat ulah Deo kali ini, nama baik keluarga mereka terancam.


Jessika tak memiliki pilihan lain. Lagipula, bukti yang tersaji sudah lebih dari cukup menerangkan jika anaknya memang kumpul kebo.


" Mereka sudah datang. Aku sudah bilang sama mereka kalau semua ini tolong jangan di publish dulu, yang penting mereka sudah sah menikah anti. Papa juga masih bingung ini mah!" David yang mendatangai istrinya kedalam itu belum menyadari sosok yang berbaring diatas ranjang.


" Pah, masalahnya ini bukan Roro!"


" Apa?"


.


.


Arimbi


Ia dengan segenap kebingungan yang melanda dirinya saat itu, hanya bisa berdiam diri kala sebuah tepukan tangan halus mengguncang pipinya.


Seorang manusia yang seumuran dengan ibunya, dan juga pria dewasa yang berwajah rupawan membuatnya seketika bangun dengan perut yang terasa nyeri.


Arimbi kini duduk seraya meringis demi merasakan nyeri di perutnya, usai di hajar oleh geng perempuan tadi. Namun, Jessika justru mengartikan lain rasa sakit yang di tunjukkan oleh Arimbi itu.


" Maaf, anda siapa?" Tanya Arimbi yang beringsut mundur karena takut. Jessika sudah menyelimuti tubuh Arimbi yang sedikit terbuka itu.


" Bersihkan dirimu nak. Petugas yang akan menikahkan kamu sudah datang!"


DUAR!


Tercenung selama beberapa detik. Apa yang wanita cantik itu ucapakan? Kenapa ngawur sekali?


" Hah, menikah? Buk, tapi saya...." Arimbi mendadak gelisah. Menikah bagaimana maksudnya?


Ia yang sudah bingung sebab mengapa tiba-tiba berada di ruangan bagus dan mewah itu, kini lima kali lipat lebih terkejut kala mendengar kata menikah.


" Buk, saya...."


" Ganti bajumu cepat, kita bicara nanti!" Deo yang keluar dari balik pintu kamar mandi, menatap Arimbi dengan tatapan tajam. Membuat Arimbi seketika menyuguhkan raut pucat.


" Ada apa ini sebenarnya?"


" Saya Jessika, ibunya Deo. Warga sekitar menggerebek kalian. Dan mereka mau kalian menikah sekarang juga karena kalian sudah.... !" Jawab Jessika sungkan dengan raut muram.


" Tapi saya tidak melakukan apapun Bu, saya .."


" Apa? Apa aku dikira mesum dengan pria itu?"


" Aku bahkan tidak ingat dengan apa yang terjadi, apa aku..."


Arimbi membatin seraya menatap Deo yang kini mengancingkan kemejanya dengan wajah keruh. Terlihat tertekan dan sama sekali tak senang.


" Tapi Bu, saya....saya...." Arimbi mendadak gagu, terlalu banyak layangan protes yang hendak ia utarakan, nyatanya justru membuat dia gelagapan.


Jessika menitikkan air matanya, ia terlalu bingung dengan apa yang terjadi. Sungguh, yang wanita itu inginkan saat ini ialah emosi yang mereda dari para warga sekitar.


" Kita bicara nanti. Sekarang tolong kamu ikuti saja apa yang di ucapkan Deo ya. Saya dan suami saya yang akan bertanggungjawab nanti!" Ucap Jessika mengusap lembut Arimbi yang wajahnya resah.


Menikah? Tidak, ibunya bahkan tidak tahu dengan semua ini. Bagaimana ini?


.


.


Deo


Ia mendecak tak percaya dengan apa yang tejadi saat ini. Niat hati menolong gadis malang itu, namun yang ia dapat justru nestapa.


Brengsek!


Menikah dengan orang yang sama sekali tak ia sukai, jelas bukan perkara menguntungkan. Ia bisa melihat mata sembab Arimbi yang berjalan di papah oleh mamanya. Entah apa yang dibicarakan dua betina itu, sehingga Arimbi mau keluar.


Mengingat jika Arimbi sempat syok dan menolak keras hal ini. Astaga!


Ia yang belum sempat menanyai perihal kenapa wanita itu dikeroyok tadi, mendecak tak percaya jika ia akan menikahi wanita itu karena sebuah grebekan. Hal yang sama sekali tak pernah terbesit dalam pikirannya itu, kini justru nyata-nyata akan ia lakoni sebentar lagi. Damned!


Lembaran uang sebanyak sepuluh lembar pecahan seratus ribu, kini berada diatas meja rumahnya. Memilih uang sebab keadaannya urgent. Benda yang menjadi mas kawin itu ,ia letakkan di depan pria berpeci hitam tua, yang telah di bawa warga untuk menikahkan sejoli itu.


Suasana yang tercipta benar-benar sarat dengan kecanggungan. David dan ketua RT setempat sudah menyepakati untuk tidak mengambil gambar apapun saat acara itu berlangsung, dan dari hal itu si setujui oleh warga, sebab yang menjadi saksi juga cukup banyak.


Sulit di percaya, ia yang memimpikan menggelar pernikahan mewah dan spektakuler, kini harus duduk dengan suasana canggung tanpa kebahagiaan, di sebelah gadis pembuat onar itu pula.


Benar-benar sial.


Walaupun menikahi siri, tapi pernikahan itu kan sah di mata agama dan juga lingkungan. Terbesit dalam hati niat licik.


" Hanya menikah siri. Setelah ini akan ku tinggalkan saja dia. Lebih baik aku menguras tabunganku untuk membeli apartemen! Hidup di lingkungan seperti ini benar-benar ribet! Batin Deo yang masih tidak terima.


Deo terlihat tak menoleh ke arah Arimbi sama sekali. Baginya, gadis itu benar-benar membawa kesialan dalam hidupnya.


Deo marah. Marah kepada dirinya, kepada semuanya, terlebih kepada gadis itu yang menurutnya selalu membuatnya dalam ketidakberuntungan.


Para warga yang menggebrek tadi, kini terlihat duduk mengitari mereka yang akan melakukan ijab kabul. Menatap serius pasangan yang kini nampak sama-sama keruh itu.


Mereka tidak tahu, bila yang menikah itu merupakan pasangan Tom and Jerry.


Dan saat tangan seorang pria berpeci itu menarik tangannya sebagai penanda untuk mengucapkan kalimat penuh makna itu, Deo tersentak.


" Saya terima nikah dan kawinnya Diah Ayu Arimbi binti Laksmana almarhum dengan mas kawin yang tersebut di bayar tunai!"


Arimbi menangis dengan kenyataan yang ia dapatkan malam itu. Pun dengan Jessika yang merasa bersalah karena mengorbankan wanita itu.


Mereka telah sah sebagai suami istri. Sekalipun mereka tak memiliki perasaan apapun selain kebencian satu sama lain, tapi mereka telah sah sebagai pasangan.


" Jangan harap kamu bisa bersamaku setelah ini!" Batin Deo kesal dan geram.


.


.


.


.