My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 138. Paraplegia



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Eva


Ia tertegun dengan posisi nyaris tak mampu menopang kakinya kala menatap Pak Demas yang terlihat tidak terima. Membuat keseluruhan dari anggota keluarganya kini menjadi tegang.


" Pak, Bu, bisa ikut saya ke ruangan sebentar?" Ucap sang dokter terhadap Pak David dan Ibu Jessika.


" Untuk apa? Katakan disini saja, ada masalah apa dengan kakiku?" Sergah Pak Demas dengan wajah ingin memaki.


Membuat dokter itu seketika menelan ludahnya.


" Kemungkinan anda terkena kelumpuhan pasca kecelakaan Pak!"


DEG


Eva mendadak merasa kakinya makin lemas, jantungnya bahkan tremor, dengan sorot mata yang langsung tertuju kepada Pak Demas yang nampak syok.


" Apa aku yang membawa sial untuk pak Demas?"


.


.


"Kelumpuhan adalah kondisi kehilangan kemampuan menggerakkan salah satu otot tubuh atau lebih untuk sementara waktu atau bahkan secara permanen." Tutur sang dokter demi mengisi kesunyian yang lekas bersambut dengan nelangsa.


Membuat Jessika seketika menangis dengan perasaan hancur.


"Kelumpuhan memiliki banyak sekali jenis nya Bu, tergantung pada kekuatan otot, apakah lumpuh total, -- dimana tidak ada gerakan sama sekali pada otot yang bermasalah, atau hanya secara parsial -- dimana otot tersebut masih dapat bergerak namun gerakannya terbatas atau lemah." Imbuh dokter tersebut berusaha menjelaskan apa adanya.


Demas tercenung demi mendengar penuturan yang menampar hatinya itu.


" Kelumpuhan dapat terjadi pada seluruh anggota tubuh, atau sebagian. Kelumpuhan dapat perlahan, atau mendadak. Bila melihat dari kejadian yang menimpa anda, jenis kelumpuhan yang anda alami adalah Paraplegia yaitu suatu kelumpuhan, dimana hilangnya kemampuan untuk menggerakkan anggota tubuh bagian bawah."


Deo bahkan kesulitan menelan ludahnya demi mendengar penuturan sang dokter, atas apa yang tengah menimpa adik satu-satunya itu.


" Hal ini menyebabkan seseorang tidak bisa menggerakkan otot-otot pada kedua tungkai kaki, dan terkadang panggul serta beberapa anggota tubuh bagian bawah lainnya." Tutur dokter itu dengan wajah penuh keresahan.


" Untuk memvonis lebih lanjut lagi, perlu keterangan lebih, apakah sebelumnya korban sudah memiliki riwayat gangguan saraf atau tidak, bila sebelum kecelakaan kondisi korban sehat. Maka kemungkinan kelumpuhan terjadi akibat trauma / kecelakaan tersebut."


" Dem...!"


Tanya Deo kepada Demas namun laki-laki itu masih saja bergeming.


" Demas!"


" Pergi!" Sahut Demas dengan tatapan kosong dan sama seperti tak bernoda menoleh apalagi menatap anggota keluarganya.


" Dem Mama.."


" Pergi!!" Teriak Demas begitu keras hingga tenggorokannya terasa serak, kala Jessika mencoba memaksa Demas untuk menjawab.


Membuat gaung suara bass pria berparas rupawan itu nampak menjejali telinga para manusia disana.


Eva seketika menangis pilu demi melihat Demas yang begitu terpukul dan nampak kacau.


" De, bawa istri kamu keluar dulu. Ma, ayo kita..."


" Tapi Mas, aku mau...."


" Ma, biarkan Demas berdamai dengan kenyataan. Papa akan menemui Demas setelah ini!"


Kini, Deo dan Arimbi tak bisa berbuat banyak. Deo bahkan menemui pikiran buntu, demi melihat wajah sang adik yang enggan di sentuh siapapun.


Eva yang tidak tahan seketika enyah lali pergi. Apakah ini mimpi? Bukankah beberapa saat yang lalu pria gagah itu baru saja menyematkan sebentuk cincin ke dalam tangannya?


" Eva!"


" Va, tunggu...,"


"Eva!"


Demas seketika melirik ke arah depan saat Arimbi meneriakinya Eva yang nampak berlari menjauh sambil menangis.


Membuat Demas mengeraskan rahangnya demi menahan emosi dan kekecewaan diri atas apa yang di alami.


" Maafkan aku!"


.


.


.