My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 32. Suami



🌿🌿🌿


•


•


•


Deo


Nasi sudah menjadi bubur, ia tak bisa menyangkal lagi jika saat ini Arimbi adalah istrinya. Ia hanya diam dengan hati dongkol, saat petugas yang baru saja menikahkannya secara siri itu berkomat-kamit mengucapkan doa.


Sama sekali tak menikmati apapun yang tersaji. Yang ada hanya kekesalan dan juga ketidakberdayaan.


Ia menelan ludahnya berkali-kali. Ada setumpuk juga serentetan hal yang kini bersarang di otaknya. Tentang bagiamana jika menjelaskan hal ini kepada Roro salah satunya.


Ya, Deo kini resah.


" Pak David dan Bu Jessika, terimakasih karena akhirnya masalah ini dapat terselesaikan dengan jalan yang semestinya, saya serahkan sepenuhnya hal ini kepada panjenengan ( anda), kami hanya ingin lingkungan kami bebas dari maksiat."


" Semoga yang awalnya tidak baik, menjadi baik! Kalau begitu kami pamit undur diri!"


Tutur salah seorang tokoh agama, yang tak bisa di sanggah oleh Deo ataupun yang lain. Pria itu mewakili segenap warga yang kini berlega hati, karena bisa meluruskan hal yang mereka anggap tidak benar.


Sepeninggal orang-orang yang menggebrek mereka tadi, David terlihat berbincang-bincang dengan Erik dan juga beberapa orang mereka. Terlihat serius. Membuat Deo memiliki kesempatan untuk kabur, sebab Jessika tengah sibuk menelpon seseorang.


Ia meninggalkan Arimbi yang terdiam di ruang tengah rumahnya itu, bersama pria yang tak ia kenal. Sama sekali tak mau menatap wajah gadis itu.


PRYAANG!!!


Ia meninju kaca yang berada di kamarnya. Menghancurkan apapun yang ada disana, demi meluapkan amarah yang bersarang di dadanya. Deo murka akan apa yang ia alami saat ini.


" Tahu begini gua ogah tinggal di tempat ini. Tempat ribet! Sok prosedural! Sekarang gimana caranya ngasih tahu ke Roro?" Ucap Deo dengan napas kembang-kempis. Kesal tiada tara.


" Apa-apaan ini Deo?"


Deo terkejut saat mamanya masuk dan mendapati kamarnya telah kacau balau akibat ulahnya.


" Mama puas? Puas udah bikin hidup Deo ancur?" Ucap Deo benar-benar marah. Menatap Jessika dengan raut penuh kekecewaan.


"Mama bisa nolak kan tadi, bisa aja kasih mereka duit biar diam? Enggak musti nikah juga kan?"


" Ngomong apa kamu De?" David yang berniat memanggil Deo karena ingin membicarakan hal penting, terkejut saat mendengar istrinya yang di bentak oleh anaknya itu.


Benar-benar membangkitkan emosi.


" Jangan meninggikan suaramu kepada orang yang dulu mengajarimu berbicara!" Hardik David dengan mata memerah. Membutuhkan suasana menjadi tegang dan mencekam dalam waktu sekejap.


Deo tertunduk.


" Kamu bilang mama yang buat hidup kamu hancur?" Jessika menggeleng lemah seraya menangis kala menatap Deo yang gusar, " Tidak sadarkah kamu Deo jika kamu yang selama ini menggali lubang untuk dirimu sendiri? Mama selama ini enggak tahu kelakuan kamu diluar, dan jika warga tadi enggak ada yang ngasih tahu mama, mama mungkin enggak akan tahu kalau kamu begini!"


" Lihat! Bahkan wanita tidak bersalah itu kini ikut terseret!" Sekuat hati Jessika berbicara meski dengan suara yang bergetar.


" Ya aku ceraikan aja dia sekarang, gampang kan?"


" Deo!" Bentak David makin geram demi merasakan putranya yang semakin kurang ajar.


" Papa susah payah agar bikin mereka tidak meradang , justru kamu yang tidak mau diajak kerjasama disini. Kamu tahu tidak efek jika nama baik keluarga kita tercemar? "


" Tahu tidak?" Bentar David dengan suara yang menggema diruangan itu. Membuat Jessika kian larut dalam tangis.


Deo tertegun saat Papanya memarahinya dengan perkataan menohok.


" Deo enggak bisa Pa, Deo enggak ada perasaan sama perempuan itu, Deo enggak bisa sama perempuan itu! Nikah hanya status kan? Ya udah sekarang udah selesai, biar dia balik Deo juga ngejalanin hid...."


PLAK!


Ucapan Deo menguap bersamaan dengan datangnya rasa kebas di pipi kanannya. Jessika yang tak tahan kini menampar pipi Deo dengan segenap kekecewaannya.


" Lakukan apa yang kamu mau! Lakukan!" Teriak Jessika yang marah besar


"Tapi jangan pernah temui mama lagi!"


DEG


" Ayo Pa, kita antar Arimbi!" Ucap Jessika dengan kemarahan yang tiada lagi terbendung.


" Ma! Enggak begini juga loh ma maksud Deo, Mama!"


Jessika benar-benar kecewa dengan pola pikir Deo yang menurutnya tak dewasa. Bukti jika manusia tiada yang sempurna. Sepintar dan se cerdas apapun Deo dalam meniti karir, nyatanya tak berbanding lurus dengan akal sehat yang sangat dibutuhkan saat seseorang terdesak salam keadaan darurat.


" Papa kecewa sama kamu De!" Sorot mata David benar-benar menunjukkan kekecewaan yang mendalam.


.


.


Arimbi


Ia sudah diberitahu oleh Lik Janaka perihal permintaan keluarga David Syailendra. Kini, Arimbi yang tengah duduk di depan rumah bersama Janaka , sebab pria itu mengatakan jika Erik memintanya untuk menunggu sebentar.


" Bu Jessika orangnya bijak. Paklik yakin jika beliau nanti pasti kasih solusi yang terbaik buat kamu setelah ini. Aku tadi dengar kalau hal ini tidak akan sampai ke luar, mereka sudah buat perjanjian tadi!"


Arimbi mengangguk, " Itu artinya apa aku bisa pulang?"


Janaka menghela napasnya, " Gimanapun juga kamu ini istrinya nduk. Tapi..."


" Arimbi?" Panggil seseorang yang membuat komunikasi Keduanya terjeda.


" Ada apa Bu?" Jawabannya seketika berdiri kala melihat kedatangan Jessika bersama suaminya.


" Saya antar kamu pulang!"


.


.


Jessika


Ia masih membisu di sebelah Arimbi yang juga hanya terdiam. Pun dengan David yang fokus dengan kemudinya. Ketiga insan itu kini berteman dengan keheningan yang menyeruak.


Janaka memutuskan untuk ikut pergi bersama mereka, sebab Erik tak kunjung kembali. Pria itu pasti tengah sibuk mengurus ini itu untuk menutup mulut kesemua orang yang berpotensi menjadi tukang koar-koar.


Dan usai mengantar balik Janaka, kini giliran Arimbi yang diantar pulang oleh pewaris Darmawan group itu.


" Besok kamu on duty?" Tanya Jessika memecah kesunyian. Membuat Arimbi menoleh.


" Duty Bu!"


Jessika menghela napas.


" Saya boleh minta nomer hape kamu? Kita bisa bicarakan lagi besok. Kamu malam ini pasti juga capek banget kan?"


" Tapi kamu jangan lupa, walau gimanapun juga, Deo sekarang suami kamu!"


Arimbi tertegun saat mendengar kata suami.


" Maafkan kami ya Nak? Saya tahu cerita dari Erik kalau kamu ini pegawai baru!"


David masih terdiam saat istrinya mengajak ngobrol menantu dadakannya itu. Memilih menetralkan emosi yang berpotensi membuat tekanan darahnya naik.


" Bagiamana dengan pacar pak Deo Bu?"


Jessika seketika menoleh, " Kamu tahu kalau Deo punya pacar?"


Arimbi mengangguk, " Saya bahkan tahu kalau anak ibu mesum diruangannya!"


Entah mengapa Jessika makin merasa tak enak hati kepada Arimbi. Ia tahu, Arimbi ini gadis yang tidak doyan aneh-aneh. Dilihat dari cara bicara serta penampilannya, Arimbi ini tergolong jenis manusia yang apa adanya.


Mereka harus memasuki sebuah jalan lagi rupanya demi sampai di kediaman Arimbi. Jalan yang masih bisa di masuki oleh mobil.


" Rumah saya yang itu Bu. Berhenti disini saja. Saya..."


" Oke, kita berhenti disini!" Sahut David yang paham akan keresahan Arimbi yang begitu kentara.


Jessika tercenung melihat rumah sederhana namun terlihat bersih itu. Sejenak ia teringat akan rumahnya bersama mbok Yah dulu.


" Ar!" Panggil Jessika lagi yang membuat Arimbi menoleh, saat hendak menarik handle pintu mobil itu.


" Besok kita ketemu. Saya akan hubungi kamu nanti!" Jawab Jessika tersenyum. Menatap iba gadis malang itu.


Arimbi mengangguk dengan wajah lelah, dan kini meninggalkan dua manusia baik itu dengan mengangguk sopan.


" Kok aku enggak rela ya Pa kalau Arimbi sama Deo cuma...." Entah mengapa, Jessika merasakan sesuatu yang aneh saat berbicara dengan Arimbi. Sesuatu yang menciptakan jalaran rasa hangat.


" Papa baru dapat kiriman info dari Tomy. Kemarin dia ngelihat Roro sama seseorang. Sayang banget enggak bisa foto tuh anak. Kalau begini jadinya, Papa jadi mikir kayak mama!"


Kedua manusia itu kini tertegun. Apakah isi kepala mereka sama?


.


.


.