
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
...Arimbi ...
Semenjak tidak bekerja, ia sering menghabiskan waktu untuk ngulik resep di media sosial, lalu mempraktekkannya demi memanjakan lidah sang suami, atau berkirim makanan untuk kedua mertuanya juga ibu adiknya.
Dia yang tidak begitu mahir dalam memasak, akhirnya menekatkan dirinya untuk bangkit demi stabilitas rumah tangganya. Ia tak mau berleha-leha, sebab sedari dulu Arimbi memang tipe orang yang tak mau diam.
Namun, seminggu terkahir ini, ia sering merasa tak berselera makan ataupun berekreasi masakan. Ia beranggapan, lelah usai pesta pernikahan rupanya membawa efek lesu yang cukup panjang.
Pagi itu, ia tidak tahu jika Mama Jessika datang kerumah sebab Deo memberitahu jika dirinya tengah sakit.
TING TONG
Arimbi yang baru aja hendak mengambil air dalam kulkas seketika menoleh demi suara dentang bel.
" Siapa?" Gumamnya seraya menutup daun pintu lemari es dengan wajah bingung. Pasalnya, ia tak memiliki janji dengan siapapun pagi ini.
Ia berjalan dengan tenggorokan yang terasa pahit. Mirip saat ia kena tipes beberapa tahun yang lalu.
CEKLEK!
" Mama? Astaga, maaf Ma..tadi Arimbi...," Ucapnya merasa bersalah karena tidak segera membukakan pintu. Membuat kedua mertuanya tersenyum.
" Deo nelpon Mama tadi. Dia bilang kalau kamu sakit. Tapi kalau Mama lihat memang beneran pucet loh Ar!"
" Apa? CK, mas Deo keterlaluan, aku kan enggak apa-apa padahal!" Gerutu Arimbi dalam hati sebab merasa jika suaminya terlalu berlebihan.
" Masuk dulu Ma, Pa!" Ucap Arimbi yang merasa sungkan dengan kedua orang baik itu. Menepikan rasa sebal terhadap suaminya yang lebay itu.
" Ma, kayaknya anak-anak enggak bisa di biarkan begini deh!" Seru David seraya berjalan di belakang istrinya
" Maksud Papa?"
" Ya...rumah ini harus ada ART, gak bisa begini. Arimbi pasti kecapekan ngurus ini itu. Makanya dia sakit!" Jelas Papa David.
Membuat Mama Jessika nampak berpikir.
" Papa bener. Ar, pokoknya kali ini kamu enggak boleh nolak apa mau Mama. Udah saatnya kamu punya ART, Mama enggak mau kamu sakit kayak begini lagi!" Ucap Mama Jessika menatap lurus anak menantunya itu.
" CK, Mas Deo ngapain pakai ngadu sih?" Batin Arimbi yang jelas merasa tak enak hati.
" Arimbi nurut aja apa kata Mama. Oh iya, Mama udah sarapan? Arimbi masakin sebentar ya? Tadi Arimbi belum sempat masak. Tapi sebentar Ma, Arimbi mau ambil masker dulu. Suka pusing kalau nyium bau nasi, hehehe!"
Kini, David dan Jessika saling bersitatap. Mengapa wajah dan tubuh menantunya begitu aneh?
.
.
Erik
Ia nampak bersiul saat membuka pintu ruang operation yang berisikan Daniel, Hizkia dan rekan-rekan yang lain. Berniat melimpahkan sedikit tanggung jawabnya, sebelum ia melenggang ke kawasan pantai Kurawa.
" Si Dian belum masuk?" Tanya Erik yang berhasil menghancurkan konsentrasi para punggawa jantan di siang itu.
" Belum, masih mau kontrol lagi dia. Biarin pemulihan dulu lah. Aku aja ngeri lihatnya!" Sahut Hizkia bergidik yang beberapa waktu lalu turut menjenguk rekannya yang kena sial itu.
Membuat Erik terkekeh-kekeh.
" Dan, lu standby disini kan? Aku ada tugas negara nih!" Ucap Erik berdiplomasi dengan orang kepercayaannya itu.
" Waduh, saya udah ada janji sama Resita mas, mau makan siang diluar!" Jawab Daniel yang kini menghentikan kegiatannya.
Membuat Erik melirik tajam pria tampan yang kerap ia curangi itu.
" Mas Erik kalah cepat sih. Masa yang pendekatan duluan mas Erik, yang kelihatan kabar bagusnya malah di Daniel! Ucap Hizkia menahan tawa dengan gerakan seperti batuk.
Membuat Erik mendengus. Sialan!
" Ya udah lah, kali ini kalian saya maafin meski kalian buly saya" Jawab Erik bersedekap. Membuat para pejantan disana tergelak demi melihat Erik yang penuh kepasrahan.
" Hiz, elu standby di sini dulu jangan kemana-mana. Ada tugas penting aku soalnya!" Ucap Erik tak mau basa-basi.
" Aman mas, tapi...bawakan rokok dong mas, kosong nih disini!" Sergah Hizkia seraya mengerlingkan matanya ke arah Daniel.
" Minta Gupron beli, nih duitnya. Ingat, Carter Flight estimasi menit 30! Jangan sampai ada komplain!" Tukas Erik seraya menarik dua lembar uang.
" Ashiiaap!" Sahut Hizkia girang demi dua lembar pecahan bergambar Muhamad Hatta itu.
Dasar pengeretan!
Usai memastikan jika operasional telah aman di tangan Hizkia, pria dengan rambut yang nampak selalu basah karena minyak bermerk itu melajukan mobilnya ke kedai Wiwit.
Berniat berdiplomasi sebab Deo ingin membooking tempat yang bagus untuk menuruti Arimbi.
Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Sekali tepuk, dua nyamuk mati. Sekali berangkat, dua tugas terberesi. Begitu pikir Erik yang senang karena sebentar lagi akan bertemu wanita incarannya.
Namun, setibanya dia di kedai, matanya justru terbelalak demi melihat Wiwit yang nampak bersenda gurau dengan seorang laki-laki.
DEG
" Siapa dia? Kenapa mereka akrab sekali?" Gumamnya melepaskan seat belt, dengan mata menatap lurus tak lekang.
Ia membuka pintu mobil, lalu berjalan menuju tempat dengan luas sepuluh meter itu.
"Permisi!" Ucapnya masih mengenakan kacamata hitam yang bertengger rapih diatas hidungnya. Menatap lurus Wiwit yang masih asyik bercengkrama.
Membuat kerumunan orang yang ada disana seketika kompak menoleh.
" Mas Erik?" Sapa Wiwit terkejut seperti biasanya.
" Wit, bisa kita bicara sebentar? Ada titipan dari Deo!" Ucap Erik sembari melirik sinis pria yang nampak turut tersenyum kepadanya.
Benar-benar jealous.
"Emmm, kalau gitu silahkan du.."
" Kita bisa nggak ngobrolnya disana!" Tunjuk Erik ke arah gazebo yang ada di tepi pantai.
Membuat Wiwit menelan ludahnya.
" Ada apa sebenarnya, kenapa Erik terlihat ketus?"
.
.
Wiwit
Tadinya ia takut demi melihat raut keruh milik Erik. Namun, semua itu terpungkasi kala ia menjelaskan jika laki-laki tadi merupakan saudaranya.
Ia tersenyum demi mendengar cerita dari Erik soal Arimbi yang bertingkah aneh belakangan ini. Dan prediksinya, adiknya itu sepertinya memang tengah berbadan dua.
" Jadi, mereka mau datang kapan mas?" Tanya Wiwit antusias.
" Sore nanti, mau lihat sunset katanya!" Jawab Erik menikmati seraut ayu milik Wiwit.
Ia mengangguk, " Aku turut senang. Itu artinya, aku akan dapat keponakan!" Ucap Wiwit dengan wajah berbinar, dan terpaan angin laut yang membelai wajahnya itu makin membuat wajah Wiwit berseri.
Membuat Erik spontan turut manarik seulas senyum.
" Kamu cantik banget Wit!"
"Memiliki anak itu adalah satu keberkahan Mas. Karena anak, rumah tangga bisa dianggap lebih sempurna!" Ucap Wiwit dengan tatapan menerawang. Sedikit menyuguhkan raut murung.
Erik mendadak mengerutkan keningnya kala melihat kesenduan di wajah Wiwit.
" Kau Kenapa?" Tanya Erik tiada bisa menahan.
Wiwit menggelengkan kepalanya, " Andai dulu anakku hidup, mungkin dia sudah berlarian kesana-kemari mencari kelomang disana mas!" Ucapnya dengan senyum sumbang.
" Tapi...," Wiwit terlihat menggantung ucapannya dan hanya menghela napas panjang.
Membuat hati Erik nyeri.
" Tapi, aku yakin kalau suamiku nanti pulang, kami akan..."
DEG
Erik mendadak tersentak, demi melihat Wiwit yang tercekat dan tak dapat melanjutkan ucapannya.
Erik tahu, jika Wiwit pasti lagi-lagi teringat akan mendiang suaminya.
" Maaf!" Ucap Wiwit demi menyadari jika ia telah jauh dalam berucap. Wanita itu nampak menyusut sudut matanya yang basah karena air.
" Sebaiknya kita kembal..."
" Wit!" Ucap Erik serius seraya menangkap tangan bersih Wiwit yang hendak beranjak. Membuat wanita itu tertegun.
Erik berdiri dan kini posisi mereka sama-sama telah berada di pembatas gasezo dari kayu itu. Hembusan angin genit membuat pakaian mereka berkibar kesana kemari.
" Aku tidak tahu bagiamana tanggapanmu ke aku. Tapi..., aku suka sama kmu Wit. Bahkan sejak kita pertama bertemu di tempat ini!"
" Tolong kasih aku kesempatan untuk kita dekat!"
DEG
DEG
Wiwit seketika menatap dua netra jernih Erik yang kini menyuguhkan wajah muram.
" Tidakkah kamu melihat semua itu dari caraku kepadamu selama ini?"
" Mas aku..."
" Wit, kamu harus menerima semua kenyataan hidup, jalan kamu masih panjang, kamu harus bisa move on. Suami kamu tidak akan pernah kembali seperti harapan kamu selama ini Wit!" Ucap Erik dengan suara menggebu-gebu.
Membuat bibir Wiwit seketika bergetar demi menahan kucuran kristal bening yang mulai merembes.
" Jangan tutup dirimu Wit, please!" Ucap Erik dengan mata berkaca-kaca dan hati yang begitu sesak.
.
.
.
.