
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Jessika
Ia sengaja meminta anak bungsunya, untuk mengantarkan dirinya menuju kediaman anak sulungnya pagi itu. Jessika baru tahu jika Arimbi terkena sanksi dari suami terselubungnya itu, dari Erik yang keceplosan semalam.
Ya, wanita itu berniat mengajak ngobrol Arimbi dan ingin memberitahu jika di bandara itu sangat riskan dengan hal-hal yang berbau keamanan.
Dan mungkin, Arimbi masih sedikit awam soal ini.
Demas menatap lekat wanita menarik hati yang kini jelas-jelas telah menjadi kakak iparnya itu. Masih belum bisa menepikan gejolak yang mengusiknya sejak pandangan pertama.
" Mama? Kok datang enggak bilang-bilang?" Tanya Deo dengan wajah resah. Membuat perdebatan antara dirinya dan Arimbi teralihkan sudah.
" Ngapain bilang-bilang. Mama sengaja pingin sidak kamu!" Sahut Jessika seraya berjalan maju.
Arimbi juga terlihat tak menggubris ucapan Deo. Dan kini, wanita itu terlihat menyongsong Jessika lalu meraih tangan wanita itu seraya mencium punggung tangannya.
Benar-benar santun.
" Kamu habis belanja Ar?" Tanya Jessika tersenyum senang kala melihat yang masih menenteng beberapa sayuran.
" Tadi ada kang sayur lewat Ma. Jadi sekalian. Gak taunya ibu-ibu komplek sini ramah-ramah!" Jawab Arimbi nyengir yang membaut Deo makin berdecak resah.
"Mama udah sarapan? Sarapan bareng yuk Ma. Tadi Arimbi ada bikin urap- urap daun pepaya!"
Deo mendelik. Kenapa Arimbi mendadak manis sekali dengan Mamanya. Dan tunggu dulu, wanita itu bahkan kini telah berani memanggil Jessika dengan sebuah ' Mama'.
Oh no!
Deo tidak tahu, jika Arimbi tengah memulai memainkan drama agar Jessika percaya jika dirinya telah menunaikan perjanjian itu dengan baik.
" Emm Mas Demas, kita sarapan yuk. Cobain masakan aku. Masakan wong ndeso!"
Demas yang tangannya di tarik Arimbi kini terlihat tersenyum. Arimbi yang tak merasai apapun itu terlihat melirik Deo yang terbengong-bengong. Terlihat sengaja melakukan gencatan senjata.
" Loh, kok Mas sih?" Sergah Jessika sambil menarik kursi di meja maka besar itu.
Membuat Demas melirik mamanya.
" Panggil Demas aja lah. Lawong kamu kakak iparnya Demas kok!" Ucap Jessika sembari celingak-celinguk memindai hasil olahan Arimbi pagi itu.
Kini, Arimbi meringis ke arah Demas dengan wajah sungkan.
Deo benar-benar tak habis pikir dengan sikap Arimbi yang mendadak berubah kala Jessika datang. Benar-benar tukang kamuflase yang kawakan.
Namun, Demas yang notabene menyukai Arimbi sejak pandangan pertama itu, merasa sedikit canggung. Pria itu justru salah mengartikan kebaikan Arimbi.
" Ya ampun Ar, kamu masak jam berapa? Kamu bikin urap sendiri? Aku kok jadi ingat Mak Wek ku ya Ar!" Ucap Jessika dengan mata berkaca-kaca menatap menantu instannya.
" Saya bangun pagi Ma. Kalau tidur sendiri itu enak bangun pagi kare..." Arimbi mendelik demi menyadari kesalahannya dalam berucap.
Wadiaww!!
Membuat Jessika memicingkan matanya.
" Maksud saya..."
" Udah jangan banyak ngobrol. Cepat makan. Aku mau rapat sama orang kementrian perhubungan setelah ini!"
Sahut Deo cepat-cepat sebelum Arimbi makin jauh lagi dalam berkata. Bagaimanapun juga, Deo takut jika wanita itu berkata jujur soal kedatangan Roro semalam.
Jessika menatap anak dan menantunya itu secara bergantian. Jelas mereka menyimpan seseorang yang tak ia ketahui.
.
.
Deo
Membuatnya resah dan gelisah saja.
Selesai rapat bersama para orang dari Kementerian Perhubungan, Erik yang juga berada di ruangan yang sama, siang itu terlihat memperhatikan bosnya yang nampak murung.
" Kenapa lagi si Pak bos. Begitu sekali mukanya!" Batin Erik yang paham jika Deo pasti tengah mumet akibat memikirkan sesuatu.
" Rik, apa anak-anak baru itu sudah pada pulang?"
"Siapa pak?" Sahut Erik cepat.
" Teman-teman seangkatan Arimbi itu loh?"
" Oh itu, sepertinya sudah. Ini kan sudah jam dua lebih. Mereka pertukaran sift jam dua siang kan yang masuk pagi!"
Membuat Deo terlihat berpikir.
Sementara itu yang di bicarakan.
Eva, Dian, Resita dan Yohan juga Arimbi, terlihat duduk memutar di sebuah meja persegi panjang, di sebuah tempat tongkrongan dengan nuansa hijau yang memanjakan mata.
Sebuah tanaman merambat kini tumbuh subuh dan menjalar bahkan menjuntai indah di sisi mereka. Ya, Arimbi sengaja mengundang hadirkan gengnya agar mereka tidak curiga.
" Jadi elu beneran juga kena? Masa anak baru dapat SP. Pak Deo itu serius kah?" Tanya Dian yang mencomot dimsum dari seafood itu dengan wajah antusias.
" Ya benar lah. Makanya aku gk boleh masuk. ID card ku sama ID card si Kenanga aja di sita sama Deodoran!" Jawab Arimbi memanyunkan bibirnya.
Resita terlihat mengernyitkan keningnya, " Padahal elu anak baru Ar. Kontrak aja kita belum tanda tangan!"
Mereka semua mengangguk setuju dengan ucapan gadis yang gemar menyanggul rambutnya itu.
" Kayaknya senior kita itu dendam kesumat banget sama elu Ar!" Tukas Eva yang kini mulai mengaduk sedotan minumannya, sebab lehernya seret.
Dian mengangguk menyetujui.
" Tapi, sepertinya dia itu iri deh Ar. Maklum, kak Daniel kan ngincer kamu terus!" Imbuh Yohan dengan wajah serius. Membuat Resita kini seketika menelan ludahnya. Benarkah jika Resita cemburu?
" Alah Ar, orang itu berbeda-beda tingkat kesengsaraanya. Kalau enggak gini, elu mana tahu kalau segala sesuatu enggak musti selesai dengan amarah!"
" Udahlah, itung-itung biar kamu istirahat. Tapi ngomong-ngomong, kok elu mendadak banyak duit jadi nraktir kita? Biasanya...." Eva menatap curiga Arimbi.
" Oh baru ada rejeki. Ibuk baru dapat komisi jadi perantara penjualan tanah di dekat rumah!" Bohong Arimbi meringis.
Dian mengangguk-angguk, " Aku kira dapat duit dari jual diri! Udah ketar-ketir aja ini aku Ar!" Sahut Dian terkekeh-kekeh.
" Matamu!" Eva mengosek kepala Dian yang rambutnya selaku licin dan basah itu.
" Hih, biang sablah nih seneng banget memporak-porandakan mahkotaku!" Dengus Dian kepada Eva yang sering merusak rambutnya.
Membuat mereka semua tergelak demi melihat dua manusia yang tadi pernah akur itu.
Dan saat asik dalam gelak tawa, mata Arimbi membulat demi melihat Deo yang datang bersama Roro ke cafe itu.
DEG
Dan entah mengapa, dada Arimbi serasa tak terima, manakala melihat pria yang sebenarnya adalah suaminya itu memeluk pinggang ramping wanita yang selalunya berdandan hedon itu, dengan sikap mesra.
Membuatnya seketika menundukan pandangannya, sebelum teman-temannya menyadari reaksi keterkejutannya.
" Kenapa aku tidak suka melihat hal ini?" Batin Arimbi yang mendadak hatinya mencelos manakala menyaksikan hal itu dengan mata kepalanya sendiri.
"Lah Ar, kamu kenapa? Kok tiba-tiba pucet begitu?" Tanya Resita dengan raut resah. Membuat yang lainnya kini turut mengalihkan atensi mereka kepada Arimbi.
Resita tidak tahu. Rekannya itu mendadak pucat sebab Arimbi kini tengah meredam rasa, yang mendadak hinggap tanpa ia undang.
Rasa aneh yang terasa tidak nyaman. Rasa yang Arimbi sendiri tidak paham.
Cemburu?
.
.
.