My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 25. Bertemu lagi



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Deo


Dengan lesu ia melempar punggungnya ke sandaran singgasananya. Belakangan ini ia bekerja dalam suasana under pressure sebab pihak Andanu Air benar-benar teliti soal equipment serta kendaraan yang mereka miliki sebagai penunjang pelayanan.


Sejumlah personel Avsec dalam tubuh GH serta lisensi yang wajib diperbaharui, jelas menyita semua fokusnya untuk meng- cross check.


Beberapa alat berat serta prasarana lain yang kini sudah mereka tambah, juga cukup menguras dana di perusahaannya. Tapi itulah Deo, pria itu mampu memperhitungkan segala aspek demi kesejahteraan karyawannya.


" Ada masalah bos!" Ucap Erik dengan wajah kusut.


" Apalagi? " Tanya Deo tak kalah keruh.


" Beberapa senior protes karena Arimbi yang notabene anak baru dimasukkan di flight inter!" Jawab Erik dengan alis berkerut.


" Mereka iri?"


Erik mengangguk.


" Panggil si Daniel, minta dia membereskan semuanya!" Deo ogah untuk memikirkan hal sepele seperti itu. Baginya, hal remeh temeh seperti itu harus menjadi tugas Daniel dalam membereskan.


Deo benar-benar tidak mood. Hatinya resah demi merasai Roro. Entahlah, ia tidak suka dengan perselingkuhan. Tidak sama sekali.


" Rik, aku pergi dulu. Kalau ada apa-apa info aja nanti!" Ia berucap sambil menyambar sebuah kunci mobil dengan malas. Meninggalkan Erik yang terbengong-bengong menatapnya.


Ia memilih pergi dan melajukan mobilnya menuju kerumahnya. Tak dinyana, Roro rupanya menunggu di depan rumahnya. Membuat Deo terkejut.


" Dia bahkan tidak memberitahuku jika dia sudah pulang!" Batin Deo kala menarik tuas handrem ke kediamannya.


Ia masih menyuguhkan raut biasa saja saat Roro kini datang menyambutnya.


" Sayang, i Miss you!" Roro memeluk erat Deo dengan manja dan menggesekkan benda palsu kebanggaannya itu. Berniat menggoda Deo dengan pakaiannya yang serba kurang bahan.


" Aku lelah, aku mau masuk!" Deo tak bergairah sama sekali. Entah mengapa, ia seperti tersugesti ucapan orangnya beberapa waktu lalu.


Roro memanyunkan bibirnya. " Kamu marah ya? Sory, di Kalimandaru enggak ada sinyal sayang. Lagipula, aku mau kasih kamu kejutan!" Roro berjalan mengikuti Deo yang melesat kedalam.


Deo masih datar. " Dan aku nggak terkejut sama sekali!"


Membuat Roro menelan ludahnya dengan susah payah.


" Sayang! Sayang!" Roro resah saat melihat gelagat Deo yang dingin. Ia bahkan kesulitan menyamakan langkahnya saat ini.


Dan interaksi kedua manusia itu, tanpa sengaja dilihat oleh dua netra asing dari luar. Netra yang tanpa mereka ketahui mengawasi tindak tanduk keduanya selama ini.


...----------------...


Arimbi


Ia menolak ajakan Eva untuk pergi ke pantai bersama ketiga kawannya yang lain. Arimbi berniat mengubah penampilannya, tanpa sepengetahuan Dian dan kawan-kawan.


Seragam yang baru ia dapat rencananya akan dia cucikan ke tempat laundry yang tak jauh darinya. Sengaja memilih tempat yang sepi agar nanti sore bisa di ambil. Baju baru hasil dari konveksi besar seringnya kotor walau terlihat bersih, dan Arimbi sangat menjaga hal itu.


Usai dari tempat pencucian baju itu, ia melesatkan motornya menuju sebuah salon yang cukup trending di jagat maya.


L.A salon.


Entah apa maksud dari nama salon itu, yang jelas salon itu memiliki kualitas nomer wahid di kota tempat Arimbi tinggal.


" Halo say, ada yang bisa di bantu?"


Seorang manusia yang sepertinya segolongan dengan Dian terlihat menyambutnya. Hanya saja, orang itu mengenakan pakaian yang biasa di pakai wanita. Ya, waria dengan jakun besar itu terlihat ramah kala menyambutnya.


" Anu..." Arimbi bingung mau memanggil makhluk itu dengan sebutan bagaimana. Takut salah.


" Saya mau potong rambut pendek!"


Orang yang mengenakan baju motif macan tutul itu terlihat memindai Arimbi dari atas hingga kebawah. Membuat Arimbi meringis paksa.


" Duduk dulu, biar eike cek!" Orang itu menarik sebuah kursi salon warna hitam yang berasa di depan kaca besar.


Arimbi mengangguk. Salon itu agak ramai pagi ini. Mulai dari pelurusan, hingga tanam bulu mata palsu.


" Model gimana cin?" Tanya orang itu lagi sambil mengucek kondisi rambut Arimbi.


" Pendek, kayak gini..." Arimbi menunjukkan foto seorang cabin crew dengan model bob berponi layer samping, yang terlihat anggun.


"Cucok, wajahmu tirus, match banget kalau mau potong begitu!"


Namun, saat orang itu hendak mengambil gunting dan perintilannya, hal mengejutkan yang cukup menggelitik membuatnya melebarkan mata.


Arimbi mendelik saat mendengar suara khodam orang itu. Suara garang yang kontras dengan tampilnya yang betina banget.


" Kebiasaan, orang begitu itu tuman kalau enggak di usir!" Gerutu pemilik salon itu.


Arimbi hanya diam. Ia menatap pengemis tua yang kini duduk di emperan salon itu seraya duduk tengadah dengan wajah prihatin.


" Kasihan kak!" Lirihnya agak protes.


" Jangan mudah kasihan, kita nggak tahu dulu dia pernah jahat apa enggak. Lagipula, sekarang itu marak pengemis abal-abal. Dulu aku udah pernah. Ngasih di dekat lampu merah, e ngga taunya dia pulang ada yang nyegat pakai mobil. Asu nggak tuh!"


Arimbi tergelak saat orang itu misuh-misuh. Terlihatlah alami sekali.


Kadang benar juga sih, hal seperti itu membuat orang yang benar-benar membutuhkan terkena imbasnya.


Orang itu terlihat lihai dan profesional dalam melakukan pekerjaannya. Tak heran, harga yang di patok salon itu cukup tinggi.


Selain potong rambut, Arimbi tergiur untuk creambath dan juga merapikan alisnya. Membuat dia harus menghabiskan sisa uangnya lebih banyak lagi. Ia hanya ingin, tampil fresh besok.


Setelah beberapa saat, Arimbi mematut dirinya ke cermin besar di depannya. Tak di sangka, ia benar-benar terlihat berbeda degan potongan seperti itu. Ia puas.


" Duh cantik banget elu, ngiri deh aku!" Ucap orang itu dengan tersenyum genit saat menyisir rambut Arimbi menggunakan jarinya yang lentik.


Golongan tulang lunak memang terkenal dengan ketelatenannya yang patut di acungi jempol. Benar-benar luar biasa.


Arimbi puas dengan hasilnya. Kini, ia sudah tidak perlu lagi pusing-pusing mencepol rambutnya.


Usai membayar dengan nominal yang lumayan menguras koceknya, Arimbi menuju ke arah luar dan berniat menemui pengemis itu.


Matahari sudah agak meninggi, cuaca terik membuat tenggorokannya meronta- ronta untuk di hidrasi. Dari tempatnya berdiri ia melihat sebuah stand nasi bungkus dan juga penjual es tebu.


" Cukup lah kalau untuk makan berdua dengan pak tua itu!"


" Pak, sampun dahar? ( sudah makan?" Ia mendatangi pengemis yang memeluk lututnya itu dengan wajah layu.


Pria kumal itu mendongak lalu menggeleng. Agak terkejut saat memindai Arimbi.


Arimbi tertegun, uang di dompetnya sebenernya tinggal beberapa. Tapi, hatinya benar-benar tersentuh dengan keadaan orang itu .


" Kita makan ya Pak, saya ada rezeki. Mari!"


Tuna wisma itu agaknya merasa senang dengan ajakan Arimbi, pria dengan baju compang - camping itu kini berjalan beriringan bersama Arimbi.


Tanpa ia ketahui, sebuah mobil yang kini masuk mendadak menghadang langkahnya.


" CK, sombong banget tuh orang, sialan!" Maki Arimbi saat ia dan pak tua itu nyaris saja terserempet.


Tak di nyana, Arimbi terkejut kala mengetahui jika penumpang mobil itu merupakan Deo dan Roro.


" Si Deodoran rupanya!"


.


.


Deo


Roro selalu berhasil merayu Deo dengan segala caranya. Mulai cara bersih hingga cara kotor.


Wanita itu usai membantu Deo ganti oli di dalam kamarnya, kini ia meminta kepada kekasihnya itu untuk mengantarkan dirinya menuju salon langganannya.


Deo yang menyadari nyaris menyerempet seseorang kini turun dengan perasaan was-was. Berniat meminta maaf.


Namun, hal yang mencengangkan justru membuatnya tercekat. Ia melihat Arimbi yang menatapnya dengan tatapan tajam.


" Itu kan.."


Ia bahkan terpesona saat melihat Arimbi yang benar-benar berbeda. Rambutnya yang pendek, kini menambah kesan anggun.


Deo mematung demi melihat Arimbi yang terlihat cantik dari biasanya, alisnya yang tebal kini tertata rapih.


Ia menggeleng cepat demi menggugurkan sugesti aneh yang mendadak muncul dalam hatinya. Ia juga mendecak kagum, saat melihat Arimbi yang berjalan di samping seorang pengemis.


" De, ngelihat siapa sih?" Tanya Roro yang terlihat kesal dengan kekasihnya itu.


.


.


.


.


Up slow ya buebo🤟😘