
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Deo
" Dimana mereka sekarang?"
Ia bahkan tak menyimak dengan baik kalimat bernada informatif yang tadi sudah si sampaikan oleh Heni di awal kalimat tadi.
Benar-benar hanya fokus dengan kata ' Arimbi berkelahi '.
Membuat beberapa karyawan disana menelan ludahnya karena takut. Yes , big bos mereka ada disana. Dan jelas ini akan menjadi hari yang buruk untuk keduanya.
Orang baru dan pelanggaran, jelas akan menjadi representasi buruk dari integritas yang dimilikinya.
" Biar saya saja Pak yang..."
" Antar saya kesana!" Deo mengabaikan ucapan Daniel yang dibuatnya menguap percuma.
Dan kini, Deo terlihat menatap cleaning service yang makin pucat itu dengan rahang yang sudah mengeras. Membuat Daniel dan beberapa orang lain kini saling menatap.
" Kenapa Pak Deo terlihat cemas sekali?"
Beberapa saat kemudian.
" Anjing lu!"
BRUAK!!
Suara gaduh dalam toilet itu bahkan sudah mengundang perhatian beberapa karyawan lain yang hendak menuju ke tempat itu. Ya, bandara memiliki banyak sekali stakeholder, yang memperkerjakan ratusan karyawan dari background yang berbeda.
" Celeng!"
Deo bisa mendengar dengan jelas suara penuh sumpah serapah, serta nama-nama hewan di kebun binatang yang saling bersahutan, manakala ia tiba di lorong menuju toilet karyawan itu.
Para manusia kepo yang sudah berkerumun hendak memisahkan dua manusia itu, kini terkejut dengan kedatangan orang nomer satu di GH yang datang di temani oleh beberapa aviation security.
" Arimbi! Kenanga!"
Membuat dua manusia yang memiliki nama itu, kini menoleh dengan wajah terkaget-kaget.
.
.
Krik...krik...krik...
Suasana hening dan kaku telah tercipta selama beberapa menit, sesaat sebelum Deo masuk sebab membereskan beberapa hal kepada pihak keamanan bandara, atas keonaran yang dibuat oleh Arimbi dan Kenanga.
Arimbi bersama rivalnya kini terlihat duduk dengan wajah babak belur, usai di gelandang menuju kantor GH yang ada di dalam bandara.
Arimbi dan Kenanga duduk di pisahkan. Entah bagiamana caranya mereka berkelahi tadi, yang jelas, mata Kenanga kini terlihat membiru.
Daniel dan Bu Fransiska selaku penanggungjawab SDM itu turut berada di ruangan yang terasa mencekam itu. Menatap murung dua rekan, yang harusnya bisa berkolaborasi dengan baik.
" Apa kalian tidak punya otak, hah?"
Kenanga nampak takut dan terkejut saat Deo menunjukkan kemarahannya yang tidak main-main. Ya, anak sulung Jessika itu terlihat begitu marah dan tak mentolerir kejadian memalukan ini.
Tapi tidak dengan Arimbi. Wanita itu mulai terbiasa dengan mulut pedas Deo, yang kesehariannya telah lancar menyakiti dirinya. Ya, Arimbi malas sebab tahu jelas ia yang akan di salahkan.
" Kalian tahu, gara-gara tindakan kalian ini saya bisa kena tegur pihak Nawangsa Pura, tau kalian!" Bentak Deo kembali dengan suara menggelegar. Suara yang seolah-olah akan menelan hidup-hidup semua yang ada di sana.
Keras dan menakutkan.
Bibir Arimbi lecet. Entah apa yang di lakukan oleh Kenanga padanya tadi. Lengan wanita itu juga penuh cakaran. Tapi, Kenanga agaknya menanggung penderitaan yang lebih ketimbang Arimbi. Perempuan bergaya Hedon itu kepalanya sedikit bocor akibat Arimbi timpuk dengan botol minyak wangi. Oh Gosh!
" Ini di airport! Kalau kalian mau duel, pergi ke lapangan sana!" Deo makin berang. Sama sekali tak habis pikir akan dengan sikap impulsif kedua karyawannya itu.
" Erik!"
Namun, di sela-sela kemarahannya, ia masih menyempatkan diri untuk melirik Arimbi yang terus meringis kesakitan. Mendadak merasa sedikit cemas.
" Ya Pak!" Sahut Erik yang namanya di panggil. Membuat kesemua yang ada disana kini menelan ludah.
" Buatkan SP 1!"
" Tapi Pak!" Kenanga langsung menatap protes Deo yang sudah memutuskan hukuman untuk mereka. Pun dengan Arimbi yang kini kaget namun masih bisa diam.
"Gaji pertama saja belum aku terima, masa aku juga kena SP? Aku kan baru dan belum tanda tangan surat kerja." Batin Arimbi yang lebih fokus soal income yang mungkin terpengaruh akibat aksi impulsifnya ini
Deo mendecak dalam hati kala menatap Arimbi yang justru termenung dan seperti memikirkan sesuatu.
" Anak itu benar-benar tidak bisa menghargai orang lain saat bicara ya." Batin Deo kesal demi melihat Arimbi yang terpekur menatap pojokan lantai granit itu.
" Setelah ini kalian berdua buat kronologi! Pihak security meminta itu semua dan tolong kalian tanda tangani surat pernyataan untuk tidak mengulangi perbuatan itu!" Tukas Erik dengan wajah serius.
Erik menatap muram ke arah Arimbi, pun dengan Daniel juga Bu Fransiska. Sedikit banyak mereka tahu, bila Kenanga lah yang sering melayangkan protes soal Arimbi selama seminggu terakhir.
" Kalau sudah di mengerti, sekarang bubar!" Titah Deo dengan wajah keruh.
Mereka semua seketika berhamburan dan menuju pintu keluar, demi melihat mood Deo yang benar-benar rusak. Namun, di sela-sela kemarahan, ada satu hal yang membuat Deo melirik Arimbi kembali.
" Ar, Na!" Panggil Daniel saat mereka berjejalan di pintu keluar ruangan, " Kalian naik ke ruangan atas ya, aku bantu buat kronologi!"
Deo lagi-lagi mendecak tak percaya akan kedekatan yang terbentuk dan bisa ia lihat dengan jelas itu. Membuat sesuatu yang bersifat tak mengenakkan kini muncul di relung hatinya.
" Daniel sialan!"
.
.
Pria baik, itulah predikat yang pantas di sematkan kepada Daniel. Pria itu tidak menunjukkan kepemihakannya, pada salah satu diantara peserta duel itu.
Daniel terlihat bertanggungjawab dan telaten memberi Arimbi dan Kenanga membuat kronologis kejadian walau waktunya mepet.
" Biar aku yang antar. Sebaiknya kalian pulang. Tidak mungkin juga kalian meng-handle dengan keadaan seperti ini!" Ucap Daniel manakala selembar kertas berisi kronologis yang telah selesai di buat, dan di bubuhkan tanda tangan oleh kedua pihak itu.
" Terimakasih Kak!"
Daniel mengangguk. Mengiringi kepergian dua gadis yang sepertinya masih belum bisa memaafkan satu sama lain itu.
Dan benar saja. Arimbi kini menuju ke parkiran motor, sementara Kenanga menuju ke parkiran mobilnya.
" Apes banget hidupku!" Ia mendudukkan tubuhnya ke atas jok motornya, lalu melihat ke arah spion motor yang di pinjamkan oleh Deo itu. Melihat bekas luka yang membuat bibirnya terasa ngilu.
Chat ponselnya ramai.
Dian : " Ar, elu dimana? Nanti selepas flight selesai aku tak kerumahmu ya?"
Eva : " Hooh, udah mending elu istirahat aja dulu. CK, emang asu itu si Kenanga. Tapi, bagus deh elu tonjok itu cangkem ( mulut) enggak bener, puas aku rasanya!"
Resita : " Ada apa sih? 🤔"
Dian : " Ini lagi, ada temennya geger geden enggak tau😤"
Eva :"@Resita, Arimbi sama Kenanga habis duel di jeding ( toilet). Entar kita balik duty mau kerumahnya Arimbi."
Arimbi yang membaca chat group dan menerangkan jika para rekannya akan menuju rumahnya, seketika menjadi bingung dan panik.
" Astaga, gimana ini? "
.
.
.
To be continued...