My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 82. Arti sebuah kerinduan



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Arimbi


Selepas penerbangan berakhir, ia yang turut dalam mobil yang di kemudian oleh pria yang khusus mengantar jemput rombongan Daniel itu tak bisa tenang.


Arimbi bahkan merasa resah, saat mengecek ponselnya berkali-kali namun tak satupun pesan yang Deo kirimkan. Membuatnya sejumput kegelisahan kian menyiksanya.


" Si Kenanga juga gak masuk Dan?" Tanya Novi yang kini memecah keheningan yang ada.


" Iya, dan yang lebih aku heran lagi, kenapa si Luki sama si Panji ikut juga dalam aksi mogok ini!" Jawab Daniel yang benar-benar kesal. Sama sekali tak mengerti jalan pikiran para rekannya itu.


" Padahal selama ini mereka adem- adem aja!" Timpal Andre yang sama tak habis pikirnya dengan laki-laki di sebelahnya itu.


" Kasihan banget Pak Deo. Di group manager barusan, dia kena damprat Pak Zakaria habis-habisan. Mas Erik juga sama, mereka lagi briefing sekarang. Kita berdoa aja biar kita masih bisa kerja bareng pak Deo. Jujur, walaupun dia mudah marah, tapi dia itu bos paling baik. Sekarang kalian bandingkan gaji kita sama gaji di GH lain. Kalah jauh!" Seru Daniel menunjukkan raut serius.


Novi mengangguk setuju, " Dan juga, beliaulah orang yang pertama yang mau kasih bantuan waktu nenekku sakit dulu Dan! Aku masih ingat saat keluarga pak Deo jenguk jenguk nenekku yang habis operasi!"


" Bener, beliau juga merupakan orang yang langsung kasih aku pinjaman tanpa bunga waktu aku mau beli motor baru pasca kecelakaan dulu itu. Mungkin kalau enggak di pinjami beliau, pasti sampai sekarang aku belum bisa beli!"


Orang baik. Itulah yang kini terselip dalam hati Arimbi, manakala mendengar sepenggal cerita dari beberapa rekannya itu. Nyatanya, sekalipun ia merupakan istri Deo, namun ia tak lebih dari seorang wanita yang tidak tahu apa-apa.


" Semoga engkau dikuatkan, suamiku!"


.


.


Eva


Ia yang sebenarnya masih mengeluhkan rasa tak enak di bandannya itu, kini berbohong manakala Arimbi nampak masuk bersama ketiga rekannya yang lain ke kamarnya siang jelang sore itu.


" Sory gaes. Aku muntah-muntah tadi. Untung Pak Demas beliin aku obat. Bener-bener gak kuat aku tadi gaes!" Terang Eva yang kini mencoba menyuguhkan raut biasa saja.


Daniel, Andre dan Novi menatap muram Eva yang kini berbaring diatas ranjangnya. Terlihat iba sebab kenapa banyak sekali yang menyandang kesusahan saat ini.


" Kantor pusat gimana kabarnya kak Daniel?" Tanya Eva mengalihkan tajuk pembicaraan.


" Mereka lagi briefing. Hizkia belum jawab pesanku!" Daniel menghela napas panjang. " Sebaiknya kita siap-siap. Karena besar kemungkinan, kita pasti diminta balik cepat!"


" Hah, terus Mas Dona dan yang lain? Mereka kan baru banget!" Tanya Eva penuh keterkejutan.


" Kita percayakan ke mereka. Seringkali keterdesakan itu malah mewujudkan kemampuan yang lebih!"


Keempat manusia itu kini saling mengangguk menyetujui ucapan bijak Daniel.


.


.


Arimbi


Ia nampak risau dan tak bisa memejamkan matanya barang sejenak. Bahkan, hingga pukul sepuluh malam, Deo tak juga menghubunginya.


Kemana dia? Dan sedang apa dia sekarang?


Kini, Arimbi merasa dia benar-benar sudah begitu tergantung kepada Deo. Wanita itu menitikan air matanya seorang diri, demi merasakan kerinduan dan juga rasa kasihan dalam waktu bersamaan. Terlebih, ia tahu jika suaminya itu tengah menghadapi situasi yang pelik.


Hingga menjelang dini hari, matanya tak juga mau terpejam. Ia terus terjaga bahkan di tepi jendela hotel, yang menampilkan kelip kota yang indah. Menatapnya nyalang penuh kegelisahan.


" Kenapa dia juga tak menjawab pesan dariku?"


TOK TOK TOK


Arimbi seketika tersentak dari lamunannya, dan dengan cepat berlari menuju ke arah pintu, demi ingin segera mengetahui siapakah sosok yang ada di balik pintu itu.


" Mas!"


Arimbi yang melihat Deo berdiri dengan wajah kusut itu seketika menghambur ke pelukannya. Memeluknya erat seolah tak bertemu sekian tahun.


Sejak pagi mereka berpisah dan baru dini hari ini mereka kembali bersua. Namun, kecemasan seorang istri nampaknya tak bisa Arimbi sembunyikan. Walaupun ia tahu, ia pasti tidak akan bisa menolong Deo.


" Masuk dulu, nanti ada yang lihat!" Ucap Deo dengan suara lelahnya. Mengusap punggung Arimbi seraya tersenyum.


Arimbi lega. Pikiran yang tidak-tidak yang mulai menghantui itu sirna sudah kala sosok yang mulai ia sayangi itu kini datang.


" Kenapa nangis?"


Bukannya menjawab, Arimbi justru membenamkan kepalanya ke dada bidang Deo, sembari menangis.


" Pesanku enggak di balas. Aku khawatir, maafkan aku mas. Aku gak bisa bantu apa-apa saat kamu kena masalah begini. Aku baru tahu kalau kamu..."


" Ssttt, aku yang minta maaf karena gak sempat ngabarin kamu. Tadi aku sama Demas bener-bener lagi sibuk konsultasi sama pengacaraku. Tadi papa udah bantu urus semuanya. Maaf ya?"


Arimbi menerima ciuman suaminya dengan penuh kasih. Ia yang benar-benar tahu arti sebuah kerinduan itu, kini tak mau lagi sok jual mahal kepada suaminya.


" Aku mandi disini ya?" Bisik Deo.


Arimbi mengangguk, sembari mengusap sisa air matanya. Ia menatap Deo penuh arti.


Menjamu suami yang tengah bergulat dengan stress agaknya bukanlah ide yang buruk. Ia memang tidak bisa menolong persoalan Deo yang berat, tapi ia masih bisa mengendurkan syaraf suaminya yang saat ini pasti tengah tegang.


Membuat Deo memicingkan matanya kala tangan Arimbi kini merayap dan mulai membuka kancing Deo satu persatu penuh sensualitas.


" Bagiamana... kalau... kita.. mandi bareng?"


Membuat Deo mendelik demi mendengar Arimbi yang kini menggerayangi dadanya yang tanpa pakaian itu.


.


.


Demas


Ia melempar punggungnya ke sandaran sofa seraya memijat keningnya yang terasa pusing. Kasihan, iba , juga merasa geram ia rasakan dalam waktu bersamaan.


Kasihan kepada Deo yang sudah pasti bakal menghadapi situasi yang sulit, dan geram kepada anak buah yang tidak tahu di untung itu.


Hah, benar-benar membuat seluruh tubuhnya terasa lelah.


Ia sedari siang tadi sibuk berdiskusi, serta membicarakan rapat terbatas antar keluarga mereka. Bramasta telah menyebarkan berita, jika mereka sengaja menjual kursi kepada penumpang lain. Benar-benar berita menjijikkan yang sangat membuat resah.


Demas menyeduh kopi instan di dalam kamarnya. Nampak mengistirahatkan diri dengan menikmati secangkir kopi hitam.


TRING


Sebuah pesan yang masuk membuat Demas mengerutkan keningnya. Siapa yang berkirim pesan di jam selarut ini pikirnya.


" Pak Demas sudah pulang? Saya tadi lapar dan sekarang lagi makan kwetiau di sebrang jalan. Pak Demas sudah makan belum? Mau saya bungkusin?"


Demas seketika menjengukkan kepalanya menatap ke arah jalan sesaat setelah menyibak gorden yang menutupi kaca lebar itu, mencari-cari keberadaan wanita yang rajin membuat onar itu.


" Astaga, apa dia selalu berbuat konyol seperti itu?" Gumamnya demi merasa jika jam ini sudah sangat malam.


" Ini sudah malam, kenapa kau keluar sendirian? Diam disana, aku kesana sekarang!" Balasnya dengan mendengus sebab merasa khawatir dengan wanita itu.


.


.


.


.