
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Arimbi
Beberapa waktu yang lalu, ia memang telah membiarkan Deo meledakkan benih kedalam rahimnya, tanpa ia halang- halangi lagi sejak hubungan mereka membaik.
Ia cenderung menerima, dan telah merasakan getaran lain yang mengindikasikan jika dirinya telah memiliki rasa terhadap Deo.
Perasaan tulus yang berubah menjadi rasa sayang.
Keputusan besar yang nyatanya menjadi cikal bakal bertenggernya calon janin yang sepertinya lekas tumbuh, dalam rahimnya yang subur.
Usai wadah kecil bulat dengan warna transparan itu terisi urine, dengan dada yang semakin berdebar, ia membuka alat tersebut sesuai dengan petunjuk yang telah ia baca di balik kemasan warna merah jambu itu.
Menarik napas berulang kali demi membunuh rasa gugup.
Tiga menit berselang, saat rentang waktu yang di standardkan itu telah usai, ia lekas menarik benda panjang itu dari celupan urine.
Memejamkan matanya barang sejenak seraya menarik napas dalam-dalam. Dan, hasil yang ada benar-benar membuatnya seketika lemas.
DEG!
.
.
Deo
Alis hitam nan tebal itu tiada henti berkerut, kala dengan resahnya ia menanti pintu kamar mandi itu terayun, untuk kemudian memperlihatkan istrinya.
Benar-benar tak sabar dengan hasil yang akan di beberkan oleh istrinya.
CEKLEK
Jantung yang semula biasa-biasa saja itu, kini terasa menjadi tremor kala pintu itu terbuka, dan menyuguhkan seraut wajah sembab, dengan mata yang nampak layu.
What's wrong?
" Sayang ?" Tanya Deo resah. Menyongsong Arimbi yang sepertinya menahan tangisnya.
Namun, bukannya menjawab, Arimbi justru menubruk Deo lalu menangis tanpa suara seraya mengeratkan pelukannya.
Benar-benar membuat jalaran rasa yang bercampur- campur itu, semakin membuncah dan menuntut untuk disiarkan.
" Aku hamil mas, aku hamil anak kamu!"
DEG!
Mata yang semula jernih itu, kini nampak mengabur perlahan lantaran jejalan air mata yang tiada bisa tertahan. Mengandung kadar ucapan syukur serta kebahagian yang tiada terkira.
Deo terlampau bahagia untuk saat ini. Akhirnya, segala daya juga upayanya untuk menghamili Arimbi tunai sudah.
" Terimakasih sayang! Terimakasih sudah membuatku bahagia!" Ucap Deo dengan suara bergetar. Dadanya penuh sukacita.
Terbayang akan keinginan Papa David yang ingin memiliki seorang cucu itu, akan terwujud dalam waktu dekat.
Membuat dokter yang ada di depan mereka tersenyum penuh rasa haru, demi interaksi yang tengah terjadi.
Namun sejurus kemudian, sebuah hal yang mengejutkan membuat Deo benar-benar tak habis pikir.
" Huek!"
" Huek!"
DEG
Deo mendelik dengan wajah penuh kebingungannya. Kenapa? Ada apa? Kenapa langsung mual begitu?
" Mas, bau kamu enggak enak banget, aku pusing nyiumnya, aku mau...,"
" Huek!"
What?
Dokter itu tersenyum simpul demi melihat hal konyol yang tejadi antara dua pasutri yang tengah berbagai itu.
" Hal seperti ini normal Pak. Ibu hamil memang lebih sensitif terhadap bau bauan!" Terang dokter wanita itu dengan ramah.
"Normal gimana dok, la saya terus gimana? Masa sama suaminya kebauan begini?" Tanya Deo semakin tak mengerti dengan apa yang terjadi. Apa salahnya sehingga Arimbi mual kala mencium aroma tubuhnya?
" Sebaiknya di kondisikan saja Pak, agar ibu juga merasa nyaman!".
"Apa? Saya harus mengkondisikan keadaan dengan berjauhan begitu? " Gumam Deo spontan demi menyadari jika hari-hari kedepannya jelas akan terancam.
Oh tidak!
.
.