My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 114. OMG



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Arimbi


Kemana kelok lilin, kesana arah angin bertiup. Kemana arah langkahnya, disitu sebenarnya tujuannya. Peribahasa itu seolah mewakili apa yang telah terjadi dalam kehidupannya.


Hari yang berganti semakin terasa menyenangkan bagi kedua pasangan yang tengah disibukkan mempersiapkan gelaran acar penting itu. Bahwa jalan yang mereka pilih, adalah jalan untuk semakin mengukuhkan niat hidup bersama, atas dasar jiwa yang mencintai satu sama lain. Bukan lagi atas dasar desakan norma semata.


Sama sekali tiada menyangka, jika dia yang awalnya terlibat skandal dengan bosnya yang teramat sombong itu, kini telah memetik jerih lelah keputusannya beberapa waktu silam.


" Sayang, kalau udah aku tunggu dibawah ya. Mama barusan nel..."


CEKLEK


Ucapannya yang menguap itu terjadi bersamaan dengan diri yang mendadak mematung, demi melihat sesosok cantik yang nampak berbeda dari biasanya.


DEG


DEG


DEG



Arimbi nampak terlihat berkelas dan fresh sekali pagi itu.


" Tante Bela sama Om Leo jadi datang?" Ucapnya santai dan tak terpengaruh wajah Deo yang kini benar-benar mirip orang bloon yang kena hipnotis.


" Ja- jadi, pasti jafi. Opa juga sudah datang!" Jawab Deo gagap seraya kesulitan menelan ludah. Arimbi benar-benar cantik sekali pagi itu. Oh God!


" Kamu kenapa sih mas?" Tanya Arimbi memanyunkan bibirnya demi risih dengan tatapan aneh suaminya.


Bukannya menjawab, Deo yang terlena akan pesona istrinya itu, malah memilih menarik pinggang Arimbi lalu mendaratkan ciuman panas ke bibir dengan lipthin natural itu, penuh cinta yang begitu mendalam.


Deo benar-benar tergugah gairaahnya pagi itu, demi melihat Arimbi yang memesona hatinya.


" Mmmmm!"


" Mmmmmm!"


Arimbi menggumam seraya memukul-mukul dada bidang suaminya yang keras itu sebab kesulitan bernapas. Membuat Deo terpaksa melepaskan ciumannya.


" Maaf!" Tutur Deo dengan senyuman yang tiada memudar. Benar-benar puas bisa mencecap bibir yang terasa begitu manis itu.


" Kebiasaan!" Dengus Arimbi yang kesal akibat ulah Deo.


" Siapa suruh dandan cantik begitu!" Sahut Deo dengan alis yang terangkat.


" Aku balik ganti daster aja atau gimana?" Jawab Arimbi jengah memutar bola matanya malas.


" Eits jangan. Nanti bukannya berangkat, aku malah males pergi kalau kamu gati baju dinas mu!" Sahut Deo tersenyum cabul.


Membuat Arimbi seketika mendelik demi ucapan absdurd yang di lontarkan oleh suaminya.


Dasar!


.


.


Kediaman keluarga David Darmawan


Claire nampak sibuk bersama Mama serta budenya di dapur. Keluarga Leo baru tiba semalam. Akhirnya setelah sempat mengalami penundaan selama beberapa hari, kini mereka bisa berkumpul kembali dengan situasi dan suasana yang lebih baik.


Mereka nampak ramai, riuh dan juga asyik. Rempong berjibaku mempersiapkan acara sarapan pagi yang akan dihadiri oleh keluarga mereka.


"Bude, ini udah begini aja?" Tanya Claire kepada Jessika yang nampak sibuk membantu ART mereka menata lauk.


" Tambahin bumbu urapnya Clai, kakak iparmu biar suka nanti!" Timpal Jessika dari meja yang berada tak jauh dari keponakannya itu.


Claire mengangguk penuh antusias. Walau ia telah mengenal Arimbi melalui medsos juga pesan singkat, namun ia masih penasaran seperti apa sosok wanita yang mampu membuat hati seorang Deo luluh.


" Kakak ipar, Arimbi suka sambal tidak ya? Aku pagi ini pingin makan sambal yang puedess!" Seru Bella dari arah belakang sambil membawa ceprek berisikan cabai dari ladang sendiri, bawang, juga terasi khas kota itu.


" Masih pagi udah sambal. Awas perut kamu!"


" Aman, dokter selalu sedia payung sebelum hujan. Sedia obat lambung sebelum nyikat sambal!" Sahut bela terkekeh-kekeh.


Membuat Jessika menggeleng pasrah. Kebiasaan Bella sedari dulu kalau mudik ke rumah disana, pasti selalu makan sambal tak peduli waktu.


Bahkan, kadang Leo yang mengetahui hal itu mewanti-wanti dengan tegas.


Pak Edy yang usianya tak lagi muda itu, nampak senang kala duduk di sofa ruang keluarga bersama kedua anaknya. Kembali mengingat masa-masa dimana ia dulu merintis perkebunan cabai dengan tak mudahnya.


Demas tak berada diantara mereka sebab anak bungsu David itu pamit untuk menjemput seseorang. Soal siapa dan dimana tempatnya, mereka juga tidak mengetahui.


Mereka tidak keberatan. Toh acara itu memang di khususkan untuk acara kelautan. Barangkali, Demas juga sudah mau menunjukkan wanita pilihannya. Itu lebih baik bukan?


TAP TAP TAP


Pak Edy, David dan Leo yang saling masih tergelak bersama itu, seketika menoleh kala suara sandal jepit terdengar menggema di dalam rumah.


Menampilkan sesosok gadis yang mengenakan celana pendek sebatas dengkul, kaos oblong, rambut yang di ikat asal menjulang keatas, serta wajah malas yang masih terkantuk-kantuk.


" Melodi, kamu baru bangun?" Tanya Leo kepada anak bungsunya dengan wajah terkejut.


Ya, adik Claire yang usianya hampir sama dengan Demas itu benar-benar berbeda dari mereka semua.


Berpenampilan agak tomboy, dan terlihat memiliki pola pikir paling santai. Tidak tertarik dengan bisnis, dan lebih suka dengan hal-hal berbau petualang, vlogging, ataupun menulis cerita pada platform online.


" Pada berisik sih, padahal masih subuh! Jadi kebangun deh!" Gerutu Melodi yang terganggu dengan suara ribut di pagi hari.


Maklum, rumah besar David hanya memiliki satu lantai namun luas. Tak seperti rumah Leo di kota yang memiliki lantai tiga.


Leo mendelik seraya menggelengkan kepalanya. Matahari sudah menyingsing dengan cerahnya dan melodi berkata jika saat itu masih subuh. Benar-benar.


" Kalau masih capek, coba mandi air hangat gih. Kakakmu setelah ini sudah mau datang!" Tutur David halus kepada keponakannya yang lebih dekat dengannya itu.


"Males Pakde, dingin disini. Nanti aja lah. Opa, pijit kepalaku dong. Pusing aku gara-gara naik mobil di supiri sama assistenya kak Demas. Supir apa sih dia sebenarnya. Biasa nyupir sayur kali!" Oceh Melodi demi mengingat dia yang berdebat dengan Fadli semalam.


Leo dan David saling menatap sembari kompak menggelengkan kepalanya.


Melodi yang menidurkan kepalanya diatas pangkuan sang kakek, justru makin terlelap kala pijat Opa makin endulitak.


Membuat Pak Edy tersenyum senang. Cucu perempuannya yang satu itu memang unik dan berbeda.


" Biarkan saja Leo. Di sini suhunya memang lebih dingin. Kasihan melodi!" Seru Pak Edy yang membuat dua anak laki-lakinya itu mau tak mau mengalah.


Diantara mereka berempat, Melodi memang menjadi cucu kesayangan Opa sebab lebih sering bisa meluangkan waktu untuk pria tua itu.


" Ah ya sudahlah Opa. Aku mau mandi dulu, jadi ngajak ke kebun kan nanti?"


Melodi akhirnya pergi demi teringat akan rencana dirinya bersama pria tua itu. Membuat Pak Edy tergelak.


" Dia sangat mirip dengan neneknya dulu!" Ucap Pak Edy dengan tatapan menerawang. Membuat dua anak laki-lakinya itu menatap muram Papanya yang sudah berusia lanjut.


Tak berselang lama, suara deru mobil yang mereka kenali terdengar dari depan, memecah kesenduan yang mendadak tercipta. Mengindikasikan jika salah satu yang tengah mereka tunggu telah datang.


" Selamat Pagi!"


Suara Deo yang ceria nampak membuat semua orang yang ada disana menoleh. Bersamaan dengan hal itu, Bella dan juga Jessika yang baru selesai menata sajian diatas meja makan, nampak berduyun-duyun menuju ketempat para suami mereka berada.


" Opa, apa kabar?" Deo langsung menuju kepada sesepuh di keluarganya itu. Mendahulukan orang tua yang memang telah menjadi tertua dalam dinasti keluarganya.


" Opa baik. Maafkan Opa baru bisa datang kemari nak. Opa sudah dengar semua dari Papa kamu. Opa bangga sama kamu. Bangga karena memilih bertanggungjawab!"


Deo tersenyum kala pundaknya ditepuk penuh kebanggaan oleh pria dengan uban yang menutup rata kepalanya itu.


" Mana cucu mantuku?" Tanya Pak Edy sejurus kemudian.


" Sayang, kenalkan. Ini Opa. Opa, ini Arimbi!" Tutur Deo seraya memperkenalkan mereka satu sama lain.


" Arimbi, nama ibu dari Gatotkaca kalau di pewayangan. Bagus sekali nak. Kalau dalam kisah Mahabharata, Dewi Arimbi itu merupakan istrinya Werkudara, atau yang biasa kita kenal dengan nama Bima!"


Kesemua orang disana tersenyum demi mendengar Pak Edy yang terlihat antusias dan senang kala mengisahkan cerita zaman dahulu. Namanya juga orang tua.


" Salam kenal Opa. Meski saya Arimbi, tapi saya bukan raksasa seperti di kisah pewayangan loh Opa!" Ucap Arimbi mencoba berkelakar. Membuat pria tua itu tergelak.


" Semoga sifat baik hati Dewi Arimbi ada pada kamu juga nak. Wajah kamu hampir mirip sama Deo. Semoga berjodoh hingga akhir hayat nanti!"


" Amin!" Ucap Arimbi tersenyum kepada pria tua itu.


" Deo!" Leo yang sudah lama tak bertemu dengan keponakannya itu seketika membuka tangannya kala Deo kini hendak menyapa. Memeluk erat pria yang benar-benar mengingatkan dirinya akan sosok David waktu muda dulu.


" Kabar sehat ya Om? Astaga, kita sudah lama sekali enggak bertemu!"


" Wah wah, yang ternyata udah punya bini diam-diam finally nyampek juga. Apa kabar brother? " Ucap Claire dengan wajah tersenyum senang dengan posisi yang baru saja datang dari arah dapur.


Membuat Deo tergelak.


" Sayang, kenalkan. Leo, ini istrinya, namanya Tante Bella, dan yang ini..." Tunjuk Deo sengaja menggantungkan kalimatnya agar istrinya mengingat sendiri siapa wanita yang ada di depannya.


" Dia wanita yang sempat kamu cemburui waktu kita di Tenggarang dulu itu. Yang kapan hari chat sama kamu juga!"


Membuat para orangtua disana saling menatap.


Cemburu?


Sama saudara suami sendiri?


" CK, mas Deo pakai acara bilang segala lagi. Kan jadi gak enak!" Batin Arimbi tersenyum keki.


" Halo kakak ipar. Aku Claire, nice to meet you!" Sapa Claire ramah.


" Halo Claire, aku Arimbi!" Balas Arimbi tak kalah ramah, sembari mencubit kecil pinggang suaminya, lantaran membuat malu. Sialan!


Arimbi menyalami satu persatu keluarga suaminya itu. Dimulai dari meraih tangan kedua mertua, kemudian Om Leo, Tante Bella dan terkahir Claire.


Semua nampak ramah, hangat dan karib. Nyatanya, apa yang di khawatirkan oleh Arimbi benar-benar tak ada yang tejadi. Keluarga itu merupakan manifestasi dari sifat dan sikap bersahaja secara nyata.


Dan saat mereka tengah asik bercengkerama, di meja makan, deru mesin mobil lain nampak terdengar menginterupsi.


" Nah itu kayaknya Demas!" Ucap Leo nampak senang


" Darimana dia emangnya Pah?" Tanya Claire yang penasaran.


" Jemput temennya katanya. Mama juga enggak tahu siapa" Balas Bella yang tahu jika keponakannya itu tengah pergi sebab menjemput seseorang.


Membuat Arimbi juga bertanya-tanya dalam hati.


Dan saat suara langkah itu semakin mendekat, terbelalak lah mata semua orang yang ada disana, kala Demas menggandeng tangan seorang wanita, yang hari itu berdandan cantik, dengan make flawless yang memesona.


" Eva!" Pekik Arimbi tak percaya jika yang datang itu adalah sahabatnya.


Oh My God!


.


.


.