My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 140. Titah orang tua



...🌿🌿🌿...


...β€’...


...β€’...


...β€’...


Demas


Reaksi tanpa embel-embel yang di tunjukkan oleh Eva benar-benar diluar dugaannya. Ia yang sebenarnya menjadi insecure sejak dokter menginformasikan jika ia terkena kelumpuhan pasca kecelakaan itu, kini seolah merasa menelan efek domino dari sikap ketusnya yang tanpa alasan itu.


Antara percaya dan tidak percaya.


" Kenapa Pak Demas diam. Bukankah tidak ada bedanya menikah sekarang atau nanti?" Tantang Eva dengan wajah yang ia condongkan ke arah Demas. Membuat jakun pria itu naik turun.


" Kenapa diam? Atau Pak Demas hanya nge- prank saya?" Ucap Eva sembari menarik sudut bibirnya.


" Wanita ini benar-benar!"


" Aku cacat!" Ketus Demas tanpa tedeng aling-aling.


" Kenapa Pak Demas memvonis diri Pak Demas sendiri dengan kata cacat?"


Demas tertegun. Benar sekali apa yang dikatakan oleh Eva. Namun, bukankan ia memang cacat saat ini?


" Apa Pak Demas pikir saya akan lari jika kondisi pak Demas seperti ini?" Tanya Eva sembari tersenyum sekilas.


Dan aroma napas wanita itu justru membuat pikiran Demas terusik. Damned!


" Istirahatlah. Kalau perlu apa-apa, bangunkan aku!" Seru Eva akhirnya demi melihat Demas yang speechless.


Demas semakin membisu dengan tubuh yang terdiam, saat dua netranya menatap punggung Eva yang menuju ke sofa di jarak tak kurang dari dua meter.


Eva nampak membaringkan tubuhnya lalu memejamkan matanya, sama sekali tak memperdulikan Demas yang masih dilanda oleh kebingungan.


I'm so tired!


.


.


Arimbi


Usai mandi dengan air hangat setelah tiba di kediamannya, ia kini terlihat membaringkan tubuhnya keatas ranjang ukuran sultan dengan piyama satin-nya.


Ia sibuk berbalas chat dengan Dian juga anggota group kece badai, manakala suaminya baru keluar dari kamar mandi.


Deo nampak memicingkan matanya demi melihat Arimbi yang terkikik-kikik sendiri aaat menekuni layar pipih itu.


" Udah malam, besok lagi!" Ucap Deo sembari menyambar ponsel yang menjadikan istrinya tertawa sendiri. Membuat Arimbi seketika melongo.


" Mas, kok di ambil sih. Lagi bahas pesan dari Resita loh!" Protes Arimbi dengan wajah muram.


" Udah malam, besok lagi. Ingat, kamu sekarang ini lagi hamil anak aku! Gak boleh capek-capek!" Ucap Deo bersidekap dengan posisi menyembunyikan ponsel Arimbi.


Membuat kakak dari Farel itu seketika menghembuskan napas panjang saking kesalnya.


" Mau apa?" Tanya Arimbi demi melihat Deo yang mulai merayap diatas kasur dan berniat turut membaringkan tubuhnya yang sama lelahnya.


" Tidur lah, mau ngapain lagi?" Jawab Deo asal.


" Huek!"


Membuat Deo yang baru saja hendak menarik selimut itu, sekitar bangun kembali.


" Mas jangan tidur disini, aku yang gak bisa tidur nanti!" Ucap Arimbi dengan suara sengar sebab hidupnya ia cubit.


" Apa? Yang benar saja, masa kamu tega biarin aku tidur di sofa sih?" Jawab Deo dengan wajah manyun. Sama sekali tak setuju jika ia harus tidur di sofa.


" Huek!"


" Kamu ini udah mandi belum sih mas?" Timpal Arimbi dengan wajah kesal. Ia merasa, bau suaminya itu benar-benar membuatnya mabok.


Deo benar-benar seperti makan buah simalakama. Astaga!


" Huek! Huek!"


Deo membulatkan matanya demi melihat Arimbi yang kini tunggang langgang menuju toilet, dan mengeluarkan seluruh isi perutnya.


" Apa kamu mau balas dendam ke papa nak?"


.


.


Kalau semua- semua selalu di kaitkan dengan materi, lalu apa kabar dengan orang-orang yang tulus seperti Eva?


Wanita itu tak bohong soal rasa kantuknya. Usai meletakkan kepalanya beberapa saat saja, wanita itu nampak terlelap dengan mulut yang sedikit terbuka. Menegaskan bila tubuhnya benar-benar capek.


Dan, dari jarak dua meter itu pula, Demas bisa melihat guratan penuh rasa lelah yang tersuguh pada wajah cantik Eva.


" Aku hanya takut jika semua ini akan menjadikan beban untukmu Va. Niatku menikahimu adalah agar kau dan ibumu bisa bahagia, bukan malah seperti ini!"


Deo menitikan air matanya demi melihat Eva yang nampak lelap dengan bekas luka yang masih ada di sana sini.


Benar-benar menyesali keadaannya yang tiada berguna.


Dan sejurus kemudian.


CEKLEK


David dan Jessika nampak menyembul dari balik pintu baja itu. Membuat Demas seketika buru-buru menyeka air matanya dengan punggung tangannya.


Namun terlambat, Jessika nampaknya mengetahui jika anak bungsunya itu barusaja menangis.


" Kalian sudah datang?" Tanya Demas canggung menggunakan suara lirih karena takut akan membuat Eva terbangun.


Namun, kedua orangtuanya tak menjawab namun justru mendekat ke arah Demas dengan pancaran sorot mata yang penuh rasa haru.


" Arimbi sudah cerita ke mama kalau kamu..."


Membuat Demas yang tahu kemana arah pembicaraan Mamanya itu, seketika menatap wajah Jessika.


" Maafkan Demas karena tidak memberitahu Papa sama Mama soal ini! Niat Demas sebetulnya....,"


Jessika menoleh ke arah Eva yang bahkan tidak terganggu dengan kedatangan mereka. Membuat Jessika yakin, jika wanita itu benar-benar kelelahan.


" Apa kau benar-benar mencintai Eva?"


Membuat Demas balik mendongak.


" Kenapa Mama bertanya seperti itu?"


" Jawab saja!"


Membuat suasana kembali hening.


" Mama sama Papa juga ibunya Eva sudah memutuskan untuk segera menikahkan kalian. Mama yakin Eva pasti setuju!"


What?


" Tapi Ma Demas..."


" Kita akan lihat, apa Eva memang benar-benar tulus, atau tidak!"


.


.


.


.


.


Readers terkasih, bab 139 coba di baca ulang ya. Kemarin itu ada kesalahan sepertinya πŸ™


Sehat sehat semua yaπŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜