My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 49. Percikan api kecemburuan



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Deo


Ia seketika mengajak Roro pergi dengan segera, walau isi hati wanita itu penuh tanda tanya sebab wajah Deo terlihat begitu keruh.


" Sayang, kita jad..."


" Aku antar kamu pulang dulu. Nanti malam aja kita keluar, aku ada beberapa urusan!" Jawab Deo datar dan membuat ucapan Roro terhenti sebelum waktunya.


Roro diam dengan hati dongkol. Semakin kesini, Deo semakin berubah saja pikirnya. Membuat kebencian yang bersarang dalam dada wanita itu, makin membara.


Dan beberapa urusan itu tak lain adalah urusannya soal Arimbi. Pria itu sendiri saja bahkan tidak tahu, mengapa dirinya bisa begitu tak suka , manakala melihat Daniel berinteraksi cukup dekat dengan Arimbi.


Oh common man, why you so jealous?


Kekesalannya makin bertambah manakala Arimbi rupanya datang sangat sore hari itu. Wanita itu jelang petang, baru terlihat menampakkan batang hidungnya di kediaman Deo.


Membuat Deo mendecak kesal.


CEKLEK!


" Enak bisa ngeluyur seharian?" Tanya Deo seraya melipat kedua tangannya yang membuat Arimbi terkejut, sesaat setelah berhasil membuka pintu kamar.


Tiada mengira jika Deo sudah kembali.


Namun bukannya menjawab, Arimbi yang malas meladeni mulut pedas Deo, justru ngeloyor masuk sebab dia begitu lelah karena usai pulang makan siang tadi, Arimbi menuju ke kediaman ibunya yang ternyata sedang sakit.


" Hey, kau dengar tidak?" Ucap Deo dengan nada marah, sembari menarik tangan Arimbi dengan mata yang sudah memerah.


Membuat Arimbi meringis kesakitan.


" Apa-apaan kau ini? Lepas!" Ucap Arimbi ketus yang merasa kesakitan akibat tangannya di cekal oleh Deo. Benar-benar tak mengira jika Deo akan memperlakukan dia seperti ini.


" Elu izin keluar supaya bisa genit sama orang, iya? Gampangan banget elu jadi orang! Sini mau sana mau! Oh, jangan-jangan elu ini emang lon...."


PLAK!!!


Wajah Deo seketika terlempar ke arah kiri, manakala tangan kanan Arimbi yang menganggur itu menamparnya karena marah. Hatinya sakit manakala di hujani ucapan-ucapan ngawur oleh pria itu.


Membuat Deo yang merasakan pipinya menebal dan pedih dalam waktu bersamaan itu, menarik Arimbi lalu melempar wanita yang teka berani menamparnya itu ke atas ranjang kamarnya karena terpantik kemarahan.


" Elu makin kurang ajar ya! Sini Lo!!!" Deo mengunci pergerakan Arimbi walau wanita itu kini memberontak dengan wajah ketakutan


Deo yang benar-benar tersulut emosi, kini kehilangan akal sehatnya dan seketika mencium bibir wanita dengan begitu kasar.


Arimbi yang berusaha melepaskan diri dari jeratan pria bertubuh tinggi tegap itu, benar-benar kuwalahan dan tak mampu mengimbangi tenaga Deo, yang sudah jelas tak akan bisa ia lawan .


" Mmmmmmmm!!" Arimbi memukul-mukul punggung lebar nan kokoh itu sekuat tenaganya. Berusaha menghindari serangan Deo yang kini membuatnya benar-benar takut itu.


Deo yang entah mengapa begitu tak suka demi melihat bibir Arimbi yang main di sentuh oleh tangan Daniel tadi, benar-benar terlihat murka.


Deo makin dibuat marah ketika Arimbi Bernai melawan bahkan menamparnya dengan begitu kerasnya.


Deo tidak suka dibantah.


Pria itu terlihat terus menindih dan mengunci pergerakan Arimbi yang masih saja berontak, sebab ingin melepaskan diri. Ingin memberikan efek jera, agar Arimbi tak berani melawannya lagi.


Kini, dengan napas ngos-ngosan, Deo yang barusaja melepas penyatuan bibirnya secara paksa itu, menatap Arimbi dengan mata yang memerah, penuh emosi, penuh kemarahan.


Menekan tangan Arimbi yang terlentang, menggunakan kedua tangannya yang kini mengetat. Membuat pergerakan wanita itu lumpuh. Tak bisa berkutik sama sekali.


" Mulai besok, kau tidak boleh pergi sampai hukumanmu selesai!" Ucap Deo dengan napas memburu.


Aroma api kemarahan yang membakar jiwa Deo, itu bahkan bisa Arimbi hirup dengan bebasnya. Membuat wanita itu takut demi melihat sisi mengerikan Deo yang sebenarnya.


" Kenapa? Kenapa aku tidak boleh berhubungan dengan orang lain, hah?"


" Bukankah kau lebih jahat dariku? Lihatlah, kau saja bahkan masih berhubungan dengan wanita lain saat kau sendiri sudah menikahi orang secara sah! Apa sebutannya? Bajingan? Pria brengsek?"


Arimbi yang kini menangis mengucapkan hal itu dengan segenap keberaniannya yang tersisa. Meluap-luap dan terlihat tak dapat lagi membendung kesedihannya.


Wanita itu menatap tajam ke arah Deo. Arimbi menangis demi merasakan kesedihan akibat perbuatan kasar Deo. Arimbi sangat takut.


" Kalau kau bisa, kenapa aku tidak bisa!"


Deo seketika tercenung, sebab tertampar oleh ucapan menohok Arimbi dan membuat lidahnya mendadak kelu.


" Kenapa kau diam? Aku benar kan? Tuan Deo yang terhormat!" Ucap Arimbi penuh penekanan.


Wanita itu sejurus kemudian memilih melangkahkan kakinya menuju ke dalam kamar mandi , seraya terlihat membasuh wajahnya berulang kali manakala berjalan.


BRAK!


Deo yang kini terduduk lesu di tepi ranjang itu seketika mengacak rambutnya frustasi. Bagiamana bisa ia kehilangan kendali dan lepas kontrol akan dirinya sendiri seperti saat ini?


Kenapa dia bisa semarah itu? Apa karena status Arimbi yang menjadi miliknya? Atau ada hal lain yang mulai menyelinap masuk tanpa seizinnya?


Tapi, bukankah dia yang mengucapkan sendiri jika Arimbi itu tidak penting, tidak menarik, tidak berguna?


Lantas?


Hey bung, kata orang Jawa ; "Ojo Alok, engko melok!" Artinya, " Jangan suka menghina, nanti mengikutinya!"


.


.


Arimbi


Ia menangis di bawah guyuran shower di kamar mandi Deo. Mengusap bibirnya berulang kali dan berharap bekas sapuan kasar dari bibir pria itu sirna. Arimbi begitu ketakutan manakala Deo berbuat hal kasar seperti tadi kepada dirinya. Belum hilang sepenuhnya rasa sakit yang di torehkan oleh Wira, kini Deo menyakiti dirinya secara mental.


Apa salahnya?


Apa dosanya?


Dimana celanya?


Bukankah semua yang dia lakukan bahkan masih dalam batas kewajaran?


Ia bahkan menolak untuk di antar Daniel sebab dirinya kini sadar, masih memiliki tanggungjawab untuk menunaikan tugas dari Ibu Jessika, sebagai pengganti hutang adiknya yang telah terbayarkan.


" Kenapa ada pria sejahat dirimu!" Tangis Arimbi dibawah guyuran air. Sengaja membunyikan air itu cukup keras, agar Deo tak mengetahui jika dia saat ini terlihat sangat lemah.


...----------------...


Erik


Ia mengernyit heran selepas membaca pesan yang dikirim oleh bosnya pagi itu. Tak mengira jika Deo bakal mangkir dari agendanya pagi ini bersama para orang penting di tubuh Jatayu Air.


" Bisa sakit juga tuh orang!" Gumamnya sembari terlihat mengetik sebuah pesan, agar membuat hati Deo lega.


[Siap Pak. Semoga lekas pulih. Apa perlu saya panggilkan dokter?]


Begitu isi pesan Erik.


[ No need. Kau gantikan saja aku untuk rapat sama orang Jatayu!]


Erik yang pembawanya lebih santai itu, kini memilih untuk segera melakukan titah baginda Deodoran, sebab ia tahu, bila Deo tak suka dengan pekerjaan yang terbengkalai.


Namun, saat Erik keluar dan berniat menuju ke bandara, ia mendapati seorang wanita yang pernah ia jumpai beberapa waktu lalu, tengah berdiri di ambang pintu kantornya itu, dengan wajah sungkan.


" Maaf Pak, apa Arimbi ada? Saya cuman mau nitipin makanan ini. Saya telpon dia enggak bisa, apa boleh saya titip ke Bapak?"


Erik yang sedang di ajak berbicara, justru tak hentinya menatap wanita yang ia kenali sebagai pemilik lesehan ikan bakar itu, dengan tatapan terpana.


Oh Shiit!


Membuat wanita itu mengernyit keheranan sebab yang diajaknya berbicara malah melongo.


" Apa orang ini waras?"


.


.


.


.


.


.


.


.


Keterangan :


Ngeluyur : jalan/ main