My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 174. My Boss My Enemy My Husband END



...🌿🌿🌿...


...β€’...


...β€’...


...β€’...


Wiwit


Naluri pria yang dirundung asmara semakin membuatnya tak bisa lepas dari jeratan berbalut cinta itu. Bahkan sebelum ia menjawab pertanyaan Erik, pria itu telah menarik pinggangnya dan membuat posisi mereka sangat rapat.


" Mas?"


Tak pernah ia bayangkan jika hari ini datang juga. Pria yang pandai bersiasat itu, sangat lembut apabila hanya berdua begini. Melingkupinya dengan kasih mesra yang sudah sangat lama tidak ia rasakan dari makhluk bernama laki-laki.


Hal ini sudah barang tentu membuat Wiwit semakin percaya jika pria itu memang menginginkan dirinya, untuk menjalani hidup bersama.


" Aku mencintaimu Wit, sangat mencintaimu!"


Ciuman yang begitu dalam nyaris membuatnya tak bisa bernapas. Sudah sangat lama jiwanya kering tak berhasrat. Membuat wanita itu musti belajar cepat untuk mengimbangi hasrat Erik yang nampak berkobar di dua mata elangnya.


" Kau sangat cantik. Aku seneng banget hari ini akhirnya datang juga!"


Erik membingkai wajah istrinya lalu menatapnya dalam-dalam. Menatap sendu dua manik mata yang mulai layu itu. Tatapan hangat yang menjalar kedalam jiwa keduanya.


Tangan dengan lengan yang penuh otot itu, terlihat mengangkat tubuh berbau harum itu dengan sekali angkatan. Menegaskan jika kekuatan seorang Erik, telah siap di adu diatas ranjang nan luas itu.


Hangat napas yang menerpa wajah Wiwit, semakin menyulut gairaah yang lekas bangkit.


Wanita itu perlahan terbuai akan alunan cinta yang semakin lama semakin menyulut gelora antar keduanya. Mengundang diri untuk terjun lebih dalam lagi, pada arus cinta yang paling melenakan yang pernah ada.


" Ah!"


Sebuah desahaan yang meluncur begitu saja dari bibir Wiwit, laksana pemandu sorak di telinga Erik yang semakin menyiapkan stamina untuk menghujam istrinya.


" Mas, Ah!"


Hingga, decitan juga hentakan dari tubuh berotot yang semakin meningkat itu, menjadi penegas cinta keduanya yang kian menggelora.


...🌿🌿🌿...


Roda zaman yang berputar bak pedati, tentu membawa beberapa kisah tersendiri antar insan yang mendiami bumi. Sedih senang, sedu sedan, tawa tangis, semua tergelar sesuai dengan takdir yang sudah di tetapkan.


Senandung lagu kehidupan yang mengalun bersama kenyataan, kerap kali menyeret kita kepada sebuah masa lalu. Mengoyak paksa nurani yang kerap acuh pada situasi tertentu.


Sebagai makhluk Tuhan yang tiada Tahir dari pelbagai kesalahan, sudah semestinya kita berkaca kepada kesalahan guna memperbaiki diri. Bahwa setiap manusia, akan di lahirkan untuk di uji juga sebagai penguji.


Telah lebih dari tiga tahun pasca masa kelam itu berlalu. Masa dimana anak keturunan keluarga Darmawan beradu mencari belahan mereka masing. Walau dalam kenyataannya, masih ada beberapa insan yang belum menemui jalan bahagia seperti Deo juga Demas.


Garis keturunan keluarga David begitu bahagia dengan lahirnya tunas-tunas baru penerus kewibawaan keluarga mereka.


Anak-anak lucu yang lahir dari induk yang bersahaja serta petarung betina yang kuat itu, senantiasa menjadi sumber keceriaan makhluk-makhluk tua yang juga memiliki kisah terbaiknya.


Seperti siklus pasti, bahwa yang tua akan pergi, dan yang muda akan melahirkan tunas baru.


Bima yang tumbuh sehat, spontan menjadi primadona yang bersanding dengan putra Demas yang kini sudah bisa mulai mengenali anggota keluarganya.


Papa David dan Mama Jesika tentu saja menjadi yang paling bahagia dalam hal ini. Namun kesunyian masih menjadi tajuk hidup seorang pria yang setiap hari menghabiskan waktunya untuk bekerja.


Pria nestapa yang masih berputar-putar pada permainan takdir yang menyeretnya ke dasar penyesalan terdalam.


Sadawira kini menjadi pria yang sangat tertutup. Boni yang merupakan pria yang senantiasa setia di sisi Sadawira semakin merasa iba dengan tuannya itu.


Bertahun menjalani hidup laksana robot yang tak memiliki nilai lebih selain memproduk pundi-pundi rupiah.


" Pekan depan anda harus memenuhi undangan ke luar negeri tuan. Anda berangkat atau saya yang..."


" Siapkan saja tiketnya!"


Boni menatap lekat pria yang selama ini memeriksa hidup kepada dirinya. Sada membalikkan badannya lalu menatap wajah Boni lekat.


" Hanya kau yang kumiliki saat ini Bon. Aku percaya kepadamu melebihi apapun. Aku ingin memasrahkan perusahaan di negara ini kepadamu. Aku akan mulai hidupku di sana!"


DEG


Boni tercengang dengan pernyataan Sadawira barusaja.


" Tapi, kenapa..."


" Kau jangan tegang, aku sudah memikirkan ini selama tiga tahun ini. Aku akan sering mengunjungimu. Aku..." Menelan ludah demi secuil rasa sesak yang tiba-tiba sangat menyiksa. " Aku hanya tidak kuasa jika terus hidup dalam bayang-bayang seseorang yang aku cintai, namun orang itu tak bisa ku temukan Bon!"


Boni kini paham. Jika wanita bernama Claire itu telah banyak merubah sisi lain Sadawira. Pria yang dulu hidup dalam tuntunan dendam, kini begitu banyak menyesali sikap yang di ambil. Pria itu bahkan tak membuka hati kepada siapapun meski banyak wanita yang berlomba-lomba mendapatkan cintanya


Tapi dilain pihak, tuan Edi Darmawan benar-benar tak memberikan akses kepada mereka. Laki-laki itu hanya ingin melindungi cucunya.


Entah bagiamana takdir akan memutuskan nasib mereka berdua nanti, saat sejatinya, terdapat satu anak manusia yang tak berdosa, yang menjadi korban dari kesalahan ini.


" Apa anda yakin tuan. Saya bisa..." Tanya Boni ragu yang tak tega melepas Sadawira. Matanya mendadak mengembun dan membuat pria bertato itu turut menitikkan air mata.


" Jaga dirimu Bon! Terimakasih untuk kesetiaanmu selama ini!"


.


.


Erik yang kini akan menggelar acara tujuh bulanan istrinya menjadi pria yang sangat sibuk. Pria itu sedari tadi riwa-riwi guna melengkapi persyaratan khas jawa yang musti ia lakukan dalam acaranya kali ini.


Ya, manusia tak selalu diberikan jalan mulus dalam menjalani mahligai pernikahan. Sama seperti Erik dan juga Wiwit yang di uji dengan lamanya penantian keturunan.


Saat anak-anak Deo dan Demas sudah bisa menjadi sumber keceriaan di rumah besar keluarga Darmawan, keluarga Tomy dan Eka masih sibuk di part tujuh bulanan.


Definisi dari setiap orang punya masanya.


Deo, Arimbi bersama Bima kompak dengan baju senada. Demas, Eva juga putranya Wistara, tampak menarik perhatian para nenek yang masih cantik di usianya yang tak lagi muda.


" Pecah kelapanya jangan sampai salah. Kalau muncrat dan belahannya lurus, kemungkinan anakmu nanti laki-laki. Kalau belahannya miring dan airnya ngembes, katanya nanti perempuan!"


Mama Eka menasihati anaknya dengan saksama, pada acara tingkep atau tujuh bulanan kehamilan menantunya itu.


Gelaran acara dimana sang bapak dari jabang bayi, akan memecah kelapa yang telah di ukir bergambarkan tokoh pewayangan Sri Rama dan Dewi Sinta. Atau, tokoh Arjuna dan Dewi Drupadi.


Semua tamu undangan sangat antusias menunggu Erik yang akan mengarahkan golok untuk memecah kelapa gading itu.


Sebuah tradisi yang Mama Eka masih lakukan secara turun temurun. Wiwit merupakan janda kembang dan Erik merupakan jejaka. Sah sah saja jika melakukan hal sarat tradisi macam itu.


" Satu!"


Suara orang-orang yang mulai antusias membuat degup jantung Erik semakin tremor saja.


" Dua!"


" Ti..."


CRAK!


Wajah Erik memicing kala melihat air kelapa yang kini merembes dan belahannya miring. Tapi apa iya, jika ia memecah kelapa itu miring hasilnya akan seperti yang Mama Eka ucapkan.


" Wah kayaknya bakalan punya anak perempuan itu Rik. Wah, anaknya si Deo laki, Demas juga laki. Duh, semoga keluarga kita tetap rukun-rukun ya Jes. Siapa tahu, anakku yang bangor ini nanti jadi besan salah satu anakmu!"


Mama Eka terkikik-kikik saat mengatakan hal itu. Membuat semua orang tertawa.


" Ih Mama, udah berhasil menghamili anak orang juga masih di panggil Bangor!"


Kesemua orang semakin tergelak demi melihat Erik yang memprotes sang mama dengan cuping hidung yang sudah melebar kemana-mana.


Kini, Deo dan Arimbi saling menatap di sela riuh rendah meriah pesta. Deo tampak mengecup bibir istrinya saat semua orang tampak sibuk membuli Erik.


" My boss, My Enemy, My Husband!" Ucap Arimbi tersenyum menatap Deo yang barusan melepas ciumannya.


Membuat pria itu mengernyit.


" Kau dengar nak, Papamu ini adalah My Boss..."


Deo yang merasa gemas dengan istrinya yang menyematkan sederet kata benda abstrak itu kepada dirinya, sungguh merasa sangat bahagia. Ada Bima, juga ada Arimbi yang benar-benar ia sayangi.


" I Love you!"


Dan saat Deo hendak mencium pipi istrinya kembali, sebuah tangan mungil menghalau bibir yang kini berkumis itu.


" Mmmm, Mama...Mama..."


Deo tergeletak kala Bima yang ia gendong, mendadak menabok bibirnya yang hendak mencium Arimbi karena cemburu.


MY Boss My Enemy My Husband TAMAT


.


.


.


.


.


.


Halo pembaca terkasih, akhirnya selesai juga kisah My Boss My Enemy My Husband selesai juga.


😜😜😜


Mohon maaf beribu-ribu maaf karena kisah ini molor. Rupanya kendala dalam berkarya itu selalu ada.


Kisah Claire sepertinya akan mommy buat kisah sendiri nanti. Mengingat jika mommy lanjut disini, akan keluar track nantinya.


Persoalan mereka juga sangat kompleks. Mommy akan hadirkan kisah romantis action yang mengupas perjalanan cinta mereka nanti. Jangan di tunggu, karena menunggu itu ...? ( jawab sendiri ya) 😁😁😁😁


Terimakasih banyak yang sudah setia menunggu kisah ini, membersamai kisah ini mulai dari awal hingga akhir. Matur nuwun untuk hadiah, vote, like serta komen yang senantiasa diberikan.


Semoga hiburan tak sempurna yang Mommy suguhkan ini bisa menambah sedikit sukacita di hati pembaca sekalian.


Jangan lupa baca karya Mommy yang lain ya. Karena tanpa pembaca, penulis bukalah apa-apa.


Peluk cium dariku


Mommy Eng


πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ€—πŸ€—πŸ€—