My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 152. Mencurigakan



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Deo


" Baik-baik diperut Mama ya. Nanti malam Papa jenguk lagi!"


Ucap Deo mengelus perut rata Arimbi meski sang empunya kini menyuguhkan wajah mendengus sebal, sebab semalam Deo menghajarnya hingga waktu dini hari.


" Jadi pulang telat nanti?" Tanya wanita itu dengan wajah serius.


" Jadi, aku nanti ada pertemuan di hotel sama orang Dishub ( Dinas Perhubungan) sama Erik!"


Arimbi mengangguk seraya mengambilkan sarapan untuk suaminya, mulai terbiasa dengan tugasnya sebagai istri yang sedikit mual kala mencium bau-bauan.


" Kita kapan kerumah Eva mas?" Tanya Arimbi yang nampak turut menarik kursi lalu bergabung sarapan sesaat setelah menghidangkan bagian suaminya.


" Lusa aja ya, ada Claire mau datang. Aku nggak mau kamu capek! Harus kesana nunggu aku! " Ucap Deo serius sesaat setelah sesuap nasi dalam sendok itu berhasil ia lahap.


" Gak boleh capek, tapi semalam gak diizinkan istirahat!" Ucap Arimbi mendengus dengan cuping hidung yang melebar.


Membuat Deo terkekeh-kekeh.


" Kalau itu beda. Bisa rusak stabilitas ekonomi kalau tidak terselenggara!"


.


.


Eva


Kekhawatirannya soal mood Demas yang mendadak berubah itu rupanya hanya bersifat temporary. Pagi ini, suaminya itu nampak tidak se ketus kemarin malam.


" Mau mandi sekarang? Aku siapin airnya ya?" Tawar Arimbi dengan wajah antusias.


Demas mengangguk. Sejurus kemudian Eva yang nampak cekatan itu terlihat berjibaku dengan peralatan mandi juga beberapa sabun guna mempersiapkan kegiatan mandi suaminya.


Sudah menjadi rutinitas beberapa hari ini untuk membantu Demas membersihkan diri. Sama sekali belum terganggu soal keterbatasan gerak suaminya.


Demas menatap wajah polos istrinya yang tanpa makeup itu dengan tatapan kasihan. Merasa dirinya benar-benar tak berguna.


" Maaf harus membuatmu seperti ini!" Lirih Demas kala punggungnya di gosok oleh Eva dengan lembut.


Membuat Eva seketika menghentikan kegiatannya itu, lalu menatap wajah muram suaminya.


" Mas, tolong jangan katakan hal itu lagi. Aku cinta sama kamu meski dengan kondisi apapun, dan jangan pernah ragukan hal itu!" Ucap Eva yang sebenarnya ingin menangis kala Demas selalu putus asa seperti itu.


Tunggu dulu, dia manggil apa tadi? Mas?


" Aku ngerasa nggak berguna, gak bisa nolongin kalau kamu lagi jatuh atau..."


Sebentar, apa ini alasan Demas kemarin bersikap dingin terhadap dirinya? Apa suaminya itu Jeleous kepadanya karena hal itu?


" Mas lihat aku di dapur?" Tanya Eva yang menduga jika suaminya itu pasti telah salah paham.


Demas mengangguk sembari menatap lengannya yang penuh dengan sabun itu, lali menggosoknya sendiri.


Astaga!


" Mas marah karena itu?"


" Astaga mas, kalau karena itu,aku benar-benar minta maaf. Tolong jangan mikir macem-macem mas!"


" Aku juga nggak tahu gimana dan kapan Raja ada disana. Yang aku tahu pas aku jatuhin piring anak itu tiba-tiba narik aku terus bantuin aku mas, aku aja juga kaget. Sama sekali nggak ngira kalau anak itu tiba- tiba ada disana. Mas percaya kan sama aku?" Tanya Eva resah demi menyadari jika suaminya telah cemburu. Sebisa mungkin mengungkapkan kejujuran yang memang begitu adanya.


" Aku percaya, dan semoga kamu bisa menjaga kepercayaan ini!" Sahut Demas yang masih enggan menatap manik mata Eva.


Eva mengembuskan napas panjang. Dari nada suara yang ia tangkap, sepertinya suaminya benar-benar tengah berperang batin secara pribadi.


Eva paham, mungkin selain minder, ada rasa khawatir yang terlalu berlebihan pada diri Demas.


.


.


Selepas kegiatan itu usai, Eva yang telah selesai memakaikan pakaian kepada suaminya itu bergegas mandi agar tidak terlambat untuk jadwal terapi.


" Mas tunggu sebentar ya, aku mandi dulu!"


Demas mengangguk patuh. Namun, perhatian Demas mendadak teralihkan demi layar ponsel istrinya yang menyala.


...Maafkan saya nyonya, saya tadi tidak sengaja. Tolong maafkan saya....


Membuat Demas seketika meletakkan kembali ponsel istirnya usai embacang pesan itu. Tapi sejurus kemudian, Demas nampak menghapus chat dari Raja pada ponsel istrinya itu.


" Dapat nomer istri saya dari mana dia?" Gumamnya dengan pikiran yang menerka-nerka.


.


.


Di ruang tengah


" Maaf Tuan saya sama Pak Fadli diminta untuk menyimpan nomer anda juga Nyonya Eva!"


Membuat Demas mendecak demi melihat wajah jujur Raja yang ia interogasinya manakala menunggu Eva turun. Demas bahkan melupakan jika tentu saja Raja harus memiliki nomer ponselnya. Sebab antara pegawai dan majikan, jelas terkadang memerlukan komunikasi yang baik.


" Udah? Ja, yuk!" Ajak Eva sembari menjejalkan bentak dokumen kedalam tanya manakala ia berjalan.


Demas seketika diam lalu mengalihkan pandangannya sewaktu Eva datang. Enggan ingin membuat istrinya curiga atas apa yang tengah ia bicarakan kepada Raja.


Sepanjang perjalanan, Raja nampak fokus mengemudi dan hanya sesekali melihat ke arah Eva yang nampak mengusap lengan Demas.


Ya, kerusakan saraf motorik dapat menyebabkan berkurangnya kekuatan motorik dari derajat ringan sampai berat atau terjadi kelumpuhan total motorik.


Dan dalam kasus Demas ini, seperti ada syaraf yang terganggu.


Penyembuhan atau pemulihan fungsi saraf tergantung dari derajat kerusakannya. Sistem saraf dapat dirangsang dengan beberapa cara antara lain latihan-latihan fisik yang sesuai dengan fungsi saraf tersebut.


.


.


" Saya bantu Pak?" Tawar Raja sesaat setelah pintu mobil mewah itu ia buka.


" Biar istri saya saja!" Jawab Demas kepada Raja yang mengulurkan tangannya.


Membuat laki-laki 30 tahun itu nampak mengangguk patuh.


" Brengsek si Demas!"' Maki Raja dalam hati demi melihat Demas yang acuh terhadapnya.


.


.