
...🌿🌿🌿...
^^^•^^^
...•...
...•...
Daniel
Pria tinggi berwajah manis dengan usia yang memasuki tahun ke dua puluh lima pada akhir bulan ini itu, berniat akan keluar area bandara karena akan membeli sesuatu di minimarket yang berada tak jauh dari bandara. Tahu sendiri, semua harga barang di dalam bandara itu mencekik. Bukan pelit, tapi hemat itu juga penting bagi kaum pemuda cermat seperti dirinya.
Sebenarnya bukan mencekik sih, pajak yang di bebankan pengelola bandara kepada pemilik tiap-tiap konsesi dan waralaba sejenis yang ada disana, sudah di pastikan tidaklah murah. Membuat mereka mau tidak mau, menyesuaikan nilai jual demi laba yang juga ingin mereka raih.
Namun, dari kejauhan Daniel melihat seseorang yang sepertinya bertengkar tepat di ujung jalan pintu keluar masuk bandara itu.
" Siapa lagi tuh, bertengkar di depan pintu masuk!" Batinnya berbicara sambil menunggu petugas pintu keluar menjalankan tugasnya, dalam menginput data terkait motornya.
" Silahkan!" Ucap petugas tolgate itu.
" Makasih mbak!" Ucapnya kepada petugas di pintu keluar, usai menginput nomor motor besar Daniel yang bebas bea. Sebab, sudah di daftarkan pass motor tahunan.
Daniel lebih senang mengendarai motor daripada mobil untuk pulang pergi ke bandara, sebab transportasi itu dinilai lebih cepat dan efisien untuk anak muda seperti dirinya.
Namun, semakin dekat Daniel dengan orang yang bertengkar itu, ia makin dibuat terkejut demi melihat perempuan yang ia kenali, tengah meronta-ronta minta dilepas akibat cekalan kasar seorang pria.
" Itu kan si Arimbi!" Gumamnya yakin, karena ia ingat betul jika wanita cantik itu pernah bersitegang dengan bosnya sewaktu wawancara.
" Astaga, beneran itu si Arimbi!"
Ia lantas buru-buru menepikan motornya dan dengan cepat berlari menuju ke tempat Arimbi berdiri.
" Woy! Lepasin tuh cewek!"
Ucapnya dengan wajah cemas, sebab Arimbi terlihat tak panik dan sudah berwajah pucat.
Wira yang mendengar sebuah suara yang jelas menjadi gangguan itu, seketika membalikkan badannya. Pun dengan Arimbi yang mendelik kala melihat pria yang cukup familiar itu berani menghalau Wira.
" Anda jangan macem-macem, lepas enggak!" Hardik Daniel demi melihat Wira yang masih belum juga melepas cekalannya. Semakin tak sabar.
" Bacot! Siapa lu, gak usah ikut campur urusan orang!" Wira terlihat mengeraskan rahangnya.
" Jelas ini urusan saya, ini masih di bandara dan anda sudah buat masalah sama karyawan disini!" Ucap Daniel melirik Arimbi yang agaknya terkejut. Ia mengedipkan matanya dan meminta Arimbi untuk tenang dengan maksud untuk masuk dalam permainannya.
Arimbi terkesima sebab pria manis itu sopan sekali cara bicaranya. Benar-benar terlihat orang terdidik.
" Banyak bac...!"
" Eitts, anda gebukin saya disini, jangan harap anda bisa bebas. Tuh!" Daniel menunjuk ke arah CCTV yang terdapat di sebelah tiang LPJU ( Lampu Penerang Jalan Umum).
Membuat Wira geram dan terkejut di waktu bersamaan. Sial!
" Sierra empat monitor!" Daniel meriah HT ( Handy Talky) yang berada di belakang punggungnya. Memanggil security dengan call sign Sierra.
" Gohet ( Go ahead / lanjut)!" Sahut seorang pria dari dalam radio komunikasi jarak jauh itu. Membuat Wira seketika berubah wajah menjadi pucat.
Apa pria itu akan mengeroyoknya?
Wira kini melirik nama yang tertera di Pas / kartu tanda pengenal yang bertengger di saku kanan pria manis itu.
...Daniel Eddo Yudhistira...
...Leader ...
" Leader?" Batin Wira membaca. " Sial, orang ini bukan orang sembarangan!"
" Tolong ke depan pintu keluar, bawa semua personel. Ada yang....!"
Wira langsung melepas cekalan tangan Arimbi sebelum Daniel menyelesaikan kalimat yang mengandung nada penuh ancaman itu. Membuat Arimbi kaget.
BRAK
Suara pintu mobil Wira yang di banting keras, pria itu sejurus kemudian bermanuver kasar dan melesat pergi meninggalkan Arimbi bersama Daniel. Ya, Wira takut dengan ancaman Daniel. Wira bahkan tak sempat berucap sepatah katapun, sebab ia takut akan di tangkap.
Membuat Daniel terkikik-kikik. Namun tidak dengan Arimbi, gadis itu bingung. Kenapa Daniel justru tertawa.
" Tadi itu pacar kamu?" Ucap Daniel di sisa tawanya yang renyah. Membuat Arimbi mendengus menatap Daniel yang sepertinya senang.
" Bukan!" Sahutnya sambil memijat tangan bekas tarikan Wira yang linu.
Daniel terkekeh . " Aku Daniel, masih ingat?"
" Daniel? Daniel...." Arimbi membatin seraya mengingat pria yang tak asing itu.
" Interview Senin lalu di ruang BOEING!" Ucap Daniel.
" Astaga, Pak Daniel?" Ucap Arimbi spontan begitu ingat dengan clue yang di utarakan pria bersepatu safety itu.
Arimbi menggelengkan kepalanya malu. " Maaf Pak, saya sebenernya agak ingat, tapi kan memang kemarin belum tahu namanya!" Arimbi menjawab penuh rasa malu sebab Daniel terus menatapnya.
" Kamu enggak apa-apa kan?"
Arimbi menggeleng. " Tadi itu..Pak Daniel mau..?"
Daniel paham yang di maksud Arimbi adalah soal pemanggilannya kepada Sierra empat tadi. " Oh, tadi yang akhir aku cuma bohong. Enggak aku pencet beneran kok!" Jawab Daniel tersenyum.
" Gitu aja tadi dia udah ngibrit, penakut banget!" Ucap Daniel kini meletakkan kembali Handy Talky ke belakang punggungnya.
Arimbi bernapas lega, sebab ia juga pasti malu jika urusan ini sampai di bawa-bawa ke bandara. No way never ever!
" Terimakasih banyak ya Pak atas bantuannya, kalau begitu saya pamit dulu!" Ucap Arimbi yang mendadak canggung.
Daniel mengangguk. " Habis ujian tulis?"
Arimbi mengangguk sopan, sepertinya mereka berdua doyan mengangguk.
" Good luck ya! Sampai ketemu di terminal domestik nanti. Aku pergi dulu!"
Arimbi tercenung dengan ucapan Daniel, " Ketemu di terminal domestik?"
...----------------...
Arimbi
Satu hal yang kini tersimpan dalam relung hatinya. Rasa syukur. Ia bersyukur karena nyatanya di dalam bandara yang terlihat menegangkan itu, masih terdapat manusia normal yang bermurah hati mau menolongnya. Tak seperti orang mesum itu.
Ia memutuskan untuk tak pulang dulu, jam masih pagi menurutnya dan matahari masih belum bertengger diatas kepalanya. Ia memilih untuk menjalankan motornya menuju lesehan mbak Wiwit. Ia takut jika Wira masih ada disini , lagipula Ibu pasti belum kembali dari berdagang, dan Farel sudah pasti belum pulang sekolah.
Tak membutuhkan waktu lama, kini ia tiba di kawasan wisata pantai Pasir Kurawa. Tempat wisata alam bahari yang terletak di radius sepuluh kilometer dari bandara. Dari kawasan itu, para wisatawan bisa menikmati beberapa pesawat yang take-off dan lending silih berganti.
Keluarga Arimbi memang sebagian besar tinggal di sekitar pesisir pantai Pasir Kurawa, hanya dia dan ibunya saja yang tinggal agak ke Utara. Sebab bapaknya dulu asli orang Utara.
" Mbak Wit!" Ucapnya menggelegar usai menyandarkan motornya. Kebiasaan setiap ia berkunjung selalu berteriak dari depan. Membuat Wiwit hapal dengan suara memekakkan telinga itu.
" Loh, Ar tumben pagi-pagi udah nongol!" Ucap mbak Wiwit yang ke depan membawa nampan berisikan dagangannya. Wanita berusia dua puluh empat tahun itu kini terlihat sibuk mengelap tiap permukaan meja dengan taplak plastik berwarna oranye dengan tekun.
" Habis ujian mbak!" Ucap Arimbi seraya melempar bokongnya ke karpet hijau Army.
" Jadi kamu ngelamar di bandara?"
Arimbi mengangguk sambil mencomot tahu bulat yang ada di depannya, lalu mencocolkannya kedalam bumbu petis pedas yang endulitak. Emmm top markotop!
" Doain ya, entar lek di terima tak traktir belanja!"
Wiwit tersenyum demi melihat adik sepupunya itu. Bagi Wiwit, adiknya itu adalah pribadi yang sangat periang dan sering menolongnya di saat susah.
Wiwit merupakan seorang janda muda yang di tinggal mati oleh suaminya yang tenggelam sewaktu mencari ikan. Jasad suaminya bahkan tidak di ketemukan hingga saat ini, Wiwit yang dulu hamil muda saat suaminya di kabarkan tenggelam dan hilang, mengalami tekanan batin dan stres yang membuatnya keguguran.
Tiga tahun ini, Wiwit betah menjanda dan menyibukkan dirinya untuk terus berjualan mengais rupiah dari para wisatawan yang datang.
Sejak saat itu, anak dari kakak perempuan Bu Ningrum itu, tak mau membuka hatinya bagi pria manapun , sebab ia percaya jika suaminya masih hidup. Wanita itu tak mau menerima kenyataan, jika suaminya sudah menghadap sang khalik dengan cara lain. Membuat semua orang bersedih.
" Mau makan? Mbak gorengin ikan ya? Sambalnya juga udah jadi itu!" Tanya Wiwit yang kini meriah sapu untuk menyapu halaman depan yang terbuat dari cor semen yang bersih.
" Enggak usah, nanti aja. Aku numpang tidur dong mbak. Ngantuk banget!" Ucap Arimbi yang berpindah menuju ke dalam ruangan yang telah di gelari kasur oleh Wiwit.
Wiwit menggeleng kepalanya. Adiknya itu selalu saja molor di jam sepagi ini.
" Wong wedok ( perempuan) jam segini tidur, dapat duda tua nanti kamu!"
" Biarin dapat duda tua, yang penting kaya entar aku bisa nabokin tuh mulut-mulut deterjen ( netizen) yang julid!" Ucapnya seraya memejamkan matanya kala tubuhnya sudah dalam posisi weenak.
Namun tiba-tiba,
" Eh tapi tunggu dulu, ih amit-amit jabang bayik...jangan deh...!" Ucap Arimbi bergidik ngeri sendiri demi mengingat wajah keriput Mbah Tomo. Seorang pria tua yang kini menjadi duda.
Aaaa tidak!!!!
.
.
.
.
.
.
.