
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Deo
Ia kini berada di ruangan besar yang bersuhu dingin, duduk diam dibawah gempuran mata membara yang mengandung api kemarahan.
" Ini benar-benar representasi yang buruk dari sebuah Ground Handling yang memiliki citra baik! Saya tidak mau tahu Pak Deo. DA harus membayar denda serta kompensasi terhadap aturan keterlambatan. Kami tidak mau tahu!" Ucap Zakaria yang nampak berang.
" Saya di maki-maki orang pusat gara-gara anda!"
Deo hanya diam. Overall, ini memang kesalahan dari pihaknya. Namun, dari cara bicara Zakaria yang meledak-ledak, ia yakin jika pria itu pasti sudah kemasukan omongan dari pihak lain, sebab kemarin Papa David telah menginformasikan jika keadaan telah terkendali.
TOK TOK TOK
Aura yang masih tegang itu kini sedikit memudar tatkala ketukan terdengar dari balik pintu. Deo melirik ke samping pintu dimana suara itu tercipta.
" Masuk!" Ucap Zakaria sembari melempar tubuhnya ke sandaran kursi singgasananya.
" Pak, tuan Bram sudah datang!" Tutur Yovan yang nampak menjengukkan kepalanya ke dalam.
Deo seketika terkejut walau dalam sikapnya ia masih bisa tenang. " Bram? Untuk apa dia kemari?"
" Pak Deo, itu saja yang ingin saya bicarakan. Saya harap anda segera membereskan tagihan perihal kompensasi. Terimakasih!"
Deo menjabat tangan Zakaria dengan wajah mengangguk, walau pria yang menjabat sebagai general manager Andanu Air itu nampak tak ramah.
Dan saat dua pria dewasa itu saling berpapasan, Bram nampak mencondongkan tubuhnya seraya berbisik, " Semoga harimu baik, tuan Deo!" Cibir Bram dengan wajah tersenyum penuh kemenangan.
Membuat Deo yang kini berdiam datar, tak memperdulikan pria itu dan memilih untuk pergi dengan dada bergemuruh.
.
.
Kediaman Deo
" Diminum dulu!" Arimbi sore itu membawakan secangkir teh dan beberapa cemilan, untuk suaminya yang nampak tegang sedari pulang bekerja.
" Sini!" Deo menepuk pahanya demi mengisyaratkan Arimbi untuk duduk diatasnya.
Arimbi menurut lalu duduk diatas pangkuan suaminya. Membuat hati wanita itu makin menghangat lantaran Deo memeluknya erat, sembari beberapa kali menciumi lengannya.
Untuk beberapa saat, suasana hening dan terasa tentram.
" Ada apa, hm?" Arimbi mengusap lembut rambut hitam suaminya seraya berbicara dari hati ke hati. Dekat dan begitu karib.
" Aku kangen!" Ucap Deo memaksakan senyuman.
" Mas?" Arimbi membingkai wajah Deo demi mendengar ucapan yang terasa mencurigakan. Jelas menerangkan bila Deo tengah tidak baik-baik saja.
" Apa sesuatu telah terjadi?" Tatap Arimbi semakin serius kepada suaminya.
Deo menunda untuk menjawab dan lebih memilih menarik tengkuk istrinya lalu mengecup mesra bibir Arimbi.
" Aku tadi bertemu Bram di ruangan Zakaria!" Ucapnya sesaat setelah ciuman itu terlepas.
Arimbi tertegun. " Bram?"
" Aku hanya takut jika apa yang aku khawatirkan benar-benar terjadi!"
Deo benar-benar menatap istrinya dengan wajah muram kali ini. Tak bisa lagi menahan beban yang kini semakin terasa berat dalam pikulannya.
" Kau tau Ar, aku tidak masalah jika setalah ini aku tidak menjadi direktur lagi!" Ucap Deo yang semakin membuat Arimbi bingung.
" Tapi bagaimana dengan para karyawan ku, impian Mama yang ingin anak-anaknya mampu memberikan lapangan pekerjaan bagi putra daerah!" Deo menitikkan air mata. Nampak begitu berbeban berat.
Hati Arimbi nyeri. Lagi-lagi, sifat baik Deo baru ia ketahui. Membuat wanita itu merasa iba.
" Pak Zakaria mau memutuskan kerjasama mas? Bukannya hal seperti itu ada nota perjanjian atau MOU, maaf aku tidak terlalu mengerti tapi..."
" Mereka punya alternatif lain. Di setiap perjanjian pasti ada pengecualian!" Sahut Deo yang membuat Arimbi seketika tertegun dengan wajah muram.
" Ar?" Panggil Deo.
" Ya?"
Hangat napas segar yang menerpa wajahnya justru membuat Arimbi semakin iba demi suara lirih yang terdengar. Arimbi mengasihi Deo.
" Kenapa kamu bilang begitu? "
" Karena aku takut wanitaku meninggalkan aku. Kita belum kuat secara hukum. Aku..."
Arimbi melumaat bibir suaminya seketika. Menegaskan jika ia tak mau mendengar apapun selain kata cinta. Arimbi hanya Deo mau mengerti jika dia bukanlah wanita yang silau harta.
Mereka yang bergulung dalam aktivitas mesra itu, tak menyadari kehadiran Demas sengaja datang kesana untuk membahas sesuatu.
Membuat hati pria itu merasakan gejolak.
" Sepertinya kak Deo benar-benar sudah berubah! " Ia tersenyum kecut. Walau entah mengapa rasanya sudah tak seperti dulu, namun masih ada sejumput kekecewaan manakala melihat mereka bermesraan.
.
.
Zakaria
"Baiklah. Sepertinya profilmu ini menarik juga. Tapi, kami butuh tangga darurat jika garbarata dari AMC sedang penuh!"
" Jadi, apa anda akan menggunakan kami?" Tanya Bram semakin tersenyum licik.
Zakaria yang masih tekun membaca profil Sky support nampak mengangguk.
" Kalau bisa wanita yang di depan yang cantik-cantik. Dan....kau bisa memberiku tester?"
" Anak cantik yang bernama Arimbi itu sangat susah aku dekati. Selain itu, Deo sepertinya tak suka jika aku mendekati anak itu!" Ucap Zakaria menatap ke arah Bram.
" Mau di pakai sendiri mungkin. Brengsek memang!"
" Arimbi? Yang mana anaknya?" Batin Bram seraya gencar berpikir.
" Aman kalau soal itu Pak. Kami sudah merekrut beberapa karyawan yang luar biasa. Nanti Pak Zakaria lihat sendiri. Ngomong-ngomong, kapan Andanu akan meng- kick Darmawan Angkasa?" Tutur Bram seraya menjilat.
" Saya akan rapatkan hal ini kepada direksi. Secepatnya akan saya kabari. Kirimkan saya list harga provider kalian secepatnya juga. Saya pusing, gara-gara mereka pesawat suara telat terus!"
Bram tersenyum licik menatap Zakaria. Batinnya mendadak pemasaran dengan nama yang di sebutkan oleh pria genit itu. Membuatnya seketika berinisiatif untuk menanyakan hal itu kepada asistennya.
" Anthoni, apa kau sudah mendapatkan info dengan siapa Deo saat ini dekat?"
Ia masih nampak menyimak Zakaria yang terus saja berbicara walau ia merasa telah muak. Bram benar-benar pria yang sangat pandai bermain licik.
" Saat ini dia tidak dekat dengan siapapun bos!"
Bram kehilangan atensinya manakala membaca balasan dari Anthoni.
" Cari tau anak yang bernama Arimbi. Seperti apa anaknya, kenapa Pak Zakaria terlihat menggebu-gebu saat membicarakan anak itu!"
.
.
.
.
.
Telat up karena selain sibuk lapor ke admin perihal draft, Mommy juga sibuk bikin outline misi kepenulisan yang dikirim oleh editor ekslusif dari NT. Jadi, dalam waktu dekat, akan ada karya baru yang wajib mommy buat ya readers.
Mohon doanya. Semoga readers semua sehat-sehat mommy juga biar bisa saling berinteraksi lagi.
Mohon dukungannya juga apabila karya tersebut nanti sudah release ya. Mommy berharap, ini bisa jadi batu loncatan Mommy.
Salam rindu
Mommy Eng 🤗🤗
.
.
.
Keterangan:
AMC : Apron Movement Controller ( satuan yang mengawasi pergerakan area di parkiran pesawat)