
...🌿🌿🌿...
^^^•^^^
...•...
...•...
Deo
"Bimasena Wiwasata Darmawan"!"
Arimbi menatap suaminya yang mengucapkan kalimat itu dengan wajah bangga, manakala semua orang sedang tersenyum kala melihat Erik yang di marahi oleh Mama Eka.
" Semoga anak kita memiliki sifat murah hati, kuat, serta bijak di masa mendatang!" Cetus Deo menatap dalam mata istrinya.
Para orang tua kini menatap setuju dengan apa yang barusan di ucapkan oleh Deo. Turut mengaminkan doa apik yang dikemas dalam nama yang begitu bagus itu.
" Nama yang indah!" Ucap Mama Jessika menatap wajah cucunya yang kini menggeliat karena terbangun.
" Benar, Papa suka!" Imbuh Papa David mengangguk setuju.
Kini, Mama Jessika menatap wajah suaminya dengan tatapan penuh cinta. Bersyukur karena di usia mereka yang telah tak muda ini, cinta mereka tiada berkurang.
Sebuah kisah yang dimulai dari ketimpangan sosial yang ada, rupanya berlanjutnya hingga ke generasi berikutnya. Berharap, anak cucu serta keturunan mereka kelak, akan selalu kuat mengahadapi ujian yang mungkin datang silih berganti.
.
.
Hari berganti hari, menjadi Minggu yang juga berjalan yang berganti dengan bulan yang penuh harapan. Semua berjalan sesuai keinginan mereka. Tentang Arimbi yang kini mendapat pengalaman baru manakala mengurus anaknya yang sangat luar biasa. MengAsihi, mengganti popok, memandikan serta banyak lagi kegiatan ibu yang sangat ngerenik.
Tentang Deo yang kini harus terkantuk-kantuk selama di kantor sebab saat malam hari ia selalu menemani sang istri bergadang karena Bima sering terjaga di malam hari. Membuatnya kini tahu, bahwa makhluk bernama wanita itu, amatlah keramat.
Arimbi memutuskan untuk merawat sendiri putra mereka, sebab ia ingin mencurahkan segala bentuk perhatiannya untuk malaikat kecil itu. Lagipula, bukankah itu sudah menjadi tugasnya?
Di sisi lain, Eva yang beberapa Minggu ini terlihat tak sehat, tampak membuat Demas cemas dan khawatir. Membuat Mama Jessika datang untuk melihat kondisi menantu bungsunya itu.
" Udah berapa dia sakit hari Dem, kok kamu baru ngabarin Mama sekarang?" Tanya mama Jessika cemas.
" Tiga hari ini, tiap mau aku tinggal ke kantor, katanya pusing dan ngantuk Ma. Dia bilang istirahat aja cukup!" Ucap Demas muram yang bingung dengan kondisi istrinya.
" Istri kamu udah halangan belum?"
" Maksudnya...?" Tanya Demas tak mengerti dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh Mamanya.
" CK, kamu ada lihat istri kamu datang bulan nggak? Selama ini kamu rajin ngasih nafkah batin istri kamu nggak?"
Membuat Demas membulatkan matanya dengan wajah bersemu merah karena malu.
"Mama ini, bisa-bisanya bertanya se santai itu!"
" Kok aku nggak memperhatikan ya ma!" Jawab Demas seraya meringis.
" CK, kamu ini!" Dengus Mama Jessika yang kesal sebab anaknya tak mengetahui perihal siklus bulanan istrinya.
" Tunggu dulu Dem, istri kamu jangan-jangan..."
.
.
Kini, dengan sikap harap-harap cemas, Demas tampak menunggu Arimbi yang telah ia bawa ke rumah sehat bersama Mama Jessika, Ibu Eva, untuk melakukan pemeriksaan.
Ia langsung berdiri dengan wajah tak sabar, manakala pintu itu terbuka. Dan menampik Eva yang berdiri di ambang pintu dengan wajah tak terbaca.
" Gimana sayang?" Tanya Demas tak sabar kala menyongsong Eva yang terlihat pucat.
Membuat Ibu Eva dan Mama Jessika saling menatap.
" Positif mas!" Eva menitikkan air mata saat menata Demas. " Aku hamil anak kamu!"
" Apa? Terimakasih sayang, terimakasih!" Demas seketika menarik tubuh Eva kedalam pelukannya dengan hati yang penuh luapan kebahagiaan. Sungguh, semua kepahitan yang pernah menderanya, kini berganti dengan kenangan yang bertubi-tubi.
Membuat Ibu Eva serta mama Jessika saling menatap haru kala menyaksikan kedua anak mereka merayakan kabar penuh kebahagiaan itu.
.
.
Sementara itu di belahan tempat lain, Wiwit tampak bolak balik mengangguk kala Mama Eka mengajaknya berbelanja untuk kebutuhan acara pernikahan mereka yang tinggal menghitung hari.
Ya, niat baik tak boleh di tunda bukan?
Erik yang turut serta bersama Papa Tomy, berkali-kali mendengus sebab mamanya benar-benar mengkudeta calon istrinya. Tak memberinya kesempatan, bahkan hanya untuk sekedar bergandengan tangan.
" Diam kamu! Kan tadi Mama udah bilang, ini urusan perempuan!"
Mama Eka tentu saja langsung menyambar lebih keras.
" Papa juga laki-laki, tapi dia ikut!" Balas Erik tak mau kalah.
" Ya beda, papamu gak rewel kayak kamu! Udah diam sana. Ganggu aja, ayo wit kita cobain perhiasan yang ada di sebelah sana.
Membuat Wiwit terkekeh saat melihat calon suaminya yang manyun, akibat di marahi oleh Mamanya.
Begitulah keadaan mereka saat ini, dilimpahi kebahagiaan oleh yang kuasa. Terus menerus menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya. Buah dari kesabaran, manakala berada di dalam kesulitan.
Hingga apa yang telah mereka persiapkan berbulan-bulan lamanya ini, akhirnya terselenggara dengan baik. Papa Tomy dan Mama Eka akhirnya mantu juga.
Dengan menggendong bayi mungil mereka, Arimbi dan Deo turut duduk diantara riuh rendah tamu undangan. Pun dengan Demas dan Eva yang datang ke acara sakral itu, walau sepanjang acara ia harus menahan hidung sebab Eva merasa mual saat mencium aroma parfum atau wewangian yang sejenis.
" Saya terima nikah dan kawinnya, Wiwit..."
Saat pria ber beskap putih gading itu lekas mengucapkan kalimat yang mendebarkan itu, kesemua orang memusatkan perhatiannya dengan dada yang berdegup kencang.
Menatap kedua mempelai yang tak kalah tegangannya, kala tangan Erik di jabat oleh pria berpeci dengan tampilan berkarisma.
Hingga akhirnya.
" Bagaimana saksi?" Tanya pria berpeci itu usai Erik melantunkan kalimat sakral dengan lugas, cepat dan pasti dalam satu tarikan napas.
" Sah!!"
Kebahagiaan.
Itulah yang saat ini tersaji dari dua sorot mata kedua pasangan yang bakal menjadi raja dan ratu semalam itu. Tak mengira jika perjuangan mereka akan sampai juga di titik ini, titik dimana mereka akan menjadi pasangan lalu menua bersama, seperti para tetua itu.
Kini, dalam suara tepuk tangan juga teriakan kebahagiaan yang membahana, Wiwit memejamkan mata kala keningnya di kecup hangat oleh Erik.
Cinta membangkit sukma.
.
.
Wiwit
Menjadi istri seorang Erik tentu tiada pernah ia duga sebelumnya. Jangankan bermimpi, berkhayal saja ia tak berani melakukan. Apalagi, waktu ia ia masih terbelenggu dengan bayangan suaminya yang sejatinya tak akan mungkin kembali lagi.
Saat itu, baginya hidup adalah tentang bekerja dan bekerja. Sembari berharap dalam khayal yang tiada pernah bertepi, jika suaminya akan kembali.
Namun, hari-hari panjang yang telah terlewati, perjuangan Erik yang unik, konyol kadang mengharukan itu, membuatnya merasa jika memang selayaknya membuka hati.
Kini, ia menatap pantulan diri di sebuah cermin besar di kamar hotel tempat dimana ia melangsungkan pernikahan. Dimana sayup-sayup terdengar gemericik air tempat dimana suaminya kini membersihkan dirinya.
Ia tersenyum di depan cermin, melihat dirinya yang kini telah resmi menjadi istri seorang asisten multitasking. Erik.
CEKLEK!
Ia menoleh tempat dimana suaminya kini berdiri dengan tatapan nanar kala menatapnya yang telah mengenakan gaun tidur.
Wow!
Membuat jakun Erik seketika naik turun dan nampak sangat berselera untuk memangsanya.
Ia berdiri lalu menyambut suaminya dengan tersenyum. Berjalan dengan pelan kala suaminya malah terbengong-bengong saat menatapnya.
CUP
Erik yang mendapat ciuman tak terduga dari istrinya, seketika membulatkan mata.
Tunggu dulu, apa istrinya benar-benar telah siap untuk di mangsa? Ihiir!
" Makasih udan milih aku jadi istrimu, suamiku!" Bisik Wiwit tersenyum manis menatap Erik yang terlihat bloon.
Wadiaaaw!
Erik yang mendengar kata suamiku kini merasa ingin jumpalitan, sebab rasanya begitu susah ia jelaskan. Astaga, aku tidak sedang bermimpi kan?
Ia begitu bahagia, senang, dengan hati yang terasa meledak-ledak sebab euforinya terjadi dalam waktu bersamaan.
"Apa aku boleh menyentuhmu sekarang?" Tanya Erik dengan sorot mata sendu.
.
.
.