
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Tomy
Pria yang masih memiliki mimik wajah datar di usianya yang sudah tak lagi muda itu, nampak sedikit kesal kala mencari Eka. Walau keduanya saling berbalas pesan via WA, namun tetap saja keduanya tetap tak bersua satu sama lain.
Ia bahkan sempat sungkan kala bertemu dengan David untuk ketiga kalinya dalam suasana yang masih dilanda kebingungan.
Hingga akhirnya, Tomy yang hendak menuju lobi luar tak sengaja melintas di sebuah lorong lain, dan bertemulah dia dengan ibu dari Erik itu.
" Ma!" Panggilnya langsung.
Kini, bukan hanya Eka dan Dian yang terkejut demi mendengar suara Tomy yang kencang dari jarak beberapa meter.
Namun, Demas yang nampak berdiri tak jauh dari dua manusia yang terkejut itu, seketika tersentak demi lamunan yang juga menguap.
" Papa! Ngagetin aja deh!" Dengus Eka yang sebenarnya masih larut dalam ketakutan akibat ulah Dian yang membicarakan perkara sawan. Haish!
" Harusnya yang kaget itu Papa. Bilangnya di depan gak taunya disini!" Balas Tomy dengan wajah tak kalah mendengus.
Membuat Dian merasa krik krik krik.
" Erik mana?" Timpal Eka yang berhasil teralihkan perhatiannya.
Disaat bersamaan, nampak Demas yang berjalan menyongsong kehadiran ketiga manusia itu.
" Mama dari mana aja. Dia udah pulang duluan. Kita pulang yuk, Papa ngantuk. Besok kita kesini lagi!" Seru Tomy penuh kejujuran. Sebab, agaknya besok ia masih akan sibuk menemani sang putra untuk mengurus birokrasi rumit di kepolisian.
Eka menatap Dian dengan tidak tega.
" Kamu gimana, mau ikut pulang sekalian?"
Dian menggelengkan kepalanya, " Saya nginep disini kayaknya Tante. Nungguin Eva, kasihan. Lagian, saya jua belum berani menghubungi mamanya . Mamanya aja ...tahunya Eva nginep di rumah saya!" Jelas Dian demi mengingat jika dia beberapa waktu yang lalu telah berbohong demi kebaikan bersama.
" Emang ibunya Eva percaya alasannya itu? Dia ngijinin anaknya tidur dirumah cowok?" Tanya Eka lagi yang makin membuat Tomy menatap tak percaya. Cocok sekali mereka sepertinya.
" Haish, gimana engga di izinkan, ibunya udah kenal aku kok. Lagipula, enggak akan terjadi apa-apa kali tan kalau kami tidur bareng. Yang ada, justru aku yang hamil kalau kita tidur berdua!" Jawab Dian terkekeh, membuat Tomy menggeleng kepalanya pasrah.
" Abunawas sekali kamu ya!" Timpal Eka tergelak.
" Siapa yang hamil?" Tanya Demas yang kini tiba dan langsung menimbrungkan diri pada percakapan salah kaprah itu.
.
.
David
Ia hendak menemui Arimbi di ruang yang berbeda dengan Eva bersama sang istri, sesaat setelah ia membereskan beberapa hal penting yang wajib ia bereskan sebagai pihak orang tua.
Ia juga meminta Erik dan Fadli untuk pulang dan beristirahat. Esok, mereka masih harus bolak balik ke kantor polisi demi birokrasi yang ada.
David sedikit mengerutkan keningnya kala melihat Tomy yang nampak kesal, sebab sepertinya pria itu kesulitan menemukan istrinya. Papa dari Erik itu, kini nampak berjalan ketiga kalinya di depan Jessika dan juga dirinya.
Membuat keduanya menghela napas. Itukah uniknya seorang Eka yang bisa menaklukkan hati pria dingin macam Tomy.
Namun, sebuah suguhan mencengangkan membuat keduanya kini berdiri mematung demi melihat Deo yang memeluk lalu melingkupi Arimbi, Farel dan Bu Ning penuh kasih mesra.
Membuat Jessika tersenyum penuh haru.
" Sepertinya kita harus segera memikirkan pernikahan negara untuk mereka secepatnya sayang!"
.
.
Detik yang berlari membawa serta singsingan fajar berona cerah di waktu itu. Aroma embun yang memudar bersama pagi serasa tersenyum mesra kepada jiwa jiwa yang sabar.
Semalam, Demas akhirnya pulang bersama David dan Jessika, usai menyepakati soal Dian yang akan menungguinya Eva. Hak itu dipilih sebab entah mengapa Eva begitu meyakinkan David dan Jessika, jika dia dan Dian tidak masalah di tinggal sendirinya.
Padahal, mereka semua tidak tahu jika baik Demas maupun Eva, sama-sama sedang gugup dengan apa yang barusan mereka alami.
Arimbi dan Eva masih belum bertemu satu sama lain, sebab keadaan mereka yang masih sama-sama lemah.
Dan berita itu, menjadi berita besar yang menggurita hingga ke telinga Kenanga dan kawan-kawannya. Bahkan, seantero bandara kini tahu, kasak-kusuk soal mengapa Arimbi yang di selamatkan oleh direktur mereka.
Bahkan, Daniel yang juga baru mengetahui hal itu, seketika tertegun demi merangkai kejadian demi kejadian dan menghubungkan kenyataan Deo bersama Arimbi, dengan perasaan tak percaya.
" Pantas Pak Deo selalu tidak senang kalau aku..." Tebak Daniel yang kini larut dalam kebingungannya. Pria yang baru masuk ke dalam mobilnya itu, juga teringat soal Deo yang begitu panik kala Arimbi bergulat dengan Kenanga di dalam toilet beberapa waktu lalu.
Lain halnya dengan Daniel yang mencoba menjabarkan fakta mengejutkan itu, rombongan para pengkhianat justru nampak kebakaran jenggot.
" Sekarang gimana coba, mustahil kita kembali ke DA!" Ucap Casandra resah demi membaca salah satu portal berita, yang membuat keterangan soal kasus tindak kejahatan berencana yang di lakukan oleh pengusaha muda, Bramasta.
" Bener, apalagi, dulu Pak Deo sempat tahu waktu kita ngeroyok Arimbi sewaktu dari Caf...."
" Bisa diam nggak kalian? Kepalaku mau pecah ini rasanya!" ketus Kenanga yang kini benar-benar tersudutkan.
Walau berita soal Arimbi dan Deo itu masih simpang-siur, namun fakta jika Bram dan Zakaria tertangkap polisi jelas mengindikasikan jika hidup mereka saat ini tidak baik-baik saja.
.
.
Arimbi
Pagi ini itu, Arimbi yang baru saja membersihkan dirinya nampak membantu membereskan tempat. Selang infusnya baru saja dicabut. Keadaannya sudah lebih baik walau luka di tangannya masih terbebat perban.
Ibu dan Farel semalam turut pulang bersama kedua mertuanya. Berjanji akan menginap di rumah Deo, saat mereka pulang nanti.
Ia tengah membuka seal botol air mineral dan berniat meneguknya, saat orang yang sudah lama tidak ia temui, hadir disana dengan wajah sayu.
" Ar!"
DEG
"Mbak Wiwit?"
Deo yang masih sibuk membereskan baju kotor untuk ia bawa pulang nanti, turut menoleh kaget. Pasalnya, tak satupun orang dari pihak Arimbi yang mengetahui jika ia telah menikah. Dan saat ini, dia sedang bersama berdua dengan Deo saja.
" Tega kamu sama mbak Ar!" Ucap Wiwit seraya berlari menubruk Arimbi lalu memeluknya erat.
Membuat Arimbi seketika terhuyung kala wanita yang selama ini sering curhat satu sama lain itu, menariknya kedalam dekapan penuh kerinduan.
" Pantas kamu udah enggak ke warung lagi!"
Arimbi yang turut menitikan air matanya, hanya bisa menghela napas sedalam-dalamnya. Yes, this my mistake.
" Aku udah tau semuanya dari ibu kamu Ar. Tadi subuh aku nelpon Farel. Kamu tega banget sama mbak. Nyembunyiin rahasia sebesar ini!"
Kini, Deo yang berdiri menyaksikan interaksi itu hanya bisa membeku. Lagipula, Deo belum pernah melihat Wiwit sebelumnya.
Wiwit melepaskan pelukannya dengan tersenyum di sela tangis. Menatap senang kala adiknya yang kini polos tanpa riasan make up itu telah selamat.
" Maafkan aku mbak. Waktu itu aku..."
" Sudahlah Ar. Yang penting sekarang aku udah tahu. Itu suami kamu?" Sahut Wiwit seraya menoleh ke arah Deo yang lekas menarik bibirnya untuk tersenyum.
"Iya mbak. Namanya mas Deo. Mas, ini mbak Wiwit, sepupu aku, yang punya lesehan di pantai Kurawa!"
Deo yang mendengar Arimbi menyebut lesehan di pantai Kurawa, seketika teringat dengan assistenya.
" Apa dia pemilik warung yang kerap di omongkan si Erik?"
" Salam kenal mbak, saya De..."
" Pak Deo, saya sudah dat...tang! " Erik yang semula berjalan lesu sebab diminta datang di jam sepagi itu lantaran mandat untuk membawakan baju ganti untuk Deo, seketika menjadi terkejut bercampur sumringah, demi melihat sesosok yang selama ini kerap mengusik pikirannya, membuat hidupnya tak tenang, dengan wajah yang kerap menganggu tidurnya.
Oh God, are you kidding me?
" Lho, kok kamu bisa disini, kamu apa kabar? Masih ingat aku kan?" Tanya Erik penuh antusias kala menatap Wiwit, dan nampak mengabaikan dua sejoli yang sejatinya juga terkaget-kaget akan reaksi tak biasa dari Erik.
Membuat Deo seketika menghela napas panjang, demi melihat pejantan cap garangan macam Erik, yang nampak belingsatan kala melihat yang bening-bening.
Semprul!
.
.
.
.