My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 158. Hanya insan biasa



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Claire


Ia tak pernah sebelumnya seperti ini. Ia bahkan sangat pemilih terhadap lawan jenis. Bukan sombong atau apa, namun kebanyakan pria yang ia kenal selalu menganggap wanita itu mahluk yang berada di bawah mereka.


Membuatnya tak melanjutkan kedekatan jika berurusan dengan pria-pria seperti itu. Usianya sudah tiga puluh tahun kurang lebih tahun ini. Dan urusan hal seperti itu, tanpa ada kemunafikan, Claire tentu sedikit banyak telah tau apa artinya.


Sangat berbeda dengan Wira, pria itu selain nyambung kala diajak ngobrol, ada satu hal yang tak bisa ia jelaskan, yang menjadi titik dasar ia mau merajut tali kenikmatan bersama pria yang benar-benar gila itu.


Sebuah keseriusan dari sosok pria jantan yang cenderung lebih ke perbuatan langsung, daripada sekedar teori belaka. Kisah antara dua manusia dewasa, yang tanpa mereka sadari akan menyeret mereka kedalam sebuah keterikatan yang mungkin saja membawa efek domino.


Ya, baik Wira maupun Claire sama sekali tak mengetahui, jika mereka memiliki hubungan pada satu orang.


Demas juga Eva.


Ia menggelinjang kala kuncup dadanya disapu oleh lidah Wira. Bagai tersengat arus listrik, Claire benar-benar kehilangan logikanya.


Pria yang nampak mengagumi tubuh wanita itu, bahkan belum pernah merasakan sensasi seperti ini dari wanita manapun yang pernah singgah dalam hidupnya.


Ia nampak memejamkan matanya kala bagian bawahnya terasa begitu nyeri dan perih dalam waktu bersamaan.


Benda besar itu memaksa dan mendesak masuk. Menerobos celah sempit yang baru pertama kali dimasuki.


Claire nampak mencengkeram punggung keras Wira manakala ia merasakan panas, nyeri , juga sakit di pangkal pahanya. Membuat Wira yang mengetahui bila Claire masih Virgin seketika menyambar bibir wanita itu, demi mengurangi rasa sakit.


" Aku tidak akan membiarkanmu pergi. Kau harus jadi milikku!"


Batin Wira berjanji dalam hati demi mengetahui bila Claire rupanya masih perawan.


.


.


Demas


Ia duduk diatas kursi roda menatap nanar rintik hujan yang mendadak mengguyur kawasan tempat tinggalnya itu. Dari jendela yang terbuka, ia nampak menikmati tetes demi tetes air yang turun membasahi bumi.


Perasaannya gundah. Bagai kehilangan harap, ia bahkan nyaris tak mengenali dirinya sendiri. Bukan bermaksud menyalahkan takdir. Tapi rupanya ia tak sekuat yang terlihat.


" Ada apa?" Eva yang baru keluar kamar mandi sebab baru saja membersihkan diri sebelum tidur itu tak bisa menahan diri untuk tak bertanya kepada suaminya.


Ya, Eva pemasaran manakala ia melihat Demas yang duduk termenung.


" Apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" Tanya Demas tanpa menoleh. Dari raut wajahnya, pria itu nampak menyimpan kekecewaan.


Membuat Eva terkejut.


" Menyembunyikan apa mas?" Jawab Eva sembari berjalan mendekati suaminya.


" Baca ini!" Demas menyerahkan ponsel milik Eva kepada pemiliknya.


Selamat beristirahat Nyonya. Jika perlu sesuatu, jangan sungkan untuk membangunkan saya!


Membuat Eva seketika mendelik.


" Yang salah dimananya mas? Kata-kata Raja ini wajar kok!"


PRYANG!


Demas nampak menyambar ponsel dari genggaman tangan Eva, dan sejurus kemudian membanting ponsel Eva hingga menjadi beberapa bagian.


Membuat Eva seketika terkejut bukan main.


" Ini alasan kamu semangat untuk ke kantor, biar kamu bisa free diluar sana!"


Eva yang terpancing mendadak merasakan sesak di hatinya, apakah suaminya tak percaya kepadanya?


" Aku emang gak guna! Aku suami gak berguna Eva!" Teriak Demas yang semakin membuat Eva menangis. Mata wanita itu bahkan telah basah kuyup oleh air mata.


" Brengsek!"


PRYANG!


Demas melempar lampu duduk diatas nakas kamarnya. Melampiaskan kekecewaan yang kini tengah menyiksanya.


Eva menarik napasnya dalam-dalam. Mencoba menetralisir diri dan mensugesti dirinya untuk tetap tenang, walau air mata itu tiada mau berhenti untuk mengalir.


" Mas!"


" Minggir!"


Demas nampak marah dan menepis tangan Eva yang hendak meraihnya. Pria itu nampak menggerakkan kursi rodanya sendiri dengan dada bergemuruh juga gerakan impulsif.


Ibu Eva yang mendengar anaknya bertengkar dari kamar sebelah hanya bisa diam dengan mata berkaca-kaca. Ia tahu, mungkin Demas merasa lelah dengan semua yang tejadi. Membuat pria itu menjadi lebih sensitif.


.


.


Claire


Ia menatap nanar punggung dengan tatto yang baru ia lihat itu. Tatto yang nampak sangar namun juga cocok dengan pemiliknya.


Sama sekali tak mengira jika pria yang beberapa detik lalu mengayun diatas tubuh, dan memberikannya rasa kenikmatan yang tiada tara itu memiliki sisi yang tak ia ketahuan.


Apa dia mafia?


" Aku antar ya?" Ucap Wira yang nampak mengancingkan kemejanya. Menatap lurus Claire yang sudah rapih dengan pakaiannya.


" Tidak usah, aku udah pesen taksi kok. Lagian, katanya kamu ada kerjaan mendadak!"


Wira menatap iba Claire. Sebenarnya bukan pekerjaan, tapi ia harus kembali kerumah Eva tepat waktu.


" Maaf Claire, tapi aku belum bisa membagi semua ini kepadamu!" Batin Wira yang sebenarnya resah sebab masih ada satu hal yang belum berani ia utarakan terhadap wanita itu.


" Aku harap apa yang terjadi malam ini, jangan membuatmu menilaiku keliru!"


CUP


Claire diam manakala keningnya dikecup oleh Wira. Sama sekali tiada menyesali pengalaman pertama menggapai keindahan bersama pria tampan itu.


.


.


Rajandra


Setibanya ia dirumah Eva, ia nampak terkejut demi melihat Eva yang duduk termenung di ruang keluarga, dibawah terangnya pencahayaan di malam itu.


Ia memindai sekeliling namun tak mendapati satupun orang disana.


" Ada apa ini? Apa mereka telah bertengkar?" Batin Raja menyeringai. Sepertinya, salah satu rencananya telah berhasil.


" Nyonya, anda belum tidur?"


Eva yang terkejut sebab tak menyadari kehadiran Raja nampak berjingkat. Benar-benar terkejut manakala sosok Raja nampak berdiri dengan wajah datar.


" Ah iya. Kau...baru pulang?" Tanya Eva yang bahkan lupa jika supirnya itu sempat izin pergi . Belakangan ia mengetahui bila Raja memang mempunyai pekerjaan sampingan. Begitu info yang ia dapat dari Fadli.


" Ini sudah malam Nyonya. Anda bisa masuk angin nanti!"


Demas yang hendak menemui istrinya mendadak menghentikan kursi rodanya. Ia berdiam dan mendadak menjadi insecure kembali.


Sebenarnya tidak ada yang salah dengan Raja. Namun, ketakutannya serta kecemasan berlebihan mendadak membuat Demas over.


" Baiklah, kalau begitu aku mau masuk dulu!" Ucap Eva yang tak mau menambah persoalan. Ia tahu, Demas tengah cemburu buta dengan Raja.


"Tunggu!" Sergah Raja yang membuat Eva terkejut.


" Ya?"


" Terimakasih banyak Nyonya!"


Demas yang melihat interaksi keduanya seketika memilih pergi. Baru saja ia hendak meminta maaf, namun yang tersaji sepertinya cukup menjadi bukti bila ia tak salah mengira.


Demas nampak mengeraskan rahangnya. Menyangka jika sesuatu telah terjadi antara istri juga supirnya itu.


" Fadli, temui aku besok!"


" Ada apa Pak? Anda baik-baik saja?"


.


.


.


.