My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 17. Direktur



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Arimbi


Sejak semalaman hatinya bersuka ria, Ibu apalagi. Wanita nomer satu dalam hidupnya itu tak hentinya mengucap syukur. Impian memiliki anak yang mengenakan seragam cantik ala staf penerbangan, sudah bukan sebatas angan-angan belaka.


Ada rasa bangga tersendiri, manakala mengetahui jika anaknya lolos seleksi tanpa melewati jalur apapun, selain jalur perjuangan.


Farel juga senang meksipun tak bisa menunjukkan sikap yang kentara. Namun dalam relung hatinya, ia bahagia sebab sang kakak tak menjadi pengangguran banyak acara lagi.


" Buset, ini bener embakku?" Farel memindai tampilan kakaknya dari atas hingga ke bawah. Ya, Arimbi kelihatannya lebih rapih dan cantik pagi itu. Sejak semalaman, ia menghabiskan waktunya untuk melihat tutorial cara mengkroisang rambut ala pramugari.


" Udah bener belom, nanti kamu muji doang tapi aslinya boong!" Ucap Arimbi yang kini memakai jaket guna menutupi kemeja lengan pendek yang memang fit di tubuhnya.


" Beneran Mbak, kalau begini enggak cocok kamu jadi orang miskin!" Farel terkikik-kikik.


" Gundulmu! Kalau miskin ya miskin aja, udah ah! Ngaco aja kamu!"


Ia juga mengenakan eye shadow warna peach dengan eyeliner yang tipis, alis yang sudah ia bentuk menggunakan pensil alis warna coklat yang tidak terlalu tebal, serta lipstik nude yang membuat dirinya segar.


Fix, Arimbi cantik natural.


" Cantik bener mbak, kaya pramugari!" Ucap Farel masih terkesima.


" Sayangnya bukan pramugari, tapi pramusaji di rumah sendiri!" Arimbi terkikik geli.


.


.


Deo


Ia tengah berkutat di depan laptopnya saat Erik datang membawa informasi jika para karyawan baru sudah datang ke kantornya, dan kesembilan anak itu tengah berada di lantai dasar bangunan besar itu.


Ya, Deo saat ini berada di kantor pusatnya yang berada di jalan by pass menuju bandara. Kantor besar yang bertuliskan,


...Darmawan Angkasa Ground Handling support...


Kantor pusat itu berada di luar area bandara, sedangkan kantor yang berada di dalam bandara merupakan kantor operasional. Perusahaan itu memiliki ratusan karyawan yang berkompeten di bidangnya masing-masing.


" Bos, udah hampir datang semua. Mereka ada di bawah Aswin juga sudah on the way kemari!"


Deo mengangguk, ia pagi ini sudah rapih dengan pakaian formal dan bau semerbak yang membuat Erik bahkan terlena. Deo dengan segala kharismanya mampu membius siapapun yang menatapnya.


Pagi ini Deo memang yang meminta kepada Erik, untuk membuka seremonial sederhana soal kedatangan beberapa karyawan baru.


Ya, meskipun Deo kesehariannya tak langsung terjun ke operasional di dalam gedung bandara, namun ia tetap harus membekali ujung tombak baru perusahaannya itu, agar mereka paham dan tahu batasan.


Beberapa saat kemudian, Deo terlihat menuruni anak tangga dengan wajah datar. Tak ada rona keceriaan atau keramahan seperti yang biasa ditunjukkan kepada Mama Jessika.


Namun, justru sikap serius itulah yang membuat kaum betina di bandara selalu bersaing untuk mendekati Deo. Terutama para wanita Single yang ada di setiap lini atas bandara besar itu.


Deo memindai satu persatu anak buah barunya itu. Baru delapan yang hadir rupanya, dan ia tahu siapa yang terlambat. Perempuan kurang ajar itu rupanya yang belum datang.


" Berani sekali dia bahkan terlambat di hari pertama!"


Namun, belum selesai hatinya membatin secara tidak lega. Sebuah ketukan sepatu terdengar dari arah depan.


" Selamat pagi!" Ucap Arimbi lugas dan mulai membiasakan diri menyapa.


Kedelapan anak yang berbaris menghadap ke arah Deo, Erik, Daniel dan juga Aswin kini mengalihkan pandangannya ke belakang saat sebuah suara terdengar.


Kesemua yang disana tekun melihat Arimbi yang fresh sekali pagi itu, ia bagai kuntum bunga mawar yang mekar di pagi hari. Segar dan cerah.


.


.


Arimbi


Resita adalah wanita satu-satunya yang Arimbi kenali disana. Orang kedua yang mau membalas senyumannya setelah pria yang berdiri di belakang Deo. Pak Daniel.


Ia tak sempat berkenalan kepada siapapun selain Resita kemarin, karena ia memang merupakan pribadi yang tertutup bagi orang-orang baru. Namun, jika sudah kenal ia bisa melebihi gelegar petir saat membersamai.


Resita tersenyum kepadanya, itu merupakan awal yang baik pikirnya. Walau dalam hati, ia mendengus sebab Deo benar-benar menguliti dirinya dengan tatapan tak bersahabat.


" Saya harap tidak ada lagi yang terlambat di hari-hari depan lagi. Ingat, pekerjaan kita sangat besar kaitannya dengan waktu. Kalian akan paham nanti apa itu Ground time, dan pentingnya waktu meskipun itu satu detik di dalam penerbangan. Mengerti?"


" Mengerti!" Koor semua yang ada di sana. Membuat hati Arimbi sesak karena ingin protes.


Arimbi melirik Deo yang kini melempar tatapan sengit kepada dirinya. Ia tahu, Deo pasti menyindirnya. Padahal ia tidak terlambat, masih ada waktu tujuh menit.


" Sialan, padahal ini juga belum waktunya. Kau kan enggak telat- telat amat asu!" Batin Arimbi mengomel dalam hati.


Arimbi memilih diam saat Daniel mengedipkan matanya ke arahnya, untuk memberi isyarat agar ia diam dan tak menyela ucapan Deo.


Ia membalas senyum ke arah Daniel yang berdiri seraya menyatukan kedua tangannya ke belakang. Pria itu terlihat sangat segar di jam sepagi ini.


Resita yang mengetahui hal itu, mendadak menunduk. Entah mengapa hati Resita menjadi gundah manakala melihat Arimbi saling melempar senyum ke arah Daniel.


" Baik, karena semua sudah datang kita langsung saja." Deo mulai menguasai keadaan, dan membuat Kesemuanya menatap serius ke sosok tinggi tegap dengan wajah rupawan itu .


" Saya ucapkan selamat datang untuk kalian semua yang telah terpilih untuk bergabung di perusahaan tercinta kita ini!"


" Nama saya Deo, saya adalah Direktur utama PT Darmawan Angkasa Ground Handling!"


Arimbi menelan ludahnya. Terlihat sombong sekali pria itu." Astaga, apa pria mesum itu akan mengincarku karena sepertinya dia tidak suka denganku!"


" Perkenalkan, yang di sebelah saya ini mamanya Mas Erik!" Deo menepuk pundak Erik yang berdiri menggamit tangannya sendiri ke arah depan." Beliau merupakan assisten kepercayaan saya, dan pengambil keputusan kedua setelah saya!"


Erik mengangguk pelan seraya melempar senyuman ke semua peserta.


" Yang ini Pak Aswin!" Deo menunjuk ke arah pria yang lebih tua darinya, yang berdiri di belakang Erik. " Beliau merupakan kepala Humas di perusahaan kita, jadi nanti setelah briefing ini selesai kalian bisa menemui Pak Aswin untuk mendapatkan Pas kalian, sebagai akses agar bisa masuk ke terminal domestik!"


Lagi, kesemua yang disana mengangguk seraya menyimak dengan tekun. Mereka sangat beruntung dan benar-benar tak percaya bisa diterima bekerja di perusahaan bonafit macam itu.


" Yang ini!" Tunjuk Deo kepada Daniel, pria ganteng itu mengangguk seraya tersenyum lebar. Sepertinya Daniel memang sosok yang ramah. " Dia chief leader passasi, Mas Daniel. Jadi setelah ini, kalian yang masuk di posisi front liner setelah ini akan di bimbing langsung oleh beliau!"


Para wanita yang ada disana seketika belingsatan manakala Daniel melempar senyum lebar penuh ketulusan.


" Hari ini kalian bisa langsung ikut bergabung bersama para senior kalian. Ingat, jaga sikap kalian selama di area dalam. Cerminkan sikap jika kita ini adalah orang yang...!"


" Mesum!"


Sahut Arimbi reflek dengan suara yang sangat pelan, namun masih bisa di dengar oleh Deo. Entah apa yang di pikirkan oleh Arimbi, kenapa apa yang ada dalam angan-angannya justru kini terkecap oleh mulutnya.


Astaga!


Deo seketika membulatkan matanya saat mendengar suara lirih itu. Membuat kesemuanya saling menatap.


" Kenapa Pak Deo tiba-tiba diam?" Batin sebagian besar orang yang tak mendengar ucapan Arimbi.


.


.


.


.


.