My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 171. Aku telah kembali sayang!



...🌿🌿🌿...


...β€’...


...β€’...


...β€’...


Eva


Seperti biasa, sore hari ini ia baru selesai menyeduh ramuan khusus untuk Demas dari Mama Jessika, agar suaminya itu bisa segera kembali berjalan dengan normal sesuai dengan harapan seluruh keluarganya.


Selama beberapa bulan ini, baik Demas maupun Eva berjuang keras untuk pemulihan. Demas menjadi lebih penurut pasca terbongkarnya niat jahat Sadawira.


Ia juga terlihat mempersiapkan segala sesuatu, sebab sore ini mereka berdua akan bertolak ke rumah sakit guna melihat keponakan mereka yang akan lahir hari ini.


Benar-benar berita yang sangat membahagiakan. Hah, rasanya sungguh tidak sabar.


Ia nampak sibuk memilih pakaian yang akan di gunakan Demas, selagi suaminya itu masih mandi. Pikirannya benar-benar di penuhi oleh aura positif saat ini.


Ya, sudah beberapa hari ini Demas bisa mandi sendiri dengan cara berpegangan pada tongkat. Eva sangat bahagia akan hal itu. Terapi, pengobatan, serta peran serta keluarga mampu membuat Demas semangat untuk pulih.


Dan itu menjadikan Eva lebih bahagia setiap harinya.


" Tumben mandi lama sekali" Ia bergumam seorang diri seraya melihat ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup.


Tersenyum sekilas demi membayangkan jika ia dan Demas akan segera memiliki keponakan.


Kini, ia nampak sibuk memilih kaos kaki untuk suaminya di bagian terbawah lemari. Sengaja ingin mendandani suaminya dengan pakaian casual yang nyaman.


Namun, tanpa ia ketahui, sesuatu yang tak pernah ia duga sebelumnya, nampak telah bersiap di belakangnya saat ia tengah sibuk mencari dimana pasangan kaos kaki berwarna abu-abu itu.


Eva tak menyadarinya, jika ada seseorang yang berjalan mendekat ke arahnya.


" Mas, udah sore lho ayo buruan!" Teriaknya dalam posisi yang masih sibuk mencari kaos kaki.


"Fadli barusan udah WA aku kalau dia udah samp..."


" Kenapa buru-buru sekali?"


DEG


Dari posisi yang masih di bawah, Eva mendongak dengan mata membulat demi melihat Demas yang saat ini bertelanjang dada dengan handuk sebatas pinggang yang tengah dikenakan.


Menatapnya dengan senyum lebar.


" Ma - mas Demas?"


Eva seketika berdiri tegang seraya menatap tak percaya ke arah suaminya yang telah bisa berdiri tanpa penyangga.


Apa aku bermimpi?


" Mas, kamu..?"


Eva masih nampak terkejut dan benar-benar tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Matanya mendadak mengembun, dadanya mendadak penuh.


Benarkah jika suaminya telah pulih?


Eva menangis bahagia.


" Mas!"


Wanita itu seketika menubruk tubuh suaminya yang kini lekas berisi kembali. Ia memeluk, lalu menciumi dada bidang suaminya dengan rasa syukur yang teramat.


" Sejak kapan mas Demas bisa jalan? Kenapa...."


Ia bahkan tak sanggup meneruskan kata-katanya sebab lehernya mendadak tercekat oleh rasa haru.


Bukannya menjawab, Demas justru nampak semakin mengeratkan pelukannya. Ia telah berhasil membuat kejutan kepada Eva.


Sebenarnya, ia sudah bisa berjalan empat hari yang lalu. Semua itu baru ia ketahui saat ponselnya mendadak bergetar di meja rias istrinya.


Demas yang baru bangun dan tak ada pilihan lain selain mengambilnya sendiri, sebab Eva sedang pergi bersama pembantu mereka.


Padahal, tongkatnya berada jauh di sisi kirinya. Membuatnya akhirnya memberanikan diri untuk berjalan perlahan demi meraih ponselnya.


Namun, saat ia merasa takut jika kakinya tak kuat menopang beban tubuhnya, matanya seketika membulat tatkala ia merasa kakinya menjadi lebih wajar, saat memajukan langkahnya hingga beberapa pijak.


Benar-benar sebuah mukjizat.


Sungguh sulit Demas percaya, dia bahkan bisa menjejak di lantai, meski jangkauannya masih kaku.


Ia yang mengetahui jika Eva sedang datang bulan di hari itu sengaja ingin menunda memberitahu hal itu, dan akan memberikan kejutan untuk istrinya.


Jika selama ini ia lah yang selalu dilayani, maka biarkanlah mulai hari ini, ia akan membayar semua hal yang telah tertunda, termasuk memuaskan batin istrinya.


" Apu kau terkejut? Niatku memang mengejutkanmu!"


Mata Eva nampak sudah berkaca-kaca, saat suaminya kini malah menggodanya.


" Aku rasa keponakanku masih bisa menunggu kita untuk...!" Bisik Demas tersenyum penuh arti ke arah istrinya.


Eva yang masih menitikkan air matanya, tersenyum senang saat melihat mata Demas yang sendu dan menuntut.


" Kau sudah mandi!" Ucap Eva pura-pura mencibir suaminya.


" Kalau begitu, sebaiknya kita mandi bersama setelah ini!"


Membuat Eva seketika malu dengan wajah merona.


Keduanya nampak benar-benar sepakat untuk merayakan kebahagiaan. Sembari menggiring istrinya menuju ranjang, tangan kekar itu tak hentinya meremas bo kong Eva dengan penuh gairaah.


Membuat gelora itu terpantik dengan lembutnya.


Hingga, Eva yang kini telah terbaring di atas ranjang pegas itu, menatap wajah suaminya yang benar-benar tampan. Rambut pria itu bahkan masih basah dan mengeluarkan aroma sampo maskulin yang membuat Eva semakin jatuh cinta.


Eva tak hentinya menatap suaminya yang kini mengungkungnya. Masih belum percaya bila suami tercintanya telah pulih.


Inikah rasanya memetik buah kesabaran?


Inikah rasanya merayakan keikhlasan?


Demas sengaja memanfaatkan momen ini agar istrinya bisa segera memiliki momongan seperti Arimbi. Sungguh, saat masih sakit, diam-diam Demas selama ini juga mencari tahu hal penting seperti itu.


Ia yang kerap browsing mengenai periode terbaik agar sel telur istrinya terbuahi dengan baik, meyakini jika pasca haid adalah waktu terbaik yang benar-benar pas untuk berkembang biak.


Sejenak, ingatannya kembali saat selama ia kurang sehat ini, Eva lah yang selalu sukarela melayani kebutuhan biologisnya walau intensitasnya tak terlalu sering.


Demas tahu, istrinya benar-benar manifestasi dari Dewi kesabaran.


" Bolehkah aku..."


Eva mengangguk saat mata sendu itu seolah menunggu jawaban darinya. Membuat Demas seketika menanggalkan handuk yang membebat bagian bawah tubuhnya.


Mata Eva seketika membulat demi melihat pemandangan luar biasa yang kini di umbar okeh suaminya. Oh Shiit! He's so sexy!


Pria itu nampak menekan serta menindih tubuh ramping Eva sewaktu mendaratkan ciuman panas ke bibir istrinya.


Tangan lentik wanita itu kini nampak menggerayangi punggung lebar nan liat milik Demas. Menikmati ciuman yang melebur kerinduan.


Untuk sejenak, mereka bahkan pasti telah melupakan supir baru yang pasti sudah siap menunggu majikan mereka.


Benar-benar majikan kurang ajar!


Dan dalam waktu singkat, seluruh pakaian yang semula mereka kenakan, kini nampak berserakan di lantai dengan tak beraturan.


Eva yang kali ini benar-benar mendapatkan pelaku istimewa, terlihat begitu menikmati saat bagian bawah miliknya tengah dihujani ciuman oleh Demas. Membuat Eva seketika menggelinjang.


Tangan cantiknya nampak mencengkeram seprei, kala sesuatu dari dalam tubuhnya yang memuncak nampak mendesak ingin keluar detik itu juga.


"Ah, mas!"


Dalam waktu singkat, ia menjadi terkejut saat Demas justru meraup hal itu dengan rakusnya.


Oh God!


Ia yang masih mengatur napas kembang kempis demi rasa nikmat yang tak terdefinisikan itu, kini terkejut saat bibirnya kembali di sapu oleh Demas.


Pria ini ganas sekali pikirnya.


Matanya seketika terbuka manakala aset berharga milik suaminya yang telah menegang itu, tak sengaja menyerempet paha mulusnya. Membuat sekujur tubuhnya seketika merinding.


Demas yang serasa berhutang hal krusial itu selama berbulan-bulan ini, nampak begitu menikmati peran, serta pola permainan yang kini tengah ia pimpin.


Benar-benar hangat dan penuh cinta.


Kuncup yang semula menganggur itu, kini ia lahap dengan rakus sembari memposisikan kelelakiannya untuk masuk ke kawasan lembab itu.


Sungguh, dua anak manusia itu benar-benar tengah merayakan cinta di sore yang teramat bersahaja.


Ah!


Eva memejamkan mata dan menikmati sesuatu yang benar-benar seolah menyeretnya ke palung kenikmatan terdalam. Sesuatu yang kini membuat tubuhnya bagai tak bertulang.


Demas yang nampak begitu on fire, kini menghujam serta menghentak tubuh itu dengan penuh cinta. Menikmati, serta menghadirkan rasa yang selama ini telah tertunda.


Membuat tubuh Eva bergetar di buatnya.


Terus terus dan terus. Semakin lama bergerak, keduanya semakin sama-sama berpeluh. Hujaman yang semakin menggila itu lambat laun membuat tubuh keduanya menegang dengan lutut yang seperti kehilangan tulang.


Hingga sejurus kemudian.


"Ah!!"


Mereka yang rupanya sama-sama menggapai puncak keindahan duniawi itu, seketika saling berpeluk dengan tubuh yang bersimbah keringat, kala secara bersamaan kenikmatan itu berhasil mereka raih.


" Aku telah kembali sayang!"


" Mari kita mulai dari awal!" Bisik Demas penuh cinta dengan napas terengah-engah.


.


.


.


.


Mommy minta maaf ya geng, karena suatu hal belum bisa menamatkan cerita tepat waktu. Sama seperti hidup kita, kadang apa yang di rencanakan, agak melenceng saat dijalankan.


Yang paling terpenting, semoga kita semua senantiasa diberikan kesehatan.


Salam cengar-cengir


😘😘😘