
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Arimbi
Ia sudah bersiap manakala sebuah panggilan dari Novi tertuju untuknya pagi itu. Sesuai rencana, mereka hari ini akan meninggalkan kota Tenggarang sebab harus memenuhi perintah Deo.
" Udah mbak, aku udah siap kok. Ok Ok, di lobi kan, yok!" Ucapnya manakala menjawab panggilan dari seniornya.
Schedule boarding ialah pukul 09.25 local time atau waktu setempat. Namun, Deo membawa anak buahnya untuk berangkat lebih dulu menuju bandara agar bisa membantu operasional terakhir.
Sebab, rencananya mereka akan langsung duty, setibanya di kota B sebab hari kedua ini, mogok kerja itu masih berjalan.
Benar-benar akan dihajar oleh kesibukan yang tak main-main.
Membuat Eva yang pagi itu belum selesai dandan, terpaksa harus berdandan di dalam mobil bersama Arimbi, Novi, Danil, Andre, Demas dan tentu saja Deo, agar ia tak menyumbangkannya persoalan tambahan.
Selain itu, ada sedikit perubahan skenario. Setelah di kaji ulang, Romadona sepertinya masih membutuhkan satu orang senior di operation. Membuat Andre yang harusnya ikut pulang, sepertinya harus tinggal beberapa waktu dulu sebab staff operation belum bisa di lepas.
Sepanjang perjalanan, Deo tak hentinya melirik istrinya dari pantulan kaca mobil, demi melihat Daniel yang nampak akrab sekali dengan Arimbi.
Eva sedari keluar dari kamarnya tadi nampak membisu sebab kena skak mat, manakala ia menatap Deo yang nampak senyam-senyum penuh sindiran kala melihatnya.
" Apa semalam tidur kalian nyaman semua?"
Daniel yang berada di depan kemudi melirik Andre yang ada di sampingnya, manakala Deo yang berada di jok kedua bersama Demas menanyakan hal itu.
What the hell?
" Nyaman Pak seperti biasanya. Memangnya kenapa?" Tanya Andre polos. Membuat Eva yang sepertinya paham kemana arah pembicaraan Deo, nampak tegang.
" Tidak apa-apa. Aku hanya ingin memastikan kalian cukup tidur. Sebab kalian harus extend sampai last flight nanti!" Sahut Deo melirik Demas yang datar dengan tatapan penuh arti.
Membuat Demas membalas lirikan penuh maksud kakaknya itu, dengan wajah sebal.
" Bukan begitu Va?"
Kini, Deo yang menggerakkan kakinya dua alisnya menoleh ke arah belakang, dimana Eva duduk berhimpitan bersama Novi dan juga Arimbi.
Membuat Novi dan Arimbi terbengong-bengong.
" Brengsek Pak Deo!" Dengus Eva seraya mengumpat dalam hati.
.
.
Kenanga
Ia tersenyum puas demi membaca berita-berita yang kini menghiasi laman media berita di situs resmi pemerintah daerah, maupun berita nasional.
Andanu Air mengalami keterlambatan parah imbas dari penanganan yang tidak profesional.
Staff Andanu air diduga menjual kursi ke penumpang lain.
Andanu Air ancam akan memutus kerjasama dengan Groundhandling terbaiknya karena kelalaian staf.
Membuat Kenanga tersenyum puas.
...Flashback...
Ia sakit hati sebab di berikan surat peringatan oleh Deo. Merasa kesal sebab Arimbi sepertinya selalu lebih beruntung darinya. Selain itu, ia merasa iri sebab banyak sekali orang yang menyukai Arimbi yang menurutnya secara kelas sosial tak sebanding dengan dirinya.
Suatu malam ia pergi nongkrong bersama Casandra dan Bianca yang masih lebih beruntung karena bisa bekerja di tempat hiburan malam.
" lama-lama gue males ikut Pak Deo!" Ucap Kenanga menyuguhkan raut geram. Penuh kekecewaan cenderung rasa muak.
" Gak aku sangka anak itu berani juga!" Sahut Casandra demi mengerti arah obrolan Kenanga.
" Gak itu aja San, temennya semua pada sok dan berani. Tuh yang suka pakai gincu tebel tuh. Paling gedek aku sama dia!" Imbuh Bianca yang selalunya kalah saat Eva membela diri.
Berbaur dengan suara bising musik jedang- jedung yang memekakkan telinga. Dari tempat mereka duduk, mereka melihat satu orang pria yang nampak mereka kenali.
" Lah, itu bukannya si Luki!" Ucap Binca menunjuk ke arah jam sebelas. Membuat dua sahabatnya itu turut memusatkan perhatiannya, ke arah sofa gelap yang berisikan dia pria manis.
" Mana sih Bi, enggak kelihatan?" Jawab Kenanga celingak-celinguk mencari-cari keberadaan manusia yang menjadi topik obrolan.
" Luki!" Casandra seketika berteriak sambil menggerakkan tangannya melambai. Membuat punggawa team Daniel itu seketika menoleh dan terlihat menyambangi ketiga wanita itu.
" Kalian disini juga? Udah dari tadi?" Luki yang melihat Casandra melambaikan tangannya seketika mendatangi rekan kerjanya itu. Pria yang sebenarnya memang menyukai Bianca itu tentu saja tak mau melewatkan kesempatan yang ada.
"Udah lumayan. Elu sendiri ngapain? Itu siapa?" Tanya Bianca biasa, menunjuk seorang pria seusia Deo menggunakan dagunya.
" Oh itu, aku..." Luki mendadak grogi manakala Bianca yang justru menjawab
" Tunggu sebentar, dia itu bukannya orang groundhandling sebelah?" Tanya Casandra manakala melihat pria yang agak familiar.
Luki nampak ragu saat hendak menjelaskan.
" Serius, tau dari mana lu?" Tanya Kenanga yang nampak tertarik dengan obrolan itu.
" Serius lah. Dia kan yang kapan hari handle Heli itu!" Jawab Casandra. Membuat rekan-rekannya mengangguk takjub.
" Ngapain elu berurusan sama dia. Jangan bilang kalau..." Terka Kenanga dengan wajah penuh selidik.
" Luk, ah elah disini lu ternyata!" Ucap seorang pria dan sukses membuat Luki membalikkan badannya.
Tiga serangkai itupun, seketika turut terkejut demi melihat sosok Panji yang kini telah berada di sana.
Membuat Panji juga terkaget-kaget.
" Ada apa sebenarnya. Ngaku kalian?" Bianca menatap tajam kedua rekan beda devisi itu. Membuat Panji dan Luki menelan ludahnya.
" Jangan bilang kau kalian...."
" Pak Anthoni nawarin kita buat kerja di GH mereka. Gajinya dua kali lipat guys. Mereka..."
" Elu tertarik?" Sergah Casandra yang menatap dua pria manis itu dengan wajah datar.
Panji menunduk, tapi tidak dengan Luki.
" Gua butuh tambahan uang buat sekolah adik gue San!" Jawab Luki berterus-terang. Membuat ketiga wanita itu saling menatap
" Sama, gue juga pingin bisa upgrade jabatan. Kesel aja dari dulu si Daniel terus yang dapat promosi. Ini malah si Andre juga udah diajak ke luar kota. Nah aku?"
Membuat ketiga wanita itu saling berpikir.
" Bener juga. Lagian, makin kesini aku makin gak ngerti dengan regulasi GH. Anak baru di suruh jadi tutor di cabang baru, sementara kita yang udah lama gak pernah dapat kesempatan. Gila aja tuh si Deo!" Ucap Kenanga geram.
Mereka tidak menyadari jika Antoni memperhatikan interaksi kelima karyawan Darmawan Angkasa itu. Bahkan, semua percakapan yang terjadi bisa ia dengar dengan jelas.
Anthoni yang mendengar kemarahan salah seorang wanita itu, seketika menyungging senyum licik lalu merekamnya.
Dan, di hari berikutnya Kenanga kaget demi melihat dua orang asing yang bertamu ke rumahnya. Pria yang salah satunya pernah ia lihat di club malam beberapa waktu lalu.
" Maaf, anda...?"
" Saya Anthoni, kita gak sengaja pernah bertemu di club. Maaf, bisa kita bicara?"
Sejurus kemudian, Kenanga tertegun demi mendengar maksud dan tujuan kedua pria rupawan itu datang kerumahnya.
" Saya bukan memprovokasi. Hanya saja, saya ini sering lihat kamu waktu bandara itu belum besar, tapi kenapa kamu masih ada di front liner. Harusnya kamu udah bisa jadi kepala SQC ( service quality control)"
"Saya cuma ingin memberikan info, barangkali kamu minat, kita bisa bekerja sama. Saya butuh orang-orang seperti kamu!"
Kenanga yang sepertinya kepincut dengan penuturannya pria itu nampak berpikir. Ia yang merasa tak di hargai di Darmawan Angkasa.
Dan, saat pria itu datang dengan segala penawaran yang ada, ia benar-benar merasa terhormat dan bagai mendapat angin segar manakala Anthoni datang berkunjung ke kediamannya, hanya untuk menawari dirinya.
Benar-benar membuatnya tersanjung.
Detik itu juga, menjadi momentum sebuah peristiwa pengkhianat, yang menurutnya sangat tepat untuk di lakukan.
...Flashback off...