My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 154. Sebuah kasus



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Rajandra


Ia melihat gelang itu sekali lagi dalam mobilnya sebelum ia melajukan kendaraannya menuju kediaman Eva juga Demas. Nampak mengagumi gelang cantik yang memiliki inisial C di salah satu batu dengan warna paling gelap itu.


" Ah, lain kali saja aku kembalikan!" Gumamnya lalu nampak mengantongi benda yang ia taksir berharga tak murah itu.


Pria itu sejurus kemudian melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Membelah jalanan sunyi yang hanya di isi oleh beberapa kendaraan bertonase besar. Tak mau membuat keluarga Demas curiga.


Setibanya ia dirumah Demas, pria itu nampak menuju dapur dimana bik Sulis nampak mencuci beberapa perabot dengan suara kran air yang menjadi back soundnya.


" Dari mana saja mas? Ibuk khawatir tadi. Sudah malem kok belum pulang!" Tutur buk Sulis kepada-nya, dengan tatapan sedikit lega.


Membuatnya seketika tertegun , sebab selama ini tiada satupun orang yang memedulikan dirinya. Bahkan kedua orangtuanya.


" Biasa buk, ketemu teman!" Bohongnya tak mau ribet.


" Jangan suka begadang. Anak muda memang kadang suka lupa. Nanti kalau sudah seumuran bibik baru terasa!"


" Kesehatan itu mahal mas!"


Ia masih tertegun dengan pandangan nanar menatap meja putih di depannya. Kenapa? Kenapa semakin kesini, banyak hal yang bertolakbelakang. Seperti manusia polos dari kaum Hawa di depannya itu.


Manusia yang nampak senang mengerjakan pekerjaan berat, yang sungguh membuat Rajandra menaruh iba.


TAP TAP TAP


" Sudah pulang kamu Ja?"


Ia menoleh lalu seketika berdiri mengangguk sopan demi mendengar suara Eva yang nampak menemuinya.


" Maaf Nyonya tadi saya keasikan ngobrol sama teman-teman saya. Jadi...."


" Kamu sudah makan? Bik, lauknya tadi masih ada kan?"


Ia terdiam demi mendengar majikan fiktifnya yang nampak mempedulikan dirinya. Sungguh, sebuah perlakuan yang tiada pernah ia sangka.


Namun, jauh dalam relung hatinya, ia nampak berusaha keras untuk tidak terpengaruh. Walau sebaik apapun mereka, mereka adalah keluarga yang harus ia masuki demi kelangsungannya hidup keluarganya satu-satunya. Kak Anthoni.


"Tidak, tujuanku kesini adalah untuk hal yang penting, aku tidak boleh terpengaruh! "


.


.


Tengah malam di kediaman David Syailendra


TING TONG!


TING TONG!


Dentang bel yang meraung-raung membuat assiten rumah tangga di keluarga David terbirit-birit di jam selarut itu.


Siapa gerangan yang datang di jam jelang dini hari itu?


Membuat Jessika seketika terbangun demi suara yang begitu mengganggu.


" Siapa mbok?"


Tanya Jessika dengan suara parau juga mata yang nampak bolak-balik mengerjap, dari depan lorong menuju kamarnya kepada assiten rumah tangganya yang nampak telah memegang handle pintu.


" Sebentar Buk!"


CEKLEK!


" Tara!!!"


" Claire?"


.


.


" Emmm masih ada lagi? Ini enak tau bude!" Ucap Claire penuh kegembiraan yang tengah menikmati martabak asin buatan pembantu dirumahnya.


" Untung masih ada. Lagian kenapa enggak bilang kalau datang malam ini. Pakdemu kan bisa jemput!" Tutur Jessika yang menyesalkan kejadian ini.


" Gak surprise dong!"


Jessika hanya mencibir.


" Temu kangen dulu sama teman kecil. Bude ingat Meta nggak? Anak ujung jembatan yang dulu pernah aku timpuk pakai balok pas main di sawahnya Opa!" Ucap Claire mencoba menerangkan sebab musababnya datang dengan jadwal yang maju.


" Yang item itu?" Terka Jessika sembari mengingat-ingat kejadian yang sudah terjadi belasan tahun silam.


Claire mengangguk dengan mulut berminyak dan tengah asik mengunyah.


" Dia dapat calon suami orang Belanda. Besok udah cuss dia, makanya aku majuin jadwal penerbanganku!"


" Masih sering contack sama dia?"


" Masih dong!"


" Hah!" Anak sulung Leo itu nampak menghela napas, seraya menyambar selembar tissue lalu menyapukannya ke arah mulutnya yang mengkilat.


" Kenapa?" Tanya Jessika demi mendengar helaan napas yang begitu berat.


" Semua sahabat, teman, kenalan aku udah pada mau married. Tinggal aku aja!" tukas Claire seraya menarik segelas air putih yang telah di siapkan oleh Jessika diatas meja makan itu.


Membuat Jessika tersenyum. Sangat berbeda dengan Melodi yang memiliki sikap cuek, Claire ini sangat periang dan senang curhat kepada Jessika.


" Kenapa lagian enggak punya pacar? Kamu ini cantik, smart, pasti banyak dong yang suka sama keponakan bude!"


Jessika berucap sambil melihat leher Claire yang bergerak manakala air putih dalam gelas itu, tengah ia teguk.


" Lebih sering ditinggal pas lagi sayang- sayangnya bude. Ya...aku sih menyadari kalau aku orang sibuk. Bude lihat sendiri kalau Demas sakit aja aku belum sempat jenguk!" Jawab Claire sembari meletakkan gelas yang telah tandas itu.


Jessika menatap keponakannya yang cantik, juga sangat sopan terhadap orang tua itu dengan tatapan muram. Merasa kasihan sebab usianya sebenarnya lebih tua Claire ketimbang Deo, namun belum menemui jodoh.


" Karir dan ambisi kerap membuat kita kehilangan beberapa hal penting nak. Termasuk kesempatan bersama orang-orang yang kita kasihi. Tapi...kita semua punya pilihan, untuk sama-sama menanggung konsekuensi!" Tutur Jessika dengan suara lembut, seraya mengusap punggung keponakannya.


Claire mengangguk setuju. Itu memang benar. Dan kalau dipikir-pikir lagi, sebenarnya apa yang dia cari? Bukankah kebahagiaan itu diri kita sendiri yang menciptakan?


" Jika aku sudah fokus ingin mencari jodoh. Sebaiknya kamu memanage pekerjaan kamu. Karena waktu yang telah berjalan, mustahil akan kembali!"


Claire menopang dagunya. Teringat akan seseorang yang mendadak meninggalkan dirinya, tanpa satu alasan yang jelas, dan kini membuatnya dalam situasi yang rumit.


" Udah kita ngobrol besok lagi. Udah malam!"


" Udah pagi malah Bude!" Sahut Claire terkekeh-kekeh.


.


.


Arimbi


Ia tengah sibuk membaca koran pagi itu, saat suaminya menikmati sarapannya. Sedikit tertarik dengan pemberitahuan soal kasus peredaran barang terlarang, yang menyeret nama pria yang cukup familiar di telinganya.


" Serius banget. Ada apa?" Tanya Deo yang merasa penasaran dengan raut wajah serius istrinya.


" Anthoni, ini bukan...." Arimbi menunjukkan foto pria dengan tato di lengan, yang ia ingat sebagai pria yang pernah menculiknya beberapa waktu lalu.


" Coba lihat!" Punya Deo yang kini menatap serius koran berita itu.


Terbukti memiliki pabrik narkotika, menjual serta mengedarkan barang haram tersebut, Anthoni G terancam hukuman mati.


Deo membulatkan matanya demi membaca berita tersebut.


" Bukannya pabrik itu...."


" Pak Zakaria yang punya?" Tanya Arimbi yang sedikit banyak tahu akan kasus itu.


" Bukannya mas kemarin juga tau kasus ini?" Tanya Arimbi lagi dengan wajah bingung.


" Sepertinya ada oknum yang bermain. Harusnya bukan dia yang kena hukuman. Astaga, coba ambillah ponselmu, aku bicara dengan Erik!"


Kini, Arimbi turut menjadi tegang, demi melihat perubahan raut wajah suami pasca membaca koran itu.


Benar-benar membuatnya ingin tahu.


.