My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 23. Lintas cerita



...🌿🌿🌿...


...β€’...


...β€’...


...β€’...


Deo


Ia lupa menginformasikan kepada Erik maupun Daniel soal tugas percepatan mereka dalam mengajari anak baru , baik dalam perkara sistem maupun knowledge lainnya. Membuatnya harus melangkahkan kakinya karena tak satupun ponsel dari para punggawanya yang bisa ia hubungi.


Usai mengatakan hal itu ia melesat pergi dengan wajah datar seperti biasanya. Ia masih kesal dengan gadis itu. Ia berharap gertakannya mampu membuat Arimbi takut.


" Gadis itu bahkan sok cuek kepadaku, dasar!"


Namun, bukannya membuat gadis itu takut, dua hari setelah kejadian itu, Deo yang kini berada di kantornya dikejutkan dengan kemunculan Arimbi yang duduk di sofa, di depan ruangannya yang berada di dekat gedung Nawangsa Pura dengan wajah tak bersahabat.


" Sedang apa kau disini? Atau jangan-jangan kau mau...?" Tanya Deo yang terkejut saat ia kini keluar dari ruangannya untuk mencari Erik.


Arimbi diam tak menyahut, gadis itu membisu sebab itu sangat muak dengan Deo.


" Dasar deodoran! Seenaknya cangkemnya aja dia ngomong!"


" Jaw...!!"


" Dia bersamaku bos. Dia akan saya bawa untuk ikut classroom flight internasional. Orang Andanu seneng dengan Arimbi bos, aku juga enggak nyangka kalau dia jago banget bahasa Inggrisnya!"


Erik berucap dengan wajah berbinar dan membuat ucapan Deo terjeda. Pria itu sengaja mengajak Arimbi kesana, agar ia tidak bolak-balik.


Beberapa waktu yang lalu saat orang Airlines lewat , mereka tak sengaja mendapati Arimbi yang fasih berbicara bahasa asing dengan penumpang asing. Membuat mereka takjub.


Ya, kini Resita, Dian, Eva serta Yohan berpisah sementara dengan Arimbi. Ke empat anak itu masih ada di flight domestik dan tengah mengikuti bimbingan secara langsung oleh PIC mereka masing-masing.


Sementara Arimbi, ia langsung di ikutkan flight inter sebab orang Airlines sendiri yang memintanya.


Deo mengangguk, " Ya sudah! Ingat jangan buat customer kita complain!" Ucap Deo melirik Arimbi.


Deo dan Arimbi saling menatap tajam. Tak ada tatapan wajar terlebih akrab. Membuat Erik memutar bola matanya malas.


Dan sejurus kemudian.


" Lho, itu sepertinya Pak Demas!"


Erik melihat pria tinggi dengan pakaian casual yang baru turun dari mobil kini berjalan menuju ke ruangan Deo. Ya, pria itu adalah adik Deo, Demas.


Erik menunda niatnya untuk membawa Arimbi menuju kantor orang Airlines demi menunggu kedatangan adik dari bosnya itu.


Demas berjalan dengan langkah pasti sembari terlihat membuka kacamatanya, lalu menggantungkannya ke kerah kemejanya.


Terlihat keren.


" Loh kamu? Masih ingat saya?" Demas yang notabene cuek, kini malah menyapa Arimbi terlebih dahulu dan membuat Deo mengerutkan keningnya. Pun dengan Erik.


" Anda kenal Pak?" Tanya Erik menatap Demas tak habis pikir. Terkenal juga si Arimbi.


Demas menggeleng. " Belum. Belum kenal kenal lebih tepatnya. Tapi pernah ketemu!" Jawab Demas yang tersenyum. Membuat Arimbi seperti mengingat - ingat wajah rupawan itu.


" Aneh banget si Demas!" Batin Deo yang masih bersidekap.


Deo melirik wajah Arimbi dan adiknya secara bergantian. Gadis itu sedikit menarik senyuman kepada adiknya.


" Bahkan dia bisa tersenyum kepada Demas. Sialan!" Umpat Deo dalam hati demi mengingat jika gadis itu tak pernah tersenyum kepadanya, bahkan sejak awal perjumpaan.


Benar-benar gila.


" Dia Arimbi. Anak yang baru kita rekrut Pak!" Terang Erik demi melihat kebisuan Deo yang tak mau menyahut sama sekali.


Arimbi baru ingat, jika ia pernah bertemu saat di mall. " Orang ini kan?"


" Kenalkan, saya Demas !"


Deo dan Erik menatap tak percaya saat Arimbi menyambut uluran tangan Demas dengan wajah menunduk malu.


" Anjritt si Demas, ngapain pakai kenalan segala!" Batin Deo.


Erik kesana sebab mengambil beberapa berkas yang musti mereka tunjukkan kepada orang Airlines. Dalam menghandle penumpang, mereka harus memiliki license atau sertifikat, yang di terbitkan oleh otoritas terkait, dalam hal ini maskapai penerbangan itu sendiri.


" Ya sudah kalau begitu, saya pergi dulu Pak. Ayo Ar!" Ucap Erik cepat manakala melihat suasana yang mendadak mencekam.


" Ngeri banget si bos ngelihatnya!" Batin Erik yang kini mulai berlalu.


Arimbi mengangguk kepada Demas biasa, namun sama sekali tak menatap Deo. Membuat Deo semakin kesal.


" Lihatlah! Sopan sekali dia!" Deo menatap sengit ke arah Arimbi yang mulai berjalan menjauh dari pandangan mereka berdua.


Deo kini melihat ke arah adiknya yang tak menggubrisnya, malah nampak lekat mantap punggung dua manusia yang makin menjauh dari mereka itu, dengan senyum penuh arti.


" Napa lu, senyam-senyum sendiri?"


Di anjungan lantai dua.


" Duh gila banget, kau begini caranya mukaku item nanti!" Dian mengomel seraya mengaca di depan cermin kotak yang laki-laki itu bawa di kantongnya setiap saat.


Dian menggerutu pasal dirinya yang diminta menjadi greeter, atau petugas yang menjemput kedatangan penumpang dari pesawat, menuju ruang arrival atau kedatangan, serta mengantar penumpang dari pintu boarding, menuju pesawat.


" Elu sih enak yan bisa ke apron ( parkiran pesawat). Nah gue? Kaki sama tangan gue gempor karena disuruh bolak balik angkat bagasi ke timbangan. Mana koper bule-bule tadi segede gambreng lagi" Omel Eva yang kini memijat lengannya yang terasa pegal.


" Sabar!" Sahut Yohan santai sambil melonggarkan dasi hitam polos yang ia kenakan.


"Sabar-sabar! Elu enak dapat PIC mbak Hera. Udah baik, enggak banyak omong. Nah gua? Si Kenanga asu itu!" Dengus Eva yang benar-benar kesal. Ia merasa kesal karena mendapatkan PIC orang yang judas.


Arimbi juga merasa lelah sekali sore itu, ia tadi bahkan merasa pusing dengan materi yang belum dia kuasai. " Enggak ada ceritanya jadi junior itu enak gaes. Semua yang baru itu pasti kebagian enggak enaknya!" Ucap Arimbi yang benar-benar capek.


" Aku malah pusing karena belum hapal kode yang alpha, bravo, Charlie sama apa tadi...?"


" Kode alfabet fonetik NATO?" Sahut Dian cepat.


Arimbi mengangguk. " Kalian sih enak dari sekolah penerbangan, jadi udah tahu. Nah aku?" Ucap Arimbi menunjuk dirinya sendiri.


Kode alfabet fonetik adalah kode dalam internasional yang disesuaikan dengan 26 huruf alfabet Inggris dalam urutan abjad: Alfa, Bravo, Charlie, Delta, Echo, Foxtrot, Golf, Hotel, India, Juliett, Kilo, Lima, Mike, November, Oscar, Papa, Quebec, Romeo, Sierra, Tango, Uniform, Victor, Whiskey, X-ray, Yankee, Zulu.


Dalam penerbangan, kode itu umum digunakan guna menghindari kesalahan eja, sewaktu pilot berkomunikasi dengan ATC ( air traffic control) maupun kawula aviasi dalam berkomunikasi sesama divisinya.


" Alah, itu gampang Ar. Di Gugel ada, bentar juga hapal!" Sahut Eva masih memijat lengannya yang terasa sakit.


" Aku kira jadi anak training itu santai. Tenyata...." Ucap Resita yang kini melepas heelsnya sebab kakinya pegal. Ia yang sejak awal begitu semangat bekerja di dunia Aviasi, kini sedikit menurunkan penilaiannya.


" Bener yang di katakan sama Arimbi. Enggak ada yang di awal itu enak. Semua sakit. Orang malam pertama aja pas pertama pasti juga sakit?" Ucap Dian ngaco seraya tekrikik-kikik.


" Ya Tuhan!" Ucap Yohan seraya menggelengkan kepalanya.


" Mulut lu Yan!" Eva meremas bibir Dian sementara Resita menimpuk kepala Dian menggunakan sepatu Eva.


" Ih sundel, sakit tahu!"


Arimbi tergelak. Tak menyangka jika mereka berlima akhirnya bisa berteman seperti saat ini.


Ya, sore itu mereka berlima ada di anjungan yang berada di lantai dua untuk bergunjing. Setelah itu, mereka berniat untuk mereka pulang.


Entah apa, rasanya tak enak jika tak menggunjing dulu. Eva saja yang mereka kira bukan bagian mereka, kini bahkan terlihat yang paling memiliki garis keras penolakan kekejaman senior.


" Balik Yuk! Udah sore nih, lapar juga!" Ucap Eva yang kini lipstiknya telah luntur itu.


" Enggak dempul dulu? Muka lu kayak setan tuh. Pucet kaya habis kenal formalin kadaluarsa! " Ucap Dian.


" Sini lu Yan!" Eva nampak melancarkan serangannya.


" Ada apa sih?" Tanya Dian makin bingung.


" Udah sini buruan!"


Dian menurut dan kini menundukkan kepalanya seraya sedikit mendekatkan indera pendengarannya itu, ke bibir Eva.


" Gue kasih tahu nama panjang elu yang lebih bagus!" Ucap Eva yang membuat semua yang disana turut mengerutkan keningnya.


" Apa?" Ucap Dian tak sabar.


" Diaanncoookkk!!!"


Ucap Eva keras dan membuat kesemua yang ada di sana tergelak. Yohan bahkan lupa untuk berdoa saking terhiburnya dia dengan ekspresi kesal Dian yang kini cuping hidungnya melebar.


" Sialan!"


" Makanya mulut lu itu dijaga asu!" Eva terkikik-kikik demi melihat wajah berengut Dian.


" Kenapa nama gua bisa diancok sih?"


.


.


.


.


.


Jam update besok menyesuaikan ya. Besok hari pertama my son masuk taman kanak-kanak 😁😁😁.


Buat buebo yang sama, selamat beraktifitas ya. Selamat bergembira ria dalam membersamai putra - putri kita dalam mengenyam pendidikan.


Tetap jadi manusia pemikir dan berjiwa santai ya😘😘😘, biar awet sehat.


Hug from me πŸ€—πŸ€—πŸ€—