
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Melodi
Ia memang sangat cuek untuk urusan keglamouran, kemewahan, juga hal-hal yang berbau hedonisme seperti yang biasa dilakukan oleh kakaknya Claire.
Namun, meski begitu, ia merupakan pribadi yang cukup gercep jika menyangkut soal orang yang tengah dirundung oleh kemalangan.
Seperti soal Dian tempo hari misalnya.
Dan, sejak Pakde David menelpon Papanya terkait Demas yang mengalami musibah, dia menjadi orang yang paling antusias untuk datang ke kota B.
Ia berjalan meninggalkan Opa, Mama dan juga Papanya. Dengan celana jeans yang jebol didepan dengkulnya, kaos hitam yang sedikit longgar, rambut yang selalu ia kuncir asal, serta sandal jepit merk nomer wahid di negeri ini, ia berjalan mendahului.
BRAK!
Seperti biasa, ia yang selalunya memiliki power yang lebih itu, menarik gagang pintu ruangan yang disinyalir milik kakak sepupunya itu dengan tenaga penuh.
Membuat manusia tampan pemilik tiga biji kepala dengan model rambut berbeda itu seketika menoleh.
"Sory gak sengaja, pintunya aja yang rapuh bukan aku!"
Ucapnya datar manakala ketiga mata jernih itu nampak melongo karena ulahnya. Dan, belum juga ketiganya usai mencerna soal keterkejutan mereka, suara yang sangat familiar turut mengejutkan mereka.
" Astag Melodi, kamu ini bisa enggak sih kalem sedikit?" Seru Mama Bella yang nampak tak enak hati atas suara gaduh yang tercipta.
.
.
" Om, Tante, Opa? Kalian kapan datang?" Sapa Deo terlebih dahulu manakala Leo tampak menyembul di belakang Melodi yang masih datar.
" Papamu semalam langsung telpon Om soal adik kamu. Maaf, Claire sedang keluar kota jadi belum bisa datang, ini gimana ceritanya kamu bisa begini Dem?" Leo yang nampak cemas langsung memeluk keponakannya itu dengan wajah muram.
" Ceritanya panjang Om. Terimakasih sudah datang!" Jawab Demas masih dengan wajah murung yang begitu kentara.
" Sudah lapor polisi? Ini kasus tabrak lari, jangan dibiarkan supaya mereka dapat efek jera. Bersyukur masih bisa selamat!" Tutur Opa tak kalah cemasnya kala menatap cucunya.
" Tapi aku ca...."
" Ssssttt, Tante udah tau. Tidak usah di bahas. Kita upayakan bersama- sama. Nanti Tante carikan kenalan dokter spesialis Neurologi yang terbaik!" Sergah Bella sembari mengusap punggungnya keponakannya.
Dokter spesialis Neurologi merupakan dokter yang memiliki keterampilan khusus dalam mendiagnosis dan mengobati penyakit yang berkaitan dengan sistem saraf, termasuk otak, otot, saraf tepi, dan saraf tulang belakang.
Anehnya, saat para orang tua itu sibuk bersama Deo dan Demas, Melodi yang nampak duduk menaikkan kedua kakinya ke sofa nampak cuek ke Dian yang kini duduk rapih dengan posisi memangku ranselnya bak pesakitan yang menaiki metromini.
" Padahal kapan hari bantuin aku, sekarang diem diem aja begitu!" Batin Dian seraya melirik Melodi yang asik dengan ponselnya.
" Burung kamu gimana? Udah waras?" Tanya Melodi beberapa detik kemudian tanpa menatap dan masih asik dengan ponselnya.
Membuat Dian seketika mendelik.
" Bunyi juga dia akhirnya!"
" Emmm...Emmmm!"
Mendadak gagap.
Bagaimana bisa pertanyaan pertama yang terlontar justru seputar kabar joni, astaga!
" Ba-baik, mak-maksud aku udah bisa digunakan, eh maksudnya udah baikan!" Dian merutuki dirinya yang malah gagap di saat yang tidak tepat.
Namun diluar dugaannya, Melodi nampak masih cuek dan tidak terganggu dengan kegagapan Dian.
" Oh iya Mel, tolong kamu bantuin kakakmu dulu ke Mall, bantuin backup kegiatan sementara disana, ada relasi dari showroom mobil yang mau pakai tempat, soalnya si Fadli udah berangkat!" Ucap Leo yang saat ini memang tengah membantu urusan keponakannya itu.
Dian meneguk ludahnya. Bagiamana bisa wanita di depannya itu memiliki sikap dan sifat yang seharusnya ia miliki.
Apa mereka benar-benar tertukar?
" Ngapain lihat-lihat?" Tanya Melodi yang sadar bila ia di tatap oleh Dian sedari tadi. Membuat Deo, Demas, Opa, Leo juga Bella seketika menoleh.
" Kenapa?" Tanya Melodi lagi demi melihat bila dirinya kini jadi pusat pandangan semua mahluk hidup yang ada disana.
" Jadi wanita mbok ya kalem sedikit to Mel Mel!" Ucap Bella geleng-geleng kepala dengan wajah muram.
" Mulai deh Mama!" Sahut Melodi manyun.
" Dian, kamu tolong temeni Melodi bisa nggak? Dia belum hapal daerah sini, nanti saya info Daniel biar carikan ganti kamu di operation!"Seru Deo yang mendadak ingat jika sepupunya itu mudah lupa jalan.
" Iya benar, jangan sampai dia nyasar lagi!" Timpal Leo yang menyetujui ide keponakannya itu.
Bukannya menjawab, Dian nampak melirik terlebih dahulu wanita galak itu, sebab takut jika menolak.
" Bisa Yan?" Ucap Deo mengklarifikasi demi melihat Dian yang langsung pias.
" Bisa lah, kalau enggak mau kick aja. Namanya perusahaannya korporasi yang musti siap di rolling sana sini!" Ketus Melodi.
Membuat jakun Dian bergerak naik turun.
Kini, sepertinya Dian akan lebih sering adu adrenalin jika bersama wanita di sampingnya itu. Wadiaww!
.
.
" Apa? Menikah? Kenapa mendadak?" " Bella terkejut saat David dan Jessika menuturkan niat mereka.
Membuat Jessika memejamkan matanya sesaat sebelum ia lekas angkat bicara.
" Mereka saling mencintai. Demas bahkan sudah melamar Eva beberapa jam sebelum kecelakaannya!"
" Kamu tau sendiri jika Demas mudah putus asa Bel. Kamu ingat waktu SMA saat dia cedera tangan habis basket dulu? Hampir tiga bulan aku kayak orang gila karena Demas nutup diri Bel!"
Bella tercenung demi membayangkan hal itu yang memang benar adanya.
" Aku yakin jika mereka menikah, Demas bisa lebih mau fokus untuk sembuh. Meski aku tahu jika dia masih minder saat ini!" Ucap Jessika yang sebenarnya juga resah.
" Tapi, calon istrinya..."
" Aku tahu jika Eva wanita baik. Kami tidak masalah meski dia merupakan anak dari istri kedua dan hubungan mereka sekarang bisa dikatakan tidak harmonis!"
Membuat Leo dan Bella tertegun.
" Kalau begitu kami hanya bisa mendoakan. Eva memang terlihat ceplas-ceplos, tapi anak itu sepertinya apa adanya sekali!"
" Hari ini semua sedang di urus. Demas masih harus dirawat disini untuk menjalani pemeriksaan, mereka akan menikah di rumah sakit!" Tutur David menerangkan.
Leo mengangguk paham. Kondisinya memang jauh ekspektasi mereka. Tapi bukankah hidup memang selalu saja seperti ini, mengandung misteri yang tiada bisa kita tebak?
" Biarkan saja mereka menikah seperti ini dulu, nanti jika Demas sembuh kita bisa pikirkan yang lain. Setidaknya kita bisa menghindari hal-hal yang tidak kita inginkan!"
Ucap Opa yang tiba-tiba muncul. Membuat kesemuanya kaget.
" Papa, maaf kamu belum bicara ke Papa soalnya kami pikir Papa masih..."
" Demas sudah cerita ke Papa. Lagipula, Demas tidak akan mau ada selebrasi jika kondisinya seperti itu. Nikahkan saja mereka. David, Leo, pastikan pelaku yang menabrak Demas ketemu. Aku tidak rela jika anak cucuku mengalami seperti ini!"
Membuat Leo juga David seketika mengangguk tunduk.
.
.
.