My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 31. Flashback



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


...Flashback On...


Arimbi


Ia bertanya pada nuraninya yang mendadak angkuh. Tercenung usai mendengar perkataan dari wanita cantik bernama Jessika itu.


Apakah yang akan dilakukannya ini benar?


Apakah dia tidak berdosa jika melangkahi Ibunya?


Jujur, Arimbi hanya takut jika Ibunya syok dan tejadi hal yang tidak ia inginkan.


Arimbi mengatakan jika dia anak yatim dan tak ingin memberitahukan hal memalukan ini kepada Ibu dan adik laki-lakinya. Ia berani lantang mengatakan hal itu sebab itulah kenyataannya.


Membuat Jessika dan David kesulitan mencari jalan keluar terbaik.


" Nak, kita tidak bisa meredam mereka dengan apapun kecuali kalian dinikahkan. Mereka selama ini rupanya sudah mencurigai Deo sejak awal. Meski Mama yakin, bukan kamu yang diajak menginap disini setiap hari!"


Lirik Jessika tajam kepada Deo saat mengatakan hal itu. Membuat Deo seketika angkat kaki dari kamarnya, sebelum ia terbakar oleh api kemarahan dari sang Mama.


Ya, Deo merasa bersalah.


" Apa ada orang lain? Maksudku paman atau siapapun dari pihak ayahmu?" Tanya Jessika dengan wajah serius, usai Deo menutup pintu.


" Apa kalian bisa menjamin jika hal ini tidak akan diberitahukan kepada siapapun?" Tanya Arimbi menatap penuh harap kepada Jessika.


" Bu, saya ini orang enggak punya. Saya cuma takut terjadi apa-apa sama keluarga saya nanti. Saya berani bersumpah, sama dengan Pak Deo tidak melaku..."


" Saya percaya!" Sahut Jessika demi menatap keresahan di mata Arimbi yang justru membuatnya suka dengan pribadi gadis itu. Mengingatkan akan dirinya di masa silam.


"Tapi, mereka semua tidak percaya nak. Saya mohon, buat hati mereka puas agar kita semua bisa selamat!"


Arimbi mengusap air matanya. Bagiamana ini. Apakah ia harus menghubungi seseorang yang bahkan sudah lama tidak sambung dengan keluarganya?


" Aku akan pastikan hal itu! Kita bisa jaga rahasia ini sama-sama. Om Janji akan mencari solusi lain untuk kamu setelah kalian menikah! " Imbuh David tanpa pikir panjang. Ia hanya ingin masalah ini cepat selesai dan tidak melebar kemana-mana.


" Ini alamat adik bungsu Bapakku. Dia bisa menjadi waliku malam ini. "


.


.


Erik


Ia benar-benar tak habis pikir. Dengan sisa bau naga yang menyengat, akibat diajak menenggak banyu setan bersama Zakaria dan kawan-kawannya tadi, ia melajukan mobilnya dengan hati bertanya-tanya.


Kenapa dan bagaimana bisa, seorang Deo Alfa Darmawan menikah dengan anak pegawainya sendiri, yang notabene merupakan musuhnya itu?


Ia berkali-kali tak percaya. Dalam kurun waktu kurang dari dua puluh empat jam, keadaan yang fine- fine saja itu, mengapa mendadak berubah menjadi tidak rasional begini.


Ia diminta untuk bungkam usai mendengar titah langsung dari David. Membuatnya mau tak mau mengerahkan orang-orang mereka demi menjemput Janaka, paman Arimbi yang selama ini putus hubungan dengan keluarganya.


Ia menemukan sebuah rumah minimalis yang terletak tak jauh dari tropis cafe. Beruntung lokasi yang dikirimkan oleh David lumayan dekat. Membuat Erik bisa bergerak cepat.


Ia mengetuk pintu itu sebanyak tiga kali dengan di kawal anak buahnya. Membuat sang empunya rumah terkejut sesaat setelah membukukan pintu itu.


" Siapa kalian?"


.


.


Janaka


Hubungan mereka terputus kala orangtuanya menyalahkan ibu Arimbi atas kematian Bapaknya di masa silam. Entah siapa yang salah, dia juga tidak tahu. Nenek Arimbi sangat terpukul atas kematian anak sulungnya, membuat Ibu Arimbi menjadi sasaran, sebab sejak awal mereka memang tak direstui.


Hal itulah yang menjadi cikal bakal terputusnya hubungan keluarga itu. Menjadi titik balik keterasingan yang kini tercipta antara mereka.


Ia terkejut demi menerima tamu asing, yang membawa berita mengejutkan. Sebuah berita yang tak ia sangka- sangka sebelumnya.


" Jadilah saksi untuk Arimbi!" Ucap Erik dengan wajah datar. Membuat Janaka terkejut bukan main.


" Arimbi? Menikah? Kapan?"


" Sekarang!"


" Sekarang?" Ulang Janaka dengan wajah kian terkejut.


" Kenapa kau malah balik bertanya!" Erik mendengus kesal. Pria berkulit sawo matang itu terlihat benar-benar tak percaya.


" Aku selama ini sudah tidak berhubungan dengan Arimbi dan keluarganya kar..."


" Tidak ada waktu lagi. Kau harus ikut karena ini situasi yang darurat. Ikutlah! Kupastikan kau aman!"


Erik menunjukkan member Darmawan group kepada pria di depannya itu. Membuat Janaka lagi-lagi terkejut dan sedikit yakin jika mereka bukanlah pria jahat.


Elektabilitas keluarga Darmawan sudah tak bisa di ragukan lagi. Untuk itulah, Jessika juga tidak mau sampai mencoreng nama besar keluarga mereka.


" Situasinya terlalu rumit. Kau akan tahu jika kesana nanti!"


Dan entah atas dasar apa, pria itu terlihat tersugesti untuk ikut dengan Erik. Meski di sepanjang perjalanannya dia hanya bisa menebak-nebak, namun ia merasa jika Arimbi sedang tersandung masalah berat.


Dan benar saja. Ia dihujam keterkejutan berulang kali, kala ia dengan sadarnya mendengar penuturan Arimbi yang sukses membuatnya terharu.


" Apa kabar Lik? Aku pikir kau tidak mau menolongku. Aku terpaksa mengirimkan alamatmu karena...."


Janaka seketika memeluk keponakannya yang kini tertunduk layu itu. Merasa kasihan, rindu, cemas dan khawatir dalam waktu bersamaan.


" Paklik kira kamu benci dengan Paklik nduk!"


Kini, Arimbi bisa mengambil hikmah dari apa yang dia alami. Benang kusut yang ada dalam kehidupan keluarga mereka, biasa sedikit dia tarik.


" Jadilah waliku menikah malam ini Lik!" Ucap Arimbi yang terlihat ketakutan, kala mendengar secara langsung ancaman orang-orang yang menggebrek Deo dan dirinya secara tidak sengaja beberapa saat lalu.


Para warga itu tidak mau tahu. Mengira jika yang selama ini datang kesana ialah Arimbi. Sebab saat penggerebekan, yang berada di lokasi adalah Arimbi. Benar-benar definisi dari tertangkap basah.


Ia menatap sorot mata penuh keresahan dari kedua netra Arimbi yang sembab sebab menangis. Sama sekali tak memiliki pilihan.


" Bagaimana dengan ibumu? Farel?" Tanya Janaka dengan raut bimbang.


" Tolong jangan beritahu mereka Lik. Tolong aku!" Arimbi bagai menemukan benteng di tengah peperangan.


Usai menceritakan apa yang diminta oleh Jessika tadi kepada pamannya itu, Arimbi sedikit merasa lega. Setidaknya, ada orang yang menjadi saksi hal yang penuh dengan keterdesakan ini.


Janaka mendecak tak percaya, " Apa kau akan mempermainkan pernikahan?" Bisik Janaka seraya melirik area luar, tempat dimana Jessika dan David serta orang lain menunggu.


" Mereka tida percaya Lik. Dan kebetulan keadaanku tadi..."


Arimbi bahkan kebingungan harus menceritakan dari mana dulu. Terlalu kompleks dan pelik. Perempuan itu benar-benar dirundung kegalauan.


" Setidaknya mereka akan diam setelah ini. Perkara besok biar aku cari jalan keluarnya sendiri. Tapi jika Paklik tidak mau, aku juga tidak memaksa!" Jawab Arimbi putus asa demi melihat raut Janaka yang tak terbaca.


Arimbi terduduk lesu seraya menghapus air matanya. Sekujur tubuhnya masih sakit dan ia benar-benar lelah. Jika ia memberitahu ibu soal ini, sama saja membunuh ibunya secara mendadak.


Janaka menghela napas lalu menghembuskannya perlahan. Ini berat, tapi jika ia tak melakukannya, efeknya akan semakin berat lagi.


Kadang kita pujangga itu benar adanya, 'yang berat itu adalah penghakiman dari orang lain.'


" Baiklah. Persiapkan dirimu! Kita keluar sekarang!


...Flashback end...