
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Arimbi
Dibalik dua sejoli yang pasti saat ini tengah ribut, ruet, serta rempong diluar sana itu, ada seorang wanita dalam kamar hotel yang menahan lapar.
Ya, kini Arimbi menyesali sikapnya yang sama sekali tak mau bersabar. Nyatanya, keheningan bisa membantu kita menyadari sikap apa yang tepat untuk kita ambil.
Ia memilih untuk menguatkan hati usai menumpahkan kristal bening sebanyak-banyaknya agar hatinya lega. Ia selalu seperti itu, sebab ia tak ingin menunjukkan kesedihannya kepada siapapun.
Namun, siapakah wanita di dunia ini yang tidak tumbang manakala berurusan dengan hati dan menyangkut perasaan? Jangan tanya mengapa, sebab perasaan suka, perasaan cinta, perasaan tertarik bisa tumbuh kapan saja bahkan tanpa di undang.
Pintu berwarna mewah itu terketuk saat ia baru saja menyusut hidungnya yang banyak mengeluarkan lendir. Menjijikkan namun terasa plong.
TOK TOK TOK
Arimbi menyipitkan matanya. Siapa yang datang malam-malam begini, bukankah Eva pamit mau jalan-jalan sebentar saja untuk berfoto tadi? Lantas?
Guna membunuh rasa penasarannya, wanita itu berjalan dengan alis mengkerut , sebagai penegas jika ia tengah menerka-nerka.
Tak mau kecolongan, Arimbi nampak mengintip siapakah gerangan yang gencar mengusiknya itu, melalui celah kecil pintu kamar hotel berbentuk bulat.
Dari tangkapan dirinya manakala menyipitkan salah satu netranya itu, Arimbi terkejut saat melihat Deo yang berdiri di depan pintu kamarnya dengan wajah cool, beserta pakaian yang sama saat mereka bertemu di bawah tadi.
" Deodoran? Kok kemari?
CEKLEK
Arimbi membukakan pintu itu cepat. Takut kalau-kalau ada sesuatu hal yang ingin di sampaikan pria diktator itu. Lagipula, pria itu masih cukup meresahkan buatnya hingga detik ini. Status bos yang di sandang oleh pria itu, agaknya masih menjadi momok yang cukup fatal jika ia abaikan.
Deo yang melihat pintu itu terayun seketika melebarkan matanya tatkala melihat Arimbi yang berpenampilan warbiasak. Hot pan jeans diatas dengkul, tengtop putih yang menampilkan dua gundukan memukau itu, nyaris mengundang liurnya untuk menetes.
Sialan!
" Tutup pintunya!" Titah Deo dengan wajah kaku. Menutupi kegugupannya dengan keangkuhannya.
" Baru juga baik, udah balik lagi ke mode setan. Dasar gak jelas!" Arimbi yang sudah lelah akan hidupnya itu menggerutu dalam hati.
Deo langsung ngeloyor demi membunuh rasa gugupnya manakala melihat Arimbi yang mengenaskan pakaian minim itu.
" Sialan, kenapa dia terlihat gurih sekali!" Gumam Deo dalam hati seraya menggelengkan kepalanya, guna mengugurkan pikiran erotis yang mendadak menyelinap.
Pria yang sejurus kemudian membalikkan badannya itu, sangat terkejut demi melihat isi kamar Arimbi yang berantakan.
What the hell?
" Kata Eva kau sakit, tapi setelah aku cek, sepertinya kau waras. Bahkan aku rasa, kamarmu sekarang yang sakit!" Cibir Deo demi melihat kamar yang acak adul.
Arimbi diam dan terlihat tekun memunguti pakaian serta sepatunya yang berserakan. Sama sekali tak menghiraukan ucapan Deo.
Namun beberapa detik kemudian.
" Ada apa kau kemari?" Seru Arimbi saat ia sibuk menggantungkan pakaiannya.
Deo bahkan mengerutkan keningnya demi mendengar ucapan Arimbi yang bernada sinis.
BRUK
Deo meletakkan paper bag yang berisikan makanan, minuman serta cemilan untuk Arimbi keatas meja di depan sofa kamar bernuansa terang itu.
" Kau belum makan kan? Makanlah!"
Arimbi masih dalam mode cuek sekalipun hatinya tersentuh manakala melihat perhatian Deo yang ditunjukkan untuk dirinya.
" Sebenernya kau sakit apa?" Deo melipat kedua tangannya sembari menatap Arimbi yang sibuk memfinishing kekacauan yang dibuatnya.
Arimbi yang sibuk meletakkan sepatunya itu, kini terlihat diam. Lebih sadar diri jika dia sangat rugi jika memikirkan pria seperti Deo. Ia saja saat diselingkuhi Wira bisa kuat, kenapa dengan Deo dia bisa serapuh ini?
" Biarkan saja disitu, nanti aku makan!"
Deo menangkap gelagat mencurigakan dari istrinya. " Kau marah?"
Membuat Arimbi menoleh, " Marah?"
Suasana yang tercipta mendadak hening manakala dua insan itu saling melempar tatapan penuh emosional.
Deo menelan ludahnya kala Arimbi berkata-kata lebih berani dengan sorot mata lelah manakala menatapnya itu. Jelas mengindikasikan jika ada sesuatu yang di sembunyikan oleh wanita itu.
Deo berjalan mendekat ke arah Arimbi yang pura-pura sibuk dengan televisi yang baru ia nyalakan itu. Mendudukan tubuhnya persis di dekat wanita yang kini nampak cuek itu.
" Apa kau cemburu?"
DEG
Arimbi membeku saat Deo dengan entengnya melontarkan pernyataan itu. Kaget, tertegun, Entah. Kenapa pria itu bisa menebak dengan jitu?
Arimbi menatap Deo yang tersenyum licik ke arahnya. Membuat wanita itu tersenyum penuh arti manakala menatap laki-laki tampan yang diam-diam mengusik pikirannya itu.
" Untuk apa? Aku bahkan bisa mendapatkan laki-laki lain yang aku mau. Kak Daniel sangat baik dan pengertian. Atau, Demas yang lebih sopan dari pada kamu. Atau...Pak Zakaria yang memiliki selera humor yang baik. Lagipula, aku tinggal menunggu janji Bu Jessika yang akan membantu kita bercerai setelah kau pisah dengan Roro!"
DEG
Arimbi tersenyum penuh kemenangan di hadapan wajah Deo yang nampak syok. Benar-benar terkejut akan penuturan Arimbi yang baru ia ketahui itu.
" Janji? Janji apa? Apa yang mereka lakukan? Perjanjian apa?"
Deo menelan ludahnya sembari menatap Arimbi yang kini mengalihkan pandangannya kepada televisi, yang menayangkan kompetisi memasak yang di jurii oleh dua laki-laki berparas tampan.
" Apa yang kau lakukan di belakangku?" Deo memegang lengan atas Arimbi dengan gusar. Membuat wanita itu tersentak.
" Lepas!" Arimbi melepas cekalan tangan Deo dengan gigi gemelutuk. Sama sekali tak suka diperlakukan kasar oleh pria di hadapannya itu.
" Tanyakan kepada mamamu, perjanjian apa yang telah dibuatnya denganku jika kau tidak percaya. Bukankah seharusnya begini? Aku...kamu...sama sekali tak saling mencintai kan? Lagipula, kau bisa bebas berpelukan, dekat dengan wanita manapun!"
Deo menebak, Arimbi pasti salah paham akan apa yang terjadi antara dirinya dengan Claire tadi.
" Yang tadi siang itu adikku!"
" Terserah!"
"Mau kau bilang apapun yang jelas aku sekarang tidak mau tahu soal kamu, Pak Deo yang terhormat!" Ucap Arimbi penuh penekanan. Menatap tajam Deo dari jarak yang begitu dekat.
Tunggu dulu, apakah mereka bertengkar?
Deo yang entah mengapa terlihat tidak terima dengan pengakuan Arimbi soal perjanjian dengan mama Jessika itu, terlihat menarik paksa lengan Arimbi.
" Kau mau mempermainkan aku, hm?" Deo menarik paksa Arimbi dengan rahang yang mengeras.
"Lepas!" Arimbi mulai panik kala Deo nampak tersulut emosi.
" Kau sudah jadi milikku. Aku bahkan sudah melunasi hut..."
PLAK!
Arimbi menampar pipi Deo dengan emosi yang memuncak. Membuat pria itu seketika terdiam dengan napas memburu, pun dengan Arimbi.
" Anggap saja keperawananku sebagai ganti. uang yang telah mau gelontorkan itu. Tapi jika semua itu belum juga cukup, maka aku akan menggantinya setelah ini!" Ucap Arimbi dengan sepasang cairan bening yang meluncur tanpa seizinnya.
" Arimbi!"
Wanita itu terlihat mengusap air mata dengan hati kaku, merasa jengah dengan sikap Deo yang tak ia mengerti. Kadang baik, kadang terkesan ingin menyakitinya secara sengaja.
Ia kini memilih menyambar jaket yang berada di gantungan dan berniat untuk pergi keluar mencari udara segar.
" Arimbi! Berhenti kubilang!"
Wanita itu sudah muak dan memilih mengabaikan Deo yang enggan menyusulnya ke bibir pintu sebab ia yakin jika pria itu takut ada seseorang yang melintas.
Namun, Arimbi yang sudah menutup pintu kamarnya itu, mendadak tercengang demi melihat Eva yang berada diatas punggung Demas yang kini melintas tepat di hadapannya, dengan keadaan kuyup.
Eva terlihat memukul-mukul punggung pria berwajah datar itu, dan sukses membuat dirinya membuka mulutnya demi keterkejutan yang tercipta.
" Apa yang tejadi?"
.
.
.
.
.