
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Edy Darmawan
Ia duduk tenang usai menyeruput teh buatan menantunya. Duduk di hadapan David dan Jessika dengan suasana serius.
Pagi ini, anak bungsunya baru saja menelpon dan memberitahu suatu kabar yang membuatnya ingat akan peristiwa belasan tahun lalu.
Ya, Leo telah membagi keresahannya kepada sang Papa. Walau bagiamanapun, Leo juga tak bisa menyembunyikan hal penting ini dari orang tuanya.
" Kalian sudah menjadi orang tua, bahkan akan menjadi kakek dan nenek!" Ucapnya dengan sorot mata tak terbaca.
David dan istrinya masih diam menunggu kalimat selanjutnya, merasa aura yang ada semakin mencekam.
" Cucuku saat ini sedang di permainkan oleh orang. Demas dan Claire!"
" Apa karena aku selama ini baik kepada mereka sehingga mereka dengan mudahnya berbuat kurang ajar seperti itu?"
Kini, David yang mulai merasakan aura dingin dari wajah papanya hanya bisa meneguk ludah.
" Claire hamil anak Sadawira!"
DUAR
Laksana petir yang menyambar, Jessika dan David dibuat tegang oleh kabar itu.
" Bereskan apa yang bisa kamu bereskan. Jangan beritahu laki-laki itu!"
" Tapi Pa, kata Deo Sada...."
" Apa kau tidak lihat bahkan cucuku saat ini masih belum bisa berjalan? Dia tidak membusuk di penjara saja itu sudah lebih dari cukup. Aku tidak mau tahu, jangan sampai laki-laki itu tahu jika Claire tengah mengandung anaknya!"
David dan Jessika hanya bisa diam saat papanya begitu marah manakala mengetahui bila Claire di hamili oleh laki-laki yang mencelakai Demas.
Kini, ia nampak berjalan menggunakan tongkat menuju halaman depan meninggalkan anak dan menantu yang sibuk dengan pikirannya.
Ia mendongak memandang langit cerah pagi itu. Mata keriputnya menitikkan air mata dengan hati yang berkecamuk.
" Tahirkanlah keluarga ku dari kutukan Ya Tuhan!"
Batin seorang Edy Darmawan tengah menjerit. Kini, ia tahu seperti apa rasanya memiliki cucu perempuan yang di jajaki dengan tidak hormat oleh pria yang menjadi rivalnya.
.
.
Claire
" Kapan aku pulang ma? Aku gak betah disini?"
Ia menatap muram Bella yang nampak sibuk mengecek tensinya. Ya, Bella belum memberitahu bila sakit yang menyerang Claire dikarenakan efek kehamilan.
Mungkin setelah ini, ia akan memberitahu. Lagipula, cepat atau lambat Claire pasti akan menyadari sendiri.
CEKLEK
Daun pintu yang terayun memunculkan Melody yang tersenyum. Ada apa ini? Kenapa anak itu nampak aneh?
" Kau masih pusing?" Tanya Melo dengan santai.
Claire menggeleng, " Kenapa kau, dan...apa ini? Kau memakai bedak?" Claire tertawa demi melihat penampilan adiknya yang lebih terlihat seperti perempuan.
" Kau senang?" Tanya Melody meletakkan sebuah barang. Ia sengaja berpenampilan lain sebab ia ingin menghibur kakaknya. Ia tahu, bila kakaknya saat ini tengah bersedih.
Sama sekali tak mengira ucapan kakaknya yang mengatakan jika dia iri dengan Arimbi soal kehamilannya akan terwujud dalam suasana yang berbeda.
Membuatnya berpikir untuk lebih hati-hati lagi kala berbicara. Sebab, kita tidak tahu, doa mana yang akan di kabulkan oleh Tuhan terlebih dahulu.
" Kau cantik jika begini!" Celetuk Claire menatap heran adiknya.
" Kalau kau senang aku akan berdandan setiap hari!"
Meski merasa bingung, tapi Claire tetap senang. Ia yang belum tahu jika dia hamil hanya bisa tertawa biasa. Tidak tahu apakah ia masih akan bisa tertawa, saat ia menyadari jika dia tengah berbadan dua nanti.
Diluar ruangan, Leo yang pagi itu nampak tak bisa menyembunyikan keresahan makin dibuat bingung. Ingin sekali rasanya ia mengajar laki-laki kurang ajar itu hingga mati. Tapi David melarangnya.
Papa tidak ingin Sadawira tahu jika Claire saat ini mengandung!
Mereka tahu jika Sadawira pasti adalah tersangka tunggal pemilik bibit yang kini tumbuh di rahim Claire karena ucapan Deo semalam.
Aku bahkan ingin mencekiknya saat mendengar jika mereka pergi bersama di clubm malam!
Membuat darah Leo bagai mendidih demi merasa bila Sadawira pasti telah memperdayai anaknya.
Sebenarnya mereka sangat kecewa kepada Claire. Tapi melihat Claire yang juga begitu terpukul seperti saat ini, membuat mereka berpikir dia kali untuk memberitahu.
Bagiamana pun juga, ada bayi tak berdosa yang kini bertengger di perut anaknya, ada nyawa tak bersalah yang tiada bisa memilih dilahirkan dari rahim siapa.
" Bagiamana?" Tanya Leo yang kini muram sesaat setelah istrinya keluar ruangan.
" Kita bawa pergi Claire menjauh. Aku ingin kita pindah ke luar negeri!"
Leo menatap wajah istrinya yang matanya saat ini sudah berkaca-kaca. Selain karena malu, ia hanya ingin anak dan calon cucunya selamat.
" Tapi..."
" Pindah, pindah kemana?"
Dua orang yang nampak bicara serius itu terkejut saat Melody tiba-tiba muncul di belakang mereka dengan wajah ingin marah.
" Kakakmu..."
" Papa sama Mama gak boleh egois dong!"
" Kami akan tetap membawa Claire. Jangan sampai kau mengatakan hal ini kepada Sadawira! Jangan pernah!"
.
.