My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 36. Silent husband



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Arimbi


Ia diminta untuk memegang sistem check in di bawah pengawasan Novi di jam siang itu. Ya, dalam sehari mereka yang masuk sift pagi menghandle enam jadwal penerbangan, ke berbagai kota tujuan.


Sementara bagi mereka yang masuk siang, mereka akan menghandle hingga last flight, atau penerbangan terakhir tujuan kota S, di jam 19. 20 waktu setempat.


Hari ini kapasitas penumpang Andanu Air tujuan kota J dengan seri CRJ 1000 Next Generation itu, di estimasikan sekitar tujuh puluh orang penumpang ekonomi, dan lima penumpang bisnis.


" Silahkan Pak, Flight number AA 322, dengan seat number 20C, kita boarding di gate satu pukul 13.15 ya Pak. Mohon siapkan kembali kartu identitas anda sewaktu boarding nanti ya Pak, terimakasih, selamat siang!"


Ia mengatupkan kedua tangannya, sembari sedikit membungkukkan badannya saat mengucapkan salam tersebut. Arimbi benar-benar dengan cepat bisa menirukan standar pelayanan yang diajarkan oleh Novi.


Membuat penumpang tersebut tersenyum senang.


" Udah lancar elu Ar? Demen gua lihatnya!" Seru Eva yang kini berada di meja sebelah Arimbi, menggantikan Dian yang kini berpindah ke ruang tunggu.


" Lumayan sih, tapi masuk kaku. Belum punya sign sendiri jadi kudu di awasin terus sama mbak Novi!" Arimbi nyengir, wanita itu memang sedikit bisa melupakan problema yang dia rasakan saat ini , manakala sibuk melayani penumpang.


" Amanlah itu, mbak Novi kan sabar pakai banget. Iya enggak mbak Nov?" Eva yang awalnya juga di ajari oleh Novi, merasa sangat cocok.


" Aku dulu juga pernah jadi junior. Simpel aja sih, kalau menurut aku, kita itu harus memperlakukan orang lain seperti kita ingin di perlakukan!" Jawab Novi tersenyum.


Membuat keduanya mengangguk.


" Check in!" Ucap penumpang selanjutnya yang terlihat menarik sebuah koper, dan meletakkan sebuah tiket diatas meja check in Arimbi dengan wajah datar.


" Selamat siang Pak, mohon di bantu ditunjukkan kartu tanda pengenalnya?" Sapa Arimbi ramah sesuai berdiri, manakala meraih tiket yang diletakkan oleh pria gemuk itu.


" Saya udah biasa naik pesawat mbak, gak usah KTP lah!"


Arimbi menoleh kepada Novi, dan seniornya itu terlihat mengerutkan keningnya.


" Mohon maaf Pak, mungkin ada SIM atau Andanu frequent flyer?" Novi mengambil alih situasi, dengan sedikit mensejajari Arimbi.


Ia kini sedikit deg-degan kala melihat reaksi penumpang pria yang wajahnya tak ramah itu. Melihat Novi yang kini mulai terlihat serius.


" Udah lah check-in kan aja, saya ini udah biasa terbang. Siapa nama kamu? Kamu anak baru ya?"


" Mohon maaf pak, kami hanya menjalankan tugas. Sekali lagi, mohon di bantu kartu tanda pengenalnya!" Ucap Novi ramah.


Arimbi sejenak menelan ludah seraya memperhatikan cara seniornya dalam menghandle. Musti tetap ramah sekalipun penumpang tersebut cukup menjengkelkan.


Benar-benar sulit sekali. Ia saja kini sudah tersulut emosi melihat kala kesewenangan pria tambun itu.


BRAK!!!


Kini, baik Arimbi maupun Novi seketika tersentak akibat gertakan orang tersebut. Pun dengan Eva yang kini latah misuh, meski dengan suara lirih.


" Asu! Apa-apaan nih orang?" Cibir Eva sedikit kesal dengan suara yang nyaris tak terdengar.


" Kamu ini sok-sokan ya, panggil bos kamu sini! Kamu enggak kenal siapa saya?"


Novi yang merasa jika penumpang itu merupakan orang yang berpotensi menimbulkan kekacauan, ia segera memanggil security Airlines yang entah kemana rimbanya. Padahal, mereka musti standby di counter, selama proses check in berlangsung.


" Sierra Charlie Monitor!"


" Gohet!" Jawab seseorang melalui HT tersebut.


" Posisi dimana Mas? Mohon ke Check in, ada pax ngamuk!" Ucap Novi sembari membalikkan tubuhnya, agar pria itu tak mendengarnya.


Arimbi terdiam dengan masih memperhatikan apa yang tejadi dengan dada bergemuruh. Di situasi menegangkan itu, ia kini bisa belajar jika penumpang itu banyak sekali ragamnya.


" Ada apa Nov?"


Namun, suara Daniel kah yang kini justru terdengar cemas dari radio komunikasi itu.


" Pax menolak ngasih KTP Cief!" Seru Novi menjawab Daniel.


" Ok standby meluncur!"


" Saya itu udah biasa berangkat, tersinggung saya. Ngapain KTP KTP segala?" Jawab pria itu makin berang.


Arimbi kini hanya diam dan tak berani memproses tiket tersebut, sekalipun kode booking sudah ia pegang.


Tak berselang lama kemudian, Daniel dan seorang petugas security itu, terlihat muncul bersamaan dari arah belakang. Berjalan dengan wajah tegas.


" Selamat siang Pak, saya Daniel Cief disini. Ada yang bisa saya bantu!" Tukas Daniel yang menyempatkan diri untuk melirik Arimbi yang terlihat syok.


" Oh, rupanya Kong kalikong sama tuh sundel, pantes!" Cibir Eva yang di dengar oleh Arimbi.


" Pssst, mulut Lo!" Bisik Arimbi kesal.


Daniel berdiam seraya mendengarkan nada bicara yang mulai meninggi itu. Pun dengan Novi yang nampak profesional.


" Maaf Pak, sesuai dengan aturan keselamatan dan keamanan penerbangan, setiap penumpang wajib menunjukkan KTP atau identitas lain, saat melakukan check in. Ini sudah mandatori dan aturannya sudah seperti ini pak!" Terang Daniel sedikit jengah. Merasa tidak suka dengan arogansi.


" Berani kamu ya?" Hardik pria itu makin berang.


Suasana seketika ricuh tatkala pria itu menarik kerah seragam Daniel. Membuat Gilang yang notabene merupakan Avsec Airline itu, kini bertidak.


" Buset, si Dian di gate lagi, ada tontonan seru malah enggak tuh anak!" Ucap Eva spontan yang langsung di balas tatapan tajam oleh Arimbi.


" Ups, sory Ar. Gedek banget sama tuh bapak-bapak. Lagaknya sok yes, masa KTP aja enggak punya!" Cibir Eva.


" Udah diem, entar dia denger brabe jadinya!" Jawab Arimbi yang sebenarnya kini juga panik.


Kericuhan yang tercipta mengundang perhatian Deo yang mendadak melintas, usai menemui beberapa orang penting dari stakeholder terkait. Pria tinggi itu kini datang ke meja check in yang udah di kerubungi oleh banyak orang.


" Ada apa ini?"


Semua yang ada di sana kini menatap tajam Deo yang datang dengan wajah datar.


" Mas Deo!" Ucap pria yang barusaja marah itu, dengan sungkan. Membuat kesemuanya seketika mengernyit.


" Dia kenal?" Batin Arimbi.


Deo menatap tajam salah satu pekerja di kebun cabai milik papanya itu. Pria yang menjadi salah satu mandor disana itu, terlihat kaget saat Deo mendekat.


" Bapak ini tidak mau menunjukkan KTP-nya!" Seru Novi dengan wajah yang sudah kesal. Tak mengetahui jika Deo sebenarnya telah mengenali pria berperut buncit itu.


" Mana tiketnya?" Tanya Deo mengulurkan tangannya ke ara Arimbi. Sejenak, Arimbi menatap Deo yang terlihat begitu badas.


Dan tanpa sengaja, tangan Deo dan Arimbi saling bersentuhan manakala wanita itu menyerahkan tiket yang ia pegang tadi.


Membuat Arimbi bagai tersengat arus bertegangan tinggi.


" Sialan si Deodoran. Bisa nyetrum begini!" Batin Arimbi langsung membuang muka saat Deo masih cuek.


Semua orang menatap Deo yang kini tekun membaca tiket tersebut. Terasa menegangkan.


" Issued tiket yang baru. Jangan macam-macam kamu. Tiket siapa ini?" Tanya Deo menatap tajam Feri yang kini tertunduk malu.


Membuat Novi geram.


" Ba- baik mas. Saya ke tiketing dulu!" Feri kini terbirit-birit meluncur menuju luar. Membuat Daniel menatap tak percaya.


" Pak Deo kenal?"


Deo mengangguk, "Hm, mandor di kebunnya papa!"


" Cuma mandor aja belagu!" Cibir Eva yang kini menyebikkan bibirnya.


Arimbi menatap Deo lekat. Pria yang sebenarnya merupakan suaminya itu memang benar-benar berkharisma. Benar-benar elegan saat menyelesaikan masalah.


" Lain kali jangan sebentar-sebentar manggil cief. Belajar selesaikan case sebisa kalian. Kalau tiap-tiap ada komplain kalian manggil bantuan, terus kapan kalian bisanya?"


" Terlebih kamu!" Tunjuk Deo kepada Arimbi. Membuat wanita itu mendelik.


" Apa? Aku?" Batin Arimbi mendengus kesal.


" Biasakan tegas namun tetap ramah. Sudah tahu aturannya kan? Kalau nama di tiket sama identitas itu harus sesuai?"


Arimbi mengangguk. Terlihat agak kesal.


" Saya tidak mau punya karyawan bodoh yang tidak bisa menghandle pax dengan baik. Gaji kalian mustinya harus sesuai dengan kinerja kalian juga!"


Arimbi seketika mendongak dengan hati kesal. Pria yang sudah menjadi silent husband nya itu, benar-benar bermulut pedas.


" Sekarang kembali kalian semua. Dan Daniel, tolong segera ajukan pembuatan sign masing-masing karyawan baru. Biar mereka memiliki tanggungjawab!"


Arimbi menatap tajam Deo yang kini juga menatapnya penuh intimidasi.


" Deodoran sialan!"


.


.


.


.