My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 135. Balada calon Bapak



...🌿🌿🌿...


...β€’...


...β€’...


...β€’...


Arimbi


Dengan masker warna hitam yang telah ia kenakan, ia duduk menyenderkan kepalanya ke kaca mobil, saat Deo telah kembali menjadi juru mudi.


Masih merasa mual meski Deo telah menyemprotkan parfum dengan begitu banyaknya.


" Sayang, kamu serius kah kebauan di dekat aku? Aku ganti parfum ya?" Tanya Deo resah. Menyuguhkan wajah murung sebab kenapa sekarang istrinya seolah alergi tehadap dirinya.


Haish!


Jika ditanya apakah dia tersiksa dengan semua itu, jawabannya ialah tentu saja dia sangat tersiksa. Jika di dekati saja sudah mual, lalu bagiamana nasib si joni jika ingin berkunjung nanti? Astaga, benar-benar definisi dari nasib di ujung tanduk.


" Bukan perkara parfum mas. Tapi soal kamu. Enggak tau juga, rasanya itu...huek!"


Deo mendecak demi melihatnya Arimbi yang bahkan sudah mual hanya dengan membicarakan dirinya saja. Istrinya itu bahkan tak sanggup untuk sekedar menyelesaikan kalimatnya.


Namun, terlepas dari itu semua, Deo benar-benar bahagia saat ini. Rasanya, ingin sekali ia berjingkrak-jingkrak demi meluapkan kebahagiaan yang kini bersarang di dalam hatinya.


" Jadi ke mbak Wiwit ini?" Tanya Deo kembali, mencoba mengalihkan pembicaraan.


" Jadilah. Aku pingin minum degan ijo!" Sahut Arimbi dengan suara yang terhalau oleh masker.


Membuat laki-laki dengan tubuh kekar itu seketika menghela napas.


" Apa hukumanku sudah dimulai?"


.


.


Demas


Ia sedang memijat keningnya saat Fadli masuk kedalam ruangannya dengan wajah datar sore jelang petang itu.


" Pak!" Sapa Fadli mengangguk hormat.


" Hmm, gimana?" Jawab Demas seraya menutup lembaran yang barusaja ia tekuni.


" Semua sudah beres Pak. Tiket pesawat sudah ready juga! Tinggal berangkat saja!"


" Emm, thanks!" Sahut Demas lesu. Sama sekali tiada memiliki semangat juang.


Entah mengapa, ia kini menjadi sangat tidak bersemangat saat hendak menuju keluar kota. Lebih tepatnya, ia tak rela meninggalkan Eva.


TRING


Sebuah pesan yang masuk menginterupsi obrolan dua pria beda kasta itu.


...Baru bangun tidur, ada apa?...


Demas menarik sudut bibirnya demi pesan yang baru masuk kedalam ponselnya itu. Mendadak menjadi lega sebab menunggu terlalu lama itu rupanya tidak menyenangkan.


...Siap-siaplah, nanti malam aku jemput!...


.


.


Kediaman David Syailendra


***


Jessika


Ia tengah sibuk menata makan malam saat Demas baru masuk kedalam rumah. Membuat wanita yang masih nampak cantik di usianya yang tak lagi muda itu tersenyum lega.


Walau sebesar apapun Demas, baginya laki-laki itu tetaplah bocah kecil yang wajib ia cemaskan kepulangannya.


" Tumben sampai jam segini Dem?" Tanyanya kepada anak bungsunya itu.


" Lembur ngecek laporan anak-anak. Besok udah mau cuss ke timur!" Jawabnya sembari mencomot lalu mengunyah tahu susu bercitarasa gurih nan lembut itu.


" Mandi sana dulu baru makan!" Timpal Jessika demi melihat anak-nya yang nampak kelaparan.


" Aku enggak makan dirumah. Mau keluar setalah ini!" Ucapnya lagi sembari mencomot potongan tahu untuk yang ketiga kalinya.


Membuat David geleng-geleng.


" Setelah kerjaan kamu ini beres, kita sebaiknya segera kerumah Eva!" Ucap David tanpa menatap anak bungsunya itu. Membuat Demas seketika tersedak.


" CK, nih minum dulu, kamu ini lagian, makan enggak mau pelan!" Omel Jessika demi melihatnya Demas yang wajahnya sudah memerah.


Demas meraih segelas air putih yang di berikan oleh Mamanya, lalu seketika meneguknya dengan cepat.


Ah lega.


" Papa ini bikin Demas kaget tau Pah!" Jawab Demas mendengus demi tenggorokan yang rasanya benar-benar hamsyong.


" Biar sekalian Papa punya cucu dari kamu juga!"


" Maksudnya?" Tanya Jessika curiga dengan isi kalimat yang dilontarkan suaminya.


" Deo barusan kirim kabar ke apa kalau Arimbi hamil!"


What?


" Lah, kok Papa malah tahu duluan sih?" Ucap Jessika merajuk. Membuat David menelan ludahnya dengan mata mendelik.


" Ingat Pah, ini rahasia. Kita kasih surprise ke Mama besok!"


Begitu pesan Deo sewaktu mereka saling ngobrol melalui sambungan telepon beberapa saat lalu. Membuat David seketika nyengir demi memikirkan nasibnya.


Antara anak, dan istri yang bakal sama-sama merajuk terhadapnya. Dasar mulut!


.


.


Eva


Ia tersenyum di depan cermin pada meja rias di dalam kamarnya. Bolak balik mengganti warna lipstik sebab mendadak tak percaya diri kala mengenakan make up bold seperti biasanya.


Jika dulu Eva main acuh pada make up yang ia kenakan, namun semenjak ia dekat dengan Demas ia kerap insecure sendiri dengan penampilannya.


" Cantik anak Ibuk!" Ucap Ibu Eva menatap anaknya yang masih sibuk bersolek. Merasa senang sebab ada laki-laki baik setelah Sinyo yang mau serius kepada anak semata wayangnya.


Eva tersenyum lalu memutar tubuhnya menghadap sang Ibu.


" Buk, kalau Eva nikah apa ibuk ngijinin?" Tanya Eva meriah dua tangan lembut Ibunya.


Ibu Eva tersenyum, mengusap pipi anaknya dengan sorot mata penuh arti.


" Tentu saja nak. Ibu akan lega sekaligus tenang jika kamu sudah ada yang menanggungjawabi!" Jawab Ibu Eva dengan tatapan penuh kasih.


Membuat Eva sejenak berpikir sembari menatap wajah ibunya yang nampak berbeda.


" Tapi , apa keluarga Demas tidak keberatan dengan keadaan kita yang seperti ini?" Timpal Ibu Eva dnehan wajah murung.


Membaut Eva mendadak tercenung.


" Hey, ibu hanya bertanya, jangan sedih!" Seru Ibu dengan senyum yang kian terpancar penuh ketulusan.


"Percayalah, laki-laki yang benar-benar mencintaimu pasti memiliki ratusan alasan agar terus bisa bersamamu nak!"


" Setidaknya, ibu lega jika kamu menikah nanti kamu akan ada yang menjaga dan melindungi!"


"Maafkan ibuk selama ini belum bisa memberikan kamu kehangatan sebuah keluarga yang utuh nak!"


Kini, Eva yang tak lagi bisa menahan laju air matanya itu, seketika menarik tubuh Ibunya kedalam pelukan.


" Jangan sedih Buk. Eva enggak pernah menyesal atas apa yang tejadi. Apapun yang Tuhan izinkan terjadi dalam kehidupan kita, kita harus percaya jika semua itu akan membawa kebaikan untuk kita Buk!"


.


.


.


.


.


Halo readers, mommy kangen sama kalian.


Mom, kok perasaan punya sekarang lama, terus dikit?


Ngaturaken kalepatan ingkan kathah ( mohon maaf sebanyak-banyaknya), mommy mulai tgl 15 besok udah mulai pendataan Regsosek ( Registrasi sosial ekonomi) dari Badan Pusat Statistik.


Di tempat readers nanti, pasti juga akan di data karena kegiatan ini menyeluruh serempak di adakan di penjuru tanah air.


Mohon permaklumannya nggeh readers. Biarpun cuma satu bab, insyaallah mommy bakal sempetin melanjutkan cerita.


Semua ini terjadi karena ada negara diantara kita wahai pembaca setia. 🀣🀣🀣


Miss you 😘😘😘