
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Kediaman Bu Ningrum
Dini hari tepatnya pukul satu, Deo merasa lapar namun tak tega untuk membangunkan istrinya, yang habis ia hajar habis-habisan itu.
Tak terhitung berapa kali dia telah meledakkan benih, ke lahan Arimbi yang subur. Yang jelas, ia bisa memastikan jika istrinya pasti sedang terkapar tak berdaya akibat meladeni geloranya yang tiada redup itu.
CEKLEK
Usai mandi di jam tak wajar itu, ia terlihat menutup pintu kamar dengan sangat hati-hati. Perlahan, Deo berjalan mengendap-endap menuju dapur lalu menemukan banyak mie instan yang berjajar rapih di dalam lemari kayu.
Membuat matanya berbinar laksana menemukan sebuah harta karun.
" Wah, pas banget ini!" Ucapnya sumringah demi menemukan soto Madura dalam bentuk mie, yang menjadi selera rakyat negeri Konoha itu.
Daebak!
Ia meraih panci bergagang hitam lalu mengisinya dengan air untuk sejurus kemudian merebusnya.
Sedikit berhati-hati kala menyalakan kompor sebab takut memicu penghuni lain untuk terjaga. Ya, beraktivitas di jam tak wajar benar-benar lebih membuatnya repot. Mau bagaimana lagi, tidak ada kompromi kalau untuk urusan perut.
Sembari menunggu air golak, ia nampak memindai tampilan dapur Arimbi yang kebanyakan berisikan peralatan sederhana itu. Hatinya sedikit nyeri kala melihat rak piring yang sudah sangat tua.
Pria itu sejurus kemudian nampak memfoto beberapa sudut ruangan milik mertuanya itu, untuk selanjutnya mengirimkan pesan kepada seseorang.
Entahlah, mungkin Deo merencanakan sesuatu.
Ia memasukkan dua keping mie kedalam air yang mendidih itu sembari menyuguhkan wajah datar seperti biasanya. Sangat berbeda jika sedang bersama Arimbi.
Namun tiada mengira juga tiada menyangka, ia mendadak membeku lalu kemudian menjerit, demi melihat sesosok makhluk dengan wajah putih tebal, yang turut berteriak kala melihatnya sibuk mengaduk isi panci dengan spatula kayu itu. Damned!
"Aaaaaaa!"
HAP!
Kini, keduanya spontan membekap mulut mereka masing-masing, demi menyadari jika waktu itu sudah sangat malam.
Akan sangat berbahaya jika suara mereka sampai membangunkan dua singa betina yang tengah tertidur pulas itu.
Double damned!
.
.
Dua laki-laki berbeda usai itu nampak tercenung dengan posisi berdampingan, dihadapan meja di ruang tengah , yang diatasnya menampung dua mangkuk mie ukuran jumbo dengan topping telur, sayur, juga sosis telah tersaji lengkap dengan kepulan asap yang membumbung.
Benar-benar mirip seperti pesakitan yang tengah diperhadapkan dengan bekal makanan dari keluarga pengunjung narapidana.
" Mas Deo ini mengagetkan aku saja!" Dengus Farel demi menyadari kebodohan yang mereka berdua lakukan di jam selarut itu.
" Aku lagi yang seharusnya kaget Rel. Bukannya kamu. Lagipula, kamu ngapain malam-malam pakai begituan segala? Wajahmu udah kayak Kunti tau!" " Sahut Deo tak mau kalah, demi mengingat wajah Farel yang terpupur sesuatu yang putih tadi.
" Itu tadi masker Mas. Masker bengkuang yang dikasih sama mbak Arimbi. Mukaku katanya item, makanya disuruh pakai itu. Lumayan, dua Minggu ini udah kelihatan hasilnya!" Ujar Farel meringis senang.
Membuat Deo menggeleng tak percaya. Bagiamana bisa adik iparnya itu justru maskeran di jam selarut ini?
" Lagian, mas Deo kenapa gak bangunin mbak Arimbi aja sih. Kan aku enggak enak sendiri kalau begini. Baru pertama nginep, udah menderita!"
Deo terdiam meski ingin tertawa. Dia tidak sedang menderita kali, dia sedang memulihkan tenaga. Ahay!
Tapi, mustahil dia menceritakan alasannya membuat mie sendiri. Bisa malu dia.
" Mbakmu udah tidur, kasihan dia sedari pagi enggak berhenti ngerjain pekerjaan rumah dan ngurusin aku!"
" Lagian cuman mie!"
Farel mengangguk pertanda mengiyakan. Relevan juga alasan kakak iparnya itu. Walau, ia tahu, mungkin Deo telah mengeluarkan banyak tenaganya untuk hal yang sempat ia kuping tadi. Oh Gosh, membuatnya merinding.
" Nonton tv aja mas. Film action bagus-bagus kalau jam segini, lumayan!" Sahut Farel sembari mulai mengangkat mie panas itu.
Deo menurut, pria itu juga nampak turut mengangkat mie panas, degan tatapan lekat ke TV yang chanelnya tengah di gulir oleh Farel.
Sialnya, baru juga mengganti channel tv, tayangan film action itu tengah menunjukkan adegan pemainnya, yang tengah berciuman di area kolam.
Oh Shiit!
Membuat Farel seketika tersedak.
" Aman lah Rel, kau udah 17+!" Ucap Deo terkekeh sembari menyodorkan segelas air putih kepada adik iparnya itu.
" Tapi ..jangan dulu lah, kerja dulu yang bener, biar bisa dapat..."
" Mie nya enak mas, kalau kurang aku masakin lagi. Ayo ayo!" Sahutnya sesaat setelah meneguk separuh dari isi gelas yang disodorkan ke arahnya itu.
Membuat Deo tergelak demi melihat adiknya yang nampak salah tingkah. Jelas menyiratkan jika Farel memang belum terbiasa dengan hal-hal semacam itu.
Oh, common man!
.
.
Arimbi
Ia tersentak kala kasur di sampingnya kosong di jam setengah lima pagi itu.
Cepat-cepat ia mengenakan pakaian yang berserak, untuk sejurus kemudian berniat mandi.
Usia hal penting di waktu pagi itu rampung ia kerjakan, ia terkejut demi melihat Deo yang masih lelap diatas sofa di depan ruang tengah rumahnya, dan di sofa yang lain ada Farel yang meringkuk bagai bayi.
Membuatnya geleng-geleng kepala demi melihat dua mangkuk yang masih teronggok di meja itu.
" Astaga...jadi dua orang ini habis pada makan mie ya? CK CK CK!" Arimbi mendecak heran.
" Mas!" Ucapnya menepuk- nepuk pipi Deo yang masih memejamkan mata.
" Mas!" Ucapnya lagi berniat membangunkan.
" Eungh!"
" Sayang kau sudah...!"
Arimbi langsung menggeliat kala Deo menariknya kedalam pelukan. Sedikit takut bila ada yang melihat nanti. Walau sudah halal, namun tentu ia masih memikirkan sisi kesopanan.
" Mas ini tuh diluar. Kamu ngapain sih tidur disini, badan kamu sakit semua nanti. Masuk sana, kamu sama Farel janjian ya?"
.
.
Bu Ning hanya bisa melongo, saat dua mobil datang membawa sejumlah perabot serta peralatan baru untuk dirinya di jam pagi jelang siang itu.
Kulkas, beberapa peralatan memasak, kasur, serta dipan baru yang anti hurak hurek, hingga kompor listrik nampak dibeli Deo untuk mertuanya itu.
Lengkap dan komplit.
" Nak Deo, ini terlalu berlebihan nak!" Ucap Bu Ning dengan wajah tak enak kepada menantunya.
" Enggak ada yang berlebihan kalau buat ibuk. Aku cuman ingin ibuk itu bisa lebih nyaman aja pas di dalam rumah. Terimakasih sudah melahirkan wanita hebat seperti istriku Bu!"
Bu Ning tersenyum haru kala menantunya itu memeluknya. Hati orang tua mana yang tidak tersanjung dengan perlakuan manis seperti itu.
Membuat Farel turut merasa bersyukur demi mendapatkan kakak ipar semacam Deo.
" Yasudah, ibu tak kedalam dulu mau buatin minum kurir itu, kasihan. Kamu katanya mau ke tempat mbak Wiwit?"
" Ia, masih nunggu Arimbi. Nggak tahu kok lama banget!" Sahut Deo sembari menatap ke arah dalam.
" Lagi pada ngomongin aku ya?"
Arimbi terlihat keluar rumah dengan tampilan yang sudah siap. Sebuah jeans yang membungkus kaki jenjangnya, serta kaos putih berbahan katun yang nyaman ia gunakan. Lagipula, tempat mbak Wiwit kan berada di pesisir pantai, tentu ia tak mau membuat dirinya dalam kegerahan.
" Yang di omongin udah datang Buk. Deo pergi dulu ya, nggak usah di tunggu buat makan siang, habis dari mbak Wiwit kami mau ke tempat fitting baju!"
Bu Ning mengangguk. Menyetujui permintaan menantunya.
Mereka akhirnya berjalan menuju mobil yang berada di samping mobil baru Farel.
Namun, saat ia hendak membuka pintu mobil suaminya, ia terkejut demi melihat laki-laki yang dia kenal, tiba-tiba datang dengan motornya.
" Arimbi? Tunggu Ar!"
Deo yang mendengar nama istrinya dipanggil, seketika mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam mobilnya.
Who are you?
" Mas Yusa?" Ucap Arimbi dan sukses membuat Deo menatap tak percaya.
" Dia kenal?" Batin Deo menatap pria yang sepertinya lebih muda darinya itu.
" Ibu kamu ada?"
Deo kini nampak menutup pintu mobil, untuk sejurus kemudian mendatangi istrinya yang nampak menemui laki-laki itu.
" Ada mas, baru aja masuk ke dalam!" Jawab Arimbi yang nampak tersenyum seperti biasanya.
" Kamu apa kabar, kamu jarang kelihatan belakangan ini. Kamu baik-baik saja kan?"
SRING!
Mata tajam dengan kilatan ketidaksukaan itu seketika menyipit, kala tangan Yusa nampak menyentuh lengan bersih Arimbi.
Membuat Arimbi seketika tegang demi melihat aura membunuh yang di tunjukkan oleh suaminya.
Oh tidak!
" Ehem! Maaf, bisa singkirkan tangan anda dari lengan istri saya? Saya tidak suka!"
DEG
"Apa?"
"Istri?"
Yusa mendelik seraya menatap seraut kaku yang menatapnya sengit.
Ah sial!
.
.
.
.