My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 110. Semua mesti berubah



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


Erik


Kaget, terkejut, syok, senang, gembira ria, apalagi?


Apalagi kata yang bisa menggambarkan situasi hati Erik saat ini. Pria yang agaknya mewarisi sikap konyol dari ibunya itu, kini merasa perutnya bagai di hinggapi ratusan kupu-kupu kala bertemu dengan janda kembang itu. Ahay!


Tapi, tunggu dulu. Apa yang Erik tanyakan? Astaga! Wiwit ada disini, dan itu artinya?


Oh tidak.


" Saya baik. Kalau tidak salah, anda ini managernya Arimbi yang pernah saya titipi nasi dulu itu kan?"


What?


Bahkan, nasi berisikan iklan bakar yang lezat itu tiada pernah sampai ke alamat yang dituju, sebab lebih dulu meluncur kedalam esofagusnya. Ngeri nggak tuh?


" Emmm!" Erik meringis seraya jelalatan ke arah Arimbi, demi meminta pertolongan kepada istri bosnya itu.


Erik seketika pias demi mengingat jika dia tidak mengamanahkan amanat dari Wiwit. Oh ya ampun!


" Udah kok mbak. Tenang aja, mas Erik ini orangnya jujur kok!" Sahut Arimbi dengan wajah yang begitu meyakinkan.


" Kau berhutang kepadaku Mas Erik!" Batin Arimbi seraya menatap Erik yang nampak lega.


Membuat Deo seketika curiga demi melihat bahasa mata antara Arimbi juga assistenya itu.


" Apa yang mereka sembunyikan?"


" Ehem. Berhubung semua sudah disini, sebaiknya setalah ini kita ke kamar Eva. Aku mau ganti baju sebentar. Rik, mana bajuku?


.


.


Arimbi


Kini, ia berjalan dengan tangan yang tiada henti di genggaman oleh Deo. Membuat iri dua pasang mata manusia beda gender di belakang yang berjalan beriringan itu.


" Jadi waktu aku titipin mas Erik nasi itu, Arimbi sama mas Deo sudah..." Tanya Wiwit sengaja menggantungkan ucapannya demi mendengar konfirmasi.


Erik yang di panggil 'Mas' oleh Wiwit seketika gagal fokus dengan ucapan Wiwit. Astaga, apa pria itu benar-benar mabuk janda?


Bahkan mungkin, jika di lihat oleh mikroskop, iler pria itu sepertinya sudah menetes 🤢.


" Kamu tau kan, aku ini dibayar dia untuk melakukan semua hal. Ingat, semua hal. Termasuk tutup mulut!" Ucap Erik mantap menunjuk Deo menggunakan dagunya. Membuat Wiwit terkekeh demi melihat sisi jenaka Erik.


" Rik, aku dengar!" Sahut Deo dari depan.


" Kebangetan banget kalau enggak dengar!" Jawab Erik asal dan langsung membekap mulutnya.


" Rik?"


" Siap salah!"


Wiwit dan Arimbi kian tergelak demi melihat interaksi bos dan assistenya itu. Wiwit tersenyum senang sebab rupanya dua manusia parlente itu tidak sesombong penampilannya.


Mereka lantas berjalan hingga tiba disebuah kamar, yang rupanya kamar itu merupakan kamar kelas terbaik.


Ya, David tentu saja menjadi dalang di balik pemilihan kamar kelas baik itu.


CEKLEK


Daun pintu yang terayun itu nampak membuat kwartet lintas usia itu, memenuhi ambang pintu dengan posisi rancak.


Namun, diluar dugaannya, keempat manusia itu serempak membulatkan mata demi melihat Eva yang di suapi oleh Demas.


Belum usai keterkejutan yang tejadi, titisan manusia yang diduga kelak berkembang biak dengan cara membelah diri itu, kini nampak muncul diambang pintu kamar mandi dengan handuk yang membebat sebatas ketiak.


Membuat Erik seketika menjerit seraya menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya.


" Dian, pakai bajumu!"


.


.


Demas


Semalaman ia terus berteman dengan keresahan yang kian menyiksa. Semalaman juga, bukannya lelap dalam tidur, pria itu justru terus kepikiran dengan kondisi Eva.


Saat di mobil, pria itu berpura-pura memejamkan matanya sebab ogah di interogasi oleh Papa dan Mamanya. No way!


Entahlah. Yang jelas, usia ia mencium bibir Eva dengan nagawurnya, perasaan mendesak yang berjalan dalam hati kian mengusiknya.


Membuatnya pagi-pagi benar datang kerumah sakit, dan meninggalkan kedua orangtuanya dirumah.


Ia bahkan langsung menuju kamar Eva. Lagipula, Arimbi ada Deo yang menunggui, begitu pikir Demas.


" Kamu cepat mandi sana, biar aku yang menyuapi. Setelah ini, aku antar kalian pulang!" Ucapnya sesaat setelah mendudukkan dirinya dengan sebuah bubur ayam hangat yang dia beli saat perjalanan tadi.


Membuat Dian yang semula berbaring santai bagai putri duyung yang terdampar itu, seketika enyah dari sofa nyaman, sebab takut dengan wajah Demas yang lebih datar dari Deo.


Dalam kecanggungan yang kian kentara. Eva menjadi lebih pendiam demi rasa gugup kala mencium aroma wangi maskulin dari pria di depannya itu. Oh man!


Demas ganteng.


" Biar aku sendi..."


" Buka mulutmu!" Sergah Demas tak mempedulikan ucapan Eva. Membuat kalimat itu menguap tak berguna.


" Orang ini. Kenapa balik ke mode devil lagi sih?" Batin Eva sebal demi melihat Demas yang kembali menakutkan.


^^^🎶" Katak yang lucu, melompat kedalam kolam!"🎶^^^


Kini, baik Eva maupun Demas, seketika saling menatap demi mendengar Dian yang asik menyanyikan lagu anak TK itu. Apa tidak ada senandung yang lebih bagus?


Sekarang, agaknya mereka berdua tahu, jika Dian itu memanglah titisan dari dewa angin puyuh.


" Habiskan buburmu, aku akan mengantarmu setelah ini!" Ucap Demas yang tekun menyuapi Eva meski raut wajahnya tidak bisa di tebak.


Eva yang tertunduk di bawah gempuran tatapan mata elang Demas mendadak gugup. Sungguh, tak biasanya ia begitu.


" Setelah dicium orang ini aku kok jadi begini sih? Sialan!"


" Bisa aku minta tolong?" Ucapnya memberanikan diri.


Kini, keduanya seketika tertegun kala tanpa sengaja sepasang bola mata jernih itu saling beradu.


"You are so handsome!"


" You are so beautiful!"


" Katakan!"


" Bisa bantu jelaskan kepada Ibuku, kalau..."


" Aku akan bertanggungjawab!" Sahut Demas cepat yang kini tahu arti gurat keresahan di wajah manis Eva.


" Sekarang, habiskan buburmu. Aaaa....!" Titahnya datar sembari turut melakukan gerakan membuka mulut.


CEKLEK


Suara handle pintu yang di tarik, membuat mereka berdua kompak menoleh ke arah pintu yang mendadak terbuka.


Sialnya, dalam interval waktu yang tidak lama, Dian yang sepertinya sudah selesai mandi nampak membuka pintu dengan santainya, bahkan tak menyadari jika tampilannya itu, kini membuat merinding para manusia yang baru saja datang dengan mata mendelik.


" Aaaaaa!"


"Dian, pakai bajumu!" Seru Erik dengan kuduk yang merinding.


" Hah! Ya ampun!"


BRAK!


Dian yang nampak kocar-kacir seketika menutup pintu itu kembali dengan keras. Membuat kesemua orang yang ada disana tergelak kecuali Erik yang syok dan wajahnya pias.


" Kenapa ada mahkluk seperti itu dimuka bumi ini!" Teriak Erik yang makin membuat mata mereka semua berair karena tergelak.


.


.


Beberapa saat kemudian.


" Aku benar-benar tidak menyangka jika kamu dan Pak Deo..." Ucap Eva yang sengaja menggantungkan kalimatnya, demi ketidakmampuan diri untuk meneruskan.


Deo, Demas, Erik serta Dian duduk berhimpitan dalam satu sofa panjang. Beruntung kesemuanya masuk dalam kategori postur proporsional.


Arimbi meraih tangan Eva lalu meremasnya perlahan. Membuat Wiwit yang ada di sampingnya turut merasa haru.


" Sekarang udah tau kan?" Ucap Arimbi menatap lurus Eva yang berada diatas ranjang. Membuat suasana seketika hening.


" Aku harap, setelah ini kamu jangan pernah berubah meski aku adalah..."


" Ya berubah dong, masa enggak!"


DEG


Ketujuh manusia yang masih larut dalam suasana haru itu, seketika menoleh demi mendengar suara familiar yang begitu mengejutkan.


Jessika yang datang bersama David, sengaja mengundang hadirkan ibu Eva. Hal itu terjadi akibat hasil dari pencarian Fadli yang mereka tugaskan.


Ya, agaknya mereka tahu jika Demas memiliki rasa terhadap wanita yang rela berkorban untuk dirinya itu, berdasarkan info yang si spill oleh Fadli. Membuat mereka musti bertindak cepat.


" Ibuk?" Ucap Eva dengan mata berkaca-kaca demi melihat seraut penuh kekhawatiran yang kini hadir diantara mereka.


Ibu Eva nampak berjalan dengan kristal cair bening yang berjejalan di pelupuk matanya. Wanita itu menundukkan tubuhnya, lalu memeluk tubuh putrinya penuh kerinduan.


" Maafin Eva udah bohong sama Ibuk!" Ucap Eva dengan suara bergetar sebab tangis yang kini terjadi.


Dian yang sadar diri turut menjadi tersangka itu, seketika menangis dengan menyandarkan kepalanya ke bahu liat Erik. Membuat anak sulung Tomy itu menepuk-nepuk kepala Dian penuh kemesraan.


" Nyonya Jessika dan Tuan David sudah cerita ke ibuk. Ibuk bangga sama kamu nak. Kamu dari dulu berani dan rela berkorban untuk sesama!" Ucap ibu Eva seraya menghapus air mata yang membasahi pipi putrinya.


" Itu karena Eva selalu menerapkan salah satu dasa dharma pemuka Tante! Yang berbunyi, rela menolong dan tabah!"


Membuat Erik yang semula larut dalam aksi elus mengelus itu, kini seketika mendengus kesal.


" Wong edan! Orang lagi serius jugak! Ini malah ngomongin Pramuka! Dasar jerigen minyak!" Bisik Erik demi rasa sebal terhadap Dian yang kini asik menyusut ingusnya.


Menepikan kaum Adam beda versi yang tengah ribut itu, Jessika yang berada di dekat pintu masuk itu, kini nampak turut berjalan mendekati Eva.


" Arimbi tadi berharap agar kamu tidak berubah kan?" Tanya Jessika tersenyum seraya mengusap puncak kepala Eva dari sisi kanan.


Eva mengangguk dengan kebingungan yang mendadak muncul. Pun dengan Arimbi. Jessika tersenyum penuh arti, membuat kesemua orang yang hadir disana juga nampak bingung, kecuali suaminya.


" Semua memang harus berubah!"


" Berubah dari partner kerja, menjadi adik ipar! Bukan begitu Dem?"


DEG!


" Uhuk Uhuk! Uhuk Uhuk!"


Deo seketika menepuk-nepuk pundak kokoh adiknya, demi melihat wajah Demas yang seketika memerah akibat terbatuk-batuk.


Sungguh sial, Demas yang nampak membuka seal botol air mineral lalu baru saja meneguknya itu, seketika tersedak demi mendengar ucapan mengejutkan sang Mama.


What? Adik ipar?


.


.


.