
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Eva
Terharu, itulah yang kini dirasakan oleh gadis yang kerap bersikap cuek itu. Mau di tutupi seperti apa, ia tetaplah seorang anak yang selalu rapuh di hadapan orang tuanya.
Sembari melepaskan pelukannya, Ibu nampak tersenyum diantara sela tangis yang terjadi. Berusaha menyuguhkan raut tegar, meski batinnya amat menjerit.
" Udah, jangan nangis. Nanti bedak kamu luntur!" Ucap Ibu mencoba mengalihkan rasa haru yang membuncah.
Eva sadar, menjadi anak dari seorang pria beristri dua memang tidak mudah. Selain stigma manusia tidak benar yang melekat kepada mereka, perasaan kosong dan asing kerap menggerogoti posisi mereka sebagai bagian dari lapisan masyarakat yang kerdil.
" Ibu harus janji buat enggak sedih-sedih lagi. Dengan atau tanpa adanya Bapak dalam hidup Eva, yang paling penting buat Eva adalah Ibuk!"
Di menit ke dua puluh lima lepas dari jam enam malam, suara mobil Demas terdengar meraung-raung di depan kediaman Eva.
Membuat Eva yang memang tengah siap menunggu di dalam itu, buru-buru membukakan pintu rumahnya.
CEKLEK!
Daun pintu yang terayun itu menampilkan sesosok pria gagah, dengan pakaian bagus yang fit di tubuh atletisnya. Membuat Eva salah fokus.
Demas ganteng.
" Ibu mana?" Tanya Demas menepikan wajah Eva yang nampak takjub. Sengaja menyugar surai hitamnya, dan terlihat sok sibuk padahal Demas sebenarnya sangat grogi demi melihat Eva yang cantik malam itu.
" Ada di dalam. Mau masuk?" Tawar Eva hendak menyingkir dari ambang pintu itu.
" Iya lah. Mau ngajak kencan harus izin dulu!" Sahut Demas dengan wajah sok keren.
Membuat Eva tersenyum. Pria itu kalau begini manis juga.
Dan entah mengapa, malam itu Eva benar-benar melihat jika Demas nampak lain dari hari biasanya.
" Ibu mau ikut?" Tanya Demas usai mencium punggung tangan Ibu Eva dengan takzim.
" Orang tua dirumah saja. Yang penting jangan pulang malam!" Tutur Ibu dengan wajah lembut.
" Enggak malam kok Buk, tapi pagi!"
What?
.
.
Deo
Ia tengah tersenyum memperhatikan Arimbi yang tergelak riang bersama Wiwit di gazebo, saat ponselnya bergetar.
Entah apa yang telah di obrolkan oleh dua orang wanita itu hingga membuat keduanya tiada henti cengengesan.
Tidak masalah. Yang penting, istrinya bisa senang.
" Hal..."
" Mama enggak mau tahu, kalian berdua pokoknya pulang kesini malam ini!"
TUT!
Sambungan telepon itu terpungkasi secara sepihak oleh Mama Jessika. Membuat Deo seketika kesulitan menelan ludahnya sendiri.
"Astaga, jangan-jangan Papa enggak bisa jaga rahasia! CK!" Gerutu Deo demi sikap Mama Jessika yang sepertinya marah.
Dan beberapa menit kemudian.
" Mas kenapa gak bilang sih kalau mau kasih kejutan ke Mama? Aku kan enggak enak loh sama beliau!" Omel Arimbi seraya berjalan menuju kediaman mertuanya di jam malam itu.
Kesal sebab Deo baru memberitahu soal titah Jessika, dan mengajak Arimbi pulang dua jam setelahnya. Membuat Arimbi merasa tak enak hati.
" Maaf Ar, soalnya kamu tadi lagi asik ngobrol sama mbak Wiwit jadi aku enggak tega buat ganggu kamu!"
" Terus, kenapa Mama marah?"
" Aku juga enggak tahu Ar. Dugaanku, papa pasti keceplosan. Aku pinginnya kita kasih surprise ke Mama. Kalau begini, kesannya kita kayak nggak nganggep orang tua jadinya. Sialan betul!" Jawab Deo seraya menggerutu seorang diri. Kesal kepada sang papa yang tidak bisa menjaga rahasia.
TOK TOK TOK
Deo mengetuk pintu rumah masa kecilnya dengan hati berdebar-debar. Menatap pasrah istrinya yang terus saja mencubit hidung guna menghalau aroma tubuhnya.
CEKLEK
Pintu terbuka, menampilkan sesosok wanita yang Deo kenali.
"Den Deo, nona Arimbi? Bapak sama Ibuk sudah di dalam!" Ucap seorang yang selama ini bekerja sebagai ART di tempat itu dengan wajah murung dan terlihat sedih.
What's wrong?
Kini, keduanya langsung masuk usai pintu itu terbuka. Sedikit penasaran akan raut ART yang tersaji di hadapan mereka tadi.
" Mama! Kita dat..."
Ucapan Deo menguap manakala mata kepalanya melihat Mama Jessika yang menangis tersedu-sedu di pelukan Papanya.
DEG
Apa yang telah terjadi?
" Demas gimana sekarang Pa? Ayo kita kesana Pa!" Ucap Mama Jessika seraya menangis, dan nampak di tenangkan oleh David.
DEG
Tubuh Deo mendadak mematung lalu membeku dalam hitungan sepersekian detik, demi mendengar rintihan tangis bercampur nada penuh keresahan itu.
Apa yang telah terjadi kepada Demas?
.
.
.