My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 26. Bertemu manusia normal



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Arimbi


Amarah yang berkuasa di hati, kini masih berkobar penuh nyala. Rasa tidak suka yang kini bermukim itu , terus meningkat.


Pasca pertemuannya dengan Deo sewaktu di depan salon LA kemarin, Arimbi makin merasa jika selain sombong, pria itu juga tak memiliki hati nurani.


Ia masih ingat betul saat Deo justru lebih memilih masuk kedalam salon bersama wanita bersusu jumbo itu, dari pada meminta maaf kepada dirinya. Benar-benar kurang ajar!


" Arimbi!" Panggil seseorang dengan suara takjub dari arah lorong menuju toilet. Siapa lagi kalau bukan Dian.


" Elu potong rambut? Gila, udah kayak embak- embak mugari kamu kalau begini!' Dian yang baru datang itu, kini membolak-balikkan badan Arimbi yang pagi itu sudah mengenakan seragam barunya, dengan terkagum-kagum.


" Males nyepol Yan, tau sendiri rambut kalau kena helm jadi apa!" Jawab Arimbi sambil sibuk menyabut HT yang di charge itu satu persatu.


Dian mengangguk menyetujui, " Bener banget. Tuh lihat si Eva sama Resita, jam segini masih mbuleng sama jepitan sama hair spray di toilet, ribut terus gegara nyepol rambut enggak selesai-selesai!" Ucap Dian dengan suara ngondek- nya.


Arimbi mengangguk, " Itu makanya aku mending potong rambut! Lagian, susah ngatur rambutku. Licin!"


" Baru rambut yang licin udah bilang susah. Elu boleh susah kalau mulut elu yang licin!" Sahut Dian terkekeh-kekeh.


" Sialan!" Sahut Arimbi sambil tergelak, " Emang elu? Si mulut licin?"


" Eh tapi serius loh, kamu cantik banget kalau begini. Tapi, kok elu masih ada disini, bukannya udah harus ada di inter?" Tanya Dian heran.


" Ini mau kesana, disuruh ambil HT sama si Kenanga. Dia lupa katanya!" Ucap Arimbi yang kini menjejalkan benda hitam berantena itu, kedalam tasnya.


" Ih, perpeloncoan ini namanya, gila aja elu di suruh jalan kesini terus balik kesana buat ambil HT, dari kemarin dia ngapain aja?" Ketus Dian tak suka saat merasa Arimbi di manfaatkan.


" Sialan emang tuh kembang Kenanga, pasti dia ngiri sama elu Ar. Apalagi, dia belum tahu kalau kamu cantik banget pakai seragam begini!"


" Sundel emang!"


.


.


Usai ber-tos ria bersama rekan seperjuangannya, ia kini melesat keluar area terminal domestik.


Arimbi berjalan menuju ke terminal Internasional, yang letaknya berada di bangunan sebelah ATC ( Air Traffic Controller ), Erik tidak jadi meminta dirinya untuk datang menemui pria itu.


[" Langsung ke terminal Inter aja ya, ada senior kamu disana. Saya masih di jalan ini!"]


Pesan dari Erik itulah, yang menjadi cikal bakal rasa percaya dirinya, untuk tekun melangkahkan kakinya menuju gedung yang didalamnya pasti lebih banyak penumpang asing.


Pagi itu rupanya stakeholder terkait juga sudah melakukan persiapan yang sama. Sepanjang perjalanan menuju lokasi, banyak pasang mata yang menatap ke arah Arimbi. Membuat wanita itu risih.


"Cek dulu sini!" Ucap seorang petugas Avsec wanita yang berhijab biru. Terlihat tegas dengan sapuan lipstik warna maroon, dengan nama bordil Icha.


Ia yang benar-benar baru tentu hanya bisa menurut. Selain belum memiliki kenalan di ranah Inter, ia sepertinya juga takut salah bersikap. Membuatnya lebih memilih untuk menurut saja.


" Masih training ya?" Ucap wanita itu sedikit mencibir. Memindai tampilan Arimbi dengan tatapan lekat.


" Iya mbak!" Sahutnya dengan wajah biasa. Ogak cari ribut.


" Tas, jam tangan, masukkan ke X-ray semua!"


Ia menuruti semua titah personel keamanan yang sepertinya kenal baik dengan Kenanga itu. Sebab usai melihat pass yang ia kenakan, wanita itu saling berbisik bersama Kenanga yang sudah berdiri di dekat X-ray.


" Arimbi!" Sapa seorang pria dengan bar emas di pundak, sebanyak empat garis. Terlihat familiar. Pria itu yang duduk di depan monitor X-ray.


" Pagi Pak!" Sapa Arimbi yang sebenarnya lupa akan siapa pria itu.


Di dunia Aviasi, saling menyapa atau greeting itu merupakan hal yang wajib di lakukan. Semua itu bertujuan, agar semua lini bisa saling berkolaborasi dengan baik .


" Wah, hebat kamu. Baru masuk udah handle flight Inter ya!"


Ucap Hendra, komandan Avsec yang beberapa waktu lalu sempat membriefring ia dan para karyawan baru, saat pembuatan pass.


" Oalah, dia kan yang briefing aku kemarin!" Batin Arimbi saat membaca nama bordil yang ada di dada kanan, pria itu.


Arimbi hanya tersenyum simpul, sejurus kemudian ia sibuk mengambil beberapa barang yang ia masukkan ke mesin X-ray, lalu mengambilnya.


" Maaf mbak, ini...taruh di mana ya?" Ucap Arimbi mengangkat HT sebanyak tiga buah, yang baru ia ambil dari terminal domestik.


" Pakai nanya lagi, taruh di sana lah. Elu enggak lihat yang lain udah pada ngumpul?"


" Wiissh senior jangan galak-galak!" Kelakar Hendra yang mendengar Kenanga berucap.


Arimbi agak terkejut kala pagi itu, kala ia mendapat omelan dari Kenanga. Bukankah wanita itu yang memintanya untuk mengambil HT terlebih dahulu.


" Elu sebaiknya hati-hati sama senior bacot itu Ar, punya tabiat enggak beres tuh anak!"


Ia tiba-tiba ingat akan ucapan Eva tempo hari. Kawan yang paling memiliki sikap frontal itu, sempat mengingatkan dirinya akan Kenanga yang nampaknya tak menyukai dirinya.


" Benar, aku harus hati-hati sama ini perempuan. Sialan, kalau bukan senior, udah gue lawan lu!"


Arimbi memilih pergi karena malas untuk meladeni perempuan sialan itu. Perempuan aneh.


Namun, tidak semua manusia di muka bumi ini jahat rupanya. Ada wanita dewasa berwajah cantik, yang terlihat ramah dan sangat profesional.


" Selamat pagi mbak!" Sapa Arimbi tatkala tiba di meja check ini counter Andanu Air. Merapatkan dirinya ke petugas yang tangan sibuk menata name tag di dadanya.


" Arimbi ya?" Tebak wanita yang bercepol rapih itu. Menatap Arimbi dengan senyuman manis.


" Betul mbak, perkenalkan saya Arimbi!" Arimbi mengulurkan tangannya menjabat wanita ramah itu.


" Saya Joy, semoga bisa jadi partner yang baik ya. Oh iya, sebelumnya kamu udah pernah tahu sistem belum?" Joy tahu dari group leader yang membahas soal Arimbi yang akan bergabung di pasasi internasional.


Arimbi menggeleng, " Saya sama Pak Erik hanya diminta untuk datang dan bantu-bantu dulu mbak!"


"Ok Ok. Nanti belajar bareng-bareng ya...kita lagi nunggu Daniel sama Pak Erik soalnya. Habis ini kita briefing dulu, soalnya ini kan pembukaan rute baru. Makanya kita diminta untuk stay disini lebih awal. Taruh aja tas kamu di dalam sini, punyaku tadi ada di dalam kok!"


Luar biasa, akhirnya Arimbi dipertemukan dengan orang normal yang intelek.


Dan , interaksi normal itu tak luput dari pandangan mata Kenanga yang menatap tak suka kepada Arimbi. Semakin iri.


" Charlie monitor!" Suara Daniel terdengar mengudara di dalam HT itu.


" Gohet! ( Go ahead/ lanjut!)" Jawab Joy meraih radio komunikasi itu.


" GH satu datang, tolong info yang lain buat masuk ke ruang tunggu, kita briefing disana sebenatar!"


" Ok di copy!" Jawab Joy dengan penuh semangat.


" Siapa GH satu mbak?" Tanya Arimbi yang usai meletakkan tasnya.


" Kamu belum hafal callsign ya?" Tanya Joy tersenyum ramah.


Arimbi meringis, " Hehe belum mbak!"


" GH satu itu, untuk menyebut Pak Deo. Soalnya dia kan pemilik Ground Handling kita!"


Hah, jadi... sebentar lagi dia akan bertemu Deo lagi dong? Membuat raut Arimbi langsung berubah muram.


" Kenapa?" Tanya Joy demi melihat perubahan wajah Arimbi.


" Enggak mbak. Takut aja. Soalnya, pak direktur kan agak galak!" Bohong Arimbi.


" Bukan galak sih, dia itu tegas dan enggak suka sama pelanggaran. Sosok idaman banget deh. Andai aku belum nikah, pasti juga ngefans juga sama dia!" Sahut Joy terkekeh.


" Kamu enggak tau aja mbak kalau dia cabul!" Melengos dalam hati.


" Mbak Joy udah berkeluarga?"


Joy mengangguk, " Anakku umur dua tahun!"


Arimbi takjub kepada Joy. Seorang Ibu yang masih bisa berkarier. Pantas saja wanita itu sangat humble.


.


.


.


.


.