My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 112. Cemburu



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Demas


Ia yang diminta Managernya untuk menandatangani surat penting di jam itu juga, terpaksa membelokkan mobilnya dan meminta Eva beserta yang lainnya untuk menunggu.


Apa boleh buat, beberapa hari terlibat dalam aksi pencarian kakak iparnya itu membuatnya mengabaikan pekerjaannya. Membuatnya terbengkalai, menumpuk dan akhirnya menjadikan keriwehan tersendiri.


" Mungkin dua pekan lagi yang di timur sudah akan launching Pak!" Seru Bagas dengan wajah penuh hormat.


" Sesuai permintaan Pak Demas juga, karyawati yang hamil saya berikan cuti enam bulan per awal bulan ini plus tunjangan!"


" Good! Pastikan yang backup karyawan yang cuti udah ready ya Gas. Saya gak mau kita kalang kabut kayak dulu!"


Namun, saat ia dan Bagas masih sibuk membahas persoalan penting di ranah pekerjaannya, tangan yang melingkari perutnya yang six pack itu nampak membuatnya terkejut bukan main.


DEG!


" Wulan?"


" Demas, aku dari kapan hari kesini nyari kamu tapi kamu nggak ada. Kamu aku hubungi juga gak pernah dibalas. Barusan lihat kabar kalau keluarga kamu..."


" Wulan, tolong jangan seperti ini!" Elak Demas yang entah mengapa kini lebih mencemaskan isi didalam mobilnya itu.


" Eva ngelihat nggak ya?"


" Demas, aku kangen. Kamu kok gak suprise sih ketemu sama aku. Aku itu da..."


" Sini kamu!" Tukas Demas dengan wajah keruh seraya menarik lengan Wulan dengan cepat.


"Gas, yang tadi tolong cc email ke saya!" Ucap Demas yang kian menjauh dengan posisi masih menarik lengan Wulan yang nampak senang.


Padahal, Demas membawa pergi friend with benefitnya itu guna menghindari kesalahpahaman yang bisa saja terjadi.


Ya, Demas rupanya takut jika Eva melihat hal itu. Namun sayangnya, Demas tak tahu jika Eva memang sudah melihat hal itu. Panik nggak tuh?


" Aku nggak ada waktu. Katakan, ada perlu apa?" Ucap Demas dengan wajah yang selalu datar. Berbicara namun tatapan resah menuju ke arah depan.


" Dem, aku kangen banget sama kamu!" Wulan semakin manja. Bahkan, wanita itu nampak berniat menyambar bibir Demas, namun langsung Demas halau dengan jarinya.


What the fu*ck!


" Sudah aku katakan, aku tidak memiliki banyak waktu. Hal apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan?"


Membuat Wulan menatap kesal Demas yang menurutnya telah berubah. Pria yang dulu kalem dan penuh sopan santun itu, berubah menjadi pria datar yang ketus.


" Aku mau tawaran kamu yang dulu. Aku mau menikah sama kamu!"


Demas tertegun beberapa saat dan seketika tergelak demi mendengar ucapan basi Wulan.


" Menikah?" Timpalnya menatap Wulan dengan tawa yang begitu ironis. Membuat wajah Wulan seketika berubah masam.


" Aku minta kita menikah itu udah lama banget Lan. Udah dua tahun yang lalu!" Terang Demas yang merasa konyol dengan ucapan Wulan.


"Kamu pergi, udah. Kita end!" Terang Demas dengan luapan kelegaan. Sama sekali tak terkejut atau merasakan hal meledakkan kala bersua kembali dengan wanita berkulit putih itu.


" Sory about that Dem, kamu tahu sendiri waktu itu aku sedang..."


" I don't need a reason!" Sergah Demas yang entah mengapa merasa jengah.


"Kamu dan aku..udah beda Lan. Dua tahun itu bukan waktu yang sebentar. Lagipula, kamu sepertinya udah berhasil mencapai mimpimu. Congratulation!" Ucap Demas tersenyum sumbang seraya pergi sebab ia merasa telah lama sekali meninggalkan Eva.


Pria itu berkata jujur sebab memang tak memiliki perasaan apapun terhadap wanita dari itu. Sudah sangat lama, sejak kakeknya mendadak ingin salah satu dari cucunya laki-lakinya itu menikah.


Membuatnya memberanikan diri untuk melamar Wulan, yang selama ini menjadi friend with benefit dalam artian saling membantu dalam pekerjaan juga sekedar curhat satu sama lain.


Wulan cantik, smart dan juga memiliki track record yang terbukti baik di jajaran desainer muda.


Kala itu, Demas yang sebenarnya sedikit kesulitan membedakan mana cinta mana kenyamanan friendzone, tanpa pikir panjang langsung meminta Wulan untuk menjadi istrinya demi kakeknya.


Namun, Wulan yang lebih memilih melanjutkan studinya menjadi perancang busana terkenal, mematahkan segenap harapannya.


Sejak saat itu, Demas sadar jika mungkin dia tak sebanding dengan prestasi gemilang Wulan.


.


.


"Astaga, kemana mereka semua?" Demas bermonolog dengan raut penuh keresahan. Memindai sekeliling lokasi demi mencari tahu keberadaan ketiga manusia itu.


Ia bahkan menanyakan hal itu kepada security yang ada di depan, namun lokasi parkir Demas yang ekslusif membuat satpam itu menjawab tidak tahu.


Membuatnya benar-benar dilanda frustasi.


Sampai akhirnya, sebuah bohlam lampu Albert Einstein nampak berpijar terang diatas kepalanya. Memberikan sebuah ide cemerlang yang wajib ia jajal.


" CK, gak di angkat lagi!" Gumamnya kesal yang terus berusaha menghubungi nomor Dian.


Dan sejurus kemudian.


" Halo Pak?" Sahutan dari seberang membuat Demas seketika memasang wajah saksama.


" Kamu dimana? Kan sudah saya bilang untuk nunggu sebentar!" Cecarnya menggunakan kalimat protes.


" Nganu Pak, kita udah di taksi. Bapak lanjut aja dia, kami enggak enak ganggu Pak Demas sama pacarnya Bapak. Eva bilang dia keburu lapar, makanya kami pergi dulu!"


what?


Demas seketika memejamkan matanya demi kalimat informatif yang terdengar mengesalkan sekaligus mengecewakan itu.


Sialnya, apa yang dia takutkan tadi kini benar-benar terjadi. Dan anehnya, Demas benar-benar merasa takut, bersalah, resah, cemas, panik dan kini nampak frustasi demi merasa jika Eva tengah marah kepadanya.


Astaga, bagaimana cara menjelaskannya?


.


.


Telah lebih dari lima belas menit Demas duduk diruang tamu kediaman Eva. Menunggu wanita itu mau keluar untuk menemuinya.


" Tunggu sebentar ya nak, ibu coba lihat lagi!"


Ia mengangguk sopan. Ibunya Eva benar-benar memiliki sikap yang baik dan apa adanya.


Hingga beberapa menit kemudian, wanita yang kini memakai daster motif daun dengan warna peach yang cocok dikulitnya itu, terlihat muncul dari arah lorong kamar, dengan rambut terkuncir asal, dan wajah tak ramah.


Jelas mengindikasikan jika dugaan Demas benar adanya. Eva marah.


Membuat Demas meneguk ludahnya dengan kesusahan.


"Ada apa?" Tanya Eva ketus sesaat setelah dia mendudukkan tubuhnya diatas sofa minimalis miliknya. Menunbukkan pandangannya keatas taplak meja krem itu.


" Tadi itu bukan siapa-siapaku!"


And than?


Eva membalas wajah tegang Demas dengan lirikannya yang tajam. Menembus keberanian Demas yang agaknya semakin tergerus.


" Bukan urusanku!" Sahut Eva dengan wajah yang tak berani menatap Demas. Wanita itu entah mengapa begitu merasa kesal dengan laki-laki yang lengannya masih di perban itu.


Membuat Demas seketika tersenyum kala melihat Eva yang nampak cemburu.


" Kau cemburu?" Tebak Demas dengan wajah jumawa.


"Hah? Apa kau bilang? Cemburu? Sudah kubilang bukan urusanku!" Jawab Eva menatap sengit Demas dengan kekesalan yang begitu kentara.


" Tidak ya? Kalau tidak... kenapa kau pergi dan tidak menungguku, hm?"


Membuat Eva semakin geram.


" Kau bilang cuma sebentar kan, mana ada orang bilang sebentar tapi kenyataannya kita nunggu lebih dari setengah jam!"


" Kenapa nggak sekalian aja tuh kelon sama tuh perempuan. Nanggung banget cuman pelukan doang!"


Kini, sepertinya Demas tahu dan menyadari hal apa yang paling membuatnya candu kepada wanita itu.


Dan hal itu adalah, cara bicara Eva yang seringnya bersungut-sungut, ketus, dan suka ngomel. Fix, Demas semakin menyukai hal alami itu.


" Apa kau juga ingin aku peluk juga?"


What, are you kidding me?


.


.


.


.