My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 45. Rasa di luar kendali



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Arimbi


Tanpa menunggu lagi, ia kini terlihat membuka kulkas dan menemukan beberapa sayuran hijau di dalamnya. Apakah Ibu Jessika yang mengisi semua ini?


Kini, ia terlihat mengupas bawang merah dan bawang putih, juga menyiangi lalu mengupas beberapa sayuran itu, dengan cekatan. Berniat menumis beberapa sayuran bersama jamur kancing yang ada di sana.


Arimbi tak pernah pilih-pilih soal makanan. Asal perut kenyang, semua libas ia telan.


Wanita itu terlihat menumis bumbu dengan kelihaian yang kentara. Membuat Deo yang tak sengaja mencium aroma semerbak masakan lezat itu, kini mendatangi sumber kegaduhan yang tercipta antara wajan dan sutil di dapurnya itu.


" Kau bisa masak ternyata?" Tanya Deo yang membuat Arimbi tergeragap.


Arimbi mengangguk dengan wajah kaget. Ia tak mau membuat onar malam ini karena tahu bila pria yang menjadi suami, sekaligus musuh juga bosnya itu tengah mengalami persoalan yang cukup ruwet.


" Sebentar lagi selesai! Kalau Pak Deo belum makan, tunggulah sebentar!"


Deo mengangguk meski dengan wajah keruh akibat masalah yang dihadapinya. Pria itu sejurus kemudian berjalan lesu ke arah meja makan, dan terlihat membalas chat dengan wajah kusut.


Arimbi kini mempercepat proses memasaknya. Di masukkannya ayam yang sudah ia marinasi dengan bumbu ketumbar khas itu , kedalam wajan berisi minyak panas.


Secara kasat mata, mereka terlihat bagai pasangan suami isteri normal. Namun sayang seribu kali sayang, semua itu hanya kebetulan semata. Sebab sejatinya, dua manusia itu sama-sama bingung bagaimana cara memungkasi keterasingan yang ada.


" Makanlah!"


Deo mendongak manakala tumis sayur padat gizi, ayam goreng marinasi dan juga sambal dadakan buatan Arimbi telah tersaji di depan Deo.


Emmm lezat!


" Adanya itu. Jadi..."


" Makanlah juga disini!"


Arimbi tertegun. Ia pikir Deo akan memintanya pergi saat pria itu ingin bersantap ria. Membuat wanita itu kini duduk dan meraih centong usai mengambil piring makannya.


Namun, tak di sangka.


DEG


Sesuatu yang tak ia nyana sebelumnya, kini terjadi dan membuat keduanya dirundung keterkejutan, kala tangan mereka meraih centong nasi di waktu bersamaan.


Mengindikasikan jika keduanya sama-sama kelaparan.


" Kau duluan!"


" Tidak, Pak Deo duluan saja. Aku akan mengambil air hangat dulu!" Ucap Arimbi yang mendadak kikuk dengan wajah memerah.


Deo menatap punggung Arimbi yang mulai menjauh menuju ke arah dispenser air di sebelah lemari es itu.


Dan saat Arimbi kembali.


" Ini, aku ambilkan untukmu. Jangan makan nasi saat panas. Tunggu dia dingin biar kasar gulanya lebih rendah!"


Arimbi terbengong-bengong demi melihat nasi yang telah terhidang di hadapannya. Ya, Deo telah mengambilkan seporsi nasi untuk Arimbi.


" Si Deodoran kesambet apaan sih? Jadi ramah gini!" Batinnya tiada menduga.


" Kenapa air hangat?" Tanya Deo dengan wajah masih datar. Mencomot ayam dan kini terlihat membasuh tangannya ke tempat yang sudah di sediakan oleh Arimbi.


" Habis makan pedes kudu minum air anget biar cepet reda!"


Deo mengangguk paham. Pria itu terlihat mencubit ayam goreng gurih nan garing menggoda itu, lalu menyusun suapan. Ya, Deo malam itu makan menggunakan tangan. Kebiasaan yang mensugesti seolah rasa makanan akan bertambah lezat karenanya.


Laki-laki itu seketika terdiam saat ia baru selesai memasukkan makanan kedalam mulutnya.


" Ini enak sekali. Kenapa bisa mirip masakan mama rasanya?" Batin Deo dengan hati sumringah.


" Kenapa Pak?" Tanya Arimbi yang ketar-ketir demi melihat wajah Deo yang tak terbaca. Apa masakannya tidak enak?


" Enggak apa-apa. Rasanya biasa aja. Kamu harus sering-sering masak biar cepat bisa. Besok kamu kan enggak masuk, nah gunakan kesempatan itu buat belajar masak!"


Arimbi terbengong-bengong demi melihat Deo yang berbicara seperti itu. Really?


" Biasa aja, tapi nambah dua kali!" Batin Arimbi demi melihat Deo yang kini mulai meraih centong nasi keduanya.


.


.


Arimbi tengah sibuk mencuci piring manakala bel rumah Deo terdengar berdentang malam itu. Pria tadi tak jua menunjukkan batang hidungnya lagi usai melahap sisa ayam goreng buatannya hingga tandas.


TING TONG!


Arimbi mendecah dengan hati yang dongkol, kala Deo tak juga mau membukakan pintu itu, saat dia masih berkutat dengan bisa sabun dan spons.


" Benar-benar si Deodoran nih! Dia enggak lihat apa kalau aku lagi repot begini?" Gerutu Arimbi demi dentang bel yang kian mengganggu itu.


Ia mengelap tangannya yang masih perih dengan sedikit terburu-buru sebab dentangan itu kian membabi-buta.


" Sebentar!" Ucapnya dari kejauhan.


CEKLEK!


Mata Arimbi membulat sempurna demi melihat sosok wanita berpakaian sexy yang malam itu mendatangi kediaman Deo.


" Emmm, maaf an..."


" Deo!" Roro ngeloyor dan membuat Arimbi terhempas kala tubuh berdada terbuka itu menabraknya.


Membuat Arimbi kesal atas sikap sok dari kekasih Deodoran itu.


" Mana Deo? Panggilin dong!" Ucap Roro sambil menggulir ponselnya dan memerintah Arimbi laksana pembantunya.


" Untuk apa cari suami saya?" Ucap Arimbi ketus.


Roro seketika menoleh lalu menatap Arimbi dengan wajah terheran-heran.


" Suami?" Tanya Roro dengan nada mencibir dan setengah tertawa mengejek.


" Suami apa?Jangan ngimpi!" Imbuh Roro penuh penekanan.


Arimbi melipat kedua tangannya yang masih perih di sana-sini itu. Menatap tajam Roro yang bermulut kurang ajar tanpa rasa takut.


" Saya tidak bermimpi. Justru anda yang bermimpi. Sadar woy!"


" Kurang aja..."


" Ada apa Ro?" Ucap Deo tiba-tiba yang sukses membuat Roro menarik kembali tangannya yang sudah melayang ke udara.


" Sayang!" Ucap Roro langsung berlari ke arah Deo yang berdiri dari dari arah belakang. Mengabaikan Arimbi yang wajahnya sudah terlihat emosi.


Arimbi mengernyitkan keningnya. Wanita itu tidak tahu malu sekali pikirnya. Ia menatap Deo dengan wajah kesal. Teringat akan ucapan Ibu Jessika soal Roro yang disinyalir, memiliki tujuan tak baik.


" Baru aja gue kagum sama elu Pak. Eh, begini lagi dia!"


" Kamu dari tadi enggak jawab teleponku kenapa sih sayang? Aku kangen tahu!" Ucap Roro manja yang membuat Arimbi seketika melakukan gerakan ingin muntah.


Arimbi lagi-lagi dibuat tak percaya akan apa yang ia lihat. Semacam, tak rela. Tunggu dulu, apa dia mulai tidak waras? Kenapa mendadak Arimbi merasa kesal melihat hal itu.


" Ar, masuk! Aku mau ngobrol dulu sebentar sama Roro."


Entah mengapa, mata dan hidung Arimbi seketika memanas demi mendengar Deo yang malah memintanya untuk masuk. Membuat Roro tersenyum penuh kemenangan ke arah Arimbi yang kini enyah dari hadapan dua manusia itu.


Arimbi berjalan dengan hati yang bercampur- campur. Ia juga heran, mengapa dirinya menjadi kesal melihat hal itu. Bukankah pernikahannya hanya sebuah ketidaksengajaan? Dan dia bertahan karena sebuah perjanjian sebab Jessika telah membantunya melunasi hutang?


Namun, ada hal yang diluar kendalinya, yang kini menyusupi sanubari terdalamnya.


Arimbi jealous?


.


.


Deo


" Sudah aku bilang. Kamu jangan datang kemari!" Deo kini menatap resah ke arah kekasihnya yang mengikis kesabarannya.


" Aku kangen sama kamu. Kamu pingin aku berubah, giliran aku udan mrioritasin kamu, kamunya malah begini! Jangan bilang kalau kamu udah tertarik sama gadis ndeso itu!"


Deo mendecak penuh keresahan demi kesemrawutan yang kini tercipta dalam hidupnya.


Deo menatap wajah kekasihnya yang terlihat naik pitam itu lekat-lekat. Bertanya dalam hati, apa semua perasaan yang perlahan menggelayut soal Arimbi itu bisa di katakan sebagai rasa suka? Ah entahlah, mana mungkin. Deo dan Roro sudah berjalan jauh selama ini, dan untuk Arimbi bukankah ia sudah berkomitmen untuk membuat wanita itu tidak tahan?


" Kita bicara besok. Sekarang aku mohon sama kamu untuk pulang. Kalau kamu kesini, sama artinya kita bunuh diri. kalau sampai mama tahu, abis kita!"


Membuat Roro memanyunkan bibirnya.


" Oke, tapi janji besok kamu temui aku di apartment ya!" Roro mencium bibir Deo penuh gairah sesaat sebelum meninggalkan tempat itu.


Dan tanpa mereka sadari, Arimbi yang melihat hal itu tanpa sepengetahuan mereka, entah mengapa menitikkan air matanya. Batin wanita itu merasa sakit walau tidak ada yang terjadi diantara mereka.


" Kenapa aku jadi sedih begini lihat mereka?"Batin Arimbi yang sejurus kemudian terlihat masuk ke dalam kamar.


Entahlah, Arimbi juga tak tahu pasti perasaan apa yang saat ini mengganggunya itu. Yang jelas, semua ini diluar kuasa maupun kendalinya.


" Sudah, cepat pulang. Aku lagi banyak kasus Ro. Tolong kamu ngertiin aku!" Ucap Deo dengan wajah lelah.


Roro mengangguk, " Ya sudah. Aku pergi. Ingat, Guard your heart for me!" Ucap Roro yang kembali mulumaat bibir pejantan yang kini pasif terhadapnya itu.


Deo menutup pintu lalu menguncinya sesaat setelah menghela nafasnya. Merasa bingung dengan dirinya sendiri saat ini.


Jika kemarin-kemarin ia begitu senang dengan perlakuan sensasional Roro, entah mengapa saat ini ia mendadak merasakan hambar.


Di tatapnya pintu yang tertutup dari lantai dasar itu. Sejurus kemudian Deo terlihat berjalan menapaki anak tangga dan berniat mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.


Namun.


GLAK GLEK!


Deo mendelik demi pintu yang tak dapat ia buka, meski tangannya menarik dengan kuat. Oh sial!


" Ar! Arimbi!" Ia mengetuk pintu itu dengan wajah risau.


" Ar, buka pintunya!" Ucapnya lagi dengan keresahan yang kian menggelayut.


Ia menelan ludahnya demi melihat kebisuan yang menjawabnya. Dan sialnya, ia tak memiliki kunci cadangan. Oh sial, jelas Arimbi telah menguncinya dari dalam.


" Sialan, apa dia marah dan menghukumu seperti ini? CK!" Mendecak kesal dan bingung dalam waktu bersamaan.


.


.


.


.


.


.


🤣🤣😝😝 Kapokmu kapan deodoran! Kekancingan Lawang koe🤣🤣🤣