My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 124. Menuju hari bahagia part 1



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Deo


Ia menatap takjub penampilan istrinya yang kini telah keluar ruangan, dengan sebuah gaun berwarna putih yang melekat di tubuhnya yang ramping.


Tonjolan buah di dada yang naik keatas sebab menggunakan korset itu, semakin membuat Arimbi laksana putri dalam negeri dongeng.


Oh God, she's very beautiful!


" Gimana?" Tanya Arimbi sumringah dengan gerakan sedikit memutar tubuhnya, demi menunjukkan detail itu kepada suaminya.


" Good! Cantik! Aku makin nggak sabar!" Jawab Deo puas. Menatap istrinya penuh cinta. Membuat Arimbi tersipu.


Deo benar-benar terpesona akan hasil rancangan desainer kenamaan di kota itu. Gaun dengan aksen yang tidak terlalu mencolok itu, semakin menambah kesan elegan si pemakai.


" Anda sangat cantik sekali nyonya. Semua jahitan juga sangat pas di tubuh anda!" Seru sang pemilik butik khusus bridal wear itu.


" Terimakasih Ce!" Sahut Arimbi tersenyum kepada Cece Cece yang nampak ramah itu.


"Punya anak-anak juga udah jadi. Apa sekalian kita bawakan?" Tawar Arimbi kepada Deo.


" Boleh, tapi biar mereka ambil ke kita!"


" Punya Claire gimana? Kita kirim atau..."


" Biarin aja dirumah Mama, toh lusa mereka bakal kesini lagi!"


Arimbi mengangguk menyetujui pendapat masuk akal suaminya itu.


Selepas dari mencoba pakaian yang akan mereka kenakan untuk ijab kabul, Deo membawa istrinya pulang. Ia tak ingin membuat istrinya lelah, sebab mereka berdua membutuh kondisi tubuh yang fit, jelang gelaran acara pernikahan.


.


.


Demas


Sudah hampir delapan pasang sepatu yang di coba oleh Eva pagi itu, namun hasilnya nihil. Tidak ada yang cocok.


Ya, Demas di sela waktu sibuknya menyempatkan diri untuk mengajak Eva membeli beberapa keperluan untuk acara penting kakaknya itu.


Sebenarnya bukan tidak cocok. Hanya saja Eva langsung mendelik demi melihat harga yang terbandrol disana. Jelas itu bukan kelasnya.


This so expensive!


Are you kidding me?


" Udah lah besok aja aku nyari sendiri, keburu buka counter check in nih aku!" Eva yang resah dan rewel itu bukan tanpa alasan. Selain hormonnya naik sebab dia sedang mendapat palang merah, ia benar-benar tidak setuju jika harus menggelontorkan dana besar hanya untuk tempat kaki seperti itu. No way, never ever!


" Apa tidak ada yang cocok. Lusa aku mau keluar kota, dan saat kembali acara kak Deo sudah akan terselenggara. Aku tidak akan bisa mengantarmu!" Tutur Demas muram. Merasa resah sebab belum bisa memberikan apa yang Eva butuhkan.


" Ya udah aku pakai punyaku yang dirumah aja lah!" Sahut Eva ogah repot. Wanita itu benar-benar tidak kompromi soal uang.


Bukannya pelit. Eva ingin lebih bijak saja.


" Eva ayolah!" Ucap Demas putus asa.


Eva menolak dan sengaja mempersulit hal itu sebab semua barang disana harganya benar-benar gila. Nyaris separuh dari gajinya.


" Enggak ada yang cocok Pak Demas. Udah deh, kita balik aja yuk!"


" Yang ini cocok dengan anda nona, warnanya juga serasi dengan konsep bridal wear yang anda sebutkan tadi!" Tutur salah satu karyawan di toko sepatu ternama itu.


" Nih orang pakai acara nunjukin itu heels lagi. Semua juga bagus. Sangat bagus malah. Tapi, gile aja harga segitu. Ogah lah. Uang segitu cuman buat kaki doang? Mending buat biaya hidup! " Batin Eva tak setuju. Benar-benar belum terbiasa dengan semua hal berkelas yang biasa Demas pakai.


Membuat Demas memiliki ide cemerlang.


" Ya udah mbak, bungkus aja semua sepatu, yang tadi sempat di coba sama calon istri saya. Semuanya bagus, mungkin dia bingung aja!"


What?


Calon istri?


.


.


" Kamu udah pulang? Kok aku enggak denger?"


" La kamu pakai ini!" Ucap Deo seraya mencabut headset yang tersumpal di telinga Arimbi. Membuat wanita itu tergelak.


Ya, usai dari melakukan fitting baju tadi, mereka kembali kerumah Bu Ning untuk pamit sebab Deo harus kembali bekerja dan menyelesaikan beberapa tugasnya sebelumnya ia akan melangsungkan pernikahan.


Singkat cerita, perusahaan Deo kini lekas bangkit. Perlahan mulai menutupi kekurangan-kekurangan yang berpotensi menimbulkan celah musuh untuk merusak.


" Besok aku berangkat pagi. Mau nemuin anak-anak baru itu. Semua harus di tatar biar kejadian yang sudah-sudah tidak terulang!" Ucap Deo seraya menciumi istrinya yang beraroma vanilla.


Membuat wanita itu seketika merasa merinding. Deo nampak sedikit membuka kakinya demi menyamakan posisi dan tinggi istrinya.


Arimbi terlihat mematikan kompor, saat ayam bacem itu telah matang dan siap disajikan sebagai menu makan malam.


Wanita itu memang tidak pandai masak seperti Resita atau mbak Wiwit. Namun, demi suaminya Deo, ia lekas belajar ngulik resep-resep masakan rumahan, yang disukai oleh suaminya itu.


" Jangan terlalu galak. Buat karyawan itu segan sama kita, bukannya takut!" Ucap Arimbi sembari mengambil piring untuk tempat menyajikan masakannya, dalam rak di bawahnya.


" Kamu dulu takut?" Tanya Deo yang mengekor dan mengikuti arah gerak Arimbi.


" Enggak, sama sekali enggak. Masa Mas enggak ada ingat track record aku waktu masih jadi karyawan kamu. Bukannya mas dulu paling kesel sama aku?" Balas Arimbi menatap Deo dengan senyuman penuh misteri.


Membuat Deo tergelak.


Yes that's correct. They have always been enemies.


" Macam betina!" Tukas Deo dengan wajah mantap. Membuat Arimbi kini melipat kedua tangannya, dengan posisi berdiri dihadapan suaminya yang mendaratkan bokongnya keatas meja kitchen set itu.


" Over all, kamu itu smart, handsome, but...."


Deo menaikkan sebelah alisnya, demi menunggu kalimat lanjutan istrinya.


" But apa?" Tanya Deo tak sabar.


" Kamu...sangat menyebalkan, semaunya sendiri, dan suka..."


" Auwh!" Arimbi terkejut kala Deo tiba-tiba mencubit kecil perutnya. Membuat rentetan kalimat tersebut menguap percuma.


Hahahaha!


" Berani kamu ya!"


Deo mengejar Arimbi seraya mencoba menggelitik perutnya. Membuat mereka kini berkejaran bagai bocah cilik yang teramat bahagia.


Hingga.


BRUK


Arimbi tersandung dan seketika jatuh tepat di atas sofa ruang tengah rumahnya, dengan napas kembang kempis.


Dengan posisi yang masih seperti itu pula, arimbi memejamkan mata kala Deo terlihat memblokade pergerakannya.


Deo yang sama tersengalnya itu, nampak menatap lekat istrinya. Pria itu sejurus kemudian menundukkan kepalanya lalu melumaat bibirnya istrinya dengan lembut.


Kena kau!


Membuat Arimbi larut dalam tawaran kisah paling melenakan itu. Ia tahu, suaminya kini memang benar-benar telah berubah.


Bibir yang saling mendecak dengan posisi lidah yang masih berbelit itu, membuat keduanya saling tertuntut.


Semakin lama, keduanya semakin menikmati. Terus dan kian memanas.


Dan sejurus kemudian.


TOK TOK TOK


Gedoran pintu membabi-buta tersebut, berhasil membuat aksi panas keduanya seketika terhenti.


" Siapa mas?"


.


.


.