My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 65. Hakikat rasa cemburu



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Daniel


" Oke Pak, baik. Baik, tadi saya juga sudah info ke mereka. Baik Pak! Siap!"


Daniel yang menjadi narahubung kedua wanita itu dibuat super sibuk oleh perintah Deo untuk ini, untuk itu dan masih banyak lagi.


Malam ini mereka akan di jadwalkan makan malam, bersama orang Andara Air di resto yang berada di lantai dasar hotel dengan taburan bintang berjumlah empat itu.


Ia mematut dirinya ke cermin. Ganteng dan wangi. Yeah! Membuat pria keturunan asli Jawa itu benar-benar percaya diri dengan tampilan demi formalnya.


Acara makan di restoran, jelas harus disesuaikan dengan outfit yang relevan. Kata leluhurnya, Anjining Rogo Soko Busono. ( Berharganya raga/ badan seseorang, bisa dilihat dari pakaian yang kita kenakan).


Pria itu nampak keluar dari kamarnya, lalu menyeret langkahnya menyusuri koridor menuju kamar kedua wanita yang menjadi rekan dinasnya di kota itu. Sedikit terburu sebab Deo dan Demas rupanya sudah menunggu di bawah.


Membuat Daniel resah, dan takut kalau-kalau para ladies itu masih rempong berdandan.


Pucuk dicinta ulam tiba, agaknya kekhawatirannya tiada terbuka. Daniel tersenyum lega kala menatap kedua wanita itu kompak keluar, bahkan sebelum ia menelpon keduanya. Luar biasa! Daebak!


" Bisa samaan gitu?" Tanya Daniel menatap Eva sumringah.


" Magnet cowok ganteng itu kagak usah di ragukan lagi. Itu yang bikin kita keluar bareng, asekkk!!" Eva tergelak usai mengatakan hal itu kepada Daniel dengan bar-barnya.


Membuat Daniel seketika malu-malu kala menatap Arimbi yang benar-benar cantik dengan dress bernuansa tenun khas kota B, yang menggabungkan unsur formal dan casual. Rambutnya yang pendek, ia catok sedikit bervolume, dengan lipstik warna merah bata yang memukau.


" Ar, elu cantik banget. Buset, belum pernah aku lihat kamu dandan on begini!" Ucap Eva memindai tampilan Arimbi yang memang sedikit berani saat ini. Terlihat berbeda.


" Biar gak rugi bos milih kita buat jadi wakil GH. Andara Air biar tahu kalau SDM Darmawan Angkasa itu layak di pakai!" Sahut Arimbi terkekeh. Membuat Daniel mengangguk menyetujui.


Eva tergelak. Benar juga si Arimbi.


" Kamu aja udah kayak ibu-ibu pejabat. Giwangmu coba lihat, widiihh ngeri aku Va!" Balas Arimbi demi melihat Eva yang yang mengenakan celana putih formal dengan blezer putih yang menutupi kemben hitam, rambut yang di kuncir satu dengan diberi sentuhan curly di ujungnya, membuat wanita itu terlihat berkelas.


"Udah, kalian semua cantik kok. Aman!" Puji Daniel apa adanya.


" Apa lagi kalau kamu senyum begitu Ar!"


" Yuk cuss!"


.


.


Rupanya Deo menunggu mereka di lobi bawah. Entah bersemayam di kamar nomer berapa dua sultan ganteng itu. Yang jelas, dua manusia itu terlihat benar-benar good looking sekali dengan jas yang mereka kenakan sesuai style masing-masing.


Demas yang nampak sibuk menelpon seseorang sampai tak melihat kedatangan Daniel bersama rombongan.


" Selamat malam Pak!" Sapa Daniel mewakili.


DEG


Deo yang juga baru selesai memutuskan sambungan teleponnya itu, kini nampak terpana dengan tampilan istri terselubungnya yang benar-benar tak biasa. Oh Shiit!


" Oke oke, setelah ini saja. Beres!! Yok!" Demas yang sedetik kemudian juga baru menyelesaikan percakapannya itu, nampak kaget dengan kedatangan dua wanita, yang salah satunya tadi siang sempat berseteru dengannya itu.


Membuat Daniel krik krik krik, demi melihat dua pria yang kompak mematung dalam waktu bersamaan itu.


" Ehem!" Eva berdehem sebab merasa rikuh kala di tatap seperti itu oleh Demas. Sontak membikin semuanya tersentak dari lamunannya.


" S- sudah ya? Kita kesana sekarang. Novi sama Andre udah duluan tadi!" Ucap Deo yang kini gagap dalam menyusun kata-kata, demi merasakan jantung bodoh yang mendadak tak beres.


" Ayo kak, buruan kita kesana! Kangen sama mbak Novi aku!! " Arimbi dengan genitnya menggamit lengan Daniel seraya ngeloyor sembari melirik Deo yang nampak melongo.


Daniel mendadak tegang sementara Deo nampak kesal.


Sengaja ingin menunjukkan jika dia juga bisa melakukan hal yang sama, seperti yang Deo lakukan tadi siang.


" Ehh tungguin!" Eva yang mengenakan heels tinggi itu nampak mengejar Daniel yang mulai di seret oleh Arimbi. Sengaja melewati Demas yang mematung, sambil sengaja menabrakkan pundak kekar pria itu, melakukannya sebagai simbol nyata perseteruan soal ponsel yang telah rusak tanpa sebuah pertanggungjawaban.


Membuat Demas menghela napas demi merasai sikap wanita yang cukup berani itu.


.


.


Rupanya senior mereka yang merupakan rekan satu letting Daniel, yakni Novi dan Andre telah berada di sana bersama seroang laki-laki yang diketahui sebagai manager tiketing Andara Air.


Nampak meja-meja bulat yang di susun sedemikan rupa itu, terlihat memanjakan mata. Membuat Arimbi dan Eva saling menatap senang.



( credit foto from Facebook)


Kedua punggawa Darmawan Angkasa itu melambaikan tangannya manakala melihat Daniel yang berjalan beriringan dengan Deo dan Demas.


Mereka saling berjabat tangan satu dengan yang lain tatkala tiba di meja yang telah tersedia. Terasa begitu akrab dalam balutan suasana semi formal yang menonjol.


" Pak Dewa sedang on the way kemari. Silahkan duduk dulu!" Sapa Ryan, sang manager tiketing Andara air.


Mereka mengisi jadwal menunggu mereka dengan obrolan ringan, sesuai porsi masing-masing. Daniel lebih berpusat kepada Andre, selalu wakil tim operation yang lebih dulu terbang ke kota itu.


Novi yang sibuk berbalas pesan, serta Eva dan Arimbi yang masih menjadi juara satu dalam kegiatan bergunjing itu, tak hentinya mendapat sorotan dari Deo yang sesekali curi-curi pandang.


Deo tak jemu memusatkan perhatian serta pandangannya ke arah Arimbi yang nampak cuek terhadapnya, manakala beberapa saat kemudian mereka terlihat asik berfoto-foto bersama Novi dan juga Eva.


" Yang ini .." Ryan mencoba membangun komunikasi lain bersama para petinggi itu, saat para anak buah itu terlihat asik dengan dunia mereka sendiri.


" Ini adik saya, Demas. Kebetulan dia ada kegiatan kunjungan juga di kota ini!"


" Ah, pantas wajahnya agak mirip. Saya sampai kaget loh pak begitu di beritahu pak Dewa jika Direktur DA ini masih single!" Ucap Ryan santai.


Membuat Arimbi seketika menatap tajam Deo. Pun dengan pria itu, nampak keduanya saling melempar tatapan kesal satu sama lain.


" Ingat Ar, kau ini tak lebih dari agunan sebuah pelunas hutang!" Sugesti negatif terus muncul dari dalam hati Arimbi yang mendadak kecewa.


" Itu Pak Dewa!" Tunjuk Ryan kearah pria tinggi yang umurnya berkisar limapuluh tahunan. Datang bersama dua orang perempuan cantik berbeda usia, dan juga satu orang pria lain yang terlihat memiliki mimik wajah seperti Demas. Kaku dan dingin.


" Selamat datang Pak Deo. Maaf kami terlambat!" Kesemua yang ada di sana seketika berdiri manakala General Manager dari Andara Air cabang Tenggarang itu tiba.


Saling berjabat tangan dengan pembesar Darmawan Angkasa Ground Handling.


" Santai saja Pak, kami juga baru tiba. Ryan justru yang datang lebih dulu. Hawa- hawa ontime ini kalau kerja!" Mereka semua tergelak penuh keakraban saat saling melempar sapaan. Membuat Eva dan Arimbi berbisik.


" Padahal enggak lucu. Tapi kalau kita enggak ikut ketawa, kita yang kelihatan aneh. Humornya orang atas enggak banget Ar!" Bisik Eva yang mendapat tatapan tajam dari Demas.


Membuat wanita itu merasa merinding.


" Ar!" Bisik Eva kembali.


" Hem!"


" Kamu masih penasaran yang bikin ponsel ku kayak peta begini?"


" Siapa emangnya ?" Arimbi menatap ke arah Eva kali ini.


" Arah jam dua siang, orang pakai jas hitam yang wajahnya pingin gue tonjok. Dekat sama Pak Deo!"


" Hah?"


Membuat semua orang yang baru saja mendaratkan bokong mereka keatas kursi itu, mengalihkan perhatiannya kepada Arimbi manakala dengan kerasnya ia berteriak 'Hah!'


Oh no!


.


.


.