My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 166. Dua garis merah



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Kota S


***


Claire


Ia memang tidak baik-baik saja semenjak kejadian lebih dari sebulan lalu itu. Hati dan perasaannya begitu terluka. Merasa bodoh manakala mengingat apa yang tejadi antara dirinya bersama pria yang mencelakai saudaranya itu.


Apalagi, ia yang merasa begitu nyaman dengan Sadawira, merasa di permainkan kala ia mengetahui bila pelaku yang melukai serta membuat cacat Demas adalah Sadawira.


Ia meyakini, jika ia hanya dijadikan alat oleh Sada. Sengaja menyakiti dirinya karena ia juga merupakan bagian dari keluarga Darmawan.


Seminggu terakhir menjadi waktu yang paling parah. Mungkin ia sakit karena selalu telat makan dan menutup diri karena stres. Bagaimana tidak stres, ia bahkan telah menyerahkan mahkota paling berharga miliknya kepada pria jahat itu.


Ponselnya ia banting hingga mati dan tak lagi ia urus manakala Sadawira masih berani menghubunginya. Kini, ia sangat membenci laki-laki itu.


Dan hari ini, ia yang begitu mual terlihat melawan rasa pusing dan menuju toilet. Hendak mengeluarkan gejolak dalam perutnya yang semakin menyiksa.


" Huek!"


" Huek!"


Terasa sangat pahit, sebab yang keluar adalah cairan kuning. Dua matanya bahkan seketika mengeluarkan cairan bening saking sakitnya.


Claire menangis.


" Huek!"


" Huek!"


Belum juga usai mual yang menyiksanya, pintu dari luar seketika terjeblak dengan kerasnya.


Ya, Claire sengaja membatasi interaksi karena ia ingin berdamai dengan dirinya.


BRAK!


" Huek!"


" Huek!"


"Astaga Claire! Kamu kenapa nak?" Tanya mama Bella yang nampak panik kala melihat anak sulungnya bersimpuh lemas di lantai kamar mandinya.


Namun, ia benar-benar lemas tak memiliki daya untuk sekedar menjawab. Tubuhnya terasa remuk.


" Astaga, badannya panas sekali, mas kita bawa Claire kerumah sakit!"


Leo seketika mengangguk, dan dengan gerakan cepat ia langsung mengangkat tubuh anaknya lalu membawanya dengan sedikit berlari menuju mobil.


Mama Bella nampak mengikuti dari belakang dengan wajah begitu cemas. Sementara itu, Melody yang hendak mengikuti keluarganya, terkejut kala kakinya menginjak sesuatu.


" Apa ini?" Melody mendelik kala melihat ponsel Claire yang tergeletak di bawah dengan layar yang sedikit retak. Gadis tomboy itu, nampak mengambil ponsel itu dan terlihat memikir rencana.


.


.


Dirumah sakit


Ia tahu jika anaknya saat ini tidak baik-baik saja. Ia meminta temannya untuk segera memasang infus sebab Claire tak henti mual dan muntah di dalam mobil.


Bella nampak melakukan pemeriksaan terhadap anaknya. Tensinya tinggi. Namun, saat ia memeriksa denyut nadi anaknya, mendadak timbul perasaan aneh.


Entahlah, Bella juga tidak tahu itu.


DEG


Wajah pucat anaknya benar-benar tak seperti biasanya manakala Claire sakit. Membuatnya seketika memutuskan untuk keluar.


" Bagaimana?" Tanya Leo sesaat setelah Bella keluar.


" Apa kak David pernah mengatakan sesuatu tentang laki-laki yang mencelakai Demas?"


Leo kini menatap istrinya dengan tatapan bingung.


.


.


Kota B


***


Deo


" Kenapa buru-buru sekali?" Tanya Arimbi kepada suaminya yang buru-buru mengenakan jaket . Mencium bibir istrinya sekilas sebelum ia pergi.


" Aku cuma sebentar. Tante Bella memintaku untuk menemui Rajandra!"


" Apa? Sekarang? Malam-malam begini?" Cecar Arimbi mencemaskan suami kala menyebutkan nama Sadawira. Pria yang ia ketahui sebagai dalang dari kecelakaan Demas namun tak di hukum sebab Demas meminta Deo untuk tak membawa kasus itu ke ranah hukum.


Lagipula, mereka tahu jika Sadawira bukanlah orang jahat. Ia hanya dibutakan oleh dendam yang salah.


Deo mengangguk, " Mereka cuma ingin tau, ada hubungan apa sebenarnya antara Claire dan Sadawira. Tadinya aku kira Claire menampar anak itu karena kekesalan spontan kepada Raja. Tau sendiri kalau Claire sangat menyayangi aku dan Demas. Tapi, Tante Bella baru cerita kalau Claire mengurung diri terus menerus disana!"


Kini, Deo dan Arimbi saling termenung demi merasai serentetan kejadian yang menurut mereka aneh.


.


.


Sadawira


Boni mengetuk pintu kamarnya kala ia tengah berkutat pada pekerjaannya. Walau hatinya tak baik-baik saja, tapi ada banyak karyawan yang menggantungkan hidup di perusahaannya.


" Masuk Bon!"


CEKLEK!


" Maaf bos, Deo dari keluarga Darmawan ada di bawah!"


Membuat Sadawira seketika menghentikan kegiatannya lalu menatap Boni.


" Deo? Ada apa dia kemari?" Batin Sada tertegun.


Di lantai dasar.


" Kau pasti sudah tahu tujuanku kemari bukan?" Tanya Deo yang malam itu ditemani oleh Erik, menatap pria menyedihkan yang nampak datar.


" Apa memangnya tujuanmu?" Jawab Sadawira dengan tatapan lelah.


Sepertinya, laki-laki itu terlihat lebih kurus. Dan dari penglihatan Deo, Sadawira nampak tidak baik-baik saja.


" Ada hubungan apa sebenarnya kau dan adikku Claire?"


Kini, tatapan Sadawira berubah menjadi lebih fokus kala menatap Deo yang begitu mengintimidasi.


" Apa yang mau kalian tahu?"


" Semuanya!"


Hening, mereka kini saling melempar tatapan menuntut.


Sadawira menarik seulas senyum penuh kehampaan. " Apa kau tidak bisa mendapatkan informasi dari adikmu, sehingga kau harus repot-repot kemari?" Tanya Sada dengan senyum sumbang.


" Kau!"


" Pak!" Erik mencoba menahan emosi Deo. Membuat Sadawira kembali tersenyum sumbang.


Erik paham, pasti ada sesuatu yang terjadi. Jika tidak, mustahil pria segagah Sadawira nampak tak terurus seperti ini.


" Claire sakit dan sudah hampir dua bulan ini mengurung diri. Kami hanya ingin tahu, ada hubungannya apa sebenarnya dengan kalian berdua. Jika kau masih memiliki hati nurani, kumohon katakan!"


Ucap Erik kali ini dengan tatapan serius. Membuat Sadawira yang tengah menuang minuman itu, seketika meletakkan kembali botol berwarna hitam itu.


"Apa kalian benar-benar ingin mendengarnya?"


.


.


Claire


Ia membuka mata dan agak kaget kala mendapati selang yang tertancap di punggung tangannya. Demam yang tinggi membuatnya berhalusinasi. Ia mengira itu hanya mimpi, tidak taunya ia benar-benar ada di rumah sakit.


CEKLEK!


" Kau sudah bangun nak?" Tanya Bella yang malam itu membawa nampan berikan makanan untuk anaknya.


Nasi hangat, sop daging serta beberapa buah. Ia tahu jika anaknya belum makan apapun di jam semalam itu.


Namun, entah mengapa, saat aroma masakan daging lezat yang dibawa Mama Bella masuk ke rongga hidungnya, ia spontan mual.


" Huek!"


" Mama, jangan dekatkan itu. Baunya bikin aku..."


" Huek!"


DEG


Membuat Bella seketika tercengang.


.


.


Melody


Ia bernapas lega saat Mamanya menelpon dirinya dan mengatakan bila Claire sudah dalam perawatan. Walau dalam kesehariannya, Melody dan Claire jarang bersama. Namun keluarga tetaplah keluarga, dan darah selalu lebih kental dari pada air.


Ia juga merasa kasihan manakala melihat Claire yang hancur. Ia menduga jika Claire syok karena melihat penyerbuan Sadawira yang menculik Demas beserta keluarganya.


Namun, semua prasangkanya itu terpatahkan kala ia membaca semua history chat yang ada di dalam SIM card kakaknya, saat ia berhasil membuka ponsel yang kini sebagian layarnya rusak itu.


Bahkan, puluhan pesan yang baru masuk kala ia baru menyalakan ponsel canggih itu, makin menguatkan dugaan jika laki-laki yang kerap mengajak Claire keluar saat di kota B adalah sadawira.


" Sial, kenapa begini ceritanya?"


Membuat Claire buru-buru memesan tiket untuk terbang ke kota B esok pagi. Ia tak bisa melihat keluarganya di hancurkan seperti ini.


Ia harus memberi pelajaran kepada Sadawira. Begitu pikir Melody.


.


.


Leo


Ia merasa, karma saat ini tengah singgah kepada keluarganya, utamanya dirinya.


Apalagi, Bella yang menangis di ruangannya semakin membuat hati Leo sakit. Sebuah petaka besar tengah hadir dalam keluarganya.


Ya, Bella yang langsung curiga seketika mengambil urin Claire. Meminta Claire untuk buang air kecil di wadah yang ia sediakan dengan dalih agar Claire tidak perlu ke kamar mandi karena anaknya mengeluhkan pusing yang luar biasa.


Wanita itu, dengan tangan yang gemetar mencelupkan strip tipis berwarna merah jambu itu ke urine anaknya dengan hati berdebar.


Dan benar saja, usai tiga puluh detik, strip yang semula putih itu, kini menampilkan dua garis merah yang membuat Bella bagai di sambar oleh petir meski tak ada mendung apalagi hujan.


Kini, Leo benar-benar merasa ada kotoran di wajahnya. Kotoran yang begitu mengancam nama baik keluarganya.


" Mereka sering berkencan selama di kota B. Menurut pengakuan Sada, ia tak tahu jika Claire adalah adikku. Tapi aku juga tidak percaya akan hal itu Tante!"


Apalagi, ucapan Deo beberapa menit yang lalu, semakin membuat mereka hancur demi mencurigai jika ayah dari janin yang berada dalam rahim Claire itu adalah Sadawira.


" Anak kurang ajar!" Maki Leo geram terhadap anak sulungnya. Nampak kecewa dengan Claire yang tak ia duga akan berperilaku memalukan.


" Apa yang kau lakukan mas?" Tanya Bella keras kala melihat Leo yang marah hendak membuka pintu.


" Apa kata orang-orang nanti Bel, aku...."


" Claire anak aku mas. Apapun yang terjadi aku sebagai ibunya akan tetap ada di belakangnya. Kau jangan lupa, apa yang kita tuai hari ini, adalah hasil dari perbuatan kita dulu!"


DUAR!


Kalimat penekanan dari bibir Bella itu seketika membuat Leo terduduk lemas. Ia seketika terlempar pada jurang kehampaan demi secuil ingatan kala ia masih muda dulu.


Kini, kedua orang tua Claire itu benar-benar merasa kepalanya mau pecah. Adalah benar, apa yang kita tabur, itulah yang kita tuai.


.


.


.