
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
" Waktu kan berlalu. Tapi tidak cintaku. Dia mau menunggu. Untukmu...untukmu...
Aku milikmu malam ini, kan memelukmu sampai pagi...."
( Diambil dari lirik lagu Pongky Barata ~ Aku Milikmu)
.
.
Wiwit
Ia hendak kembali untuk mengambil sesuatu di meja. Namun, langkahnya terhenti kala mendengar percakapan dua pria, yang di sinyalir membicarakannya hal yang membuatnya sangat penasaran itu.
"Dia sedang kerumah sakit sekarang!" Ucap Demas yang tiada mengetahui jika ia berada di belakang punggung dua pria perkasa itu.
Dan ucapan bernada datar itu, sukses membuat Wiwit memfokuskan perhatiannya terhadap Deo dan juga Demas.
" Maaf Mas, apa yang kalian bicarakan itu adalah joni? Joni itu keluarga anda? Tadi...saya ketemu mas Erik dan dia bilang kalau Joni..." Ucapnya tanpa menunda lagi. Membuat di depannya itu terkejut.
Astaga, sejak kapan dia ada disini?
" Joni..." Jawab Deo kebingungan. Mana mungkin di membicarakan hal absdurd itu kepada kakak sepupunya.
" Joni adiknya dia. Mereka enggak apa apa kok, ada Erik sama Melodi yang ikut!" Sahut Demas demi melihat Deo yang mendadak tidak lancar berbicara.
" Oalah adiknya Dian. Pantesan saya tidak tahu!" Jawab Wiwit polos. Membuat Deo meringis dengan sejumput rasa bersalah.
.
.
Deo
Pesta selalu saja menyisakan rasa lelah juga senang.
Berdiri seraya tekun menyambut ucapan selamat dari semua pihak rupanya mendatangkan kepenatan tersendiri.
" Sebaiknya kamu mandi dulu, setelah ini baru kita turun buat makan!" Ucap Deo seraya menciumi pundak Arimbi yang tengah berusaha melepas giwang serta pernak pernik yang lain.
" Dian gimana? Kenapa nggak ngabarin aku tadi?" Tanya Arimbi sambil melucuti segala instrumen dari MUA yang melekat di tubuhnya.
Deo terkekeh, " Ngapain. Biarin aja. Itukan salah si Erik, main tarik si Joni. Lecet lah!" Jawab Deo ogah pusing.
Arimbi hanya menggelengkan kepalanya demi melihat Deo yang malah sibuk membuka jas yang ia kenakan lalu melemparkannya ke sembarang arah. Benar-benar bos tidak berperikemanusiaan.
" Aku udah bilang Erik untuk urus. Amanlah!"
Arimbi mengangguk setuju. Lagipula, insiden konyol itu belum diketahui banyak orang.
" Aku mau mandi dulu!" Tukas Arimbi yang merasa gerah.
" Tinggu!" Sergah Deo.
" Ada apa?"
.
.
Arimbi
Shower yang mengalirkan kucuran air hangat itu membuat kulit bersihnya yang kini terekspos , terasa nyaman.
Di bawah guyuran itu pula, dalam posisi saling menghadap dengan tubuh polos, Arimbi memejamkan matanya kala bibir Deo piknik dari mulut hingga lehernya.
Menciptakan gelenyar serta desiran yang membuat logikanya lumpuh. Memaksa, serta menuntut dirinya untuk menjamu rasa yang sama.
Tangan berotot yang kini mengetat sebab mengangkat tubuh istrinya itu, nampak meremas bokong yang selalu menarik untuk di sentuh itu.
Membuat Arimbi mendesaah dengan suara parau.
Tangannya terus bergerilya dan terus merayap demi menyusuri tiap jengkal keindahan tubuh Arimbi.
Mengundang, menciptakan, serta menghadirkan rasa yang begitu bergelora. Menarik serta menenggelamkan keduanya dalam arus paling memabukkan yang pernah ada.
Dalam posisi bibir yang saling mengecap mesra, lidah yang saling berbelit itu kian mendorong sulutan hasraat itu semakin membara.
Hingga, bagian penting yang nampak siap itu, Deo posisikan kearah tempat, yang menjadi surga dunianya itu. Perlahan namun pasti, laki-laki perkasa itu nampak menghentak tubuh istrinya dengan dorongan yang begitu kuat.
Membuat wanita itu seketika terhenyak sebab dorongan yang begitu berstamina itu, benar-benar membuatnya melayang.
I will never let you go.
.
.
" Aku antar kau ke kamar!" Ucap Demas kepada Eva yang justru nampak terdengar seperti sebuah perintah, dari pada sebuah tawaran.
Ya, mereka baru selesai memastikan para tamu undangan jauh yang menginap di hotel itu telah masuk untuk beristirahat. Sebuah tugas penting yang telah di mandatkan oleh Deo terhadap mereka.
Mau bagiamana lagi, Erik tengah sibuk ngurus joni. Si makhluk aneh yang kerjaannya bikin repot semua orang.
" Ayo cepat!" Ucap Demas lagi demi melihat Eva yang malah mematung.
Sungguh pria otoriter!
Ya, Eva dan ibunya turut menginap di hotel itu sama seperti yang lainnya. Dan berencana akan pulang esok pagi seusai sarapan pagi bersama rombongan.
Eva mengangguk pasrah. Menjadi Bridesmaids rupanya lelah juga. Sedikit membuat dia mengerti, jika berada dalam lingkup orang kaya itu, pasti akan menambah pengalaman unik yang baru untuknya.
Tak tanggung-tanggung, Demas bahkan turut mengantar Eva menuju lift, hingga mengantarkannya kedalam kamar.
" Jangan sampai kau keluyuran. Tidurlah, kau sudah bekerja keras hari ini!" Ucap Demas menatap Eva penuh arti.
Lagi, Eva tak menjawab dan hanya mengangguk. Entahlah, dia memang sedang lelah.
TIT
Cardlock yang telah tertempel pada tempatnya itu membuat pintu berwarna coklat itu terbuka.
" Terimakasih, aku...masuk dulu!"
" Hmmmm!" Balas Demas dari posisi yang persis ada di depan pintu.
Namun, saat Eva hendak mengayunkan daun pintu itu, sebuah hal aneh terjadi.
GRAK!
Eva mendelik demi melihat pintu yang mendadak terganjal oleh sesuatu. What the hell?
" Pak?" Tanya Eva sedikit terkejut demi melihat kaki Demas yang sengaja di letakkan diantara gawang pintu itu.
Namun, bukannya menjawab, Demas tiba-tiba justru menerobos masuk kedalam kamar Eva itu. Dan kini, aksi impulsif pria datar itu membuat wanita bar-bar itu sangatketakutan.
" Pak anda mau ap..."
"Mmmmm!"
Ucapan Eva menguap bersamaan dengan bibir hangat nan harum, yang kini telah menempel cepat di depan bibirnya.
Oh God!
Eva yang bibirnya mendadak di lahap oleh Demas, seketika memukul dada bidang pria itu dengan kerasnya.
Benar-benar kesal lantaran Demas kerap melayangkan aksi nakal dalam gerakan yang tak terbaca.
" Astaga, apa yang akan dia lakukan?"
.
.
.
.
.