My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 58. Perubahan sikap



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Deo


Kota Tenggarang di bumi khatulistiwa yang sebenarnya akan di kunjungi oleh Erik dalam urusan pembukaan rute baru , kini berniat ia ambil alih.


Bukan tanpa alasan ia melakukan semua ini. Otaknya yang saat ini di pastikan tengah memerlukan refreshing itu, ia jadikan dalih pengukuhan niatnya. Deo benar-benar ingin memaksa dirinya untuk melupakan sakit hatinya atas perbuatan Roro.


Dan soal Arimbi, entah mengapa ia juga tak rela jika meninggalkan wanita yang telah ia renggut kegadisannya itu seorang diri dirumah.


Tunggu dulu, apa Deo kini sudah waras?


" Pak!" Sapa Daniel mengangguk hormat manakala laki-laki itu tiba.


" Hmmmm, duduk!" Jawab Deo dengan wajah dingin.


Daniel mendudukkan dirinya diatas sofa berdesain futuristik, yang menjadi penegas sebuah kenyamanan yang eksklusif tempat berkelas itu. Mencoba bersikap biasa walau entah mengapa aura ketegangan mendadak menyeruak.


" Minggu depan kamu ikut saya ke TGR ( Three letter code untuk kota tersebut). Erik udah kirim dua senior pasasi terlebih dahulu beberapa waktu lalu. Kita kesana waktu innagural sama lihat prospek selama tiga hari. Medannya sulit, dan SDM disana masih sangat awam. Saya minta kamu koordinir anak-anak disini, selama kamu tinggal!"


Daniel tertegun. Ia memang mendengar kabar jika Darmawan group akan melebarkan sayapnya ke luar kota. Namun, ia tak tahu jika dirinya akan di ajak. Sebab Erik pernah berkata jika dirinyalah yang akan bertolak menuju TGR, bukan Deo.


Deo sebenarnya menaruh rasa cemburu kepada pria yang lebih bisa Arimbi ramahi ketimbang dirinya itu. Namun, Daniel merupakan sosok yang cerdas dan begitu cakap di bidangnya. Membuat Deo tak bisa menjatuhkan pilihan lain, selian kepada pria manis itu.


...----------------...


Arimbi


Ia tengah sibuk mengganti seprei dengan rasa sakit yang masih bersarang di pangkal pahanya, manakala Deo telah datang di jam yang tergolong masih pagi itu.


Membuat dunia terasa berhenti berputar selama sepersekian detik.


" Biar aku!" Ucap Deo sembari menyambar benda yang membuat keduanya canggung itu.


Arimbi tercenung dengan lidah kelu manakala Deo meraih seprei penuh bercak itu, dengan wajah datar dan mimik tak terbaca. Membawa kain sialan itu menuju mesin cuci dan langsung menggilingnya.


Membuat Arimbi yang berusaha memetakan keadaan karena Deo, bahkan tak berani menatap pria itu.


" Ar!" Panggil Deo kepada Arimbi sekembalinya pria itu dari mesin cuci, dan membuat Arimbi yang baru saja selesai menyisir rambutnya itu tersentak.


DEG


DEG


DEG


Jantung yang awalnya hanya dag dig dug itu, kini kembali ia rasakan tremor dalam waktu cepat. Arimbi grogi demi mengingat rasa yang di berikan Deo semalam.


" Aku minta maaf karena semalam..."


Keduanya benar-benar diliputi kecanggungan. Deo yang menatap Arimbi bahkan tiada mampu meneruskan ucapannya karena bingung bagiamana mengawali.


Sementara Arimbi yang diajak berbicara, malah merasa sangat deg-degan dengan tatapan yang terus tertuju ke lantai. Oh ya ampun!


" Ar!"


Arimbi kembali mendongak setelah keduanya tertelan keheningan.


" Ya?"


" Aku minta maaf!"


Keduanya saling bertukar pandang. Sungguh, tanpa minta maaf pun, Deo sebenarnya sah-sah saja kala menggauli wanita di depannya itu semalam.


" Aku benar-benar minta maaf karena...mungkin, aku menyakitimu semalam! Sungguh aku tidak..."


Hangat napas segar harum tubuh Deo, bahkan membuat laju darah wanita itu meningkat lebih cepat. Membuat Arimbi gagal fokus.


Deo ganteng.


"Tolong kau jangan salah paham kalau aku semalam...!"


Deo ingin memaki dirinya sendiri demi merasakan jika susunan kata-kata bijak di otaknya itu, tak ada satupun yang mampu ia ucapkan dengan sempurna, sebagai bukti nyata permohonan maafnya.


Dasar payah!


Arimbi yang tentu saja malu manakala diajak membicarakan hal seperti itu, hanya bisa tertunduk malu. Walau ia kesal dan agak marah, namun ia agak kaget demi melihat sikap Deo yang 180 derajat, telah berubah.


" Bersiaplah. Aku mau ngajak kamu makan siang di rumah mama!!"


" Aku tunggu, kau sia...."


Namun, belum juga ia menyelesaikan kalimatnya itu, lagi-lagi assisten Deo yang sialan itu menginterupsi obrolan mereka.


Membuat Arimbi bisa sedikit bernafas lega demi kecanggungan yang tejadi.


" Ya Rik?"


Arimbi kini memilih menggeser langkahnya manakala Deo lekas menjawab telepon, lalu menyibukkan dirinya memasang seprei baru di samping Deo yang masih berdiri.


" Bos, ternyata benar. Bramasta sengaja mendekati Roro karena maksud lain perihal persaingan bisnis bos!"


" Sudah kuduga!" Gumam Deo datar.


" Saran saya, sebaiknya anda jangan mengekspos Arimbi dulu. Saya hanya takut, Bram akan melakukan hal yang sama. You know bos, Arimbi kan..."


" Aku tahu, untuk itulah aku berniat membawanya ke Tenggarang!" Sahut Deo datar sembari melirik Arimbi yang kini sibuk dengan memasang sarung bantal, dengan wajah yang terus meringis akibat ngilu di bagian bawahnya.


Arimbi yang tidak tahu menahu perkara apa yang tengah Deo bicarakan saat ini, hanya terlihat diam sembari berjalan dengan ekah- ekeh.


Membuat Deo menyipitkan matanya.


" Kenapa jalannya begitu?"


.


.


Jessika


Ia siang ini sengaja meminta Deo datang sebab ingin meluruskan kesalahpahaman yang sempat terjadi antara Deo dengan Demas. Namun, kedatangan Arimbi benar-benar membuat Jessika senang sekali siang itu.


" Ya ampun, mama kira kamu dari bandara langsung kesini De. Kenapa enggak bilang kalau Arimbi kamu ajak?" Tanya Jessika senang manakala menyongsong anak dan menantunya.


Arimbi terpana akan ukuran rumah besar itu. Rumah yang memiliki furniture klasik yang harganya jelas tak murah itu, sukses membuatnya berdecak kagum.


" Deo enggak kerja pagi ini!" Sahut Deo yang berdiri di belakang Arimbi.


Rumah tanpa lantai lain dengan ukuran yang luas itu benar-benar terasa nyaman dan bersih. Di atas meja perabot dengan ukuran khusus itu terdapat foto keluarga dalam ukuran besar.


Foto pria berambut putih yang duduk tersenyum dengan wajah teduh. Di sisi kanan pria itu, terlihat seorang pria tampan yang bersanding dengan wanita cantik bersama dua anak perempuan kecil.


" Siapa itu?"


Arimbi tidak tahu itu siapa. Dan yang di sebelah kanan pria itu, nampak David dan Jessika yang juga menggendong dia anak laki-laki.


" Bu Jessika memang cantik dari dulu!"


Fix, itu foto Deo dan Demas sewaktu kecil. Membuat Arimbi tergelak kecil.


" Kamu ngetawain Deo ya! Itu yang kecil. Yang besar ada di sana!" Tutur Jessika yang mengetahui jika Arimbi tengah memandangi foto keluarganya.


" Bu Jessika cantik!" Ucap Arimbi jujur.


" Iya dong. Anaknya aja keren begini!" Sahut Deo. Membuat Arimbi menyebikkan bibirnya.


" Ini kakeknya Deo, namanya Kakek Darmawan. Yang ini Om Leo, adik dari papa David. Ini anak-anak mereka. Bulan depan mungkin mau kesini!" Ucap Jessika sembari menunjuk ke arah pigura raksasa itu.


Arimbi tertegun. Keluarga mereka terlihat bahagia dan rukun sekali.


" Ah, Demas ayo kita makan! Kebenaran kamu udah keluar. Ini kakakmu sudah datang!"


Namun Demas yang di panggil tak menatap ke arah mamanya, ia justru terpaku kepada wanita yang menjadi kakak iparnya itu. Wanita yang sebenarnya telah ia sukai sejak awal perjumpaan.


Membuat Deo yang mengikuti arah pandang adiknya, seketika di serang oleh api kecemburuan.


" Ah sayang, kita duduk sini saja. Kau makan apa hm?" Ucap Deo sesaat setelah menarik sebuah kursi ukir dari kayu jati asli, dan sukses membuat Arimbi terkejut demi perlakuan tak biasa Deo.


Demi apapun yang ada di dunia ini, David dan Jessika sangat terkejut demi melihat sikap Deo yang begitu manis kepada Arimbi.


Apa aku melewatkan sesuatu?


.


.


.