
...πΏπΏπΏ...
...β’...
...β’...
...β’...
Melodi
Semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Kedua orangtuanya juga nampak kompak menyambut, menyapa serta menemui para tamu yang hadir di acara pernikahan sepupunya itu.
Opa nya apalagi. Pria tua itu nampak jelas tiada lelah menyunggingkan senyum terbaiknya, manakala menjabat tangan para tamu mereka satu persatu.
Sementara itu, beberapa Bridesmaids tengah membantu Arimbi untuk berganti gaun sebab acara resepsi akan segera dimulai.
Ia sangat berbeda dengan kakaknya Claire, yang nampak ramah. Kakaknya itu bahkan kini turut menyapa handai taulan yang lain. Berbagi tugas dengan para Bridesmaids yang lain, agar gelaran acara itu terselenggara dengan lancar.
Sementara dirinya? Jangan di tanya, ia bahkan sangat tidak memikirkan minat maupun niat untuk bergabung Entahlah, baginya hidup itu adalah soal dirinya.
Perut bawahnya nyeri sebab sedari tadi ia ingin buang air kecil. Merasa telah memiliki kesempatan untuk entah dari riuh rendah tamu, Melodi akhirnya menuju ke arah toilet yang harus keluar dari ballroom.
Namun, sebuah suara gaduh yang berasal dari toilet bergambar gender laki-laki itu, membuat langkahnya terjeda.
" Ada apa sih mas?" Tanya Melodi tanpa basa-basi kepada penjaga toilet yang mendadak tersentak itu.
" Nganu mbak, itu..."
" Tamu kita kan?" Tanya Melodi lagi dengan wajah semakin ingin tahu.
Pria itu mengangguk dengan wajah ragu, " Nganu..Pak Demas dan..." Ucap petugas itu lagi mencoba berdiplomasi dengan Melodi.
Mendengar nama Demas yang disebutkan, membuat dirinya seketika menerobos masuk sebab takut terjadi sesuatu terhadap kakak sepupunya itu.
" Eh mbak! Mbak!" Petugas yang merasa serba salah itu meneriaki Melodi yang nampak panik seraya berjalan mengejar.
Dan, sesampainya ia di toilet pria itu, ia agak kaget demi melihat seorang laki-laki dengan wajah dan penampilan nan kinclong, namun meringis dengan baju amburadul cenderung compang-camping.
Erik yang terlihat tertunduk di bawah kelelakian orang itu, nampak sibuk mencari celah mitigasi penyelamatan joni.
Daniel yang juga berjongkok itu nampak memegang kuat kaki Dian yang terus meronta-ronta akibat reaksi spontan.
Selain itu, Melodi juga melihat satu orang pria tambun yang berdiri di dekat pintu, dan sepupunya Demas yang nempak berdiri seraya memegangi senter hape yang terarah ke dalam kelelakian orang dengan rambut bak opa-opa Korea itu.
What the fu*ck!
" Ini ada apa sih, kok pada nggerumbul?" Ucapnya tanpa tedeng aling-aling demi membunuh rasa penasaran.
Membuat kesemua lelaki yang mirip anggota boyband itu serempak menoleh.
" Melodi?" Jawab Demas terkejut dengan spontanitas.
" Ada apa sih, minggir aku mau lihat!"
Kini, Demas nampak menelan ludahnya demi melihat sepupunya yang semakin mendekat dan menerjang memaksa.
Oh ya ampun, hal seperti itu bagaimana cara dia menjelaskannya?
"Aaaaaa!!"
Saat Demas masih memetakan keadaan demi keadaan Melodi yang mendadak datang, sebuah suara jeritan terdengar memekakkan telinga para manusia yang ada disana, kala Erik dengan gemasnya menarik resleting itu kembali ke bawah, dan membuat Dian kesakitan meski pada akhirnya jeratan itu terbebas.
" Aaaaaa!"
" Joni!!!!"
.
.
Di kamar pengantin
TOK TOK TOK!
Suara ketukan seketika membuat seluruh penghuni kamar pengantin itu menoleh.
CEKLEK!
" Mbak, diminta Ibu turun, ada keluarga kita yang datang tuh!" Seru Farel kepada Wiwit yang kini menyusul para wanita yang nampak membantu Arimbi mengenakan pakaian untuk resepsi.
Ya, Farel sengaja ditugaskan oleh Bu Ning untuk memanggil Wiwit, agar keluarga mereka juga ada yang mengakomodir.
" Aku pergi dulu ya, gapapa kan aku tinggal?" Ucap Wiwit terhadap Resita, Eva dan juga Arimbi.
" Lanjut aja mbak, ini juga udah mau selesai kok!" Sahut Arimbi tersenyum.
Sama sekali tidak keberatan sebab Wiwit yang hendak turun itu, juga sama saja menjalankan tugasnya sebagian Bridesmaids yang tupoksinya adalah memastikan kelancaran kegiatan.
Oke sip!
Namun, dalam perjalanan menuju ballroom, Wiwit yang berjalan jauh ketinggalan saat baru keluar dari lift itu, tak sengaja bertabrakan dengan seseorang namun beruntung orang tersebut menangkap tubuh Wiwit dengan gerakan sigap dan cepat.
" Astaga!"
DEG
DEG
DEG
Erik yang terburu-buru sebab ingin menemukan petugas hotel guna mengevakusi Dian itu, seketika terpaku dengan dada berdegup kencang, manakah ia terpukau dengan seraut wajah cantik laksana bidadari yang ia tatap tak jemu itu.
Membuat keduanya saling membeku dalam posisi dekat , dan benar-benar menguntungkan Erik selama beberapa detik.
Dasar!
" Emm, maaf, maaf, Aku...." Erik yang tersadar dari lamunannya seketika membantu Wiwit untuk merubah dirinya ke posisi normal. Benar-benar sulit dimengerti.
" Mas Erik kenapa kok buru-buru? Tanya Wiwit resah dan nampak menepikan sejumput rasa nyeleneh, yang ia sendiri tiada bisa menafsirkan.
" Itu, nganu...aku...lagi ngurusin si Joni. Dia lagi... sakit!" Jawabnya tergagap- gagap.
Membuat Wiwit mengerutkan kening.
" Aduh! udah dulu ya Wit, nanti aja aku ceritain, ga ada waktu sekarang, . Pokoknya Joni dalam bahaya!"
" Udah ya, aku pergi dulu!" Ucap Erik dengan wajah penuh kecemasan seraya melesat pergi demi memburu waktu.
" Joni? Yang mana Joni?" Gumam Wiwit seraya menatap Erik yang terbirit-birit dengan wajah penuh kebingungan.
.
.
" Ada apa Dem?" Tanya Deo sedikit menaikkan salah satu alisnya manakala ia melihat seraut datar kini menemuinya.
Ya, Demas yang baru saja selesai membantu Erik dan Melodi serta Yohan mengevakuasi Dian, kini berniat melaporkannya kejadian itu terhadap kakaknya.
" Dian di bawa kerumah sakit. Dia...."
Deo mendelik demi mendengar bisikan konyol, menggelitik namun cukup memprihatinkan itu. Merasa bangga terhadap Demas sebab nyatanya adiknya itu selalu bisa di andalkan.
" Erik kebablasan narik. Gak tau tadi gimana. Gara-gara terkejut pas Melodi datang tadi!"
" Melodi?" Ucap Deo memastikan dengan wajah tak percaya.
" Dia sedang kerumah sakit sekarang!"
" Maaf Mas, apa yang kalian bicarakan itu adalah joni? Joni itu keluarga anda? Tadi...saya ketemu mas Erik dan dia bilang kalau Joni..." Tanya Wiwit yang kebetulan melintas di samping dia pria tampan yang menjadi salah satu pewaris Darmawan group itu.
Kini, Deo dan Demas saling menatap dengan wajah sama-sama menghela napas. Bisa tidak sih, si Erik itu tidak membuat persoalan terus menerus?
Bener-bener harus ngasih tau Tante eka nih! Begitu pikir Deo dan Demas.
.
.
Halo readers terkasih, bagaimana kabarnya ? Semoga Semoga sehat-sehat selalu ya.
Mohon maaf readers terkasih, jadwal up menjadi tidak normal karena jika kalian mengikuti jejaring sosial Mommy, kalian akan tahu jika bulan ini dan bulan depan, Mommy sibuk karena mendapat tugas negara.
Ceileh, tugas negara ππ
Mommy malam ini merasa kurang enak badan juga, maybe karena padatnya kegiatan yang mommy jalani, kurang istirahat. Tapi, saya benar-benar kepikiran dengan pembaca sekalian yang baik baik.
Doakan kita semua sehat-sehat ya, biar bisa bertemu di pf kesayangan kita ini.
Salam cengar-cengir
Mommy Eng π€π