
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Rajandra
Ia tengah mengelap mobil yang biasa ia gunakan untuk mengantarkan Eva juga Demas manakala Jessika bersama David sayang mengantar Eva pagi itu.
Ia menundukkan kepalanya menghormati David yang nampak berjalan menggandeng istrinya.
" David Syailendra!" Batin Raja sembari mengeraskan rahangnya demi mengetahui siapa pria yang tengah berjalan tepat di hadapannya.
Pria bertato itu nampak meneruskan kembali pekerjaannya manakala ketiga orang itu telah masuk kedalam.
.
.
David
Orang tua mana yang tidak berbeban berat manakala melihat serta mendengar bila anaknya tengah mengalami tekanan.
Ia paham, sebagai seorang laki-laki, pastilah Deo minder sebab tanpa tumpuan kaki yang kuat, mereka bagai kehilangan kewibawaannya.
" Pak, Buk!" Sapa Bik Sulis yang terkejut dengan kedatangan Jessika dan David.
" Ibu sepertinya masih diatas Ma. Sejak kemarin, Ibuk ngeluh sakit kepala!" Tutur Eva yang menduga bila Jessika pasti juga mencari keberadaan besannya.
" Ibu kamu sakit? Udah dibawa berobat belum?"
" Mungkin Ibuk dengar waktu saya dan mas Demas...."
" Ya sudah, sekarang kamu temui ibu kamu dulu. Papa akan bicara kepada Demas!" Sahut David yang menangkap seraut penuh keresahan dari mimik wajah menantunya itu.
.
.
TOK TOK TOK
Demas dan juga Fadli yang sedang larut dalam obrolan serius itu terkejut akan ketukan yang terdengar.
" Demas! Ini Papa nak, apa kamu di dalam?"
" Biar saya buka Pak!" Pinta Fadli yang kini berdiri dan hendak menuju ke mulut pintu yang tertutup itu.
CEKLEK!
" Tuan!" Sapa Fadli mengangguk hormat manakala pintu itu telah terayun. Menampilkan sosok yang masih gagah , di usianya yang sudah terbilang tak muda lagi.
David mengangguk membalas lalu memberikan kode kepada Fadli untuk memberikan waktu juga berdua untuk David berbicara.
Demas yang tahu bila Fadli kini pergi hanya bisa menunduk. Terpekur menatap meja yang diatasnya memuat tumpukan buku yang biasa ia tekuni berjam-jam.
Kini, baik Demas maupun David sama-sama tak bersuara. Hanya terdengar hembusan bunyi sofa ambles yang kini di duduki oleh David.
" Eva pasti mengadu ke papa kan?"
Ucap Demas beberapa detik kemudian. Memecah keheningan yang menyeruak.
" Bukan mengadu. Lebih tepatnya memusyawarahkan!" Timpal David dengan suara berat yang tenang.
Membuat Demas seketika terdiam.
" Orang bijak pernah berkata, segala tuduhan tanpa bukti adalah fitnah!"
" Dan fitnah merupakan perbuatan yang lebih kejam dari pada sebuah tindakan pembunuhan!"
Lagi, Demas kembali tertegun demi ungkapan menohok dari papanya.
" Kau bisa mengganti supir jika orang itu sangat membuatmu resah. Tidak perlu terus-menerus mencurigai wanita yang bahkan memikirkannya pun tak pernah ia lakukan!"
Ingatan Demas justru kembali kala Raja yang menangkap tubuh Eva saat istrinya hendak jatuh. Lalu, ia juga ingat dengan perbincangan istrinya di malam dengan Raja, setelah itu, ia juga ingat dengan tatapan lain yang kerap ia tangkap saat mereka bersama.
Oh astaga, andai papanya tahu. Sebagai seorang pria, ia paham betul arti tatapan itu.
" Papa tahu ini masa-masa sulit buat kamu Dem. Tapi papa harap kamu juga bisa memikirkan perasaan istri kamu!" Tutur David mencoba berdiplomasi.
" Bagiamana jika dia benar-benar melakukan perselingkuhan?"
Membuat David melirik anaknya dengan tatapan serius.
" Jika pikiranmu masih begitu. Berarti kau belum mengenal istrimu dengan baik!"
.
.