
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Bramasta
Pagi itu nampak tak bersahabat. Cuaca mendung disertai hujan lebat. Guntur dan angin nampak mengiringi air yang bagai di tumpahkan dari atas langit itu.
Ia tertegun menatap wajah cantik dalam selembar foto yang ia pegang. Tersenyum licik manakala melihat gambar Arimbi.
" Jadi dia yang bernama Arimbi. Pantas saja Zakaria suka dengan anak itu!"
Anthoni yang menjadi abdi setia laki-laki itu hanya diam tak bergeming.
" Kenapa aku tidak pernah melihatnya?"
" Dia baru beberapa bulan bekerja Pak!"
Bram mengangguk-angguk.
" Kau tahu apa yang harus kau lakukan Thon?" Ucap Bramasta menatap Anthoni yang masih datar.
.
.
Bandara kota B
Cuaca yang mendadak tak bersahabat membuat kawula aviasi kalang kabut. Sedari pagi mereka harap-harap cemas menunggu update visibilitas dan juga weather dari BMKG.
Dari cuaca yang awalnya mendung, menjadi hujan deras. Bahkan, pesawat dari stasiun origin ( asal) telah berangkat. Membuat mereka tak bisa berbuat banyak selain hilir mudik untuk meng-update cuaca dari BMKG.
Jarak pandang yang terbatas juga munculnya awan cumulonimbus, jelas menjadi hal yang begitu mereka jaga. Yang namanya prediksi, tentu saja tak selalunya benar.
Pesawat yang harusnya mendarat di kota B, bahkan harus mengalami RTB ( Return To Base), sebab cuaca benar-benar tak bisa di ajak bekerjasama.
Membuat jadwal Andanu Air yang harusnya terbang tepat di menit sepuluh lepas dari jam tujuh itu, untuk sementara ditunda satu jam karena cuaca buruk.
Tak sedikit penumpang yang menerima, namun ada juga yang tidak tahu diri dan memilih mengomel di depan meja check in.
" Harusnya kasih kejelasan dong mbak. Kalau begini kita jadi gak jelas!"
Personel yang benar-benar masih terbatas makin memperburuk keadaan. Hanya ada segelintir senior yang duty, sementara Eva dan Dian yang belum pernah libur itu juga nampak fight dalam menenangkan, serta mencarikan solusi bagi penumpang yang memiliki penerbang connecting menuju luar negeri.
" Mohon maaf Pak, keterlambatan yang dikarenakan alasan cuaca itu diluar kendali kami! Jadi untuk rulesnya kami belum bisa memberikan kompensasi" Terang Hera lemah lembut, yang kini berdiri sigap di samping Arimbi yang sedari tadi juga berusaha menenangkan bule yang memiliki penerbang lanjutan.
Menit demi menit yang berlari, masih membawa ketidakpastian. Bahkan, pesawat dari kota J yang hendak menuju ke kota B kembali saat cuaca di kota B sudah di infokan cerah, mengalami divert flight (pengalihan) atau pendaratan darurat ke bandara lain yang bukan tujuan awalnya, lantaran hujan yang kembali mengguyur kota seribu budaya itu.
" Charlie AA 321 Divert to MLG. Infokan kita tambah delay satu jam!"
DEG
Semua yang ada di check ini tegang. Bagaimana ini, kenapa kacau balau begini jadinya? Jika sudah begini, penumpang jelas akan marah. Penumpang hanya butuh kepastian. Namun membatalkan penerbangan tentu bukan sembarangan bisa dilakukan.
" Mas, kita ada 25 orang yang connecting ke kota lain, dan delapan orang yang ke luar negri!"
" Sabar, kita juga lagi koordinasi sama orang pusat nih!"
Arimbi yang melihat kepanikan di wajah Novi turut tegang. Jika sudah begini, gesekan antar karyawan makin sulit untuk dihindari. Tak jarang, orang yang kurang menyadari pasti akan sakit hati manakala bekerja di ranah aviasi.
Di sela-sela kegiatannya, ia menyempatkan diri membaca pesan dari Deo. Wanita itu merasa rindu dan butuh sosok Deo, yang selalunya solutif manakala berada di dekatnya.
" Are you Ok? Flight delay ya? Jangan jauh-jauh dari senior. Anggap aja sambil belajar pax ilmu Handling!"
"Aku gak bisa ke sana cepet soalnya mau negosiasi sama orang Jatayu. Doakan semoga lancar ya. Miss you!"
Arimbi yang teringat jika Jatayu air menggugat perusahaan suaminya, kini seketika merasa begitu pusing. Mengapa persolan datang secara bersamaan tak kenal kasihan.
Namun, kata Miss You yang di ucapkan oleh Deo, membuat relung-relung hatinya di terbangi jutaan kupu-kupu.
" Mbak! Ini gimana sebenarnya, kapan kita berangkat? Info dong mbak, jangan diem aja. Malah enak-enakan kalian disini!"
Arimbi tertunduk saat mendengar pria protes ke meja Dian.
Arimbi menghela napasnya. Padahal, baru saja announcement terkait keterlambatan kembali di dengungkan. Semakin kesini, ia semakin tahu jika resiko bekerja di penerbangan tidaklah mudah.
" Apa-apaan ini, delay lagi delay lagi. Saya mau uang saya kembali. Gak ada guna kalian. Saya ini mau ada rapat penting, tau apa tidak kalian, goblok semua!"
Saat Arimbi hendak membalas pesan suaminya, datang seorang pria dengan emosi yang menyala. Menggebrak meja dan menumpahkan kekesalannya dengan tidak tanggung-tanggung. Membuat penumpang lain juga semakin terprovokasi.
" Bener ini, tadi tiga puluh menit, nambah lagi tiga puluh menit, sekarang gak jelas, mau berapa jam kita ini. Info dong mbak!"
Arimbi yang merasa kepalanya sakit demi mendengar gerutuan para penumpang yang tak mau mengerti itu benar-benar kehilangan kesabarannya. Bahkan, wanita itu seketika melupakan niatnya untuk membalas pesan suaminya.
" Bener ini, tolong dikasih tau dong!"
" Mana bos kalian, suruh dia kelu..."
" Stop!"
Kesemua orang yang ada disana seketika menutup mulutnya, demi mendengar suara Arimbi yang agak tinggi. Membuat suasana seketika heninhu. Hera, Novi bahkan Eva dan Dian yang duduk agak jauh menoleh ke arah Arimbi yang nampak menahan diri.
" Dengan segala kerendahan hati saya, saya mohon kepada bapak ibuk untuk tetap tenang. Pesawat saat ini terpaksa melakukan pendaratan darurat di kota M sebab cuaca di kota ini benar-benar buruk. Terus terang pak, kami tidak bisa menurunkan standar keselamatan perusahaan kami!"
" Sekali lagi, tidak ada kompromi soal keselamatan!"
Membuat setiap penumpang itu langsung tertegun demi mendengar penuturan tegas dari Arimbi.
Hera dan Novi yang menjadi senior disana menatap haru ke arah Arimbi yang dengan berani, lantang menyuarakan kebenaran.
" Mohon bersabar, sebab ini diluar kendali kita semua Pak, Buk!" Ucap Arimbi dengan wajah muram. Kesal sebagai insan yang memiliki sifat manusiawi, sebab mereka tidak mau mengerti.
Kini, mereka semua membubarkan diri sebab apa yang dikatakan oleh Arimbi memang benar adanya.
Apa yang di ucapkan oleh Arimbi memang berhasil meredam keramaian itu beberapa saat. Namun, satu jam kemudian para staff mulai resah sebab keterlambatan sudah hampir memasuki jam ketiga.
Dan, saat cuaca yang sudah reda itu belum juga mendapatkan informasi resmi dari operation, Arimbi berinisiatif untuk bertanya.
" Apakah pesawatnya sudah berangkat dari kota M operation? " Ucap Arimbi menekan Handy Talky.
" Operation monitor!"
" Sory Ar baru kita baru dapat info dari M OPS. Ar, pesawat kita ada kendala. Ada kerusakan di cockpit yang belum teknik temukan masalahnya. Jadi, penerbangan kita batal!"
" Apa? Kenapa baru info sih Kak Daniel?"
Bagia tertimpa reruntuhan. Kesemua staff yang ada mendadak tegang demi mendengar info yang benar-benar menguji adrenalin itu. Membuat kesemuanya kesulitan untuk sekedar menelan ludah mereka masing-masing.
" Mbak, ini bener nggak sih, kok saya baru dapat kabar dari teman saya yang ada di kota M. Katanya pesawatnya rusak ya?"
" Ini gimana sih, saya itu udah nunggu lama mbak. Udah gak ada kompensasi, anjing kalian memang!"
Belum juga pertanyaan pertama dari orang berbaju hitam itu terjawab, sudah ada penumpang lain yang sedari awal menyuarakan kekesalannya itu. Nampak benar-benar marah semarah- marahnya.
Seketika, suasana yang semula tenang, kini mendadak kembali ricuh sebab banyak penumpang yang protes demi menyuarakan kekesalan.
Ini bukan salah Arimbi ataupun punggawa yang lainnya. Namun, penumpang itu jelas tidak mau tahu. Sebab inilah yang namanya resiko dari sebuah pekerjaan.
Mereka langsung menuju ke meja check in untuk berunjukrasa, melupakan kekesalan, bahkan tak sedikit yang memaki-maki petugas pasasi ini begitu informasi terkait pembatalan penerbangan itu berkumandang di seluruh penjuru bandara.
Membuat sesosok tinggi tegap yang berdiri agak jauh dari meja check in itu tersenyum penuh arti.
" Lakukan sekarang!" Pinta orang itu terhadap seseorang melalui sambungan teleponnya.
Dan beberapa saat kemudian. Saat situasi benar-benar ricuh dan tak terkendali, Arimbi yang hendak menuju ke ruang tunggu untuk mengambil data manifes, di tarik oleh seseorang yang langsung membiusnya dengan sebuah sapu tangan.
Suasana yang benar-benar ramai dan tak terkendali, benar-benar menguntungkan orang itu. Arimbi yang langsung lemas kini di papah pria itu.
Arimbi di rangkul seolah-olah berjalan, dan orang itu nampak menutupi seragam Arimbi dengan sebuah jaket besar. Benar-benar definisi dari rencana yang terorganisir.
Praktis, wanita yang sudah tak berdaya itu kini dibawa oleh orang misteri itu menuju exit door, tanpa sepengetahuan rekan-rekannya. Sungguh, malang atau beruntung, tidak akan ada yang tahu.
.
.
.
.
.
.