My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 84. Terciduk?



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Demas


Ia membiarkan gadis yang memejamkan mata dengan mulut setengah terbuka itu, berkuasa diatas sofa kamarnya. Demas yang kini mengenakan kaos dengan sebuah celana pendek nampak menyugar rambutnya menggunakan jari.


Terasa lebih segar walau ia mandi di jam selarut itu.


Diraihnya bungkusan dari foam makanan itu, lalu membukanya. Seporsi kwetiau dengan topping lengkap yang masih hangat itu, nampak begitu menggoda.


SRUP


AH!


Kopi yang dibuatkan oleh wanita di depannya itu juga terasa lebih nikmat dari buatannya. Apa bedanya? Padahal, kopi itu juga merupakan kopi Arabika, yang sama seperti yang ia seduh beberapa saat lalu.


Benar-benar aneh.


Sebenarnya, Demas mengajak Eva ke kamarnya sebab ingin memberikan gadis itu peringatan. Tidak taunya, gadis itu justru molor disana.


" Kenapa aku jadi tidak tega mau ngebangunin dia!" Gumamnya menatap wajah teduh Eva, saat dirinya lekas membuka sumpit dan terlihat tergiur untuk menyantap makanan yang menggugah selera itu.


Seperti yang sudah - sudah, Demas makan dengan cepat, tekun dan diam. Sama sekali tak membiarkan makanan yang ada di hadapannya tersisa.


" Enak juga!"


Tanpa ia sadari, gadis yang sering ribut dengannya itu sudah dua kali memberikan perhatian lewat makanan, walau semua itu tak sengaja.


Ehem!


.


.


Arimbi


Usai di gempur dan di ajak terbang oleh Deo di kamar mandi, kini ia merasakan pelukan hangat seorang Deo di kamarnya.


Terasa begitu nyaman.


" Harus sering-sering olahraga nih. Biar gak cuman sekali ngajak ke puncaknya!" Ucap Deo seraya terkekeh demi mengingat staminanya yang malam ini tidak se pro saat-saat kemarin.


" Enggak apa-apa. Mas hari ini pasti lelah. Lagian, durasi segitu lamanya dibilang enggak pro. Terus pronya selama apa?" Sahut Arimbi tersenyum.


Membuat Deo seketika mencium pipi istrinya gemas. " Ya pokoknya rugi aja kalau sekali!"


Membaut Arimbi menyebikkan bibirnya " Jadi mas besok pulang?"


" Kamu juga. Eva, Daniel, Novi dan Andre juga. Aku terpaksa harus membawa mereka kembali sebab aku masih belum tau kapan anak-anak di pusat akan mogok kerja!" Deo menghela napasnya.


" Kalau sudah begini, rasanya aku enggan menerima mereka kembali Ar!" Ucap Deo menatap nanar tembok kamar hotel Arimbi.


Arimbi yang kini berbaring berbantalkan dada bidang suaminya itu nampak menunjukkan wajah muram sebab kasihan, prihatin dan juga iba terhadap suaminya.


" Aku bisa bantu apa mas?" Tanya Arimbi mendongak. Membuat Deo tersenyum.


" Kan udah barusan. Istriku udah bantu ngilangin stresku malah!" Jawab Deo terkekeh. Berusaha tak menyuguhkan keresahan yang sebenarnya kini menjajah hatinya.


" CK, bukan yang itu!" Balas Arimbi berengut.


Deo tergelak sembari mencium puncak kepala istrinya lama. " Maaf Ar, masih membuatmu harus bekerja di perusahaan suamimu sendiri!" Batin Deo menjerit dengan kenyataan yang ia hadapi.


" Sekarang aku baru paham arti sebuah hikmah!" Tukasnya dengan tatapan nyalang.


Membuat Arimbi mendongak kembali, lalu menatap suaminya dari jarak dekat. Merasa tak paham dengan apa yang barusan di ucapkan oleh suaminya.


" Kenapa Tuhan ngasih kamu dengan cara begitu. Kenapa Tuhan mempertemukan kita dalam ketidakwajaran. Hal yang di awal mati-matian aku tolak, nyatanya sekarang menjadi hal yang paling aku takutkan jika hilang."


Deo menatap dua manik mata jernih milik Arimbi, sembari mengusap pipi bersih istrinya.


" Karena Tuhan tahu apa yang aku perlukan, bukan yang aku inginkan!"


Terpaan napas harum Deo malah membuat Arimbi gagal fokus. Kilasan ingat wanita itu justru kembali ke kejadian dimana Deo berkali-kali menidurinya. Terasa begitu jantan dan begitu melindungi.


" Maaf belum bisa menunjukkan kamu ke dunia sayang. Aku hanya takut mereka mencelakaimu, atau mengambilmu dariku!"


" Aku harap kamu tidak akan meninggalkan aku jika hal yang paling buruk akan terjadi!" Ucap Deo menatap muram Arimbi.


Pancaran sinar ketulusan nampak jelas jujur tersuguh dari kedua netra Deo. Membuat Arimbi teringat akan ucapan Daniel beberapa jam yang lalu saat mereka membahas kebaikan Deo di dalam mobil.


" Perusahaan mas dalam bahaya?" Tebak Arimbi demi membaca setitik keresahan di sorot mata suaminya.


Deo mengangguk sembari mengeratkan pelukannya. Merasa bagai tak mau kehilangan sosok yang kini lekas merajai hatinya itu.


" Andanu dan Jatayu Air sebagai maskapai penyuplai pemasukan terbesar bakal mencabut kerjasama karena kasus ini jika beberapa waktu kedepan kondisinya tidak jelas. Dan mencari karyawan yang berkompeten dalam hitungan hari sama saja dengan menegakkan benang yang basah. Belum lagi elektabilitas GH yang akan anjlok jika rumor gaji tidak sesuai ini akan naik ke kementrian ketenagakerjaan!"


DEG


Arimbi tercenung demi mendengar cerita suaminya yang rupanya sangat berat.


" Mas di fitnah?" Tebak Arimbi lagi demi mendengar secuit cerita dari mulut suaminya.


Deo mengangguk. " Yang tak bisa aku cerna adalah, bagiamana bisa anak buahku mengkhianatiku dalam waktu yang terbilang singkat! Mereka begitu terencana dan aku..."


" Tidak ada kejahatan di dunia ini yang sempurna. Kekalahan tak akan selamanya, dan kemenangan pasti akan berganti! Semoga Tuhan menguatkan. Aku akan selalu ada di sisi mas Deo, apapun yang terjadi!"


Mata Deo berkaca-kaca. Belum pernah ia mendapat dukungan dari orang terdekatnya selain mama, papa dan adiknya selama ini. Bahkan, saat ia masih menjadi kekasih Roro dulu, wanita itu bahkan cenderung tak mau tahu akan apa yang Deo hadapi.


Arimbi kembali memejamkan matanya manakala suaminya nampak memiringkan wajahnya, demi menyadari jika pria itu akan melancarkan serangannya.


Deo yang merasa bahagia di tengah kesukarsulitan itu, mendapat efek domino dari pernikahan terselubungnya itu.


Deo bahagia sebab Arimbi rupanya benar-benar ada untuknya. Meski di lain pihak, ia sebenarnya ketar-ketir bila rivalnya mengetahui siapa Arimbi. Sungguh, keselamatan sang istri mini juga menjadi hal yang wajib ia utamakan.


" Udah, kita tidur. Malam ini aku nginep disini ya. Aku kangen. Good night baby!"


CUP


Arimbi yang keningnya di kecup lama oleh Deo benar-benar merasa begitu tentram, bahagia dan seolah tak ingin berlalu.


Kini, Arimbi nampak merubah letaknya dengan memunggungi Deo, meringkuk seraya memeluk guling, dengan posisi yang di peluk Deo dari belakang.


Terasa begitu nyaman.


Mereka sepakat menghentikan pikiran mereka bersama mata yang mulai terpejam, dan berharap mimpi jauh membawa mereka kedalam ketenangan.


...----------------...


Eva


Ia menggeliat seperti saat dimana ia selalu begitu sewaktu bangun pagi. Sembari menguap, ia meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Memindai sekeliling ruangan yang belum sepenuhnya ia sadari.


DEG


" Loh, kok aku di?" Ia yang kini telah mendudukan tubuhnya diatas kasur dengan suasana ruangan lain itu, sejenak mengumpulkan puzzle ingatannya, demi memecahkan keterkejutannya akan tampilan lain kamar luas itu.


CEKLEK


DEG


" Hah? Kok Pak Demas. Jangan-jangan..." Eva yang nampak syok itu mulai ingat dengan apa yang semalam ia alami.


" Tunggu dulu, aku semalam beli kwetiau, terus diajak tuh orang, disuruh buatin kopi, terus aku....Hah? Tapi, kok aku tiba-tiba di..."


Demas yang sudah ganteng dan tahu apa yang ada di dalam otak gadis sembrono itu, nampak melirik Eva yang sepertinya mengingat-ingat sesuatu.


Ya, Demas yang sudah keren dan wangi pagi itu nampak bersikap datar-datar saja saat melintas di samping Eva yang nampak pias.


" Enak sudah menjajah kamar orang?" Ucap Demas dengan alis tebalnya yang terangkat sebelah.


What?


Dengan wajah tak mengerti, Eva yang bahkan belum mencuci mukanya itu menatap Demas penuh tanda tanya.


" Kau ini benar-benar gentong ya. Habis makan kenyang, tidur udah kayak orang mati!" Cibir Demas lagi kali ini dengan wajah mencibir.


" Apa? Dia ngatain aku gentong? Sialan!"


" Tidak usah mengumpatiku!" Tukas Demas menimpali.


Membuat Eva tersentak, " Apa dia dukun?"


" Kenapa saya bisa ada di sini pak. Mak- maksud saya, saya kemarin kan?" Tanya Eva mulai menunjukkan wajah penuh keresahan.


" Mana saya tahu, kamu ngelindur ( ngigau) kali. Bangun-bangun saya juga kaget kenapa kamu nyusul saya ke kasur. Padahal, kamu tidurnya di sofa. Kamu yang modus ke saya jangan-jangan ya?" Tatap Demas dengan wajah menuding.


" Apa? Enak aja!" Jawab Eva yang tentu saja tak terima dengan tudingan gila Demas.


Membuat Demas ingin tertawa detik itu juga.


Demas yang masih menatap datar ke arah wanita itu, sebenarnya sudah tak tahan dan ingin sekali tertawa kencang sebab tak menyangka jika Eva bisa semalu itu.


Pria itu tergelak dalam hati, demi melihat wajah Eva yang memerah dan nampak bersungut-sungut. Padahal, semalam Demas memindahkan wanita itu sebab merasa kasihan, dan dialah yang akhirnya tidur diatas sofa.


Sejurus kemudian, Demas nampak menyeret langkahnya lalu mendekatkan diri ke sisi Eva, yang kini nampak menjauhkan diri sebab insecure.


" Mo Dus! Mandi sana kamu, kita check out pagi ini, karena ikut penerbangan pagi ini juga!!" Ucap Demas mencondongkan diri dan sukses membuat Eva keranjingan.


"Hah? Jam berapa ini? Kenapa enggak bangunin dari tadi sih. Aku gak bisa buru-buru mandinya, belum dandanku juga gak bisa sebentar! CK!" Eva seketika bangun seraya mendecak kesal, lalu pergi dengan segera demi mendengar info mengejutkan itu.


Yang benar saja!


Membuat Demas terbahak-bahak demi melihat wanita yang kini kocar-kacir dengan langkah tersuruk-suruk.


Namun, saat ia berhasil keluar dari kamar Demas, matanya mendadak mendelik demi melihat sosok Deo yang kini berjalan santai ke arahnya.


DEG


Menatap Eva dengan tatapan penuh keterkejutan.


Oo...Oo!!!


.


.


.


.


.