
...πΏπΏπΏ...
...β’...
...β’...
...β’...
Deo
Ia tengah berada di ruangan VIP bersama para petinggi stakeholder terkait, dimana mereka semua menunggu pesawat dengan jenis low cost carrier ( penebangan berbiaya rendah) itu akan mendarat beberapa menit lagi.
Anak sulung David Syailendra Darmawan itu tengah sibuk menyimak sambutan dari kepala bandara, manakala ponselnya bergetar. Membuatnya seketika menepi guna menjawab panggilan dari adiknya.
" Hal..."
"Halo, dia sakit. Bilang ke rekannya untuk mem-backup dulu. Akan aku urus dia setelah ini."
TUT
Deo mendecah manakala adiknya memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak. Sopan sekali dia!
Deo yang masih menepikan dirinya diantara riuh rendah orang-orang penting itu, terlihat tinggal lebih lama disana manakala ia ingin menghubungi Arimbi.
Berita ini cukup penting, membuat Deo tak mau menunda untuk memberitahu istrinya perihal Eva.
Perlu dua kali panggilan, hingga wanita itu akhirnya menjawab telepon darinya.
" Aku lagi sibuk, ada apa?" Deo menduga, Arimbi pasti tengah menepuk dirinya sama seperti dirinya. Dan semua itu diperkuat, manakala suara yang di tunjukkan oleh Arimbi berjenis lirih.
" Sory, Demas barusan telepon dan bilang kalau Eva sakit!" Deo to do point agar istrinya tidak mendapat masalah.
" *Hah? Kok bisa? Apa Eva maagnya kambuh? Soalnya anak itu pernah cerita suka kena lambung kalau makannya sampai telat!"
"Ya udah- ya udah, sek tak matiin dulu ya. Lagi ramai ini. Makasih Mas infonya*!"
TUT
Telepon yang kembali di putus secara sepihak itu kali ini membuat Deo tertegun. Ia bagai terserang oleh pasukan ribuan laron sukacita, yang mendadak beterbangan di dalam hatinya. Ramai dan penuh keriuhan.
Membuat Deo merasakan kegembiraan surgawi yang begitu nyata.
Dia memanggilku 'Mas'!
Ahay!
.
.
Arimbi
Ia baru selesai meng-handle pelanggan tampan yang memiliki banyak anak bermata sipit itu, saat ponsel dalam sakunya bergetar dan membuatnya geli.
Arimbi sempat melirik sana sini manakala ia melihat nomer dengan sebuah foto pria tampan yang berkali-kali telah menidurinya itu, menghubungi dirinya.
" Astaga, orang ini!"
Sedikit mengutuk dirinya sendiri sebab ia belum memberi nama kepada si empunya nomor.
" Mbak permisi sebentar ya. Mau angkat telepon!" Pamit Arimbi seraya meringis kepada Novi yang sibuk mengcroschek data penumpang yang belum lapor ke check in.
" Mm, lanjut!" Jawab Novi tanpa mengalihkan konsentrasinya.
Membuat Arimbi buru-buru menepikan diri demi menjaga kondusifitas kehidupannya. Akan sangat runyam jika ada yang memergoki dirinya, tengah ngobrol ria bersama Pak direktur.
" Sory, Demas barusan telepon dan bilang kalau Eva sakit! Muntah-muntah dia!"
" Hah? Kok bisa? Apa Eva maagnya kambuh? Soalnya anak itu pernah cerita suka kena lambung kalau makannya sampai telat!"
"Ya udah- ya udah, sek tak matiin dulu ya. Lagi ramai ini. Makasih Mas infonya!"
TUT
Arimbi mendadak merasa cemas sekaligus merasa bersalah manakala mendengar kabar mengejutkan itu. Pasalnya, ia sedari kemari pagi sudah berpisah dengan rekannya itu, sebab tugas berbeda yang masing-masing harus mereka emban.
Arimbi berjalan murung manakala kembali ke meja check in. Sedikit menyesal kenapa tadi pagi ia tak menggedor pintu sahabatnya itu.
" Daniel monitor!" Ucap Novi yang berada di samping Arimbi yang masih tercenung.
" Gohet!"
" Si Eva belum ada kabar Dan?" Tanya Novi melalui HT kepada rekannya. Terlihat membagi konsentrasi dengan sistem pada layar komputer yang ia tekuni.
" Dia sakit mbak!" Sahut Arimbi spontan manakala ia mendengar pertanyaan dari Novi soal Eva.
Novi seketika menoleh kepada Arimbi. Membuat istri tersembunyi Deo itu menelan ludahnya karena keceplosan.
" Wadiuh, kalau mbk Novi nanyak gimana nih? Dasar mulut!" Merutuki kebodohannya dalam hatinya.
" Sakit? Kok kamu tahu?"
" Anu itu..."
...----------------...
Eva
"Pak Demas telpon siapa? Saya gimana dong ini?" Ia yang kini berusaha mendudukkan tubuhnya tak bisa menahan dirinya untuk tak bertanya.
" Udah aku bilang, pikirkan kesehatan kamu. Gak usah mikirin pekerjaan dulu. Yang handle sudah banyak!" Sergah Demas yang mulai sebal.
Suasana seketika hening usai Demas membantah ucapan Eva yang bengal.
" Saya nggak mau lagi diajak sama Pak Demas. Pak Demas kalau kerja suka..."
" Saya minta maaf!" Sahut Demas. Membuat suasana hening selama sekian detik.
" Kok Pak Demas tahu?" Tanya Eva menatap pria ganteng itu penuh rasa ingin tahu.
Pria itu hanya diam tak menyahut dan terlihat menuju ke arah pintu. Membuat Eva makin menerka-nerka.
" Aku ini bos. Apa yang tidak bisa aku tahu!"
" Idih, sombong amat!" Batin Eva sembari menyebikkan bibirnya.
"Diam disana, akan aku carikan obat. Mau makan apa kamu?" Demas yang hendak menutup pintu itu melempar tatapan kepada Eva yang kini agak terkejut.
" Hah? Obat? Apa obat untukku? Dia menawariku? Emmm aku kerjain dia ah!" Batin Eva seraya tersenyum penuh arti.
" Memang boleh aku minta?" Tanya Eva menjawab pernyataan laki-laki datar itu.
Demas mendengus, " Aku tidak biasa mengutarakan hal dua kali. Cepat!"
Membuat Eva menyebikkan bibirnya dengan wajah menye-menye. Orang itu benar tidak bisa diajak bercanda ya?
" Saya mau....."
.
.
Demas
Ia mendecak dengan hati dongkol kala ia menyadari jika ia dia telah kerjai oleh Eva. Bagiamana tidak, ia kini pusing karena mencari baso ceker tulang lembut yang tak ia temukan bahkan hingga habis penunjuk jalan online itu.
" Dia ini sakit lambung atau hamil? Kenapa sulit sekali menemukan makanan itu!" Demas tiada habisnya menggerutu manakala ia merajai jalanan hampir satu jam lamanya.
Bayangkan saja, seorang pengusaha muda kaya, mendadak menjadi pemburu ceker tukang lembut hanya karena ingin menebus kesalahannya kepada wanita kurang ajar.
Oh God, common man!
" Salah sampean mas. Tidak ada itu disini, saya malah baru dengar!" Jawab salah satu pedagang , yang jika dilihat dari logatnya, sepertinya berasal dari Jawa.
Membuat Demas benar-benar ingin menyerah.
Lagi dan lagi, kalimat yang mengandung info ketidakpastian itu kembali Demas dengar, dan makin membuatnya kesal.
" Hey, kau tahu makanan itu dari mana sih? Aku sudah mencarinya kemana-mana tapi tidak ada!" Ia akhirnya menghubungi Eva. Tak mau lagi mencari sebab ia juga merasa sangat lapar.
" Maaf Pak, saya lupa itu adanya di Jawa. Nganu saja, belikan saya soto Banjar!" Jawab Eva dengan suara tanpa dosa.
Damned!
" Apa? Niat ngerjain kamu emang ya. Kalau soto Banjar ada di hotel. Sialan kamu!"
" Halo..Halo...!"
.
.
Eva
Walau perutnya masih terasa nyeri, tapi ia masih bisa tertawa ngakak demi mendengar Demas yang pasti saat ini mengomel, manakala ia baru saja mematikan sambungan teleponnya tanpa basa-basi.
Ia sengaja mengerjai pria itu karena merasa Demas yang benar-benar kelewatan, manakala tak memikirkan jam istirahat pegawainya. Meski ia salah juga sih, karena makan terlalu banyak saat perut kosong.
Usai mendengar ucapan Demas yang ngomel, kesal tadi, sambil cekikikan ia menghubungi pihak hotel untuk membawakan soto Banjar ke dalam kamarnya karena ia sedang tidak enak badan.
Dan, saat ia tengah sibuk memamahbiak pesanan makanan yang begitu lezat itu, datanglah laki-laki dengan kobaran api kekesalan yang nampak membara.
BRAK
Demas melempar beberapa obat dan juga makanan lain keatas kasur Eva. Membuat wanita yang tengah makan itu tersentak.
" Puas?" Ucap Demas berkacak pinggang. Menatap geram Eva yang melongo.
" Bisa sampai keringetan begitu!" Terkikik dalam hati.
" Skor sama lah Pak. Pak Demas mah enak enggak sakit. Nah saya? Saya beneran lupa loh Pak kalau baso itu adanya di dekat Bandara, saya sama Dian..."
" Udah jangan banyak omong kamu, minum cepet itu obatnya! Kamu ini enggak sakit enggak sehat terus aja ngerepotin!" Sergah Demas dengan alis yang tak libur berkerut.
" Makan dulu Pak. Saya udah mesenin soto Banjarnya dua. Siapa mau makan, Pak Demas belum sarapan kan? Makan disini. Sebenarnya saya bisa ngabisin itu ,tapi kalau perut saya sakit lagi gimana?" Eva nampak menyahuti dengan santai, sebab ia tak ingin memancing kemarahan pria itu lagi.
Demas yang mendengar ucapan Eva kini tertegun.
Selama ini, selain Jessika, tidak ada lagi yang peduli soal urusan sarapan dan asupan makanan terhadap dirinya.
" Bapak ini bos, jangan sampai sakit. Kalau Pak Demas sakit, enggak ada yang jadi rival saya buat adu mulut! Sini makan!" Ucap Eva yang kini menangkap lengan kekar Demas, dan mengajak pria itu duduk.
Dan tanpa ia sadari, Demas turut menyunggingkan senyum manakala Eva tekrikik-kikik. Menjadi kali pertamanya, dua manusia itu tersenyum satu sama lain.
Ihiiiir!
.
.
.
.
.
.
Mommy loro boyok rek, onok sing kangen Mommy Ra?
Peluk cium ya πππ€π€