
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Bramasta
" Cari mereka ke hutan. Cepat!" Teriak Bram dengan kepanikan yang begitu terasa kepada para anak buahnya, yang nampak berkumpul dengan wajah yang masih mengandung sisa rasa nyeri.
Menatap Roro yang mendakwanya dengan tatapan bengis dan tiada bersahaja.
BRAK!
Ia membanting pintu dan meninggalkan Roro yang telah ia ikat dengan sangat kuat. Pria itu menapaki anak tangga dengan perasaan gusar. Bayangan soal citra perusahaan juga nasibnya yang telah berada di ujung tanduk, membuatnya bergegas bertindak.
" CK, brengsek!" Ia memaki ke arah ponsel yang telah dua kali mengeluarkan suara Veronica. Robot wanita yang selalu mengatakan seseorang untuk meninggalkan pesan saat nomer yang di tuju tengah tidak bisa dihubungi.
" Kalian, bawa semua perlengkapan dan naikkan ke mobil!" Ucap Bram sembari berjalan, dan terlihat tak mau menunda mencari Arimbi dan Deo.
Ia harus selangkah lebih cepat agar dia bisa terus berada dalam titik aman. Benar-benar tak menduga jika semua yang telah ia susun, bisa kacau balau akibat Deo.
Pria itu mungkin lupa, bila kebenaran sejatinya tak mungkin bertukar tempat dengan kebathilan.
.
.
" Itu mobil kita kan? " Monolog Erik dan seketika menghentikannya laju mobilnya, kala ia melihat kendaraan miliknya yang sempat di bawa kabur oleh Anthony tadi, dan kini nampak teronggok di tepi jalan itu.
Erik mengerutkan keningnya dan menatap ke arah Tomy yang nampak membaca situasi.
" Benar. Tapi, kemana mereka?" Sahut Demas dengan wajah serius, membuat Eva turut mengedarkan pandangannya.
" Jangan turun dulu, bisa saja ini jebakan!" Ucap Tomy memperingati dengan tatapan masih memindai sekeliling.
" Tapi Pak, saya kebelet kencing!" Ucap Dian memegangi area bawah udel yang terasa menyiksa sebab kandung kemihnya penuh.
" Masukin botol aja yan, enggak usah keluar. Paling juga sejempol doang!" Ucap Eva terkekeh-kekeh yang membuat David dan Tomy seketika beradu pandang.
PLETAK!
" Aduh!" Eva mengaduh seraya menggosok kepalanya yang terasa ngilu akibat di jitak oleh Dian. Sialan!
" Tega banget lu, kalau aku mampus disini karena nahan kencing gimana?" Protes Dian dengan wajah berengut.
" Aman kalau itu! Masih bisa di evakuasi kan? Satu-satunya korban yang gak bisa di evakuasi kan cuma korban janji palsu! Jadi elu masih aman!" Ucap Eva enteng. Membuat Dian mencabik gemas udara di depannya dengan ekspresi ingin mencekik Eva.
" Gundulmu kui Va!" Balas Dian mendengus kesal yang justru membuat Tomy dan David tergelak.
Sungguh, Demas bahkan turut memijat keningnya demi merasai sikap Eva yang out of the box.
" Besok-besok lakukan tes lagi pak. Uji kelayakan karyawan. Dia nih cocoknya jadi pawang buaya di taman nasional ujung kulon, bukan jadi front liner. Front liner kok jatuhnya jadi frontal kalau dia!" Dengus Dian kembali yang kali memutar bola matanya malas.
Membuat Erik makin tergelak. Entah mengapa, dua manusia itu justru membuat mereka sedikit melupakan ketegangan.
" Udah- udah. Rik, antar Dian keluar!" Pinta David dan seketika membuat Dian tersenyum penuh kemenangan. Yes!
Erik yang memang sangat penasaran dengan mobil yang di tinggalkan begitu saja itu, seketika turun tanpa pasal. Pria itu terlihat berjalan dengan langkah pasti, dan nampak melihat mobil yang telah kosong melompong itu.
" Pssttt, Pak! Jangan jauh-jauh Pak. Saya takut!" Ucap Dian seraya membuka ikat pinggangnya dengan wajah ketar-ketir.
" Dah cepet, kelamaan aku tinggal kamu!" Balas Erik tanpa membalikkan badannya, sebab fokus melihat mobil yang tak berpenghuni itu.
" Pak Erik nih lama-lama kayak si Eva. Baru juga buka nih pak!" Jawab Dian memanyunkan bibirnya.
Dian bergidik menikmati rasa lega yang masih separuh itu. Terasa begitu menyenangkan.
Namun, saat ia masih asyik menikmati kelegaan alamiah itu, sebuah suara pria asing mengangetkan dirinya yang masih tekun memegang pisang barlin miliknya.
" Angkat tangan kalian!"
DEG
" Aaaa!!!"
CUUUURR!
Dian yang terkejut dengan kemunculan pria botak mengerikan dan nampak menodongkan senjatanya ke arahnya, spontan ganti mengarahkan burungnya yang mengeluarkan urine dengan derasnya itu, hingga membuat pria botak itu turut berteriak.
" Aaaaa!!!"
Praktis, teriakan combo yang lebih mirip seperti suara tenor dan bass dalam nyanyian seriosa itu sukses membuat Erik menoleh.
What?
" Sial!" Ucap Erik yang malah fokus kepada aksi Dian mengencingi pria botak itu. Oh Gosh!
Membuat Erik seketika bersiap dengan senjatanya.
Sekawanan orang jahat yang nampak menjadi lebih banyak itu , agaknya juga melakukan hal yang sama.
" Tutup itu sialan!" Maki pria botak yang bajunya basah karena masih di kencingi oleh Dian.
Dian yang gugup seketika lari terbirit-birit seraya membetulkan celananya dengan langkah tergopoh-gopoh, dan langsung bersembunyi di belakang punggung Erik.
" Pak, kita enggak akan mati kan Pak?" Ucap Dian dengan suara bergetar dari balik punggung lebar Erik.
Eva yang mendengar jeritan itu seketika menelan ludahnya dengan amat sulit. Jelas semua yang terjadi saat ini, benar-benar menggerus keberaniannya yang rupanya tak seklimis bibirnya.
PRYANG!
Eva mendelik demi melihat kaca mobil Resita yang di pukul dengan besi panjang, oleh anak buah Anthoni yang kini berjumlah lebih banyak.
" Astaga, ini sebabnya Pak Demas ngajak aku keluar cepat?" Batin Eva demi menyadari jika Demas benar-benar bertindak diluar sangkaannya.
BUG
KROPYAK!
Eva makin merasa deg-degan kala melihat Demas yang menendang rekan Anthoni dengan begitu kerasnya, hingga membuat pria itu terlempar diatas tumpukan bambu lapuk di bahu jalan.
Membuat suasana benar-benar mencekam dan tegang.
" Pak, awas!" Teriak Eva sembari mendorong Demas untuk minggir, demi melihat seorang pria lain yang mendekat ke arah Demas dan hendak memukul.
DUG
" Argghh!!"
Demas terkejut demi melihat Eva yang menendang biji telor milik pria berkumis yg hendak menyerangnya itu, dengan begitu kerasnya.
Double damned!
Membuat pria itu nampak gulung- gulung diatas tanah sebab jelas merasa sangat kesakitan. Oh no!
Dalam keadaan yang semakin mencekam itu, entah mengapa Demas mendadak tersenyum ke arah Eva yang mengedipkan matanya, sebagai wujud rasa puas karena bisa mengajar pria hitam tadi. Dasar Eva!
Keadaan mendadak kacau balau. Tomy dan David nampak baku hantam dengan Anthoni dan anak buahnya. Saling memukul, menendang, bahkan terlihat beberapa orang itu menggunakan senjata tajam.
Sementara itu, Dian yang benar-benar tak memiliki nyali untuk bertarung, tak hentinya menempel di belakang Erik yang bolak-balik melayangkan tinju ke arah rival mereka itu. Membuat Dian mirip seperti orang yang sedang melakukan gerakan tarian-tarian daerah.
Eva yang tak sadar terus berada di sisi Demas, nampak melawan kelompok itu sebisanya. Bahkan, Eva sesekali terlihat memukul wajah pria itu dengan tinjunya yang sebenarnya ngawur. Bolehlah!
Demas yang kini di kepung oleh dua orang nampak kesulitan sebab dia terluka dan tak memiliki senjata. Membuat Eva yang baru saja membereskan satu cecunguk berteriak ke arah Demas, kala melihat satu orang bersenjata tajam yang berlari ke arah Demas.
" Pak Demas awas!!" Teriak Eva seraya berlari menuju ke arah Demas.
SLRUUK!
Dalam keadaan slow motion, dan keheningan yang mendadak tercipta, Demas seketika melebarkan bola matanya demi melihat hal yang tiada pernah dia duga.
" Eva!!" Teriak Demas saat melihat Eva yang meringis kesakitan, sebab wanita itu rupanya menyelamatkan dirinya.
Demas merasa tubuhnya seketika lemas kala melihat Eva yang tertikam okeh sebilah pisau yang seharusnya ditujukan untuknya.
Membuat darahnya seketika mendidih dengan tangan yang kini terkepal penuh dendam yang membara.
" Eva!!!" Teriak Dian yang seketika langsung berlari meninggalkan Erik tanpa memikirkan apapun lagi, demi melihat sahabatnya yang kini limbung dengan sisi perut yang tertusuk.
BUG!
BUG!
Demas yang emosinya seketika membuncah itu, kini tak lagi mempedulikan rasa sakit di lengannya, dan langsung menghujani penusuk itu dengan kepalan tangannya yang kokok.
Kini, pria itu benar-benar tahu seberapa kekuatan seorang Demas.
Anak bungsu David itu terlihat kalap dan langsung membombardir pria yang tadi menikam Eva itu, dengan pukulan bertubi-tubi.
Terus dan tanpa rasa ampun.
BUG!
" Mati Lo Brengsek!"
Entah mengapa, Demas benar-benar menjadi kesetanan, manakala ia melihat Eva yang meringis dengan keadaan mengenaskan, sebab telah berkorban untuk dirinya.
" Sudah Demas, cukup!" David yang berhasil memukul mundur Anthoni, kini nampak memiliki kesempatan untuk menahan Demas sebelum anaknya itu membunuh pria yang telah menusuk Eva.
" Mati kau sialan!"
" Demas, stop. Dia akan mati jika kau terus memukulinya, kita butuh mereka untuk mencari kakakmu!"
WIU WIU WIU
" Arrgggg!!' Demas memungkasi pukulan terakhirnya dengan emosi yang masih meluap-luap saat sirine polisi terdengar di kawasan itu.
Ya sepertinya Fadli datang tepat waktu.
.
.
.
.
Sudah lihat karya baruku?
Covernya masih on proses.
Jadi, mommy sengaja pending kisah Jonathan, sebab dapat misi kepenulisan dari NT dengan tema Cinta terlarang.
But, cinta terlarang disini bukan soal perselingkuhan ya gaes. Yang penasaran, baca karya baruku Love you My Outlaw.
See you there 😘