
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Eva
Ia menutup wajahnya sebab malu bukan kepalang manakala dengan polosnya Arimbi rupanya tak bisa di ajak bekerja sama. Oh Gosh!
" Ada apa?" Tanya Pak Dewa yang terlihat cemas manakala melihat kegaduhan di sisi selatan.
" Oh enggak Pak, maaf! " Eva yang nyengir bersamaan dengan rasa malu kini mendudukkan dirinya kembali dengan wajah tertunduk.
Arimbi sialan!
" Duh Ar, cangkemmu Ar!" Bisik Eva menggunakan suara lirih dengan wajah mendengus kusam. Menatap Arimbi yang juga malu karena kebodohannya sendiri.
" Sory, aku kaget kampret. Habisnya gimana ceritanya elu sama Dem...emm maksud aku Pak Demas terlibat perseteruan?" Ralat Arimbi yang nyaris keceplosan.
Eva mengerutkan keningnya, " Ya gak tahu, dia aja jalan enggak lihat-lihat!"
" Ehem!" Demas yang menguping percakapan dua manusia heboh itu berdehem guna menghentikan kekonyolan kedua orang sewaktu kegiatan makan itu.
Membuat Daniel dkk turut mengalihkan atensinya kepada Demas dan Eva.
.
.
" Sebelum kita mulai, kenalkan ini anak saya, Nirmala!" Pak Dewa memperkenalkan anak isteri serta manager operasional yang ia bawa dalam acara malam itu.
" Nirmala!"
Arimbi melihat interaksi Deo saat wanita itu menggantungkan tangannya ke depan Deo.
" Deo!"
Nirmala tersenyum penuh ketulusan. Nampak raut ketertarikan terpancar dari wajah wanita cantik itu.
" Psssttt, napa lu Ar?" Eva menyenggolnya Arimbi yang tiba-tiba membeku. Cepat sekali dalam mengetahui keadaan yang abnormal itu.
" Gapapa. Aku pingin ngopi di luar Va nanti. Itu ada tempat outdoor kan tadi pas kita kesini!"
" Boleh tuh, aku juga pingin post nanti di Instagram!" Bisik Eva terkekeh. Selalu gila dengan dunia maya nya.
" Pak Deo ini selain ganteng, ternyata sangat ramah ya!" Tutur istri Pak Dewa. Berinteraksi penuh keakraban di acara makan malam itu.
" Bu Dewa ini bisa saja!" Balas Deo yang sembari memperhatikan wajah Arimbi yang kusut.
" Mal, nanti kalau free ajak beliau keliling kota. Bagus - bagus loh!"
" Nanti bi...."
" Mohon maaf saya permisi ke toilet dulu!" Ucap Arimbi yang entah mengapa menjadi tak tahan manakala melihat Deo yang ngobrol penuh kehangatan dengan keluarga Pak Dewa.
" Lah Ar, mau kemana. Aku ikut kalau ke toilet! Ar tungguin!!" Ucap Eva yang juga ingin membuang isi kandung kemihnya.
" Saya juga permisi sebentar. Mau angkat telepon!" Demas yang ponselnya bergetar kini undur diri sebab berniat mengangkat telponnya.
Deo menatap Arimbi yang terus berjalan sambil di ikuti oleh Eva.
" Apa dia cemburu?
.
.
Arimbi
Ia berdalih kepalanya pusing dan memilih untuk kembali ke kamarnya. Padahal, bukan itu yang ia rasa. Usai di gawangnya di jebol oleh Deo berbeda waktu yang lalu, Arimbi mendadak merasa kesal tiap Deo dekat dengan orang lain.
" Sory Va, bilang aja kalau aku lagi ga enak badan. Pusing aku tiba-tiba!" Ujar Arimbi yang sudah tak memiliki niat kembali, walau ia belum memakan sesuap nasipun disana.
" Lah, kan elu belum makan?"
" Aku persen aja nanti lewat ekstention di kamar!"
Eva manyun. Tidak asik sekali pikirnya.
" Sory Va. Tapi aku tipe orang yang lebih mengutamakan kewarasan. Mending aku enggak lihat dari pada aku sakit!"
" Ya udah deh. Aku kesana dulu kalau gitu, enggak enak kalau semua pergi tanpa pamit. Ya udah elu istirahat aja. Aku kesana ya?"
Arimbi mengangguk meyakinkan. Mereka berdua akhirnya berpisah di persimpangan toilet itu. Eva yang berniat kembali ke meja makan tadi, sementara Arimbi memilih kembali ke kamarnya menggunakan lift yang ada di ujung lorong .
Setibanya dikamar, ia melempar tas yang tadi ia bawa. Melepas semua yang ia kenakan dengan hati kesal.
" Memangnya apa yang kau inginkan Ar? Diakui sebagai istri?" Arimbi tersenyum kecut kala ia terus menumpahkan segala gejolak yang kian menyesakkan kalbunya.
" Deo orang berada dan berpengaruh, elu jadi istrinya karena sebuah skandal norma yang Ar. Sadar! "
" Harusnya elu seneng Ar. Artinya sebentar lagi elu bebas!" Ucapnya dengan hati dongkol seraya melepas aksesoris yang ia kenakan.
Ia terus bermonolog sambil melepaskan semua yang ia gunakan. Melempar heels, melempar baju yang ia kenakan, dan menggantinya dengan tangtop juga hotpants yang menjadi pakaian ternyaman.
Duduk memeluk lututnya seraya menangis.
" Jangan gunakan perasaanmu Ar. Jangan!" Isaknya dengan wajah yang ia benamkan diantara kedua lututnya. Tubuhnya bergetar demi menahan rasa sakit, cemburu, tidak terima, dan semua hal yang mendadak muncul tanpa ia undang, diluar kendalinya.
.
.
Deo
" Arimbi mengeluh badannya tidak enak Pak. Dia izin untuk istirahat dulu tadi!"
" Kok mendadak? Ya sudah, biar saya pesankan makan kalau gitu!" Jawab Daniel yang nampak sangat khawatir. Membuat Demas melirik pria yang usianya ada di bawahnya itu dengan tatapan penuh selidik.
Usai mendengar penuturan dari Eva, entah mengapa keresahan mendadak menggelayut di hati Deo " Arimbi sakit?"
" Tidak apa-apa jika dia tidak ikut acara ini, biarkan dia beristirahat. Semoga besok badannya bisa fit. Oh ya Pak Deo. Saya lihat, ground staff anda ini cantik-cantik dan ganteng- ganteng ya. Sesuai dengan Direkturnya yang tampan!" Tutur Pak Dewa yang kembali menguasai suasana malam itu.
Deo yang sebagian konsentrasinya tercurah kepada Arimbi, kini terlihat tak nyaman dan ingin melihat keadaan istri tersembunyinya itu, merasa tak fokus manakala diajak berucap.
" Ehmm, terimakasih Pak!" Hanya itu yang bisa Deo jawab. Mendadak tak memiliki selera untuk sekedar ngobrol.
" Boleh saya minta nomor ponsel anda?" Nirmala dengan senyum manisnya mengangsurkan ponselnya kepada Deo.
Membuat Pak Dewa bersama istrinya tersenyum senang.
Deo tak bisa menolak. Perempuan itu merupakan anak klien baru perusahaannya. Sebiasa mungkin bersikap wajar dan santun. Tapi, ah sudahlah. Toh ia bisa mengabaikan pesannya jika wanita itu berkirim pesan. Yang penting terlihat humble saja dulu.
" Boleh. Tentu saja!" Jawab Deo sopan. Membuat Demas melirik tak suka.
.
.
Usai acara makan dan mengobrol sebentar terkait mekanisme kegiatan mereka lusa nanti, kini mereka berada dalam posisi berpencar- pencar.
Novi yang memilih video call dengan kekasihnya, sementara Daniel dan Andre nampak sibuk berbincang-bincang walau sebenarnya Daniel masih mengkhawatirkan Arimbi. Namun dua laki-laki itu harus membicarakan dan merumuskan hal-hal penting demi itu, demi kelancaran innagural Flight lusa nanti.
Membuat Eva memutuskan untuk jalan-jalan sendiri, karena perempuan yang aktif di dunia maya itu, tentu tak bisa tinggal diam manakala melihat tempat-tempat apik seperti disana.
Ia ngeluyur hingga ke sisi kolam umum yang ada di belakang hotel itu masih dengan pakaian yang sama. Rupanya, ada banyak tamu di hotel yang berenang air hangat pada kolam kolam itu saat malam hari.
Terasa menggiurkan.
" CK, si Arimbi sih pakai acara sakit segala. Bikin gue nyengir disini sendiri akhirnya!" Eva menggerutu tiada henti.
Dan saat Eva yang hendak berselfi ria dengan back view kolam yang ramai itu, heelsnya tak sengaja menginjak hamparan pijakan yang tak rata, dan membuat keseimbangannya seketiku terganggu.
" Astaga!"
Eva yang yakin jika dirinya akan jatuh sebab ta ada sesuatu yang bisa ia jadikan pegangan itu, langsung memejamkan matanya demi membunuh rasa takut. Persetan dengan malunya nanti.
Namun tiba-tiba.
HAP
Seseorang yang kebetulan melintas di kawasan itu, dengan gerakan cepat menangkap tubuh wanita yang mendadak limbung itu.
Dalam gerak slow motion , Demas yang datar beradu tatap dengan Eva yang membuka mulutnya akibat terkejut.
Mirip seperti telenovela jadul.
" Hah?" Eva menjerit manakala melihat wajah datar Demas, yang kini menyangga tubuhnya dalam posisi yang benar-benar dekat.
" Ternyata kau!" Tukas Demas dengan wajah malas 😒 sembari melepaskan pegangannya.
BRUK!
" Auuwh!!!"
Demas menghempaskan tubuh wanita yang semula ia tangkap itu, demi menyadari jika wanita itu merupakan orang yang telah
mendampratnya tadi siang hanya gara-gara sebuah ponsel.
" Astaga sialan. Dasar orang gak waras!!" Gerutu Eva yang merasa malu juga kesakitan. Mengundang atensi beberapa orang yang ada di sana.
" Duhh, dasar kampret. Aduh emak!! Sakit banget lagi!"
Eva seketika mengusap bokongnya yang linu dengan wajah meringis akibat di lempar ke atas paving oleh Demas yang kini ngeloyor pergi.
" Laki-laki brengsek! Mana tuh orang? Dasar gak waras, ah tuh dia!" Gumam Eva mencari-cari sesuatu di samping tempatnya bersimpuh.
WIIIING!!
PLETAK!
" Aduh!"
Demas mengaduh kala kepalanya mendapat serangan mendadak dari sebuah benda keras yang tiba-tiba melayang ke arahnya tanpa ia sangka.
Benar-benar terasa sakit, sebab rupanya benda yang di gunakan Eva untuk melemparinya ialah sebuah batu seukuran biji ketapang.
Benar-benar sialan!
" Mampus gak loh!" Ucap Eva puas demi melihat Demas yang kini meringis sembari memegangi kepalanya.
.
.
.
.