
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Bu Ningrum
Ia telah banyak memakan asam garam kehidupan. Merelakan diri untuk menjanda selama sekian tahun lamanya, bukan tanpa alasan.
Baginya, ia lebih memilih untuk hidup bahagia tanpa gangguan orang lain.
Dia sangat menyayangi Arimbi juga Farel. Baginya, tidak ada yang lebih penting selain anak-anaknya. Ia bisa saja menikah sebenarnya. Namun, sepertinya hidup kedua anak-nya jauh lebih krusial dari apapun.
Pasca ia tahu jika Deo rupanya sudah benar-benar menganggap Arimbi adalah bagian penting dari kehidupannya, seketika lah dia mengucap syukur dengan rasa yang teramat.
" Sekali lagi saya minta maaf Buk. Semoga, Deo belum terlambat untuk memulai satu hal yang memang seharusnya Deo lakukan sebagai seorang suami!" Tutur pria itu menatap lurus ke arah Bu Ningrum.
" Saya mencintai Arimbi. Lahir dan batin saya"
Ia tercenung dengan lelahan air mata yang mendadak meluncur. Terasa mengharukan sekaligus membahagiakan kala ia mendengar kalimat yang begitu manis itu.
" Saya yang berterimakasih nak. Karena keluarga nak Deo, kami yang bukan siapa-siapa ini, kini bisa dikenal banyak orang!"
.
.
Beberapa waktu kemudian
" Sayang? Kenapa?"
Arimbi bertanya kepada suaminya yang berkacak pinggang seraya menatap dipan kasur berukuran 160 x 200 cm itu, dengan tatapan keheranan. Terlihat tekun melihat sembari nampak serius dalam memindainya.
Bukannya menjawab pertanyaan Arimbi yang mengandung nada kepoisasi itu, Deo malah terlihat memindahkan tangan kirinya, mengusap-usap janggut dengan tatapan berpikir.
" Aman tidak ya?" Gumam Deo dengan pikiran yang berkelana.
" Aman apanya? Membuat Arimbi reflek bertanya dengan gerakan membalikkan badan.
" Ya..aman. Aman buat kita!" Ucap Deo dengan senyuman smirk.
What?
Arimbi lebih memilih melepas baju dan mengganti pakaiannya yang semula, dengan baju tidur dari kain satin yang kini menunjukkan bagian dadanya yang menyembul. Membuat Deo menelan ludah.
" Kenapa kamar Arimbi letaknya dekat sekali sama kamar Ibuk. Dan kasur itu? CK, yang benar saja! " Batin Deo seraya menatap dipan semi minimalis dari kayu itu. Teringat akan lokasi kamar-kamar di rumah itu yang benar-benar begitu dekat.
Takut suara-suara yang spontan nanti, akan mengganggu penghuni lain rumah itu.
Hah astaga, Deo benar-benar menyesal sebab tidak melakukan survei terlebih dahulu.
Membuat Deo insecure.
Bertanya dalam hati apakah kasur serta dipan itu bisa menahan bobot tubuh arimbi dan juga dirinya saat berjibaku nanti? Oh yeah!
Oh sial, kenapa aku jadi rempong begini?
Saat ia sibuk melamun, sebuah keharuman beraroma vanilla mendadak menyeruak memenuhi ruangan kamar yang ukurannya tak terlalu besar itu. Membuat Deo seketika menoleh ke sisi kanannya.
Woow!
Rupanya, setelah hubungan mereka berdua berubah menjadi lebih intens dan manis. Arimbi ingin menservis suaminya dengan pelayanan terbaik.
Tiap menjelang tidur Arimbi yang selalu mencuci wajah, menggosok giginya, juga mengolesi wajahnya dengan sebuah krim wajah itu.
Namun yang berbeda, wanita itu kini terlihat menggunakan parfum beraroma vanilla yang membuat kejahatan pria gagah itu seketika bangkit.
Arimbi yang nampak sibuk mengoleskan lotion malam ke seluruh lengan kulitnya itu, seketika merinding kala bibir lembab suaminya mendadak mengecup ceruk lehernya.
Menciumi penuh gairaah bahkan tak sungkan meninggalkan jejak-jejak kepemilikan. Membuat Arimbi bagai tersengat sesuatu yang tak bisa dia jelaskan.
" Kamu wangi banget, hm?" Bisik Deo dengan suara penuh gairaah.
" Aku suka wangimu sayang!" Hembusan hangat nan segar itu, makin membuat kuduk Arimbi merinding.
Arimbi yang mulai menyukai sentuhan Deo, kini memejamkan matanya kala tangan kekar itu, menyusuri lengannya yang bersih sembari terus mengecup tubuh yang berbau harum itu.
Pria itu nampak tekun menciumi leher hingga bahu istrinya yang terbuka itu, dengan rasa rindu dalam dada yang semakin membara.
Oh God, inikah keindahan kamasutra?
Tangan berotot yang kini melingkari perut Arimbi itu terlihat seolah menegaskan jika Deo menginginkan Arimbi untuk diam barang sejenak.
Ya, Deo sangat ingin membuat Arimbi tahu, jika dia adalah lelakinya saat ini. Sama sekali tak ingin melewatkan kesempatan penuh kasih itu, dengan percuma.
Mereka berdua nampak menatap diri mereka masing-masing ke arah cermin besar, yang terletak di depan meja rias sederhana yang ada di kamar Arimbi itu dengan tatapan berkaca-kaca
" Rasanya, aku masih tidak percaya jika...."
" Sama. Aku pun juga begitu!" Sahut Deo menatap istrinya penuh cinta.
Hembusan napas segar itu, semakin membuat Arimbi merinding. Sungguh, berada berdua bersama Deo justru membuatnya semakin kehilangan kendali atas dirinya.
Kini, baik Deo maupun Arimbi sama-sama tergelak demi merasakannya arti sebuah kebahagian yang sesungguhnya.
" Sayang, aku ada satu pertanyaan!" Seru Arimbi dengan tatapan penuh arti.
" Apa itu?" Tanya Deo dengan wajah begitu serius.
" Katanya minta lebih, jadi tidak? Tanya Arimbi yang memang ceplas-ceplos. Membuat Deo seketika terkejut. Ihiir!
Namun bukannya menjawab, Deo seketika membalikkan badan Arimbi, lalu lekat-lekat menatapnya penuh cinta.
Jakun besar Deo nampak naik turun demi melihat tubuh istrinya yang benar-benar sayang untuk dilewatkan begitu saja.
Tanpa menunggu lama lagi, Deo menarik tubuh Arimbi lalu seketika menyatukan bibir mereka. Bokong sintal itupun, juga tak luput dari rematannya.
Pria itu nampak menikmati tubuh menggiurkan itu dengan caranya yang tekun, lembut dan terarah.
Terasa indahnya, insan sempurna yang tengah di mabuk asmara.
Kini, lengan Deo nampak mengetat kala tangan dengan otot kentara itu meremas bo kong, juga paha sintal Arimbi.
Membuat keduanya lekas di jalari oleh sebuah gelombang besar, yang jelas akan menyeret mereka kedalam lautan kenikmatan.
Benar-benar terbidik gelora yang membuncah, dan semakin menarik mereka kedalam pusat hasraat menggiurkan.
" Mas?"
Arimbi menatap Deo lekat-lekat, sangat dekat dan begitu in tim. Di tatapnya dua bola mata jernih, yang membacakan kilatan asmara.
Membuat Arimbi seketika tegang, demi mendengar ucapan Deo yang benar-benar sensasional.
" Aku inginkan itu..."
.
.
.
Sory up cuma dikit. Author sibuk hari ini hingga beberapa hari .
Up dikit buat ngelengkapi kejar kata.🙏